Praktik Pemerintah Pendudukan Jepang Di Indonesia

Keterlibatan Jepang dalam perang Dunia II pada tahun 1942-1945 dilandasi oleh ambisi membangun suatu wilayah kekuasaan di Asia. Penghancuran dan pengenyahan terhadap semua penghalang cita-citanya menjadi kiprah yang harus dilakukan. 
Khusus mengenai Asia Tenggara, Jepang membagi daerah ini kedalam dua sasaran.
1.      Wilayah A, yaitu beberapa koloni Inggris, Belanda dan Amerika Serikat yang mencakup Malaya, Kalimantan Utara, Filipina dan Indonesia.
2.      Wilayah B, yaitu koloni Prancis mencakup Vietnam, Laos dan Kamboja.
Mengapa Jepang berkeinginan menguasai wilayah-wilayah di Asia Pasifik?
Apakah tujuan Jepang menguasai wilayah-wilayah di daerah Asia Tenggara?

Jepang menguasai Asia Tenggara, khususnya di wilayah A dengan tujuan, yakni menyebabkan daerah Asia Tenggara sebagai sumber materi mentah bagi industri perang dan pertahanannya. Jepang juga berusaha untuk memotong garis perbekalan musuh yang berada di wilayah ini. Hal ini terlihat dikala Jepang berhasil menduduki dan menguasai Indonesia. Jepang membagi wilayah Indonesia kedalam tiga pendudukan pemerintah militer.
1.      Wilayah I, terdiri atas Jawa Madura serta diperintah oleh Tentara keenambelas Rikugun yang berpusat di Bukittinggi.
2.      Wilayah II, yakni Sumatera dan diperintah oleh Tentara Keduapuluhlima Rikugun yang berpusat di Bukittinggi.
3.      Wilayah III, terdiri atas Kalimantan, Sulawesi, Maluku, Bali dan Nusa Tenggara serta diperintah Armada Selatan Kedua Kaigun (Angkatan Laut) yang berpusat di Makasar.
Di bidang politik, Jepang mempropagandakan diri sebagai saudara renta bagi rakyat Indonesia. Bersama-sama dengan Negara-negara di Asia Pasifik, Jepang menyatakan ingin membuat kemakmuran bersama di Asia Timur Raya. Oleh sebab itu, bangsa Indonesia harus membantu bangsa Jepang memenangkan perang melawan pihak sekutu dalam perang Dunia II. Cara dan upaya Jepang mengeksplotasi sumber kekayaan Indonesia yaitu sebab ketergantungan Jepang yang membutuhkan dana besar bagi biaya perangnya. Indonesia merupakan salah satu wilayah yang diperkirakan bisa mendukung kemenangan Jepang.
a.       Propaganda Jepang di Indonesia
Ketika Jepang gres tiba ke Indonesia mereka berusaha membujuk bangsa Indonesia semoga bersimpati terhadap Jepang dan mau membantu Jepang dalam perang Asia Timur Raya. Bujukan tersebut dilancarkan melalui propaganda yang isinya menyatakan bahwa Jepang mengobarkan Perang Asia Timur Raya yaitu untuk membebaskan seluruh bangsa Asia dari penjajahan bangsa Barat. Mereka juga menyatakan bahwa bangsa Jepang yaitu saudara renta bangsa Indonesia. Maksud tiba ke Indonesia untuk membebaskan bangsa Indonesia dari penjajahan Belanda. Di samping itu, Jepang juga menyatakan bahwa bangsa Jepang akan mempersatukan bangsa Asia dalam lingkungan kemakmuran bersama Asia Timur Raya di bawah pimpinan Jepang. Bagaimana kenyataan dari janji-janji tersebut?
Ternyata selama menjajah Indonesia, Jepang melaksanakan pemerasan terhadap sumber alam maupun tenaga rakyat Indonesia. Pemerintah militer Jepang memperlakukan bangsa Indonesia dengan sangat kejam. Mereka memeras dan menindas rakyat Indonesia diluar batas perikemanusiaan. Bahkan tindakan kejam pemerintah Jepang melebihi kekejaman pemerintah Hindia Belanda pada zaman kerja rodi dan tanam paksa. Akibat tindakan Jepang tersebut, bangsa Indonesia mengalami penderitaan, baik penderitaan lahir maupun batin.
b.      Pemerasan Sumber Alam
Berbagai cara dilakukan oleh Jepang untuk bisa mengeruk sumber-sumber alam di Indonesia. Semua itu dilakukan oleh Jepang demi tercapainya keinginan dan ambisi politiknya, yakni menguasai wilayah Asia. Usaha-usaha Jepang dalam memeras kekayaan bangsa Indonesia diantaranya sebagai berikut :
·         Semua harta peninggalan milik bangsa Belanda disita, menyerupai perkebunan, bank, pabrik dan perusahaan-perusahaan vital (pertambangan, telekomunikasi, transportasi, listrik dan lain-lain).
·         Jepang mengawasi dan memonopoli penjualan hasil perkebunan teh, kopi, karet dan kina.
·         Jepang melancarkan kampanye pengerahan barang-barang dan menambah materi pangan secara besar-besaran. Kampanye ini menjadi kiprah Jawa Hokokai dan instansi-instansi lain.
·         Jenis-jenis perkebunan tidak mempunyai kegunaan dimusnahkan dan diganti dengan flora materi makanan.
·         Rakyat hanya diperbolehkan mempunyai 40% dari hasil pertaniannya, sedangkan 60% lainnya harus disetorkan kepada pemerintah Jepang dan lumbung desa.
·         Rakyat dibebani pekerjaan tambahan untuk menanam pohon jarak yang dipakai sebagai pelumas pesawat terbang dan pelicin senjata.
c.       Pemerasan Tenaga Manusia (Romusha)
Jepang memerlukan banyak tenaga kerja untuk membangun pertahanannya, menyerupai kubu-kubu pertahanan, gua-gua, gudang bawah tanah, lapangan udara darurat, jalan-jalan dan sebagainya. Tenaga kerja itu dperoleh dari desa-desa di Pulau Jawa yang penduduknya amat padat. Pada mulanya, pengerahan tenaga kerja tersebut bersifat suka rela dan pelaksanaan pekerjaannya juga tidak begitu jauh dari rumah penduduk. Selain itu, Jepang melaksanakan propaganda dengan membentuk barisan romusha yang bertugas membela Negara dan membangun kemakmuran bersama. Namun, dalam pelaksanaannya, pengerahan tenaga rakyat ini dilakukan secara paksa. Mereka diperlakukan secara kasar, berbeda dengan propaganda yang dielu-elukannya. Kesehatan mereka tidak dijamin, masakan tidak cukup dan pekerjaan mereka melebihi kesanggupan manusia. Kematian banyak menimpa rakyat akhir romusha.
Demi menghilangkan rasa takut rakyat, semenjak tahun 1943 Jepang menggelar propaganda baru. Romusha dipujinya setinggi langit, bahkan dikatakan sebagai prajurit ekonomi atau pendekar pekerja. Jepang menggambarkan romusha sebagai sebuah kiprah suci. Banyak rakyat yang kemudian masuk kembali ke romusha sehabis melihat kesungguhan Jepang. Akan tetapi, kenyataannya tetap menyerupai yang tidak dharapkan. Romusha harus bekerja menebang kayu dihutan, meratakan bukit, menggempur batu-batu di pegunungan dan sebagainya.para pekerja yang lalai atau terlihat santai akan ditampar, dipukul dengan gagang senapan, didera atau ditendang. Mereka yang melawan akan disiksa bahkan dibunuhnya. Padahal romusha tersebut tidak hanya dikirim keluar Pulau Jawa, tetapi juga dikirim keluar Indonesia, menyerupai Burma (Myanmar), Thailand, Filipina, Malaya (Malaysia), Serawak dan sebagainya. Menurut taksiran, dari 300.000 tenaga romusha yang dikirim keluar negeri, hanya 70.000 orang yang berhasil kembali dan itupun dalam kondisi yang memprihatinkan.
d.      Pengerahan Tenaga Manusia melalui Organisasi Militer
Pengerahan tenaga rakyat Indonesia pada zaman Jepang juga dilakukan dengan membentuk organisasi militer. Tenaga para cowok dimanfaatkan untuk menghadapi serbuan tentara Sekutu ke Indonesia. Adapun yang termasuk organisasi semi militer diantaranya sebagai berikut.
·         Seinendan (barisan pemuda)
Organisasi ini didirikan pada tanggal 9 Maret 1943. A
nggotanya terdiri atas para cowok yang berusia 14 hingga 22 tahun. Tujuan dibentuknya organisasi ini berdasarkan pemerintah Jepang yaitu untuk mendidik  dan melatih para cowok semoga sanggup mempertahankan tanah air mereka dengan kekuatan sendiri, sedangkan tujuan pembentukan organisasi ini yang bekerjsama yaitu mempersiapkan para cowok untuk membantu Jepang dalam menghadapi serbuan tentara sekutu.
·         Keibodan (barisan pembantu polisi)
Organisasi ini dibuat pada tanggal 29 April 1943. Anggotanya terdiri atas para cowok yang berusia antara 26 hingga 35 tahun. Para cowok tersebut memperoleh latihan untuk membantu tugas-tugas kepolisian. Organisai ini berada dibawah pengawasan ketat polisi Jepang. Keibodan yaitu nama barisan pembantu polisi di Pulau Jawa. Di daerah luar pulau Jawa terdapat pula organisasi semacam itu, contohnya di Sumatera disebut Bogo dan Kalimantan disebut Borneo Konen Hokokudan.
·         Fujinkai (himpunan wanita)
Organisasi itu dibuat bentuk pada bulan Agustus 1943. Anggota khusus kaum perempuan yang berusia lebih dari 15 tahun. Tugasnya ialah ikut memperkuat pertahanan dengan cara mengumpulkan dana wajib yang berupa perhiasan, binatang ternak, materi masakan dan sebagainya untuk kepentingan perang. Perbedaan antara organisasi semi militer dengan organisasi semi militer anggota-anggotanya hanya diberi latihan dasar kemiliteran tanpa dipersenjatai, sedangkan dalam organisasi militer anggota-anggotanya disamping menerima latihan kemiliteran juga dipersenjatai.
e.       Organisasi militer di zaman Jepang
Adapun organisasi militer yang dibuat pada zaman Jepang di antaranya sebagai berikut:
·         Heiho (pembantu prajurit Jepang)
Organisasi itu dibuat pada bulan April 1943. Anggotanya ialah para cowok yang berusia antara 18 hingga 25 tahun dan paling rendah berpendidikan sekolah dasar. Para anggota Heiho menerima latihan kemiliteran lengkap. Setelah lulus mereka pribadi ditempatkan di dalam organisasi militer, baik angkatan darat maupun angkatan laut. Mereka juga diberi senjata. Banyak di antara prajurit Heiho yang dikirim ke luar negeri untuk berperang melawan Sekutu. Di antara mereka dikirim ke Kepulauan Solomon dan Birma.
·         PETA (pembela tanah air)
Pasukan PETA dibuat pada tanggal 3 Oktober 1943. Tugas pasukan itu sangat berat, yaitu mempertahankan tanah air Indonesia dengan sekuat tenaga. Untuk menjadi prajurit PETA para cowok dididik secara khusus, yaitu di Tanggerang Jawa Barat. Untuk menjadi komandan pasukan PETA mereka dididik lewat pendidikan Calon Perwira  PETA di Bogor. Latihan yang diberikan di dalam PETA sangat berat dan disiplin. Meskipun PETA dan Heiho sama-sama dibuat oleh Jepang, tetapi PETA berbeda dengan Heiho. PETA merupakan tentara Indonesia yang dididik oleh Jepang, sedangkan Heiho merupakan cuilan dari tentara Jepang.
Pembentukan PETA yang melatih para cowok dalam bidang kemiliteran ternyata member manfaat yang sangat besar bagi bangsa Indonesia. Para cowok yang dilatih di dalam PETA, menjadi salah satu modal utama bagi bangsa Indonesia dalam usaha pada masa awal kemerdekaan. Dari prajurit-prajurit PETA itu muncul tokoh-tokoh nasional dalam bidang kemiliteran diantaranya Jenderal Sudirman, Jendral Gatot Subroto, Supriyadi, Jendral Ahmad Yani, Jendral Suharto (Mantan Presiden RI) dan sebagainya.
Daftar Pustaka
[1] Saiman, Marwoto & Bunari. 2013. Sejarah Nasional Indonesia. Pekanbaru : Cendikia Insani.
[2] Kurnia, Anwar & Suryana, Moh. 2000. IPS Sejarah. Jakarta : Yudhistira.
[3] Nugroho, Susanto. 1982, Sejarah Indonesia I. Jakarta : Balai Pustaka.
[4] Sutjipto Wirjosuparto, R.M. 1953. Da
ri Lima Zaman Penjajahan Menuju Zaman Kemerdekaan.
Jakarta: Indira.