Perlawanan Radin Intan Dan Raden Imba Terhadap Penjajahan Belanda Di Provinsi Lampung (1825-1860)

Tri Hartono/SI4/14B
 

Radin Intan II ialah salah satu jagoan nasional dari Propinsi Lampung. Dahulu ia ialah pejuang yang memimpin perlawanan rakyat Lampung ketika melawan penjajahan Belanda. Atas jasa dan pengorbanannya dalam membela kepentingan rakyat, oleh pemerintah dijadikan sebagai jagoan nasional, dan dibuatlah monumen di sekitar lokasi makamnya. Radin Intan II gotong royong putra dari Raden Imba II, sedangkan Raden Imba II ialah putra dari Radin Intan. Apabila dilihat dari silsilahnya Radin Intan I ialah keturunan dari Fatahillah yang merupakan anak dari Ratu Darah Putih dan Tun Penatih. Dia ialah pemimpin Keratuan Darah Putih di Lampung. Sedangkan Raden Imba II ialah keturunan Fatahillah anak dari Ratu Darah Putih dan Tun Penatih yang menikah dengan Ratu Mas. Sedangkan Radin Intan II ialah satu keturunan dari Fatahillah yang mengembangkan agama Islam di Banten sekitar era XVI. Radin Intan II dikenal sebagai pejuang dalam menentang penjajahan Belanda di Lampung dan gugur sebagai pahlawan. Ia ialah putra dari Raden Imba II, ia dipelihara dan dibesarkan oleh ibu dan keluarganya dengan penuh rahasia. Ia lahir di hutan tahun 1831. Ketika Benteng Raja Gepei jatuh ke pemerintahan Belanda tahun 1834, ia berusia 3 tahun. Saat kecil Radin Intan II diliputi suasana perang melawan Belanda dan sekutu-sekutunya. Raden Intan II meninggal dikala usia masih muda di dikala ia belum menikah, sehingga tidak mempunyai keturunan lagi.

Sebelum kedatangan Belanda ke Lampung, Lampung merupakan salah satu kawasan yang menerima imbas kekuasaan dari Banten, hal itu disebabkan Lampung waktu itu, kaya akan rempah-rempah. Namun di dikala kedatangan Belanda, secara perlahan Lampung sanggup dikuasai oleh Belanda. Kedatangan Belanda ke Indonesia, tujuan utama ialah berdagang sambil mencari rempah-rempah. Dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia, kata perlawanan mengandung arti usaha yaitu usaha mencegah, menangkis, bertahan, dan sebagainya. Atau perlawanan juga mengandung arti kontradiksi (Tim Penyusun Kamus, 1990: 1503). Mengacu pada makna kedua, yaitu perlawanan ialah pertentangan, yaitu satu kelompok yang berlawanan arah atau tujuan dengan kelompok yang lain. Perlawanan yang akan dibahas dalam penulisan ini ialah “Perlawanan Radin Intan dan Radin Imba terhadap penjajahan Belanda. Dalam perlawanan tersebut rakyat Lampung melaksanakan perjuangannya dalam rangka ingin keluar dari cengkeraman penjajah, lantaran adanya penjajahan tersebut sangat menyengsarakan rakyat. Untuk itu penjajahan apapun bentuknya harus dilawan.
Dalam setiap bentuk perlawanan yang masuk dalam memori kita sebagai generasi muda, hanyalah bentuk-bentuk perlawanan besar untuk melawan penjajahan Belanda. Perlawanan besar yang dimaksud mirip Perang Diponegoro di Jawa Tengah, ataupun Perang Padri yang dipimpin Panglima Polim. Seolah-olah kita dikaburkan oleh peristiwa-peristiwa kecil yang gotong royong itu merupakan insiden nasional, contohnya Perlawanan Radin Intan dalam melawan penjajahan Belanda. Perlawanan Radin Intan terhadap penjajahan Belanda, pertama dilakukan oleh Radin Intan I. Raden Intan I (1751-1828), ialah penguasa Keratuan Darah Putih atau Negara Ratu yang berpusat di Kahuripan. Daerah ini kini termasuk wilayah Kecamatan Penengahan Kabupaten Lampung Selatan. Bagi Belanda Radin Intan I dianggap sebagai orang yang keras kepala, ia tidak mau menuruti apa perintah Belanda, bahkan iapun cenderung untuk melawan dari segala kebijakan yang dibentuk pemerintah Belanda, mirip monopoli perdagangan lada. Bagi Belanda perilaku dan tindakan yang dilakukan Radin Intan I tersebut semakin usang semakin menjengkelkan. Meskipun demikian dibalik perilaku Radin Intan I yang keras kepala tersebut, Belanda tetap memperlakukan Radin Intan I dengan sifat yang lunak. Sikap lunak sengaja diperlakukan oleh pemerintah Belanda (khususnya Gubernur Jenderal Belanda, H.W. Daendels), lantaran Daendels mengakui kepemimpinan Raden Intan I sebagai penguasa di Lampung. Disamping itu, perlakukan lunak Belanda khususnya Daendels tersebut didasarkan atas perhatian Belanda yang terpecah, dikarenakan perhatian Belanda lebih tercurah pada persiapan untuk menghadapi ancaman pasukan Inggris. Selanjutnya pada kwartal I era 19 ini, Belanda juga harus menghadapi perlawanan Pangeran Diponegoro di Jawa Tengah (1825-1830). Dengan ketidak mampuan Daendels dalam mendekati Radin Intan I tersebut, hasilnya Radin Intan I mengambil langkah-langkah yang bagi Belanda sangat membahayakan, mirip menjalin relasi persahabatan dengan Daeng Gajah dari Tulang Bawang dan Seputih. Raden Intan pun sengaja melepaskan diri dari ikatan Belanda. Dengan tindakan yang diambil Raden Intan ini, membuktikan bahwa Radin Intan I dianggap oleh Belanda sebagai pemberontak dan akan melaksanakan suatu pemberontakan. Dengan adanya kekhawatiran tersebut, hasilnya fihak Belanda mengadakan negosiasi dengan Radin Intan I yang isinya :
1.      Radin Intan I bersedia mengakiri kekerasan dan membantu pemerintah Belanda.
2.   Raden Intan I akan diakui kedudukannya, sebagaimana pada masa pemerintahan Gubernur Jenderal H.W. Daendels.
3.     Radin Intan I menerima pensiun sebesar f.1200 per tahun dan saudara-saudaranya masing-masing sebesar f.600 per tahun.
Dari isi negosiasi tersebut, pemerintah Belanda menunjukkan janji-janji kepada Radin Intan I, sehingga terciptalah suasana damai. Namun suasana tenang tersebut, ternyata tidak memakan waktu lama, lantaran relasi antara pemerintah Belanda dengan Radin Intan I kembali meruncing. Sebab-sebab meruncingnya relasi kedua belah pihak tersebut dikarenakan Pemerintah Belanda secara sepihak melanggar kesepakatan tenang dan dengan terang-terangan menempuh jalan kekerasan. Pada awal bulan Desember 1825 pemerintah Belanda mengirim utusan untuk menangkap Radin Intan I, dengan cara mengirim Gezaghebber Lelievre di Telukbetung bersama Letnan Misonius. Kedatangan kedua orang Belanda tersebut dilengkapi dengan 35 serdadu dan 7 opas, bergerak menuju Negara Ratu. Awalnya Radin Intan I mendapatkan dengan baik kedatangan kedua orang Belanda tersebut, dan Radin Intan pun bersedia dibawa ke Teluk Betung, tetapi dengan syarat Radin Intan meminta waktu 2 hari dikarenakan sedang sakit. Tatkala kedua orang Belanda tersebut sedang istirahat di Negara Ratu, tiba-tiba diserang oleh pasukan Radin Intan I tanggal 13 Desember 1825, dan orang-orang Belanda pun berhasil dilumpuhkan. Korban tewas menimpa Lelievre bersama seorang sersan, sedangkan Letnan Misonius luka tertembak. Dengan kekalahan Belanda ini maka untuk sementara keadaan di Lampung kembali tenang, lantaran Belanda mulai mencurahkan kekuatannya untuk menghadapi penyerangan Pangeran Diponegoro. Tiga tahun kemudian Radin Intan I jatuh sakit hingga meninggal dunia, sedangkan tahta sebagai pemimpin di Keratuan Darah Putih diwariskan kepada putranya yaitu Raden Imba II.
Raden Imba II yang mewarisi tahta sebagai Ratu di Lampung ternyata juga mewarisi sifat-sifat ayahnya yaitu anti terhadap penjajahan Belanda, dan berusaha untuk melawannya. Sikap anti terhadap penjajahan Belanda tersebut juga menerima dukungan dari ayah mertuanya yaitu Kiai Arya Natabraja dan Kepala Marga Teratas Batin Mangundang, serta rakyat kawasan Semangka. Semasa Raden Imba II menjabat sebagai Ratu Lampung, ia mempunyai relasi ke luar istana yang sangat luas, yaitu menjalin relasi persahabatan dengan kesultanan Lingga yang diwujudkan dengan perkawinan saudara perempuannya dengan Sultan Lingga, disamping itu Raden Imba II juga menjalin persahabatan dengan pelaut Bugis dan Sulu. Dengan jalinan persahabatan yang dibina Raden Imba dengan beberapa wilayah di luar Lampung, menciptakan kekhawatiran di pihak tentara Belanda, lantaran dikhawatirkan Raden Imba II menjalin suatu kekuatan untuk menyerang Belanda. Ternyata dugaan Belanda tersebut benar, Raden Imba II melaksanakan penyerangan di Teluk Lampung. Dengan dukungan rakyat setempat, Raden Imba II berhasil mengalahkan pasukan Belanda di bersahabat Kampung Muton. Serangan yang dilakukan Raden Imba II ini berakibat buruk, lantaran petinggi pemerintah Belanda menderita kerugian, sehingga Asisten Residen Belanda untuk Lampung yaitu J.A. Dubois meminta dukungan bala tentaranya dari Batavia, untuk segera mengirim bantuannya guna memadamkan perlawanan Raden Imba II. Bala dukungan pun tiba dengan kekuatan lima buah Kapal Alexander dan Dourga, 300 serdadu Belanda, serta 100 serdadu Bugis. Bala dukungan tersebut dibawah pimpinan Kapten Hoffman dan Letnan dua Kobold. Pasukan Belanda ini mendarat di Kalianda tanggal 8 Agustus 1832. Pasukan Belanda juga menuju Kampung Kesugihan dan Negara Putih, tapi sayang tempat tersebut sudah ditinggalkan oleh Raden Imba II. Untuk melampiaskan kekesalannya, Belanda mengkremasi semua rumah yang ada di kampung tersebut.
Raden Imba II yang mengetahui insiden tersebut eksklusif membangun kubu pertahanan yang tersebar di beberapa daerah, mirip di Raja Gepeh, Pari, Bedulu, Huwi Perak, Merambung, Katimbang, dan Sakti. Agar tidak kehabisan materi makanan, Raden Imba II juga membangun lumbung-lumbung persedian makanan, begitu pula untuk mengimbangi kekuatan Belanda, Raden Imba II menambah senjata, dengan cara melaksanakan tukar barang dengan Inggris yang berkuasa di Bengkulu. Pertempuran melawan Belanda pun kembali terjadi tanggal 9 September 1832 di kawasan Gunung Tanggamus. Dalam pertempuran tersebut, pasukan Belanda dibawah pimpinan Kapten Hoffman. Namun dalam perlawanan melawan Belanda kali ini pasukan Raden Imba II kembali mengalami kemenangan. Dari pasukan Belanda banyak yang tewas, sedangkan Kapten Hoofman mengalami luka-luka. Dengan kekalahan tersebut, hasilnya pasukan Belanda ditarik mundur. Dengan ditariknya pasukan Belanda dari kawasan Gunung Tanggamus tersebut, bukan berarti pasukan Belanda mendapatkan kekalahan. Artinya justru pasukan Belanda membangun kekuatan untuk membalas kekalahannya terhadap Raden Imba II. Kapten Hoffman untuk kedua kalinya memimpin penyerangan terhadap Raden Imba II. Kali ini Kapten Hofman mengerahkan kekuatan yang lebih besar, yaitu ditemani oleh 600 serdadu Belanda yang direkrut dari pasukan yang telah berpengalaman dalam melawan Pangeran Diponegoro. Kapten Hoffman juga menerima dukungan pasukan dari Letnan Vicq de Cumtich. Pertempuran kali ini sanggup dikatakan pertempuran besar yang terjadi di Benteng Raja Gepei. lantaran dari keduanya mengalami kerugian yang sangat besar, yaitu pasukan Raden Imba II kehilangan 100 pasukannya, sedangan pasukan Belanda hanya 65 orang termasuk Letnan Neuenborger dan Letan Huiseman. Namun demikian Raden Imba II masih sanggup berhasil memimpin pasukannya untuk mempertahankan Benteng Raja Gepei. Begitu pula pasukan Belanda masih tertahan dan menerima dukungan pasukan dibawah pimpinan Kapten Beldhouder dan Kapten Pouwer. Namun kedua kapten tersebut tewas.
Beberapa kali kekalahan yang dialami oleh pasukan Belanda dalam menghadapi setiap perlawanan, bagi Belanda menyebabkan suatu cambuk untuk mengirimkan bala dukungan yang lebih besar, begitu pula yang dialami Belanda dalam menghadapi beberapa kali perlawanan yang dilakukan oleh Raden Imba II. Tanggal 23 September 1834, pemerintah Belanda di Batavia kembali mengirimkan dukungan dalam jumlah yang besar, yaitu 21 opsir (perwira), dan 800 serdadu istimewa yang dilengkapi dengan meriam besar, dukungan tersebut dibawah pimpinan Kolonel Elout. Benteng Raja Gepei yang selama ini dijadikan tempat persembunyian Raden Imba II, oleh Belanda berhasil dihancurkan dan diduduki, namun Raden Imba II dan mertuanya Kyai Arya Natabraja berhasil meloloskan diri. Selanjutnya Raden Imba dan beberapa pasukannya menyingkir ke Kesultanan Lingga sekaligus minta perlindungan. Namun sayang tempat persembunyiannyapun diketahui oleh Belanda. Raja Lingga hasilnya menerima tekanan dari Belanda, yang isinya apabila tidak menyerahkan Raden Imba II, Kerajaan Lingga akan menerima serangan dari Belanda. Akhirnya Raden Lingga pun menyerahkan Raden Imba II meskipun dengan terpaksa.
Dengan diserahkannya Raden Imba II dan beberapa pengikutnya ke Belanda, maka mereka ditangkap dan dibawa ke Batavia. Pada dikala di Batavia itulah mertua Raden Imba II dan hulu balangnya Raden Mangunang meninggal dunia. Sedangkan Raden Imba II dibuang ke Pulau Timor. Raden Imba II pun hasilnya meninggal di Pulau Timor. Sedangkan istrinya yang sedang hamil renta dipulangkan ke Lampung. Dengan meninggalnya Raden Imba II, maka kekuasaan Lampung berada sepenuhnya di tangan Belanda. Selama itulah kurang lebih 15 tahun, Lampung sepi dari pemberontakan.  Istri Raden Imba yang telah hamil, beberapa waktu kemudian melahirkan seorang pria sebagai anak yatim, lantaran Raden Imba II telah meninggal dunia. Anak tersebut diberi nama Radin Intan II. Ia meneruskan jejak leluhurnya sebagai orang yang anti penjajahan.
Pada tahun 1850, Radin Intan II telah menginjak usia 15 tahun, lantaran ia sebagai anak tunggal dari Raden Imba II, maka ia pun berhak meneruskan tahta memimpin Keratuan Darah Putih di Lampung, sehingga ia pun dilantik sebagai penguasa Negara Ratu tersebut. Ia mulai menata segala sarana dan prasarana yang telah rusak jawaban perlawanan ayahnya terhadap Belanda. Di antaranya Radin Intan II memperbaiki benteng yang rusak, dan iapun membangun kembali benteng-benteng gres di antaranya di Galah Tanah, Pematang Sentok, Kahuripan, dan Salaitahunan. Semua benteng tersebut dilengkapi dengan parit dan terowongan rahasia. Sedangkan persenjataannya masih sangat sederhana untuk ukuran kini mirip keris, badik, pedang, dan meriam besar dan kecil. Sedangkan pasukannya dibagi menjadi unit-unit kecil yang terdiri atas 40 orang dengan dipimpin oleh seorang komandan prajurit, begitu pula sarana lain juga dipersiapkan mirip dapur umum atau pejunjongan (untuk menopang pejuang). Pertahanan dipusatkan di Gunung Rajabasa, yang secara militer letak gunung ini sangat strategis dalam menghadapi serangan lawan dari manapun lantaran letaknya yang dikelilingi benteng-benteng pertahanan, mirip sebelah barat dan utara terdapat Benteng Merabung, Galah Tanah, Pematang Sentok, Katimbang, dan Salai Tabuhan. Sebelah timur terdapat Benteng Bendulu dan Hawi Perak, sedangkan di kaki-kaki gunung terdapat Benteng Raja Gepei Cempaka dan Kahuripan Lama. Sepak terjang Radin Intan II hampir ibarat ayahnya, yaitu menggalang persahabatan dengan beberapa tokoh penting mirip Singabranta, Wak Maas, dan Haji Wakhia, serta rakyat dari Marga Ratu dan Dataran. Tujuannya penggalangan tersebut ialah untuk meningkatkan kekuatan pasukan. Bagi Belanda, sepak terjang yang dilakukan oleh Radin Intan II ini dianggap membahayakan. Oleh lantaran itu Belanda mengambil tindakan yaitu berupaya untuk membujuk dan melaksanakan diplomasi dengan Radin Intan II. Dengan syarat-syarat yang cukup menjanjikan, Belanda berusaha membujuk Radin Intan II semoga menghindari permusuhannya dengan Belanda, dengan imbalan akan diberi pengampunan, ditawari biaya pendidikan, dan sebagainya. Namun Radin Intan II menolak segala bujukan tersebut. Karena usulan Belanda ditolak, maka Belanda pun pada tahun 1851 mengirim pasukan yang berkekuatan 400 serdadu yang eksklusif dipimpin oleh Kapten Tuch. Pasukan Belanda pun eksklusif menyerang/menyerbu Benteng Merambung, tetapi sayang penyerangan Belanda ini mengalami kegagalan. Dan kemenangan ada di pihak Radin Intan II. Kemudian pada tahun 1853, pemerintah Belanda kembali mengajukan suatu perdamaian yang isinya semoga Radin Intan II menghentikan penyerangan. Usulan perdamaian kali ini diterima oleh Radin Intan II, dan Radin Intan II pun menghentikan suatu peperangannya dengan Belanda sehingga suasana menjadi tenang. Namun sayang suasana tenang itupun hanya berlangsung 2 tahun yaitu hingga 1855. Dan tahun 1856 Radin Intan II kembali melaksanakan penyerangan.
Bila diruntut dari perlawanan satu ke perlawanan berikutnya, baik yang dilakukan oleh Radin Intan I, Raden Imba II, dan Radin Intan II, ternyata pemerintah Belanda selalu dipihak yang kalah. Oleh lantaran pemerintah Belanda ingin mengerahkan bala bantuannya sebanyak mungkin yang diminta dari Batavia, yang tujuannya untuk menghentikan perlawanannya di Keratuan Darah Putih Lampung. Pada tahun 1856, bala dukungan dari Batavia tersebut benar-benar datang. Untuk bala dukungan kali ini dibawah pimpinan Kolonel Walleson yang dibantu Mayor Nauta, Mayor Van Oostade, dan Mayor AWP Weitzel. Bala dukungan ini/atau yang disebut ekspedisi ini terdiri atas 9 buah kapal perang, 3 buah kapal angkut peralatan, puluhan bahtera mayung, dan jung dengan mengangkut 1.000 serdadu, dan 350 perwira, 12 meriam besar, serta 30 satuan zeni. Dengan datangnya bala dukungan tersebut, pasukan Belanda mendarat untuk merebut Pulau Sikepal (yaitu kawasan Teluk Tanjung Tua), pada tanggal 10 Agustus 1856, dua hari kemudian pimpinan pasukan Belanda mengeluarkan ultimatum kepada Radin Intan II dan pimpinan rakyat lainnya semoga menyerahkan diri dalam tempo 5 hari.
Dari Pulau Sikepal pasukan Walseson kemudian bersiap untuk menyerang Benteng Bendulu, penyerangan tersebut dilakukan pada tanggal 16 Agustus 1856 yaitu melalui kawasan Ujau dan Kenali. Benteng Bendulu sanggup dikuasai keesokan harinya tanpa perlawanan. Kemudian pasukan Belanda bergerak menuju Benteng Hawi Perak, sekitar pukul 8 pagi tanggal 18 Agustus 1856. Namun isu yang beredar, Benteng Bendulu telah direbut kembali oleh pasukan Radin Intan II. Dengan begitu Walleson dan pasukannya segera kembali berbalik arah ke Benteng Bendulu. Beteng Bendulu berhasil direbut kembali oleh Walleson dan selanjutnya dijadikan sebagai pangkalan (markas) pasukan Belanda dalam penyerbuan ke benteng-benteng pertahanan Radin Intan yang lain.
Dalam melaksanakan penyerangan terhadap benteng Katimbang, Walleson memecah kekuatan pasukan menjadi tiga kelompok yang bergerak melalui tiga arah yang berbeda, pasukan pertama dipimpin eksklusif oleh Kolonel Walleson yang bergerak dari pesisir selatan terus melingkar melalui lereng timur Gunung Rajabasa ke arah utara, pasukan kedua yang dipimpin oleh Mayor van Costade bergerak dari pesisir selatan (Pulau Palubu, Kalianda, dan Way Urang) melingkar melalui lereng sebelah barat dan utara menuju Kelau dan Kunyaian, untuk merebut Benteng Merambung dan kemudian menuju Benteng Katimbang, pasukan ketiga dipimpin oleh Mayor Nauta bergerak dari Penengahan melalui hutan untuk merebut Benteng Salaitahunan dan hasilnya menuju benteng Katimbang.
Keesokan harinya tanggal 19 Agustus 1856, pasukan Walleson berhasil merebut Benteng Hawi Perak, namun lantaran sesuatu hal, yaitu cuaca buruk, maka pasukan Walleson pun terpaksa balik kembali ke Bendulu. Sedangkan Benteng Hawi Perak dibakar. Setelah mengkremasi benteng tersebut, selanjutnya pasukan Walleson bergabung dengan pasukan Mayor van Costade yang bergerak melalui lereng barat Rajabasa. Kemudian pada tanggal 27 Agustus 1856, pasukan Belanda yang dipimpin oleh Walleson dan Van Costade berhasil merebut Benteng Merambung, Galah tanah, dan Pematang Sentok. Benteng Merambung berhasil direbut pada pukul 7 pagi dan Benteng Pematang Sentok direbut tanpa perlawanan. Pada dikala merebut Benteng Galah Tanah tersebut, pasukan Belanda menerima perlawanan yang cukup sengit, lantaran pasukan Radin Intan II siap bertahan, dalam mempertahankan benteng dengan senjata meriam dan ranjau darat. Akan tetapi hasilnya sekitar pukul 09.00 pagi Benteng Galah berhasil direbut pasukan Belanda. Sementara itu pasukan Belanda yang dipimpin oleh Mayor Nauta dengan susah payah berhasil merebut Benteng Salai Tahunan. Dengan dikuasainya Benteng Galah dan Benteng Salai Tahunan, terbukalah jalan kearah Benteng Katimbang.
Tanggal 27 Agustus 1856, Benteng Katimbang mulai diserang oleh Belanda, sekitar pukul 12 siang. Alasan diserangnya benteng ini, lantaran mempunyai persediaan logistik yang cukup besar yang dipertahankan oleh Raden Intan II dan pasukannya. Tetapi lantaran demi segi persenjataan yang tidak seimbang itulah maka Benteng Katimbang berhasil direbut oleh Belanda pada pukul 05.00 subuh. Radin Intan dan kawan-kawannya mirip Haji Makhia, Singa Branta, dan Wak Maas berhasil meloloskan diri.  Dengan larinya Radin Intan II dan beberapa temannya, pasukan Belanda berusahan mengejarnya. Dengan pengejaran pasukan Belanda tersebut, maka Radin Intan II melaksanakan gerilya untuk menghadapi pasukan Belanda. Akhirnya pasukan Belanda pun dibentuk jengkel oleh Raden Intan II. Oleh lantaran itu untuk menangkap Radin Intan II di persembunyian, pasukan Belanda melakukannya dengan aneka macam cara yaitu menanyakan dimana keberadaan Radin Intan kepada penduduk ataupun beberapa wanita, sehingga keberadaan Radin Intan II pun sanggup diketahui oleh Belanda, namun demikian Radin Intan II tidak sanggup ditangkap lantaran tempat persembunyian Raden Intan selalu berpindah-pindah, yaitu dari tempat satu ke tempat lain. Dengan kesulitan untuk menangkap Radin Intan tersebut, Belanda mulai membabi buta yaitu melaksanakan cara-cara yang tidak pada tempatnya mirip menangkap saudara atau orang-orang terdekatnya Radin Intan II mirip istri, anak, menantu, maupun saudara-saudara sobat seperjuangan Radin Intan II. Kemudian pada tanggal 9 September 1856 bersamaan dengan eksekusi mati Kiai Wakhia, dan dalam pertempuran berikutnya Wak Maas dibunuh oleh pasukan Belanda, dan lama-kelamaan Radin Intan II melaksanakan usaha secara sendirian.
Karena Belanda masih kesulitan dalam menangkap Radin Intan II, maka satu-satunya jalan Belanda melaksanakan tipu muslihat, yaitu dengan cara meminjam orang Lampung sendiri. Pasukan Belanda berhasil membujuk Kepala Kampung Tataan Udik yaitu Raden Ngarupat. Raden Ngarupat hasilnya tergoda bujukan Belanda, iapun melalukan perintah Belanda dalam melaksanakan tipu muslihatnya. Caranya Raden Ngarupat mengundang Radin Intan II untuk makan malam di rumahnya. Ketika Raden Ngarupat sedang menghadapi hidangan, pasukan Belanda eksklusif menyergapnya. Radin Intan II yang ditemani saudara sepupunya eksklusif menunjukkan perlawanan. Namun sayang dengan kekuatan yang tidak seimbang, hasilnya Radin Intan II gugur. Dengan gugurnya Radin Intan II, perlawanan terhadap Belanda sifatnya kecil yang bagi bagi Belanda gampang untuk mengalahkannya.
Dengan gugurya Radin Intan II oleh pemerintah kawasan setempat ia diangkat sebagai jagoan nasional. Benteng dan Makam Radin Intan II terletak di Desa Gedungharta, Kelurahan Cempaka Kecamatan Penengahan, Kabupaten Lampung Selatan. Apabila akan mengunjungi tempat ini pengunjung sanggup menuju ke Komplek Makam Radin Intan II yang berjarak 75 km dari Kota Tanjungkarang, dan 167 km dari Bakauheni. Lokasinyapun gampang dijangkau dengan semua jenis kendaraan, lantaran berada di pinggir jalan yang memakan area 3.750 m² yang terdiri dari makam, taman, benteng, dan rumah informasi. Semasa hidupnya Radin Intan II mendirikan benteng-benteng yang pada umumnya berupa benteng alam berbentuk gundukan tanah dan parit-parit buatan. Saat ini Benteng-benteng tersebut sebagian telah hilang dan tidak ditemukan sisa-sisanya. Sedangkan benteng pertahanan yang masih tersisa ialah benteng pertahanan Radin Intan II di Cempaka Desa Kahuripan Kecamatan Penengahan Kabupaten Lampung Selatan. Pada benteng ini didalamnya terdapat makam Radin Intan II. Saat ini, benteng dan makam telah dijadikan sebagai makam jagoan dan juga objek wisata sejarah yang dibutuhkan sanggup menarik pengunjung. Adapun para pengunjung yang tiba kebanyakan dari masyarakat Lampung dan bertujuan untuk berziarah ke Makam Radin Intan II. Pada lokasi makam dan benteng Radin Intan II ini ditemukan bermacam-macam benda-benda bersejarah mirip batu, peluru, mata tembok, dan lain-lain. Adapun temuan benda-benda ini menjadi bukti sejarah perlawanan Radin Intan II. Pada dikala ini benda-benda bersejarah itu disimpan dalam sebuah lemari sederhana di rumah informasi makam jagoan ini.

Daftar Pustaka

A.H. Nasution, Sekitar Perang Kemerdekaan, jilid 1, Disjarah AD berhubungan dengan Angkasa, Bandung, 1973.

Dean G. Pruitt, dkk, Teori konflik Sosial, Pustaka Pelajar, Yogyakarta, 2004.

Pahlawan Nasional Radin Intan II, Leaflet, Pemerintah Propinsi Lampung, Dinas Pendidikan, tahun 2004

 Tim Penyusun Kamus, kamus Besar Bahasa Indonesia, Balai Pustaka, Jakarta, 1990