Perlawanan Diponegoro (1821-1830)

Suharyati Lusiana/ SI IV/14B
Perang diponegoro yakni perang yang berlangsung antara tahun 1825-1830 di dareah jawa tengah dan sebagian jawa timur. Dalam perang terjadi antara Belanda penduduk pribumi yang dipimpin oleh Pangeran Diponegoro. Pangeran Diponegoro (1785-1855) yakni putra Sultan Hamengkubuwono III dari selir Raden Ayu Mengkarawati-putri Bupati Pacitan. Semenjak kecil, diasuh oleh neneknya, Ratu Ageng di Tegalrejo. Sebuah tempat tinggal yang terpencil yang letaknya beberapa kilometer dari istana Yogyakarta.Disana ia memasuki lingkungan-lingkungan pesantren dan tidak mau menghadap istana yang tidak disukainya lantaran banyak persengkongkolan, kemerosotan akhlak, pelanggaran susila,dan dampak barat yang bersifat merusak. Sekitar tahun 1805 pangeran diponegoro mengalami sebuah bencana spiritual ,dia bermimpi bahwa ia yakni calon raja yang memiliki kiprah bahwa ia harus memasuki zaman kehancuran yang harus mensucikanya. Setelah 20 tahun menantikan waktu yang baik,sementara situasi di jawa bertambah jelek . Pada tahun 1820 mulai terjadi pemberontakan–pemberontakan kecil. Sebab umum terjadinya perang diponegoro yakni sebagai berikut: Rakyat dibelit aneka macam bentuk pajak dan pungutan, Pihak keraton yogyakarta tidak berdaya menghadapi campur tangan politik pemerintah kolonial, Pihak keraton hidup glamor dan tidak memedulikan penderitaan rakyat. Dan alasannya yakni khusus terjadinya perang

diponegoro yakni sebagai berikut: Pangeran diponegoro tersingkir dari elite kekuasaan lantaran menolak berkompromi dengan pemerintah kolonial. Pangeran diponegoro menentukan mengasingkan diri ke tegalrejo, Pemerintah kolonial melaksanakan profokasi dengan menciptakan jalan yang menerobos makam leluhur pangeran diponegoro. Melihat situasi Jawa yang penuh dengan penderitaan,dengan rakyat dibebani dengan kewajiban membayar pajak. Serta harus memenuhi kebutuhan orang Belanda dan para aristokrat yang menjadi kaki tangan belanda. Hal tersebut menciptakan Pangeran Diponegoro menjadi tidak tahan melihat situasi tersebut. Selain itu, Belanda pada masa itu ikut campur dalam urusan pemerintah istana, menyerupai penobatan Sultan Yogyakarta. Setelah Sultan Hamengkubuwono IV wafat, Belanda mengangkat putra mahkota, yaitu Jarot sebagai sultan Yogyakarta, Padahal usianya pada ketika itu gres tiga tahun. Sultan hanya dijadikan sebagi simbol pemerintahan saja. Selanjutnya dalam pemerintahan istana Yogyakarta diatur oleh Residen Smissert. Pada bulan Mei 1825, sebuah jalan dibangun didekat Tegalrejo pihak belanda yang menciptakan jalan dari Yogyakarta ke Magelang melalui Tegalrejo tanpa persetujuan dari pangeran diponegoro. Pangeran diponegoro dan masyarakat merasa tersinggung dan murka lantaran Tegal rejo yakni tempat makam dari leluhur Pangeran Diponegoro (Junaidi ,2007:85). Selain itu pembutan jalan tersebut pembangunan tersebut akan menggusur banyak lahan. Hal inilah yang menjadi titik tolak terjadinya perang Diponegoro . Untuk menuntaskan duduk masalah tanah itu, gotong royong Residen Belanda, A.H.Smisaert mengundang Pangeran Diponegoro untuk menemuinya. Namun ajakan itu ditolak mentah-mentah olehnya. Pemerintah Hindia Belanda kemudian melaksanakan pematokan di tempat yang dibentuk jalan. Pematokan sepihak tersebut menciptakan Pangeran Diponegoro geram, kemudian memerintahkan orang-orangnya untuk mencabuti patok-patok itu. Melihat kelakuan Pangeran Diponegoro, Belanda memiliki alasan untuk menangkap Diponegoro dan melaksanakan tindakan. Tentara meriam pun didatangkan ke kediaman Diponegoro di Tegalrejo. Pada tanggal 20 Juli 1825 perang Tegalrejo dikepung oleh serdadu Belanda. Akibat serangan meriam, Pangeran Diponegoro besrta keluarganya terpaksa mengungsi lantaran ia belum mempersiapkan perang.

Awalnya pertempuran dilakukan terbuka dengan pengerahan pasukan-pasukan infantri, kavaleri, dan artileri oleh Belanda. Pihak Diponegoropun menanggapi dan berlangsunglah pertempuran sengit di kedua belah pihak. Medan pertempuran terjadi di puluhan kota dan di desa di seluruh Jawa. Jalur-jalur logistik juga dibangun dari satu wilayah ke wilayah lain untuk menyokong keperluan perang. Belanda menyiapkan puluhan kilang mesiu yang dibangun di hutan-hutan dan dasar jurang. Mesiu dan peluru terus diproduksi ketika peperangan berlangsung. Selain itu Belanda juga mengarahkan intel utuk mencari informasi guna menyusunn setrategi perang. Selanjutnya Diponegoro beserta pengikutnya mengunakan taktik gerilya, yakni dengan cara berpencar, berpindah tempat kemudian menyerang selagi musuh lengah. Setrategi ini sangat merepotkan tentara Belanda. Belum lagi Pangeran Diponegoro menerima pemberian rakyat. Awlanya sendiri peperangan banyak terjadi di tempat barat kraton Yogyakarta menyerupai Kulonprogo, Bagelen, dan Lowano (Perbatasan Purworejo-Magelang). Perlawanan kemudian berlanjut kedaerah lain: Gunung kidul, Madiun, Magetan, Kediri, dan sekitar Semarang. Serangan-serangan besar dari pendukung Diponegoro biasanya dilakukan pada bulan-bulan penghujan lantaran hujan tropis yang deras menciptakan gerakan pasukan Belanda terhambat. Selain itu, penyakit malaria dan disentri turut melemahkan moral dan fisik pasukan ,Belanda kewalahan menhadapi perlawanan Diponegoro. Diponegoro sempat mengalami kekalahan besar pada bulan Oktober 1826 ketika dipikul mundur di Surakarta . Meskipun demikan , pada selesai tahun 1826 pasukan-pasukan pemerintah Belanda nampak tidak sanggup maju lagi, dan Diponegoro masih menguasai aneka macam wilayah pedalaman Jawa tengah. Berbagai langkah –langkah sudah di coba pihak Belanda diantaranya, ada bulan Agustus 1826 pihak Belanda memulangkan sultan Hamengkubuwono II yang sudah berusia lanjut dari tempat pengasingan Ambon dan mendudukanya lagi diatas tahta Yogyakarta (1826-1828). Tetapi langkah ini sama sekali gagal mendorong rakyat Jawa biar tidak lagi mendukung pemberontakan. Hingga alhasil pada tahun 1827 pemerintah Hindia Belanda menerapkan setrategi jitu untuk mematahkan perlawanan gerilya ini. Setelah pada bentrok-bentrok sebelumnya yang berakibat kekalahn dari pihak belanda, yang dikarenakan taktik gerilya yang dilakukan oleh pasukan Diponegoro.Akhirnya pada tahun 1827 pemerintah Hindia Belanda menerapkan setrategi jitu untuk mematahkan perlawanan gerilya ini. Menghadapi perlawanan tersebut, Belanda menerapkan taktik Benteng Stelsel (sistem Benteng) ats perinta Jendral De Kock. Dengan siasat ini, Tentara Belanda mendirikan benteng di setiap daerah-daerah yang dikuasainya dan diantara benteng-benteng itu dibentuk jalan raya.Akibatnya, pasukan Diponegoro mengalami kesulitan lantaran hubungan antar pasukan dan rakyat menjadi sulit. Rakyat dihasut dan di mencerai-beraikan dengan politik Devide et empera. Kekeutan pasukan Diponegoro pun semakin lemah lantaran banyak pemimpin yang gugur, tertangkap, atau menyerah.Pembelotan dan jumlah tawanan dari pihak pemberontak semakin meningkat. Pada bulan April 1829 Kiai Mojo berhasil ditangkap. Pada bulan september 1829 paman Diponegoro,pangeran mangubumi dan panglima utamanya sentot, keduanya menyerah. Selanjutnya Sentot dimanfaatkan oleh Belanda untuk menjalankan kiprah untuk melawan kaum padri di sumatera,sedangkan Mangkubumi diangkat sebagai salah satu dari pangeran-pangeran yang paling senior dari Yogyakarta. Akhirnya, pada bulan Maret 1830 Diponegoro bersedia untuk berunding di Magelang. Namun setibanya disana ia di tangkap. Pihak Belanda mengasingkanya ke Manado dan kemudian ke Makasar, Dimana ia wafat pada tahun 1855. Pemberontakan alhasil berakhir, di pihak Belanda perang ini telah menelan setidaknya 8000 serdadu Belanda dan di pihak pribumi sekitar 2000.000 tewas sehingga penduduk Yogyakarta habis hampir separohnya. Perang diponegoro yakni perang yang berlangsung antara tahun 1825-1830 di tempat jawa tengah dan sebagian jawa timur.
Daftar Pustaka
1. Al Ansori, Junaedi.2007. Sejarah Nasional Indonesia Masa Prasejarah Sampai Proklamasi kemerdekaan, Jakarta: PT Mapan.
2. Ricklefs,M.C.1999. Sejarah Indonesia Modern,Yogyakarta : Gajah Mada University Press.
3.  Kartodirdjo,A .Sartono. 1973.Sejarah Perlawanan-perlawana Terhadap Kolonialisme,Yogyakarta:Gramedia