Permainan Statak

Ulfa Indra Yuni/PBM/FB
Permainan rakyat mungkin sudah usang redup sebab bawah umur beralih pada permainan elektronik yang lebih canggih. Namun perlu disadari, bahwa permainan modern ketika ini mengakibatkan imbas negatif yang cukup besar lengan berkuasa bagi anak-anak. Seperti, dengan adanya perkembangan teknologi dari waktu ke waktu yang mengakibatkan pembaharuan terus-menerus pada permainan, mengakibatkan kecenderungan bawah umur menuntut edisi terbaru dari permainan yang dimiliki. Di samping itu, hal ini juga menunjukkan bahwa permainan modern ketika ini tidak sanggup menanamkan kesan nyata yang baik sehingga sanggup diingat sepanjang masa.


Seperti halnya permainan tradisional yang sesungguhnya banyak makna mulia yang sanggup tergali di baliknya. “Berdasarkan penelitian, seluruh permainan rakyat di Indonesia mempunyai kesamaan yakni pengenalan diri, alam, dan Tuhan.” Permainan tradisional mempunyai banyak sisi nyata yang seringkali diabaikan, permainan tradisional mengajarkan banyak hal pada anak-anak, sehingga sanggup diingat sepanjang masa.

Statak yaitu permainan tradisional bawah umur yang masih berkembang di Pekanbaru dan sekitarnya. Setatak dimainkan bawah umur untuk menghibur diri  mengisi waktu luang. Permainan ini dimainkan tidak ada kaitannya dengan budbahasa istiadat setempapt dan tdak ada kaitannya dengan suatu kepercayaan agama. Setatak ini hanya sebagai hiburan dan penyalur kreatvitas anak-anak.
Mengenai latar belakang social budaya permainan ini, dalam pelaksanaannya sanggup dimainkan oleh siapa saja, dengan tidak membeda-bedakan kelas atau kelompok masyarakat. Anak-anak orang kaya, bawah umur orang miskin, ataupun bawah umur keturunan bangsawan, anak orang kebanyakan menjadi satu dalam kelompok bermain. Didalam permainan, masing-masing berusaha lebih kreatif, lebih cekatan, dan lebih ahli dari teman-teman bermainnya. Namun demkian, semua pelaku permainan tersebut Nampak patuh pada peraturan permainan yang sudahditentukan sebelumnya.
Menurut keterangan yang diperolah, permainan tersebut berjulukan “DORI” bukan “SETATAK” ibarat sekarang, tetap bentuk atau peraturan permainannya sama saja. Diperkirkan, permainan setatak mulai tumbuh dan berkembang di kawasan in sekitar 1930-an. Permainan ini menjadi sangat berkembang sekitar tahun 1950-an. Biasanya pesertanya terdiri dari 2-6 orang yang berusia 6-12 tahun. Permainan ni dimankan oleh laki laki dan perempuan. Tetapi pencampuran bawah umur yang sudah agak cukup umur segan memainkannya, sebab dipandang tak pantas lagi meloncat di muka umum. Karena itulah permainan estatak tidak pernah dimainkan oleh para cukup umur dari dulu sampa sekarang.
Hal yang diperluakan dalam melaksanakan hal ini, yaitu lapangan tempat bermain, sebelum permainan di mulai bawah umur biasanya tolong-menolong menggaris tanah untuk menciptakan lapangan permainannya. Kemudian ucak (gacuk), dipakai sebagai penikam setatak, alat ni biasanya dibentuk sendiri oleh bawah umur dengan mengasah dan membulatkan kepingan piring atau kepingan tempayan. Dibuat sedemikian rupa sehingga kelihatan anggun dan tidak membahayakan penggunanya. Ucak dibentuk kira-kira sebesar 22/7×6 cm.
Cara Pemakaiannya
1.      Lapangan
a.       Melewati lapangan permainan setatak dengan melompat hanya memakai satu kaki dan tangan dilarang menyentuh garis setatak.
b.      Melewati lapangan dari 1-9 disebut naik dan nomor 9-1 disebut turun.
c.       Petak yang terdapat ucak didalamnya baik punya sendiri maupun punya lawan dilarang diinjak. Petak itu harus dilompati atau dilewati saja.
d.      Sehabis satu ronde putaran permainan, pemain mengambil bintang, petak yang sudah dibubuh bintang , boleh diinjak dua kaki oleh pemiliknya dan dilarang disentuh lagi oleh pihak pemain lainnya.
2.      Ucak
a.       Ucak dipegang denngan jari kelingking dan jari tengah, ditopang oleh telunjuk, kemudian dihimpit dengan jari induk. Supaya jalan ucak terarah, ia dilemapar dengan putaran keluar mengikuti arah jarum jam.
b.      Sebelum memulai bermain ucak diletakkan pada petak 1. Petak yang berisi ucak lawan, boleh kita tikam juga.
c.       Waktu mengambil bintang, ucak dilempar kebelakang menuju petak bintang yakni 6,7,8,9,5,4,2,1, dan tempat bintang.
Urutan Permainan
A.    Ucak tikam pada petak 1, loncat sebelah kaki.
·         Naik
Petak atu yang berisi ucak dilangkah, loncat kepetak 2, turun 2 kaki pada petak 3 dan 4, loncat ke petak 5, ke petak 6, kepetak 7, kepetak 8, dan turun 2 kaki pada petak 9.
·         Turun
Dari petak 9 loncat sebelah kaki ke petak 5, turun dua kaki padapetak 3 dan 4, loncat ke petak 2, dan dari sini mengambil ucak di petak 1. Kemudian petak 1 dilangkahi dan turun.
B.     Ucak tikam pada petak 2, loncat sebelah kaki.
·         Naik
Jika pda petak satu masih ada ucak lawan, maka langkahi petak 1 dan 2. Turun dua kaki pada petak 3 dan 4, lompat ke petak 8 dan turun dua kaki pada petak 9.
·         Turun
Dari petak 9 lompat ke petak 5 dan turun ke petak 3 dan 4. Dari sini ambil ucak di petak dua dan jikalau ada ucak lawan pada petak 1, pribadi lompat melangkahi petak 1 dan 2 kemudian turun.
C.     Begitu seterusnya hingga ucak kita menempati petak palng atas, yaitu petak 9. Ntinya ketika ada ucak pada suatu petak jangan di pijak. Setelah itu lanjut ke tahap berikutnya.
D.    Putih
Ucak diletakkan di telapak tangan, sorong tangan agak kedepan pas arah pinggang ataupun dada dan loncat sebelah kaki.
·         Naik
Langkahi petak yang tidak ada ucak hingga petak yang paling atas kemudian di petak paling atas, ucak di telapak tangan dilambungkan ting-kop dengan belakang telapak tangan (punggung tangan).
·         Turun
Dari petak paling atas, sambil menggenggam ucak lompat hingga ke petak paling bawah kemudian lompat keluar dan turun. Kemudian tingkop ucak 5 kali dengan melambungkan ucak di belakang telapak tanga dan ditangkap dengan telapak tangan.

E.     Tangan

Ucak diletakkan pada lengan yang ditelentangkan, pas pada siku. Ajukan tangan kemuka ke samping kemudian loncat sebelah kaki.
·         Naik
Langkahi petak yang tidak ada ucak hingga petak yang paling atas.
·         Turun
Dari petak paling atas lompat hingga ke petak paling bawah kemudian melompat keluar dan turun. Setelah turun, turunkan ucak pada tangan dan sambut dengan telapak tangan itu juga. Jangan hingga jatuh.
F.      Kepala
Letakkan ucak di kepala, berjalan biasa melewati lapangan.
·         Naik
Berjalan dari petak paling bawah yang tidak ada ucak hingga ke petak paling atas.
·         Turun
Dari petak paling atas jalan ke petak paling bawah dan keluar. Setelah keluar jatuhkan ucak dari kepala dan sambut dengan tangan.
G.    Genggong
Ucak diletakkan pada punggung kaki kanan dan melompat dengan kaki kiri.
·         Naik
Lompat dari petak paling bawah ke petak paling atas yang tidak ada ucaknya dengan kak kanan tetap tergantung dan tdak boleh menyentuh lapangan.
·         Turun
Dari petak paling atas lompat hingga kepetak paling bawak melewati petk-petak yang tidak ada ucaknya. Kemudian lompat keluar, kemudian ucak yang di punggung kaki dilambung dan ditangkap dengan tangan kanan.
H.    Raun
Ucak diletakkan pada telapak tangan, dengan kaki kanan ibarat genggong tak boleh menyentuh tanah, lompat dengan kaki sebelah kiri.
·         Naik
Lompat dari petak palng bawah hingga ke petak paling atas umpamanya petak 9 yang tidak ada ucaknya. Dari petak paling atas, ucak tikam pada petak bintang hingga masuk. Mata dipejamkan, cari petak 6 dengan diraba memakai kaki kiri, car petak 7 raba kebelakang, cari petak 8 diraba dengan kaki kanan. Ketika mencari itu terus bertanya, “pijak?” jikalau dijawab oleh lawan “tidak”, berarti terus. Jika dijawab “pijak”, berarti mati. Ketika dijawab tidak, maka ketika itu dua kaki berhenti pada petak paling atas umpamanya petak 9, dan berkata “NIS”.
·         Turun
Setelah berkata NIS tadi, dengan mata terpicing berjalan menja-jab-jajab hingga ke petak paling bawah yang tidak ada ucaknya sambil bertanya ketika memijak setiap petak “pijak atau tidak”, dan jikalau dijawab tidak maka jalan terus kemudian keluar dari lapangan. Jika dijawab pjak oleh lawan maka berarti mati.
I.       Meraba-raba Ucak d Petak Bintang
Dengan mata terpejam membelakangi petak bintang, hingga duduk mencangkung tangan meraba untuk mengambil ucak pada petak bintang. Setelah dapat, ucak dilambung dan disambut dengan belakang telapak tangan. Dan sambil membelakangi arena permainan mengambil ancang-ancang untuk menkam bintang.
J.       Ambil Bintang
Bintang merupakan bij kemenangan dari pemain setatak. Kegunaan bintang bagi pemain sebagai tempat berhenti, sanggup dipijak dengan dua kaki. Dan dilarang dipijak oleh lawan
Aturan Permainan
1.      Tukar membawa pada lawan berikutnya:
a.       Bila seseorang pembawa terdahulu mati.
b.      Bila pembawa terdahulu gagal menerima bintang.
c.       Bila pembawa terdahulu telah memperoleh bintang.
2.      Peman dianggap gagal:
a.       Bila dalam melompat menyentuh garis.
b.      Bla dalam pelaksanaan tingkop, langkap, dan genggong ucak terjatuh.
c.       Bila tak sanggup menangkap ucak ketika dilambung.
3.      Meneruskan permainan selanjutnya:
a.       Mulai dari nomor kegagalan pemain waktu ia mati.
b.      Jika ia mulai sehabis sanggup bintang waktu ia membawa sebelumnya, mulai lagi dari awal hingga mengambil bntang lagi.
c.       Bila gagal pada pengembalian bintang, untuk meneruskan permanan kelak hanya pada ketika mengambil bintang saja.
4.      Ucak diletakka terus pada petak 1 jikalau seseorang belum pernah membwa sama sekali dan letakkan pada petak dimana peman gagal untuk diteruskan nantinya.
5.      Setiap petak yang masih terdapat ucak baik milik sendiri maupun milik lawan, dilarang dipijak.
6.      Menentukan kalah menang, ialah sehabis selesa bertanding dengan membandingkan banyak bintang yang diperoleh.
Permainan tradsional statak ini masih sanggup kita jumpai meskipun banyak bawah umur kini memakai gadget tetapi masih dimankan, dibandingkan dengan permainan tradisional lainnya yang sudah mulai jarang dijumpai. Ketika zaman belanda, permainan ini dimainkan dengan bawah umur dan diawas oleh guru kelasnya. Sekarang permainan ini sering dimainkan di sore hari dan ketika disekolah tanpa perlu diawasi oleh guru kelas.
Faktor yang disenangi bawah umur hingga kini masih sanggup kita jumpai bawah umur bermain statak sebab kesederhanaan alat, tempat bermain, dan jumlah sahabat bermainnya yang minimal dimainkan oleh dua orang, dan sanggup dmainkan kapan saja diinginkan. faktor gerak, kelincahan, dan keterampilannya pun menjadi daya tarik tersendiri bag anak-anak.
Pada umumnya orang renta zaman dahulu tidak begitu memperhatikan pertumbuhan dan perkembangan permainan ini. Mereka hanya merasa bahagia dan puas melihat bawah umur mereka sanggup bermain dengan temannya, asalkan mereka tidak langgar dan berbahaya. Tetapi kini berdasarkan pandangan orang tua, permainan itu dianggap bermanfaat dan banyak nilai-nilai yang sanggup dipetik dari permainan tersebut, yaitu nilai kebersamaan dalam bersosialisasi, melatih keterampilan, sportifitas, dan kesabaran dalam menunggu giliran serta secara fisik menguatkan otot kaki dan berolahraga.
KESIMPULAN
Setiap permainan rakyat mengandung nilai-nilai yang baik contohnya pada permainan setatak ini, banyak nila yang diajarkan ibarat nilai kebersamaan dalam bersosialisasi, melatih keterampilan, sportifitas, dan kesabaran dalam menunggu giliran serta secara fisik menguatkan otot kaki dan berolahraga. Pengalaman dan nilai dari permainan rakyat akan dirasakan dan dibawa seumur hidup. Berbeda dengan permainan game online zaman kini yang sangat minim akan nilai yang terkandung dan tidak sanggup mengajarkan nilai kehidupan yakni kesadaran akan diri sendiri, alam, dan sang pencipta. Maka dari itu kita harus melestarikan permainan-permainan tradisional dan jangan melarang bawah umur untuk memainkannya.
DAFTAR PUSTAKA
Binsar , Khalis . 2001 . Budaya Melayu Riau . Pekanbaru : Inprasa.
Rahman, Elmust. 2008. Atlas Kebudayaan Melayu Riau Tahap II. Riau: P2KK Universitas Riau.
Khrisna, Nila. 2010. “Permainan Rakyat”.  http://permainanrakyat.blogspot.com/. Diakses pada tanggal 20 Mei 2015, pukul 20.46 pm WIB.