Problema Agama Islam Akhir Dari Genggaman Imprealisme Belanda

Dalam dua dasawarsa menjelang millennium ketiga, banyak sekali forum islam mengalami perkembangan dan perubahan yang cukup Observable. Perkembangan itu pada sebagian forum sanggup dikatakan sebagai konsolidasi dan pemantapan lembaga-lembaga yang pernah ada pada masa sebelumnya dengan beberapa pembiasaan sesuai dengan perubahan tuntutan zaman. Dan dalam perkembangan itu pula sebagian forum mengalami dekonstruksi yang memiliki akar-akar dalam reorientasi pemikiran itu, pada giliran nya memunculkan lembaga-lembaga gres yang tidak pernah ada pada masa sebelumnya.[1]

Gambaran keadaan kegiatan penyebaran sekaligus pelaksanaan pendidikan islam yang berjalan dengan sangat sederhana dan tidak menemui hambatan yang cukup berarti, hingga kedatangan imprealis Erofa Barat. Dimana misi kedatangan nya tidak hanya kegiatan berdagang plus menguasai daerah yang dikuasainya, tetapi juga membawa misi lain yaitu kristenisasi. Sehingga masuk akal kedatangan bangsa Eropa barat ini menjadikan reaksi dan kontradiksi dimana-mana di kepulauan dinusantara ini. Karena apa yang mereka lakukan di samping merugikan penduduk pribumi, juga merusak tatanan budaya masyarakat yang sudah ada. Begitupun perjuangan penaklukan yang dilakukan bangsa Eropa atas dunia timur dimulai juga dengan jalan perdagangan. Kemudian dilanjutkan dengan kekuatan militer. Dunia timur pada waktu itu terutama kepulauan nusantara di kenal barat (belanda, spanyol, inggris dll) lantaran sebagai penghasil rempah-rempah yang untuk bangsa Erofa merupakan komoditi yang sangat langka dan mahal harga nya. Dengan demikian memberi citra bahwa kontak-kontak pertama antara pengembangan agama islam dengan banyak sekali jenis kebudayaan dan masyarakat di Indonesia menandakan bahwa semacam fasilitas cultural harus ditemukan.
Sejarah juga menandakan bahwa penyebaran islam adakala terjadi pula dalam satu kontak intelektual, ketika ilmu di pertentangkan ataupun kepercayaan pada dunia usang mulai menurun. Oleh lantaran itu ketika kaum colonial belanda berhasil menancapkan kukunya di bumi nusantara dengan misi yang ganda (imprealis dan kristenisasi) justru sangat merusak dan menjungkir balikan tatanan yang sudah di susun rapi sedemikian rupa hancur seketika disaat ada campur tangan dari belanda. Memang diakui bahwa belanda cukup banyak mewarnai perjalanan sejarah islam di Indonesia. Cukup banyak kejadian dan pengalaman yang di catat belanda semenjak awal kedatangan nya di Indonesia. Baik sebagai pedagang perorangan kemudian di organisasikan dalam bentuk kongsi dagang yang berjulukan VOC maupun sebagai pegawanegeri pemerintah yang berkuasa dan menjajah, oleh lantaran itu masuk akal bila kehadiran mereka selalu mendapat kontradiksi dari raja-raja dan tokoh setempat. Mereka menyadari bahwa untuk mempertahankan kekuasaan nya di Indonesia mereka harus berusaha memahami dan mengerti seluk-beluk penduduk pribumi yang dikuasai nya. Mereka pun tahu bahwa agama penduduk yang di jajah yaitu beragama islam. Menurut KH Zainudin Zuhri menggambarkan, bahwa masyarakat Indonesia yang lebih banyak didominasi umat islam tidak memandang orang-orang barat tersebut, melainkan sebagai penakluk dan penjajah. Mereka kaum imprealis tidak peduli apakah mereka katolik maupun protestan. Dalam dada penjajah tersebut begitu kuat fatwa dan politikus dan licik Machiaveli, yang antara lain mengajarkan:
1.      Agama sangat di perlukan bagi pemerintah penjajah colonial.
2.      Agama tersebut digunakan untuk menjinak kan dan menaklukan rakyat.
3.      Setiap aliran agama yang di anggap palsu oleh pemeluk agama bersangkutan harus dibawa untuk langgar domba dan biar mereka berbuat untuk mencari santunan kepada pemerintah colonial.
4.      Janji dengan rakyat tidak perlu ditepati bila itu akan merugikan.
5.      Tujuan sanggup menghalalkan segala macam cara.
Meskipun belanda gres mengepak kan sayapnya sebagai colonial, sudah di tantang dan dilawan oleh sultan agung mataram yang di kenal dengan gelar Sultan Abdurrahman Khalifatullah Sayidin Patonogama. Setelah belanda sanggup mengatasi perlawanan maupun pemberontakan-pemberontakan dari tokoh politik agama, mirip : pangeran Diponegoro, Imam Bonjol, Pangeran Antasari dan Sultan Agung,dll. Maka sejarah kolonialisme di Indonesia mengambil fase yang baru, yaitu belanda secara politik belanda sudah menguasai Indonesia. Belanda berusaha mengatur pendidikan dan kehidupan beragama yang mereka sesuaikan dengan prinsip-prinsip yang mereka pegang sebagai kaum imprealis dan kolonialis, yaitu kebarat-baratan (Westernisasi) dan misi kristenisasi. Kebijakan belanda dalam mengatur jalan nya pendidikan tentu saja dimaksudkan untuk kepentingan mereka sendiri terutama untuk kepentingan agama kristen. Hal ini terlihat jelas, contohnya ketika Van Den Boss menjadi Gubernur Jendral di Jakarta tahun 1831, keluarnya kebijakan bahwa sekolah-sekolah gereja dianggap di perlukan sebagai sekolah pemerintah. Dengan demikian, meskipun belanda belanda mendirikan forum pendidikan untuk kalangan pribumi, tapi semua yaitu kepentingan mereka semata. Begitu menghadapi perlawanan ummat islam yang semenjak kedatangan nya sudah beraksi dan menentang kehadirannya, yang dipelopori oleh raja dan ulama, mereka berusaha mempelajari secara mendalam sipat-sipat umum islam dengan segala aspek yang di pelajari khusus oleh Prof. Snouck Hurgronje yang dengan nama samaran nya Abdul Ghafar. Ia mempelajari islam diindonesia secara detail dengan mencari celah-celah kelemahan untuk selanjutnya akan dilaporkan kepada belanda dengan disertai saran-saran bagaimana seharusnya berbuat dan menghadapi umat islam di Indonesia dengan maksud penjajahan belanda atas Indonesia sanggup berjalan sebagaimana yang mereka harapkan.[2]
Sebenarmya ada dua faktor utama yang mengakibatkan Indonesia gampang dikenal oleh bangsa-bangsa lain, khuususnya bangsa-bangsa timur, timur tengah semenjak dahulu, yaitu :
1.      Faktor letak geografisnya yang strategis, Indonesia berada di persimpangan jalan raya internasional dari jurusan timur tengah menuju tiongkok, melalui lautan dan jalan melalui benua amerika dan Australia.
2.      Faktor kesuburan tanahnya yang menghasilkan bahan-bahan keperluan hidup yang diharapkan oleh bangsa-bangsa lain. Misalnya rempah-rempah.
Sejak zaman VOC ( belanda swasta) kedatangan nya sudah bermotif ekonomi, politik dan agama. Dalam hak aktori VOC terdapat suatu pasal yang berbunyi sebagai berikut “Badan ini harus berniaga di Indonesia dan bila perlu boleh berperang. Dan harus memperhatikan perbaikan agama Nasrani dengan mendirikan sekolah”. Politik pemerintahan belanda terhadap rakyat Indonesia yang lebih banyak didominasi islam didasari oleh rasa ketakutan, rasa panggilan agama nya dan rasa kolonialisme nya. Pada tahun 1882 M pemerintahan belanda membentuk suatu tubuh khusus yang bertugas mengawasi kehidupan beragama dan pendidikan islam yang di sebut dengan ” Priesterraden”. Atas pesan yang tersirat inilah  maka pada tahun 1905 M pemerintahan mengeluarkan peraturan yang isinya bahwa orang yang memperlihatkan pengajaran ( baca pengajian) harus minta izin terlebih dahulu. Pada tahun-tahun itu memang sudah terasa adanya ketakutan dari pemerintahan belanda terhadap kemungkinan kebangkitan pribumi. Pada tahun 1925 M pemerintah mengeluarkan peraturan yang lebih ketat lagi terhadap pendidikan agama islam yaitu tidak semua orang (kyai) boleh memperlihatkan pelajaran mengaji. Peraturan itu mungkin disebakan oleh adanya gerakan organisasi pendidikan islam yang sudah tampak tumbuh mirip Muhammadiyah, Partai Syarikat Islam, Al-Irsyad Nahdatul Watan dll. Jika kita lihat dan cermati peraturan-peraturan yang dibentuk oleh belanda yang sedemikian rupa ketat dan keras mengenai pengawasan, tekanan dan pemberantasan kegiatan madrasah dan pondok pesantren di Indonesia, maka seperti dalam tempo yang tidak usang pendidikan islam akan menjadi lumpuh atau porak-poranda. Akan tetapi apa yang di sanggup di saksikan dalam sejarah yaitu keadaan yang sebaliknya, masyarakt islam di Indonesia ketika itu laksana air hujan atau air bah yang sulit dibendung. Di bendung disini meluap disana. Jiwa islam tetap terpelihara dengan baik. Para ulama dan kyai bersikap non cooperative dengan belanda. Mereka menyingkir dari tempat yang erat dengan belanda. Mereka mengharamkan kebudayan yang dibawa oleh belanda dengan berpegang kepada hadist nabi Muhammad SAW yang artinya “barang siapa yang ibarat suatu golongan maka ia termasuk golongan tersebut.”dan mereka berpegang pada ayat al-quran yang artinya ” hai orang-orang beriman, janganlah orang yahudi dan nasrani engkau angkat sebagai pemimpin.[3]
Menurut sejarahnya, kaitan nya dengan aturan islam sanggup dicatat beberapa “kompromi” yang dilakukan oleh pihak VOC, yaitu:
1.      Dalam statuta Batavia  yang di menetapkan pada tahun 1642 oleh VOC dinyatakan bahwa aturan daerah islam berlaku bagi pemeluk agama islam.
2.      Adanya komplikasi aturan kekeluargaan islam yang telah berlaku ditengah masyarakat. Usaha ini diselesaikan pada tahun 1760, komplikasi ini dikenal dengan compendium freijer.
3.      Adanya upaya komplikasi serupa diberbagai wilayah lain, mirip di Cirebon, gowa, bone, semarang.
Lemahnya posisi aturan islam ini terus terjadi hingga menjelang berakhirnya kekuasaan hindia belanda diwilayah Indonesia pada tahun 1942.[4]
Kesimpulan
Perkembangan islam di Indonesia sangat signifikan. Mengapa tidak, banyak sekali tindak-tanduk agama di campur adukan dengan imprealis atau agama di atas semua kepentingan. Belanda yaitu salah satu rujukan dari sekian banyak Negara yang menyebar luaskan aga di indonseia. Belanda menhalalkan banyak sekali cara untuk menghalalkan tindakan nya untuk memasuki kehidupan rakyat dengan membawa agama Nasrani yang sudah terang bertentangan eksklusif dengan islam. Namun belanda tidak tinggal diam. Apabila keagamaan nya tidak kuat bagi masyarakat terhadap apa yang mereka ajarkan, maka mereka menciptakan semacam peraturan yang menyudutkan keadaaan Indonesia itu sendiri. Seperti mereka yang memegang kekuasaan pemerintahan, tentu dengan gampang mereka mengeluarkan kebijakan-kebijakan yang menguntungkan mereka sendiri. Sekolah-sekolah gereja dibangun sebagai pembangunan pemerintahan di segi pendidikan. Sedangkan, bagi pendidikan islam di hapuskan atau tidak harus meminta izin dulu kepada pemerintah.
 

 


 

[1] Azyumardi Azra, Islam Reformis Dinamika Intelektual dan Gerakan, (Jakara: PT Raja Grafindo Persada, 2001) cet-2,hal-7
[2] Drs.Hasbullah, Sejarah Pendidikan Islam Di Indonesia, ( Jakarta: PT Raja Grafindo Persada,2000), cet-4,hal 41
[3] Dra. Zuhairini,Dkk, Sejarah Pendidikan Islam, (Jakarta:Bumi Aksara, 2000) cet-7, hal-127.