Pong Tiku (Sang Jagoan Toraja)

DEVI ANGGRAEINI / SI 3
Pong tiku yaitu anak bungsu dari pasangan suami istri Karaeng dan Le’bok pada pertengahan kurun ke XIX ( 1846 ) di Tondon Pangala’. Karaeng yaitu penguasa budpekerti Pangala’ dan sekitarnya. Karena kemampuan dan kepemimpinannya Pong tiku yang menonjol, maka sekalipun ia anak bungsu dialah yang menggantikan ayahanya sebagai penguasa pada dikala ayahnya sudah tua. Sebelum angkatan perang Belanda tiba di Toraja, orang Toraja telah mempunyai hubungan dagang dengan orang Bugis. Toraja Selatan dan Toraja Barat menjalin hubungan dagang dengan kerajaan – kerajaan Sidenreng Rappang dan Sawitto,

sedang Toraja Utara kawan dagangnya yaitu kerajaan Bone dan Luwu. Pimpinan orang Bugis dan kerajaan – kerajaan Sidenreng, Rappang dan Sawitto yaitu Petta Manyoro Lolo (Panglima Angkatan Perang Kerajaan Sidenreng), yang kemudian diketahui berjulukan Petta Serang, anak dari Raja Sidenreng, sedang pimpinan orang Bugis dari kerajaan Bone dan Luwu yaitu Petta Punggawa ( Panglima Tertinggi Angkatan Perang Bone, yang juga yaitu Putra Mahkota dengan nama Andi Baso’ Abdul Hamid).[1]

Melalui hubungan dagang antara orang Bugis dan orang Toraja tersebut pemimpin – pemimpin Toraja sanggup mengetahui bahwa akan pecah perang antara Pemerintah Hindia Belanda dengan Kerajaan – Kerajaan di Sulawesi Selatan yang tidak mau lagi mengakui Perjanjian Bungaya yang mengatur hubungan antara pemerintah Hindia Belanda dengan kerajaan – kerajaan di Sulawesi Selatan yang sangat merugikan itu. Untuk mengantisipasi perang yang akan pecah dalam waktu tidak lama, penguasa – penguasa Toraja mengadakan musyawarah di Tongkonan Buntu Pune Kesu’ ( Kediaman Pong Maramba’ ) dan mencapai kesepakatan yaitu : Menggalang persatuan antar penguasa dengan menghilangkan semua benih – benih perpecahan dan mengangkat Pong tiku sebagai Panglima Perang, sedang Pong Maramba’ dan penguasa – penguasa budpekerti lainnya sebagai Panglima Pasukan Penghancur. Kesepakatan mereka didasari Motto : ” Misa’ Kada Dipotuo Pantan Kada Dipomate”.
Selesai musyawarah, Pongtiku kembali ke wilayahnya untuk mempersiapkan dan menyiagakan benteng – bentengnya sebanyak 9 buah menghadapi perang. Pada bulan Maret 1906, Pasukan Angkatan perang Belanda dibawah pimpinan Kapten Killian memerintahkan Pong tiku untuk menghadap dengan tujuan melucuti dan mengumpulkan senjata api dari semua penguasa Toraja. Namun Pong tiku menolak, malah ia menyiagakan pasukannya untuk berperang. Perang perlawanan Pong tiku dalam wilayahnya sendiri berlangsung selama kira – kira 6 bulan ( Mei s/d Oktober 1906 ) dengan 6 kali pertempuran dan 1 kali pengepungan selama kira kira 4 bulan ( Juli s/d Oktober 1906 ). Pertempuran tanggal 1 Juni 1906 untuk mempertahankan Benteng Buntu Asu dari serangan angkatan perang Belanda di bawah Komandan Kapten De Last yang dilakukan dalam 3 gelombang semuanya kandas dimuka benteng dengan menelan banyak korban, Angkatan Perang Belanda dipukul mundur dan dihalau kembali ke Rantepao. Sewaktu masuk ke dalam Kota Rantepao, komandan pasukan Belanda memerintahkan Pong tiku tiba menghadap dan menyerahkan semua senjata yang dimilikinya. Pong tiku menolak, Pong tiku malah menyiagakan semua benteng-bentengnya untuk menghadapi perang dengan pasukan Belanda. Tanggapan yang diberikan Pong tiku menciptakan Kapten Killian pun merasa khawatir. Killian menganggap Pong tiku telah menciptakan persiapan yang baik untuk berperang dengan pasukan Belanda. Oleh karenanya, pasukan Belanda gres mulai digerakkan ke Tondon, sehabis satu bulan mempelajari keadaan di Toraja.[2]
Pong tiku merupakan penantang utama datangnya penjajah Belanda di Toraja, dan dengan gigih dan gagah perkasa dengan segala kemampuan yang ada padanya ,mengobarkan perang lebih setahun lamanya, tepatnya dari bulan Mei 1906 s/d Juli 1907. Ia bertahan dan menyerang musuhnya dari benteng – benteng yang jumlahnya 9 buah yang telah dipersiapkan semenjak dini. Perang Pong tiku melawan belanda bukanlah tindakan spontanitas akan tetapi yaitu perang yang direncanakan dan dipersiapkan dengan matang yang merupakan bab integral dari perang perlawanan Raja – Raja di Sulawesi Selatan terhadap Pemerintah Kolonial Belanda, yang disebut sebagai Perang Bone III. Demikian hebatnya pertahanan dan Perlawanan Angkatan Perang Pong tiku terhadap gempuran Angkatan Perang Belanda, mengharuskan Letjen Swart yang dijuluki oleh Belanda sebagia Pasifikator Van Aceh ( Pengaman Aceh ) mengambil Komando pertempuran melawan Angkatan Perang Pong tiku yang bertahan tak terkalahklan dalam benteng Batu di Baruppu’. Belanda dengan memakai taktik ibarat taktik yang dipakai terhadap Pangeran Diponegoro, Pong tiku mendapatkan Case Fire untuk mengadakan negosiasi perdamaian dengan Belanda. Kesempatan ini dipakai oleh Belanda untuk membatasi gerak Pong tiku, tetapi Pong tiku memakai pula kesempatan yang sama untuk menyelenggarakan upacara Pemakaman kedua orang tuanya yang wafat dalam Benteng berdasarkan budpekerti Toraja. Sehari sebelum selesai upacara pemakaman kedua orang tuanya, Pong tiku dengan sejumlah pasukan kembali ke medan juang bergabung dengan teman- sahabat seperjuangannya di Benteng Ambeso yang dipimpin oleh Bombing dan Ua’ Saruran dan Benteng Alla’ dalam wilayah Enrekang. Setelah Benteng Ambeso dan Benteng Alla’ jatuh ketangan Belanda ,pada bulan Januari 1907 Pongtiku tidak tertawan, Ia berhasil lolos bersama pasukannya kembali ke wilayah kekuasaannya. Dengan petunjuk mata – mata Belanda Ia tertangkap kemudian dibawa ke Rantepao. Tanggal 10 Juli 1907, ia di sanksi dan gugur sebagai Pahlwan Kusuma Bangsa di pinggiran sungai Sa’dan, tepatnya di tempat dimana Tugu Peringatan baginya didirikan di Singki’ Rantepao. Penaklukkan Toraja yang berjalan lambat akibatnya menciptakan berang Gubernur Jendral Hindia Belanda dikala itu, Johannes Benedictus van Heutsz. Heutsz pun memerintahka
n Gubernur Sulawesi yang juga mantan Pasifikator Van Aceh (Pengaman Aceh), Letjen Swart, untuk memimpin eksklusif perang terhadap Pong tiku di wilayah Toraja. Setelah berbulan-bulan berperang, lewat beberapa kali pertempuran, pasukan Belanda sepertinya perlahan-lahan mulai berhasil memasuki wilayah Pong tiku di Pangala’. Belanda pun terus menaklukkan semua benteng pertahanan Pong tiku. Pong tiku pun akibatnya mengambil posisi bertahan di Benteng Batu di Baruppu’. Walau dengan teknologi yang terbatas, Pong tiku berhasil mempertahankan bentengnya selama berbulan-bulan. Belanda pun akibatnya menyadari bahwa peluru dan granat ternyata bukan hal yang bisa menaklukkan Pong tiku dan pasukannya, apalagi memadamkan semangat juang mereka. Keberhasilan Pong tiku menahan gempuran pasukan Belanda selama berbulan-bulan sepertinya tidak terlepas kemampuan taktik serta semangat yang ia miliki. Pong tiku pun mempunyai laba dalam hal penguasaan medan tempur serta posisi bertahan yang lebih menguntungkan. Setelah mengepung Pong tiku selama 4 bulan(Juli s/d Oktober 1906), Belanda pun menyadari mereka berperang bukan dengan orang yang berperang dengan sembarangan tanpa strategi. Pong tiku dipastikan telah mempersiapkan 9 bentengnya semenjak dini. Pong tiku berperang dengan perencanaan dan persiapan yang matang. Belanda pun mulai memikirkan taktik lain untuk mengalahkan Pong tiku dan pasukannya.[3]
Peperangan frontal telah positif memperlihatkan Pong tiku yaitu lawan yang sulit untuk dikalahkan. Belanda pun menyadari mereka perlu kembali memakai logika bulus lainnya. Taktik penjebakan untuk Pong tiku pun mulai dipersiapkan. Ini yaitu taktik klasik Belanda yang juga dipakai terhadap Pangeran Diponegoro, yaitu mengatakan perundingan. Pada tanggal 26 Oktober 1906 Belanda mengutus Andi Guru, penguasa Sidenreng, dan Tandi Bunna’, bekas pemimpin pasukan Pong tiku, untuk mengatakan gencatan senjata kepada Pong tiku. Walaupun pada awalnya Pong tiku menolak, Pong tiku akibatnya mendengarkan hikmah dari orang-orang di kampungnya untuk mengingat ajal ibunya yang terjadi dikala pengepungan. Tiga hari kemudian, Pong tiku pun mengalah alasannya yaitu ia merasa harus mengadakan upacara untuk pemakaman ibunya terlebih dahulu.
Belanda pun masuk, mengambil alih benteng, menahan semua senjata dan menangkap Pong tiku pada tanggal 30 Oktober 2006. Belanda pun menggiring Pong tiku dan pasukannya ke Tondon. Di Tondon, Belanda pun membatasi gerak-gerik Pong tiku yang sedang mempersiapkan Upacara Pemakaman ibunya berdasarkan budpekerti Toraja. Persiapan upacara pemakaman yang memakan waktu berbulan-bulan ini ternyata juga dipakai Pong tiku untuk mengumpulkan kembali senjata lewat orang-orang kepercayaannya dan juga sekaligus untuk menjalin komunikasi dengan beberapa benteng perlawanan lainnya di Toraja.
Januari 1907, di malam sebelum program pemakaman orang tuanya, Pong tiku dengan sejumlah pasukan melarikan diri ke arah selatan. Pong tiku akibatnya mengetahui bahwa ia dan pasukannya diikuti oleh pasukan Belanda. Ia pun meminta pasukannya untuk kembali ke Tondon. Pong tiku sendiri terus melanjutkan perjalanannya bersama lima belas orang lainnya ke Benteng Ambeso yang dipimpin oleh Bombing dan Ua’ Saruran. Beberapa hari kemudian, Benteng Ambeso pun jatuh ke tangan Belanda. Pong tiku dan rombongannya pun keluar dari Benteng Ambeso dan pergi ke Benteng Alla. Maret 1907, Benteng Alla pun ditaklukkan Belanda. Kali ini Pong tiku dan rombongannya terpaksa kembali ke tempat Tondon. Mengingat semua benteng derma telah jatuh ke tangan Belanda, Pong tiku pun menetap di hutan di sekitar wilayah Tondon.
Pada tanggal 30 Juni 1907, dengan petunjuk kepetangan Belanda, Pong tiku tertangkap kemudian di bawa ke Rantepao. Setelah beberapa hari di penjara, pada tanggal 10 Juli 1907, Pong tiku dihukum dan gugur sebagai satria Toraja di pinggir Sungai Sa’dan, tepatnya di tempat dimana Tugu Peringatan baginya didirikan di Singki’, Rantepao.
Bila melihat sejarah panjang Toraja dan Sulawesi Selatan, maka tak pelak lagi kita akan mendapati Pong tiku yaitu penantang Belanda yang terakhir di tempat selatan Sulawesi, dan sekaligus penantang utama Belanda di wilayah Toraja. Semangat usaha Pong tiku ini tampak lewat sumpah yang diucapkannya sendiri, yaitu: “Iatu Tolino Pissanri Didadian, sia Pissanri Mate Iamoto Randuk Domai Tampak Beluakku Sae Rokko Pala’ Lette’ku, Nokana’ Lanaparenta Tumata Mabusa” (Manusia hanya sekali dilahirkan dan mati, dari ujung rambut hingga telapak kakiku, saya tidak akan rela diperintah oleh Belanda). Semangat ini pun terlihat dari usaha gigih yang membawa Pong tiku ke dalam kobaran perang dengan Belanda yang berlangsung lebih dari setahun lamanya.
Pada tahun 1964, atas keberanian dan perjuangannya, Pemerintah Tana Toraja mengakui dan menyatakan Pong tiku sebagai Pahlawan Nasional. Setelah lebih dari 95 (sembilan puluh lima) tahun wafatnya, tepatnya pada 6 November 2002, Pemerintah Republik Indonesia lewat Dekrit Presiden 073/TK/2002 pun mengakui Pong tiku sebagai Pahlawan Nasional Indonesia yang ikut memperjuangkan kebebasan dan kemerdekaan di Indonesia.[4]
DAFTAR PUSTAKA
[1] Soedarmanta, J.B., (2007). Jejak-jejak pahlawan: perekat kesatuan bangsa Indonesia, Grasindo.
[2] Didik adi sukmoto, dongeng 124 satria dan pejuang nusantara,2006, pustaka widyiatama: jakarta.
[3] SARIRA, J.A. 1975. Suatu Survey mengenai Gereja Toraja Rantepao; BENIH YANG TUMBUH VI, (Rantepao-Jakarta): khususnya Bab I.
[4] Wikipedia Inggris: http://en.wikipedia.org/wiki/Pongtiku.