Perlawanan Rakyat Aceh Melawan Belanda 1873-1904

KHOLIFA TULHASSANA / 14A / SI IV
Aceh mempunyai kedudukan yang sangat strategis sebagai pusat perdagangan. Aceh banyak menghasilkan lada dan tambang serta hasil hutan. Oleh alasannya yaitu itu, Belanda berambisi untuk mendudukinya. Sebaliknya, orang-orang Aceh tetap ingin mempertahankan kedaulatannya. Sampai dengan tahun 1871, Aceh masih mempunyai kebebasan sebagai kerajaan yang merdeka.
Pada awal masa 19 pemerintah Hindia Belanda mulai melebarkan sayap kekuasaannya diluar pulau Jawa, termasuk wilayah Sumatra. Hal tersebut untuk melindungi wilayah jajahan Belanda supaya tidak direbut oleh Inggris yang pada ketika itu menguasai Semenanjung Malaya. Pada tahun 1930-an Belanda berhasil menguasai tempat Sibolga dan Tapanuli yang maíz menjadi tempat kekuasaan Aceh. Selain itu pada tanggal 1 februari 1858 Sultan Siak diikat perjanjian oleh pemerintah Hindia Belanda. Menurut Wikipedia, bahwa akhir perjanjian yang ditandatangani oleh Sultan Ismail dengan pihak Hindia Belanda menciptakan tempat Deli, Langkat, Asahan dan Serdang jatuh kepada pihak Belanda. Padahal daerah-daerah tersebut semenjak Sultan Iskandar Muda, berada  di bawah kekuasaan Aceh.
            Dengan dikuasainya Siak oleh Belanda, memperlihatkan bahwa Belanda sudah tidak konsisten dengan isi traktat London 1924. Hal tersebut benar-benar menciptakan Aceh murka dan tidak tinggal diam. Akhirnya Aceh pun menyusun rencana dalam menghadapi pihak Belanda, pemerintah Hindia Belanda juga me
mpersiapkan diri guna menyerang Aceh. Akhirnya pada tanggal 26 maret 1873 Belanda menyatakan perang kepada Aceh dan melaksanakan serangan di daratan Aceh.
A. Latar Belakang Terjadinya Perang Aceh
1.    Belanda menduduki tempat Siak
            Sultan Ismail dari Siak (1827-1867) merupakan penguasa yang tidak pernah berhasil menjadi penguasa di negerinya yang penuh gejolak. Setelah lepas dari kendali ayahnya pada tahun 1840, ia berhadapan dengan pemberontakan yang dilancarkan oleh iparnya sendiri. Sultan Ismail meminta sumbangan dari pihak Belanda untuk mengalahkan saudaranya. Tetapi sebelum memberi sumbangan kepada Sultan Ismail, Belanda lebih dahulu mengikat Ismail dengan sebuah perjanjian. Nieuwenhuyzen, Residen Riau dikirim ke Siak untuk mengatasi duduk masalah Sultan Ismail dan Tengku Putra.
Nieuwenhuyzen menciptakan perjanjian persahabatan dengan Sultan Ismail bila nantinya sumbangan yang diberika Belanda berhasil mengalahkan musuh Sultan Ismail maka Siak harus tunduk dibawah kekuasaan pemerintah Hindia Belanda. Sultan Ismail menyetujui isi perjanjian yang diajukan oleh Residen Riau teresbut. Belanda pun mulai melancarkan serangannya terhadap Tengku Putra, jadinya Tengku Putra pun melarikan diri dari Siak alasannya yaitu tidak bisa melawan serangan dari pihak Belanda.
Sesudah Tengku Putra melarikan diri dari Siak, Sultan Ismail naik tahta menjadi pemimpin di Siak. Tetapi menurut perjanjian yang sudah disepakati antara Sultan Ismail dan Pemerintah Hindia Belanda maka Siak harus tunduk kepada Pemerintah kolonial, padahal tempat Siak semenjak pemerintahan Sultan Iskandar Muda berada dibawah kekuasaan Aceh. terjadinya perang Aceh. Karena hal tersebut bertentangan dengan hegemoni Aceh maka untuk mencegah penetrasi lebih lanjut banyak kapal perang Aceh yang dikerahkan di pantai timur Sumatera, tetapi jadinya wilayah  Deli, Serdang, dan Asahan tetap jatuh ke tangan Belanda (Kartodirjo,1987:386). Hal tersebut juga menjadi salah satu faktor tejadinya perang Aceh.
2.    Dibukanya Terusa Suez oleh Ferdinand de Lesseps
Dibukanya Terusan Suez pada awal masa 19 menciptakan Aceh mempunyai kedudukan strategis alasannya yaitu terletak dalam urat nadi perkapalan internasional. Belanda memandang situasi tersebut sangat gawat alasannya yaitu memasuki masa dimana imperialisme dan kapitalisme mulai memuncak dan negara-negara barat mulai berlomba mencari tempat jajahan gres (Kartodirjo,1987:386). Lalu lintas Selat Malaka juga semakin ramai sehabis dibukanya Terusan Suez dan Aceh merupakan pintu gerbang utama untuk menuju Selat Malaka (Poesponegoro dan Notosusanto,1993:242). Hal tersebut juga melatarbelakangi perluasan Belanda terhadap Aceh.
3.    Ditandatanganinya perjanjian Sumatera antara Inggris dan Belanda pada 1871 yang melanggar isi Traktat London 1824
Kebijakan Inggris terhadap Aceh mengalami perubahan pada tahun 1860-an dan tidak lagi memberi kedaulatan penuh bagi Aceh. Ketika persaingan diantara keluatan-kekuatan Eropa untuk mendapatkan tempat jajahan meningkat, maka London tetapkan lebih baik Belanda yang menguasai Aceh dari pada negara yang lebih besar lengan berkuasa
menyerupai Perancis dan Amerika yang akan menguasainya.
Hasilnya yaitu ditandatanganinya perjanjian Sumatera pada 1871 yang memperlihatkan kebebasan bagi Belanda untuk melaksanakan perluasan diseluruh wilayah Sumatera termasuk Aceh atas persetujuan Inggris dan sebagai gantinya Belanda menyerahkan pantai emas Afrika kepada Inggris. Perjanjian tersebut juga mengumumkan bahwa Belanda ingin menguasai Aceh. Hal tersebut juga memicu terjadinya perlawanan dari Aceh pada pihak Belanda.
B. Jalannya Perang Aceh Dari Tahun 1873 Sampai Tahun 1904
Pemerintahan Belanda pada tanggal 18 februari 1873 memerintahkan Gubernur jendral di Batavia untuk mengirimkan kapal dan pasukan yang besar lengan berkuasa ke Aceh. Kemudian dikirimlah komisaris Hindia Belanda untuk Aceh yaitu F.N Nieuwenhuysen yang berangkat ke Aceh dengan memakai dua kapal perang lengkap dengan pasukannya. Nieuwenhuysen berangkat pada tanggal 7 Maret 1873, tidak usang kemudian tiba juru bicara Belanda yang berjulukan Said Tahir menghadap Sultan Mahmud Syah untuk memberikan surat dari Komisaris Nieuwenhuysen.
 Surat tersebut berisi undangan kepada Sultan Aceh untuk mengakui kedaulatan Hindia Belanda atas negaranya. Sultan Mahmud Syah menolak isi surat tersebut dan tidak bersedia mendapatkan perintah dari komisaris Hindia Belanda tersebut. Surat-surat selanjutnya dari komisaris Hindia Belanda juga tidak diberi tanggapan serta ditolak oleh Sultan Aceh, sehingga pada tanggal 26 Maret 1873 Belanda mulai menyerang Aceh (Poesponegoro dan Notosusanto,1993:243). Beberapa periode perang Aceh terhadap Belanda, yaitu:
1)  Perang periode pertama tahun 1873-1874
            Aceh sudah mempersiapkan diri dalam menghadapi serangan yang akan dilaksanakan oleh Belanda. Sepanjang pantai Aceh besar dibangun benteng-benteng untuk memperkuat wilayah. Demikian juga untuk tempat-tempat yang penting menyerupai istana raja, masjid raya Baiturrachman, dan Gunongan juga diperkuat.
Pada tanggal 5 April 1873, tampaklah suatu kesatuan penyerbu Belanda yang besar lengan berkuasa dan dipimpin oleh Mayor Jendral J.H.R. Kohler. Pada penyerangan Belanda yang pertama ini, Belanda berhasil menyerang dan mengepung Masjid Raya Baiturrachman  serta menembakkan peluru api ke arah masjid tersebut, sehingga Masjid tersebut terbakar dan berhasil diduduki oleh pihak Belanda.
Tetapi setelah Belanda berhasil menduduki Masjid tersebut, panglima perangnya yakni Jendral Kohler tewas, akhir ditembak oleh pasukan Aceh. Kekuatan pasukan Aceh semakin usang bertambah besar. Orang-orang Aceh yang sudah usang bersikap anti Belanda dan mengetahui negerinya akan diserang oleh Belanda, menciptakan masyarakat Aceh mengobarkan semangat juang untuk mempertahankan negerinya dari serangan Belanda.
Pemimpin perang periode pertama dari pihak Aceh yaitu Panglima Polem Cut Banta, Panglima Sagi XXII Mukim, Dan Teuku Imam Luengbata. Setelah berhasil menduduki Masjid Raya Baiturachman, Belanda sekarang memusatkan penyerangan pada Istana Sultan. Serangan Belanda atas istana Sultan ternyata mengalami kegagalan dan atas persetujuan pemerintah Hindia Belanda di Batavia akhirya pasukan Belanda meninggalkan Aceh pada 29 April 1873.
Pada tanggal 9 Desember 1873, kapal perang Belanda kembali mendarat di pantai Aceh. Dalam penyerangan ini, pasukan Belanda dipimpin oleh Letnan Jendral  J. Van Swieten. Tugas utama dari Swieten yaitu untuk menyerang dan merebut istana serta mengadakan perjanjian dengan Sultan Aceh. Sesudah Belanda meninggalkan Aceh pada April 1873, masjid raya Baiturrachman kembali diduduki oleh pasukan Aceh.
Ditengah perjuangannya Sultan Aceh meninggal dunia akhir terkena wabah kolera. Kini kepemimpinan Aceh diserahkan kepada putra mahkota yang masih muda yakni Muhammad Daud Syah dan dibantu oleh Dewan Mangkubumi yakni Tuanku Hasyim. Pada tanggal 31 januari 1
874 Van Swieten memproklamirkan bahwa Belanda telah menguasai Aceh besar. Tetapi rakyat Aceh tidak gentar dengan seruan Belanda tersebut dan masih merasa merdeka walaupun ibukota Aceh direbut oleh Belanda. Bagi rakyat Aceh sultan masih berdaulat bahkan dengan dikuasainya Aceh besar oleh Belanda, semakin besar pula semangat laskar Aceh dalam merebut kembali Aceh besar (Poesponegoro dan Notosusanto,1993:248-249).
2)  Perang periode kedua tahun 1874-1880
Pada tahun 1877, pasukan Belanda dipimpin oleh Jenderal Van Der Heyden mulai melaksanakan ofensif dengan mengirim ekspedisi untuk menakhlukkan Mukim XXII. Panglima Polim terpaksa mengundurkan diri ke tempat lain. Daerah – tempat lain dalam Aceh besar jadinya jatuh ke tangan Belanda. Suasana yang dianggap sudah tenang dan kesulitan keuangan mendorong penguasa Kolonial Hindia Belanda menerapkan sistem pemerintahan sipil. Ternyata langkah yang diambil oleh pemerintah Hindia Belanda itu salah. Paska diberlakukannya pemerintahan sipil, perlawana dari rakyat semakin besar sehingga Belanda kembali menerapkan sistem pemerintahan militer (Kartodirjo,1987:388).
Pada tahun 1877 Habib Abdurrahman kembali dari Turki. Dia berhasil mengadakan negosiasi dengan Teuku Cik Di Tiro dan Imam Leungkata di Pidi untuk membicarakan soal seni administrasi perang. Penyerangan Habib Abdurrahman terutama untuk memperlemah pos-pos Belanda yang melingkar antara Krueng, Raba, Lambaroh Uleekarang dan Klieng. Para pejuang juga berusaha membatasi ruang gerak pasukan Belanda dengan menghentikan konvoi pasukan Belanda.
Memasuki tahun 1878 acara laskar Aceh semakin luas. Pertempuran antara pasukan Habib Abdurrahman dengan pasukan Belandadi Blang Ue, Peuka Badak dan Bukit Sirun. Sementara itu, Teuku Cik Di Tiro masih tetap melaksanakan perlawanan di tempat Pidi. Di Aceh barat perlawanan terhadap Belanda dipimpin oleh Teuku Umar. Ia dibantu oleh istrinya, Cut Nyak Dien yang juga aktif dalam medan pertempuran. Perlawanan Teuku Umar menciptakan Belanda kesulitan, sehingga Belanda dengan sekuat tenaga berusaha menakhlukkannya (Poesponegoro dan Notosusanto,1993:251-253).
3)  Perang periode Ketiga tahun 1880-1896
Memasuki tahun 1880 situasi di Aceh semakin jelek bagi Belanda. Perlawanan rakyat Aceh semakin menghebat dan terjadi diseluruh lapisan msyarakat. Kaum aristokrat menyerupai Ulebalang pribadi memimpin usaha di medan pertempuran dan ulama mengobarkan semangat juang di kalangan rakyat Aceh dengan mendengungkan perang Sabil dan mengkhotbahkan kisah-kisah peperangan menyerupai hikayat perang sabil, dan syair Aceh.
 Pemerintah Hindia Belanda mulai menyadari kesulitan menakhlukkan aceh. Karena pejuang-pejuang Aceh selalu berhasil memasukkan perbekalannya melalui pantai utara, maka pada bulan Agustus 1881 pemerintah Hindia Belanda tetapkan untuk menjalankan blokade ketat. Bagi Aceh blokade tersebut tidak terlalu mengkhawatirkan alasannya yaitu penyelundupan perbekalan dan senjata masih dijalankan dengan segala cara.
Pada tahun 1884 Belanda mulai menerapkan sistem konsentrasi (konsentrasi stelsel). Daerah yang dikuasai Belanda dimakmurkan biar orang-orang Aceh yang melaksanakan perlawanan meletakkan senjatanya dan kembali ke tempat yang kondusif dan makmur ciptaan Belanda.
Dalam perkembangannya, sistem konsentrasi ini mengalami kegagalan alasannya yaitu seni administrasi konsentrasi ternyata memberi peluang bagi para pejuang Aceh untuk menggalakkan perang gerilya.
4)  Perang periode keempat tahun 1896-1904
Belanda sudah melaksanakan perang dengan banyak sekali seni administrasi dari pemimpin perang yang berbeda pula. Tetapi pertahanan Aceh masih sulit dihancurkan bahkan semangat juang masyarakat Aceh semakin membara. Oleh alasannya yaitu itu Belanda berusaha memeriksa diam-diam dari kekuatan besar Aceh terutama yang menyangkut kehidupan sosial budayanya. Dr. Snouck Hurgrunje yang faham wacana agama islam dan pernah bergaul dengan orang-orang Aceh yang naik haji, oleh pemerint
ah Hindia Belanda dipandang sebagai orang yang sempurna untuk diberi kiprah memecahkan kesulitan-kesulitan yang dihadapi Belanda dalam menakhlukkan Aceh (Poesponegoro dan Notosusanto,1993:256-257).
Sejak tahun 1890 Snouck Hurgronje mempelajari masyarakat Aceh. Hurgronje memperlihatkan pesan yang tersirat kepada pemerintah Hindia Belanda selama perang Aceh supaya memecah belah persatuan antara kaum Ulebalang dan kaum ulama. Mereka harus didisolir satu sama lain. Bersamaan dengan dengan usaha memecah belah itu, kaum Ulebalang secara militer harus didesak. Apabila ada dari kaum tersebut yang memberontak maka harus dihancurkan dan kaum Ulebalang yang lemah harus dirangkul. Demikian pula dengan kaum ulama, harus dilakukan penidasan militer tanpa ampun, sambil menyalurkan ajaran-ajaran islam hanya pada bidang ubudiyah saja. ajaran-ajaran islam wacana peperangan dan kenegaraan harus dimatikan.
Snouck Hurgronje juga memberi saran kepada pemerintah Hindia Belanda supaya menggempur semua pemimpin aceh yang mengadakan perlawanan terhadap Belanda. Sultan Muhammad Daud Syah, merupakan sultan yang sangat sulit untuk ditakhlukkan oleh Belanda. Oleh alasannya yaitu itu, Belanda memakai taktik gres yaitu dengan menculik istri Sultan. Dengan memberi tekanan-tekanan keras kepada Sultan, jadinya Sultan Muhammad Dawud mengalah kepada Belanda tahun 1903 (Wiharyanto,2006:163). Cara yang sama juga dilakukan Belanda untuk menangkap Panglima Polim. Isteri, ibu dan bawah umur panglima Polim diculik oleh Belanda, kemudian Belanda menekan Panglima Polim terus-menerus. Akhirnya alasannya yaitu keadaan sudah mendesak maka panglima Polim terpaksa mengalah kepada Belanda pada tanggal 6 september 1903 (Poesponegoro dan Notosusanto,1993:260).
Beberapa rentetan insiden mulai dari gugurnya para pemimpin perang hingga menyerahnya para penglima dan Sultan Aceh kepada pihak Belanda perlahan-lahan menciptakan pertahanan laskar Aceh lemah bahkan benar-benar sulit untuk bangun dan besar lengan berkuasa menyerupai dahulu. Kesempatan tersebut dipakai pemerintah Hindia Belanda untuk menemukan kekuasaan di seluruh wilayah Aceh . Peristiwa menyerahnya para pemimpin perang dan Sultan Aceh serta melemahnya kekuatan laskar Aceh sekaligus membuktikan berakhirnya perang Aceh. Walaupun Belanda sudah berhasil menguasai seluruh Aceh dan menundukkan Sulatan aceh, tetapi rakyat Aceh masih tetap mengadakan perlawanan terhadap Belanda walaupun hanya perlawana dalam skala yang lebih kecil.
DAFTAR PUSTAKA
Deker,Nyoman. 1974. Sejarah Indonesia dalam Abad XIX 1800-1900. Malang: YPTP IKIP Malang.
Kartodirdjo,Sartono. 1987. Pengantar Sejarah Indonesia Baru: 1500-1900. Jakarta: Gramedia.
Kartodirdjo,Sartono. 1978. Sejarah Perlawanan-perlawanan Terhadap Kolonialisme. Jakarta: Gramedia.
Pusonegoro, Marwati Joenad. 1990. Sejarah Nasional Indonesia IV. Jakarta: Balai Pustaka.