Perkembangan Pendidikan Yunani Era Kuno

Audy Ristaudy/ PIS

A. Perkembangan Pendidikan Yunani

Pendidikan ialah perjuangan insan untuk kepentingan manusia. Makara pada ketika insan itu ada dan masih ada, pendidikan itu telah dan masih ada pula. Pada kenyataannyadapat kita telaah bahwa praktek pendidikan dari zaman ke zaman mempunyai garis persamaan. Garis persamaan atau benang merah pendidikan itu ialah:
1. Pendidikan ialah kepingan dari kebudayaan yang tidak sanggup dipisahkan.
2. Pendidikan merupakan kegiatan yang bersifar universal.
3. Praktek pelaksanaan pendidikan mempunyai segi-segi yang umum sekaligus mempunyai keunikan (ke-khasan) berkaitan dengan pandangan hidup masing-masing bangsa.

Yunani populer dengan mulainya kebudayaan Barat. Dalam waktu beribu-ribu tahun bangsa Yunani ini berdagang. Militernya mempunyai hubungan akrab dengan Timur. Disamping itu mempunyai hubungan dengan tempat Mediterania dengan Eropa. Dengan adanya sifat-sifat ini maka dalam bentuk yang spesial yunani merupakan tempat pertemuan kebudayaan Timur dan Barat.akibat percampuran itulah, merupakan asal dari kebanyakan cita kebudayaan dan budpekerti bangsa Barat. Tetapi kesatuan daripada Yunani itu puncaknya ketika kekaisaran Roma berkuasa. Bangsa Yunani mempunyai Negara-negara yang terpencar-pencar, dikarenakan oleh beberapa lantaran mereka tidak sanggup bersatu.negara-negara ini sanggup bersatu ketika ada azaz-azaz penaklukan bangsa Macedonia 300 tahun SM dan Roma 146 SM.
Sikap bangsa Roma terhadap Yunani mengandung 2 kemenangan, yaitu;
1.      Kemenangan Militer bagi Bangsa Roma
2.      Kemenangan secara spiritual bagi bangsa Yunani
Dikatakan spiritual lantaran kebesaran Roma ialah pinjaman dari kebudayaan Yunani. Bangsa Yunani spiritual berpengaruh (kesenian, pengetahuan, kesusasteraan) tetapi lemah didalam organisasi. Sedangkan Roma mempunyai kemenangan politik yang bersifat ultilitaritis . oleh lantaran itu organisasi kenegaraan Roma menjadi berpengaruh sehingga sanggup mendapatkan kebudayaan gres yang dibawa oleh golongan Kristen. Cita-cita kesatuan dan keagungan itu terus hidup hingga reformasi, dan gres sanggup hancur oleh Napoleon I. (Drs. Leo Agung S.,M.Pd,2012:90)
Yunani kuno terbagi menjadi dua, Sparta dan Athena. Penduduk Sparta disebut bangsa Doria, sedangkan penduduk Athena disebut bangsa Lonia. Kedua negara tersebut merupakan Polis atau negara kota. Sparta dengan mahir negaranya Lycurgus, sedang Athena dengan mahir negaranya Solon. Pada kedua negara tersebut terdapat perbedaan-perbedaan dalam dasar, tujuan, pelaksanaan pendidikan dan pengajaran. Orang-orang Sparta mementingkan pembentukan jiwa patriotik yang berpengaruh dan gagah berani (Djumhur, 1976:24).
1.     Pendidikan Awal di Yunani
Sebetulnya sukar diketahui, lebih-lebih apabila sifat pendidikannya dalam hubungan fisik dan Spritual, tetapi meskipun demikian secara kasar sanggup dikatakan bahwa pendidikan mula-mula sanggup dibagi dua;
1.      Masa sebelum Homeros
Masa sebelum Homeros ini bersifat sederhana. Yang mempunyai peranan penting disini ialah initiasi untuk memasuki dewasa. Segala pendidikan diarahkan kepada moralitet. Peraturan-peraturan moral ini terutama diajarkan oleh ayah.
2.Masa Homeros
Homeros menulis dua espos ialah Hilies dan Odessa. Yang penting sebagai sumber pendidikan ialah Hilies. Didalam buku ini diceritakan pendidikan perjaka Achilles oleh tutornya, Phoenix. Yang dipelajari oleh Achilles ialah Retorik dan perbuatan-perbuatan mengenai keberanian, dan kedua ialah mengenai kesenian dan pengobatan, disini diterangkan sistem berguru. Terutama pendidikannya ditujukan kepribadian yang baik, lantaran adanya buku ini maka yunani dikenal oleh dunia lain. (Drs. Leo Agung S.,M.Pd,2012:83)
3.     Bangsa Campuran
Bangsa Yunani ialah adonan dari aneka macam bangsa :
1.      Bangsa Aegea –Creta
Bangsa ini ialah bangsa yang paling tua, berdasarkan taksiran telah ada semenjak 20.000 tahun SM mempunyai kebudayaan sendiri yang terdapat di pulau Kreta, Aegea dan Yunani sendiri.
2.      Bangsa Arya
Bangsa ini tiba dari aneka macam golongan imigrasi dan menempatkan diri di kalangan penduduk asli. Bangsa Arya kemudian menamakan bangsa mereka bangsa Helen oleh lantaran mereka berasal dari nenek moyang  yang sama.
3.      Bangsa Doria
Datangnya pada masa 12 SM oleh lantaran kedatangan bangsa ini bangsa yang lain kemudian tercerai-berai terdesak
mencari tempat tunjangan menyerupai di Athena, ke pulau-pulau lonia kemudian menamakan dirinya bangsa lonia
Dengan datangnya bangsa Doria ini berakhirlah masa kepahlawanan yaitu ketika bangsa Yahudi dikuasai oleh seorang penulis populer (Homeros) dan timbullah masa kegelapan 1300 hingga 800 SM. Sesudah itu timbul masa keemasan. Karena desakan dari bangsa-bangsa Dorian maka kota-kota Yunani terbagi menjadi dua:
1.      Yang bersifat Doria yaitu Sparta
2.      Yang bersifat non-Doria yaitu Athena.
. (Drs. Leo Agung S.,M.Pd,2012:82)
1. Sparta
Sparta ialah negara Aristokrasi-militeristis. Dasarnya Undang-undang Lycurgus (± 900 SM). Ciri pendidikan: pendidikan diselenggarakan oleh negara dan hanya untuk warga negara merdeka. Pendidikan di Sparta didasarkan atas dua asas:
a. anak ialah milik negara;
b. tujuan pendidikan ialah membentuk serdadu-serdadu pembela negara serta warga negara.
Tujuan pendidikan Sparta ialah membentuk warga negara yang siap membela negara (membentuk tentara yang gagah berani). Ciri-ciri pendidikannya ialah :
a. Pendidikan diperuntukkan hanya bagi warga negara yang merdeka (bukan budak);
b. Lebih mengutamakan pendidikan jasmani.
c. Anak-anak yang telah mencapai umur 7 tahun diasramakan.
Pelaksanaan pendidikan: belum dewasa dibiasakan menahan lapar, tidur di atas bantal rumput, dan pada demam isu hambar hanya menggunakan mantel biasa saja. Sifat-sifat yang harus dimiliki tentara, menyerupai keberanian, ketangkasan, kekuatan, cinta tanah air, dan tunduk pada disiplin selalu menerima perhatian. Sebaliknya, pelajaran menyerupai kesenian dianggap tidak terlalu penting dan diabaikan. Musik dan nyanyian hanya dijadikan alat untuk mempengaruhi jiwa dalam melaksanakan dinas ketentaraan (A. Ahmadi, 1987:162).
Penduduk Sparta mempunyai dua Tradisi;
1.      Periode yang tradisional, pendidikan masa ini sama dengan pendidikan Primitif pada sejarah
2.      Periode masa setelah timbulnya undang-undang Licurgus (abad ke-8 SM0
Undang- undang Licurgus menghendaki bangsa Sparta memenuhi kiprah untuk memepertahankan Sparta. Meskipun undang-undang ini sebelum masa ke-8 tetapi gres bersifat militer sungsuh-sungguh pada masa ke-7 SM, karena:
1.      Terjadi degenerasi, lantaran degenerasi ini Sparta menjadi tempat yang sempit, tetapi penduduknya terus bertambah. Maka dalam masyarakat timbul tanggal melarat, aristokrasi jatuh
2.      Letak geografis Sparta sendiri mengharuskan adanya suatu Negara yang bertentara kuat, ditambah lagi dengan kekuatan penduduk asli.
Penduduk Sparta berjumlah 400.000 orang terdiri dari :
a.      Kira-kira 225.000 golongan Helan atau golongan budak
b.      13.000 disebut dengan golongan Perioriko
c.       45.000 orang golongan warga Negara biasa. (Drs. Leo Agung S.,M.Pd,2012:83)
Jadi problem umum dihadapi Sparta ialah mempertahankan diri dari musuh diluar dan didalam. Disisni budak-budak ditindasi oleh orang-orang yang berkuasa. Masyarakat bersifat militeristis. Golongan individualis ditindas untuk mempertahankan Negara. Anak pria lebih mendapatkan prioritas. Orang bau tanah tidak mempunyai kekuasaan terhadap anak. Tidak ada yang dinamakan rumah tangga dalam masyarakat Sparta. Orang bau tanah hanya berhak atas anak hingga anak umur 7 tahun, setelah umur ini Negara yng menguasai. Anak dititikberatkan pada jasmani dan militer. Anak yang lemah dibunuh. Mereka dilatih untuk menghadapi musuh Sparta. Membaca dan menulis tidak mempunyai arti bagi Negara. Untuk latihan militer antara anak pria dan perempuan boleh dikatakan sama. Hanya pada perempuan kurang keras.
Jadi kesimpulannya bangsa Sparta tidak mengalami kemajuan di dalam lapangan estetika dan intelek, meskipun dalam kehidupan mempunyai “seremoni”. Sebabb titik beratnya pada kemiliteran. Sedangkan kedudukan perempuan bebas baik didalam maupun diluar rumah.
        2. Athena
Sejarah Athena sanggup kita ketahui di dalam periode perkembangan:
1.      Periode Prasejarah
2.      Periode Kuno(kira-kira  1000 hingga
berakhir pada 600 SM)
3.      Periode Transisi 600 SM hingga kemenangan Macedonia 385 M
4.      Periode Cosmopolit 385 hingga 539 M (zaman Kaisar Justinianus)
a.       Keadaan Ekonomi
Tanahnya kurang subur , sehingga harus mementingkan industri dan perdagangan. Sampai tahun 600 SM, kesusatraan, kesenian belum berkembang. Baru pada periode transis. Solon membuat perubahan-perubahan di dalam lapangan ekonomi sosial. Usahanya ialah untuk memperluas perdagangan ke luar negeri. Akibatnya hidup mempunyai keleluasaan yang lebih besar.
b.      Keadaan Sosial
Pada umumnya penduduk sanggup kita bagi dalam 3 golongan:
1.      Warga asli
2.      Orang asing
3.      Golongan budak
c.       Keadaan Politik
            Athena ialah tempat permulaan demokratis, individualis, lantaran itu ketika bangsa Roma tiba pada prakteknya sanggup hidup terus. Dengan adanya sifat spiritual dan intelek dikembalikan pada suasana renaissance. Pemerintahan usang yang monarkis mulai masa ke-7 SM berubah menjadi Replubik Aristokratis. Mulai periode transisi menjadi Replubik Liberalyang di perintah orang laki-laki. Sebenarnya garis demokrasi mulai mengalami perubahan pada 304 SM.
kekuasaan pemerintahan di pimpin di dalam suatu sidang semua warga (demokrasi langsung). Di sini tata tertib diatur sebaik-baiknya. Sidang harus baik, kalau hingga ada warga negara yang tidak baik hilanglah hak suaranya.
d.      Keadaan Militer
            Semakin banyak kemerdekaan maka kekuatan bangsa Athena bertambah. Sehingga di dalam aneka macam peperangan Athena bertambah luas. Kekalahan gres dialami dengan bangsa Macedonia.
e.       Religi
Bangsa Athena mempunyai benda suci. Salib yang digunakan sebagai symbol agama. Di atas bangsa Yunani ada bangsa lonis. Berlainan dengan bangsa Timur, bangsa Yunani tidak mempunyai doktrin atau goresan pena suci. Agamanya bersifat Antromorfis dan tidak ada sifat pendeta yang uniform(seragam), sehingga bangsa ini mengalami spiritual bebas dalam intelek politik. Pendeta ditunjuk oleh pemerintah dan merupakan subyek otoritas pemerintah. Mereka memimpin upacara agama tetapi tidak sebagai guru sehingga memajukan masyarakat. Adapun soalnya bukan yang bekerjasama dengan yang mati tetapi yang hidup yang berkisar pada duduk perkara politik.
Di dalam masa transisi Athena mempunyai struktur yang lemah, tetapi lantaran kelemahan ini bangsa Athena bangun. Pengetahuan filsafat masih berkembang. Dilihat dari sudut prkembangan maka kemajuan ini sebagai suatu modernisasi. Timbullah filsafat yang spekulatif yang ingin menjawab pertanyaan insan di alam religi-nya. Salah satu sifat filsafat dan Athena ialah tidak individualistis, lain dengan Skeptsisme, Stoa dan Epicuris.
f.       Aspek Intelektual
            Sampai 60 SM bangsa Athena berkebudayaan primitif. Tetapi tabiat bangsa ini menghargai Dewa-dewa sehingga dikenal dewa-dewa yang menguasai lapangan kesusastraan, kesenian, ilmu pengetahuan. Dewa-dewa ini disebut Muse. Kemajuan bangsa Athena dalam intelek mulai masa ke-7 SM yaitu bangsa lonia mulai menyelidiki alam fisika. Usaha-usaha inilah yang kita anggap sebagai permulaan ilmu pengetahuan di eropa. Makara filsafat bangsa Yunani mulai dengan pengetahuan alam dan mencapai puncaknya setelah objeknya mengenai persoalan-persoalan insan dan lapangan sosial dan berakhir sebagai sistem theosofi yang berbentuk: Neoplatonisme dan Teologi Kristen. Perkembangan intelek ini mencapai puncaknya hingga Athena ditaklukan Macedonia. Tanda-tanda perubahan sosial orang-orang athena menjadi orang-orang yang berfikir, berbuat dan berbicara. Kemerdekaan merupakan kekuatan gres untuk mengingat orang dari pada negaranya. Makara berfikir bebas pada bangsa Athena menjadi pedoman yang berakibat orang sanggup membuat masyarakat dan dunia secara ideal. Makara guna keperluan ini ahli-ahli pikir berusaha sebaik-baiknya dan beropini bahwa pendidikan ialah akhir daripada ini, yaitu mengikuti proses daripada perubahan-perubahan.
g.      Pendidikan di Dalam Periode Kuno
            Lain dengan Sparta, maka rumah merupakan tempat pendidikan utama. Di Sparta rumah bukan tempat pendidikan. Sampai umur 7 tahun anak masih di bawah pemeliharaan orang tuanya. Sampai permulaan umur 8 tahun dipisahkan dan diasuh oleh seorang paedagogos, yaitu seorang budak. Paedagogos tersebut meneruskan bimbinga
n anak tersebut di dalam rumah, di sekolah, di lapangan olah raga sehingga anak berumur 18 tahun. Paedagogos menunjukkan pesan yang tersirat mengenai budpekerti istiadat. Misalnya rendah hati, sopan santun, sifat selalu mengoreksi diri sendiri, dan lain sebagainya.  Di dalam periode ini Athena mempunyai 2 macam sekolah untuk anak laki-laki.
1.      Palaestra, yaitu sekolah untuk latihan badan
2.      Didascaleum, yaitu sekolah untuk musik atau kesusastraan.
Sekolahan ini dibedabedakan sesuai dengan kemampuan anak. Pemisahnya terletak pada yang kaya dan yang miskin. Untuk yang kaya bisanya anak bersekolah 16-17 tahun. Yang miskin lebih sedikit dari pada itu. Program sekolahnya masih bersifat accational ( rencananya selalu berubah-ubah). Pada yang kaya selalu diadakan pelajaran privat di rumah. Sesudah meninggalkan sekolah yang miskin terjun dalam perdagangan. Yang kaya meneruskan latihan-latihan dalam aneka macam metode, sebagai pengisi waktu. Sesudah umur 18-19 tahun mereka harus menandakan cinta kepada tanah air dan mendaftarkan diri sebagai warga negara.Pada zaman dahulu itu terdapat bentuk sekolah militeruntuk anak yang berumur 18 tahun. Sekolah ini timbul pada 400 SM yang berjulukan sekolah Ephibic. Anak muda berumur 21-22 tahun dikirimkan untuk menjaga tepal batas dan meneruskan latihan-latihan militer. Bila ini telah selesai dianggap periode 1 sudah selesai. Disamping itu ada pendidikan informal yaitu bekerjasama dengan ikut serta nya anak di dalam keluarga, lapangan sosial, ekonomi, dan politik. Oleh anak harus menyesuaikan diri di dalam penghidupan masyarakat, maka hal tersebut merupakan lapangan tersendiri. Lebih-lebih di dalam zaman transisi yaitu demokrasi berkembang dengan sebaik-baiknya. Di samping itu anak diwajibkan mengikuti upacara-upacara nasional
Pendidikan perempuan mempunyai pengecualian lantaran lapangannya selalu dihubungkan dengan rumah tangga serta tindakan-tindakan selalu dibatasi.
h.      Praktek Pendidikannya
            Objek pendidikan ialah perkembangan individu mengenai badan, akal, dan moralnya. Perkembangan ini ditunjukan kesejahteraan individu dan negara. Orang Athena sangat menghormati individu berserta nilai-nilainnya. Yang dituju sebenarnnya ialah insan yang sesungguhnya. Tetapi sayang di sekolah tidak ada pelajaran ihwal keahlian. Yang dipentingkan latihan badan. Lapangan pada udara terbuka yang digunakan latihan jasmani dan latihan-latihan ini diberikan atas tingkatan-tingkatan umur. Pelajaran musik dan kesusasteraan anak dilatih secara vokal dan instrumental, maksudnnya menunjukkan imbas baik di dalam moral, kultural, dan sifat-sifat yang paedagogis menyerupai pembentukan pribadi. Kesusastraan di sekolah ada gurunya yang istimewa yang membaca dan menulis syair. Usaha-usaha ini mempunyai maksud kultural moral dan intelek. Athena ialah negara demokrasi. Dasar yang digunakan adalah: Undang-undang Solon (± 594 SM). Berbeda dengan Sparta, tujuan pendidikan Athena adalah: membentuk warganegara dengan jalan pembentukan jasmani dan rohani yang serasi (selaras). Ciri-ciri pendidikan di Athena adalah:
a. Pendidikan diselenggarakan oleh keluarga dan sekolah;
b. Sekolah diperuntukkan bagi seluruh warga negara (bebas).
Materi atau materi pelajaran terbagi atas dua bagian: gymnastis dan muzis. Gymnastis untuk pembentukan jasmani, sedangkan muzis untuk pembentukan rohani. Pendidikan jasmani diberikan di Palestra, tempat bergulat, lempar cakram, melompat, lempar lembing (pentathlon atau pancalomba). Pembentukan muzis meliputi: membaca, menulis, berhitung, nyanyian, dan musik. Dalam perkembangannya dalam pembentukan muzis akan dipelajari artes liberales atau “seni bebas”, yang terdiri dari:
a. trivium (tiga ajaran), yaitu: grammatica; rhetorica (pidato); dan dialektika yaitu ilmu mengenai cara berpikir secara logis dan bertukar pikiran secara ilmiah;
1. Pendidikan Agama: tidak ada
2. Pendidikan intelek: hampir-hampir tidak ada
3. pendidikan estetika: musik, bernyanyi
4. Pendidikan etika: kemauan; menahan hati patuh
5. Pendidikan sosial: pembentukan warganegara
b. quadrivium (empat ajaran), yang terdiri dari: arithmetica (berhitung); astronomia (ilmu bintang); geometria (ilmu bumi alam dan falak); musica.
Dalam membaca, diberikan dengan metode mengeja (sintetis murni); dan menulis dilakukan pada watu tulis yang dibentuk dari lilin (Djumhur: 1976).  Pendidikan warganegara sangat diutamakan di Yunani, terutama di Sparta. Segala kepentingan negara diletakkan di atas kepentingan individu (perseorangan). Dalam perkembangannya muncul keinginan untuk menerima kebebasan pribadi, terutama dari kaum sofist.
Kaum sofist ialah kelompok orang yang tidak mengakui kebenaran mutlak dan berlaku umum. Mereka berpendapat, bahwa insan ialah ukuran segala sesuatu (anthroposentris, anthropos: manusia; sentris: pusat). Sesuatu dianggap benar kalau itu mengakibatkan laba atau kemenangan. Kebenaran bersifat relatif (tergantung kapan dan siapa yang melihat).
Akibat dari anutan sofisme tersebut adalah, turunnya nilai-nilai kebudayaan, merosotnya nilai-nilai kejiwaan, pembentukan serasi antara jiwa dan raga dikesampingkan dan sebagainya. Orang mencari pengetahuan dengan tujuan untuk mencapai kebendaan semata (intelektual-materialistis). Kepentingan negara harus tunduk kepada kepentingan perseorangan. Pendidikan kecerdasan lebih penting daripada pendidikan agama dan kesusilaan.
4. Ahli-Ahli Pendidik Yunani
a. Pythagoras (580-500 SM)
Tujuan pendidikan: membentuk insan susila dan beragama. Beberapa impian yang menjadi dasar pendidikannya:
1) hanya jiwa yang berharga, bukan badan;
2) jiwa berasal dari dewa-dewa dan hidup terus kalau tubuh telah mati;
3) semenjak kecil insan mempunyai kecenderungan untuk berbuat jahat, pendidikan harus membawa insan ke arah kesempurnaan;
4) kesempurnaan ialah kebajikan, yaitu keselarasan antara jiwa dan raga, harmoni dalam hubungan antara manusia, harmoni pula dalam negara.
Untuk melaksanakan impian tersebut, ia mendirikan sebuah forum dengan nama “Lembaga Pythagoras”. Anggotanya hidup gotong royong dan patuh pada aturan-aturan tertentu. Lembaga tersebut terdiri dari 3 bagian:
1) kepingan 1: terdiri dari calon-calon anggota dalam masa percobaan 3 tahun. Selama itu ia harus sanggup mengatasi penderitaan-penderitaan dan harus membuktikan kesanggupan dalam menempuh jalan hidup yang saleh;
2) kepingan 2: merupakan lanjutan dari kepingan 1, tetapi masih diasingkan dari anggota-anggota penuh, dan menerima anutan dari Pythagoras sendiri;
3) kepingan 3: terdiri dari anggota-anggota yang dianggap sudah cukup memenuhi syarat, menerima hak dan kepercayaan yang penuh, mereka menerima anutan dari Pythagoras sendiri.
b. Socrates (469-399 SM)
Merupakan tokoh yang melawan anutan sofisme. Ia beropini bahwa yang menjadi ukuran segala-galanya bukan insan melainkan ke-Tuhanan (theosentris, theo: Tuhan). Berlawanan dengan Pythagoras, Socrates percaya bahwa insan mempunyai pembawaan untuk berbuat baik. Socrates beropini bahwa ilmu ialah sumber dari kebajikan, oleh lantaran itu ia dianggap perintis kaum Philantropin: cinta pada sesama manusia.
Dalam pelaksanaan pengajarannya, ia melaksanakan dialog, percakapan, dan tanya jawab dengan masyarakat di jalan-jalan, di taman, dan pasar. Socrates selalu mengajarkan bahwa insan itu berpengetahuan hanya dalam sangkaannya saja, padahal yang bergotong-royong mereka tidak tahu apa-apa, dan mereka karenanya hingga pada kesimpulan bahwa mereka hanya mengetahui satu hal, yaitu bahwa mereka tidak tahu apa-apa. Dengan begitu maka pada diri insan itu tumbuh keinginan untuk mengetahui yang sebenarnya. Dengan jalan induksi, mereka dibawa kepada ilmu yang bergotong-royong (menarik kesimpulan sendiri).
Beberapa jasa Socrates:
1) penggerak dari ilmu kesusilaan. Ia beropini bahwa filsafat merupakan alat untuk mencapai kebajikan;
2) penggerak dari ilmu mengenai pengertian-pengertian. Ia berusaha selalu mencari hakikat dari benda-benda, yakni pengertian-pengertian;
3) Pythagoras dan Socrates ialah peletak dasar paedagogik moral.
Pada tamat hidupnya, Socrates dijatuhi eksekusi minum racun oleh hakim, apabila ia tidak bersedia menarik kembali ajarannya. Socrates dianggap telah merusak akhlak
pemuda, dan difitnah oleh kaum sofis telah mengajarkan dewa-dewa gres dan membelakangi dewa-dewa resmi.
c. Plato (427-347 SM)
Plato ialah murid Socrates. Ia ialah seorang bangsawan. Saat Socrates dijatuhi eksekusi minum racun Plato melarikan diri dan menerima tunjangan dari keluarganya.Sistem pendidikan yang lengkap dan merupakan kepingan dari anutan ketatanegaraan pertama disusun oleh Plato, ia ialah seorang pengarang pertama di Yunani. Tujuan pendidikan berdasarkan Plato adalah: membentuk warga negara secara teoritis dan praktis. Setiap insan bertugas untuk mengabdikan kepentingannya kepada kepentingan negara. Oleh lantaran itu pendidikan harus diselenggarakan oleh negara dan untuk negara. Dengan prinsip tersebut Plato disebut sebagai pencipta Pendidikan Sosial. Ia beropini bahwa kesulitan-kesulitan politis sanggup diatasi apabila ada keadilan. Keadilan akan terwujud bila setiap orang melaksanakan kiprah sebaik-baiknya. Dengan demikian tujuan pendidikan itu selanjutnya ialah untuk membentuk negara susila yang berdasarkan keadilan (Lebih lanjut sanggup dibaca dalam Achmadi, 1987).
Dalam pendidikan moral, Plato beropini bahwa belum dewasa telah sanggup melaksanakan suatu perbuatan meskipun mereka belum sanggup menyadari atau memahaminya. Sehingga pendidikan harus dimulai semenjak kecil, yaitu dengan pembiasaan dan kemudian pengajarannya.
Pengaruh plato sangat besar, contohnya dalam pemerintahan gereja masa pertengahan. Meskipun dipengaruhi oleh bangsa Yahudi, namun pemerintahan gereja sangat platonis.
d. Aristoteles (384-322 SM)
Ia ialah murid dari Plato dan telah belajar selama 20 tahun. Bukunya yang populer mengenai impian pendidikan adalah: Politica dan Anima. Seperti halnya dengan Plato, maka Aristoteles pun menghendaki pendidikan negara.
Cita-cita pendidikannya: kebajikan itu diperoleh dengan jalan aman, melalui pengalaman, pembiasaan-pembiasaan, nalar budi, dan pengertian. Pendidik harus mempelajari dan memimpin pembawaan dan kecenderungan anak-anak. Dengan latihan dan pembiasaan mereka diajar melaksanakan perbuatan yang baik dan meninggalkan yangburuk. Menurutnya sumber pengetahuan ialah pengalaman, pengamatan, yang menghasilkan materi untuk berpikir. Dalam satu hal ia sefaham dengan J. Locke, bahwa jiwa seseorang pada waktu dilahirkan tidak berisi apa-apa (tabula rasa).
Pendidikan formal menurutnya berakhir pada usia 21 tahun, dan periode ini terbagi menjadi 4 bagian:
1) pendidikan hingga dengan usia 5 tahun;
2) pendidikan hingga dengan usia 7 tahun;
3) pendidikan hingga dengan usia pubertas;
4) pendidikan hingga dengan usia 21 tahun.
Dalam prinsipnya, sebelum usia 5 tahun, hendaknya pendidikan bersifat sewajarnya, diadaptasi dengan keadaan anak. Membaca, menulis, ilmu hitung, gymnastic, dan musik dianggap sebagai mata pelajaran untuk latihan kejiwaan. Gymnastic dan musik ialah yang paling penting, lantaran mempunyai akhir pencucian jiwa, dan nafsu-nafsu yang tidak baik dan membuatkan perbuatan baik sesuai dengan tuntunan moral. Menurut Aristoteles, lantaran pendidikan ialah soal universal, maka pendidikan dilakukan oleh negara.
DAFTAR PUSTAKA
1.Bowra,C.mb1994.Yunani klasik .jakarta: Tira Pustika
2.Djumhur. 1974. Sejarah Pendidikan. Bandung: CV Ilmu
3.Agung,Leo.2012.Sejarah Pendidikan.Yogyakarta,Ombak
4.Sumabroto,Sugihardjo dan budiawan. 1989. Sejarah peradapan barat klasik: Dari Pra Sejarah Hingga Runtuhnya Romawi.Yogyakarta: Liberty.
5.Michael H. Hart (1978). Seratus Tokoh Yang Paling Berpengaruh Dalam Sejarah. PT.Dunia Pustaka Jaya. Jakarta Diposkan oleh as ril di 23.