Proses Kedatangan Belanda Dan Sekutu Pasca Kemerdekaan

ANDRI /SI V/ A        
            Kekalahan Jepang dalam Perang Dunia ke II, Membawa akhir bahwa Jepang Mendapat kiprah dari sekutu semoga mempertahankan keadaan di Indonesia menyerupai pada ketika penyerahan kekuasaan. Hal itu menunjukan bahwa Sekutu tidak menghendaki adanya perubahan di Indonesia. Padahal di Indonesia sudah terjadi perubahan yaitu bangsa Indonesia sudah memproklamasikan kemerdekaan Indonesia pada tanggal 17 Agustus 1945 [1].
Pemerintah Republik Indonesia yang gres saja terbentuk sehabis memproklamasikan kemerdekaan Indonesia pada tanggal 17 Agustus 1945. Di hadapkan pada tantangan dengan kedatangan tentara Sekutu yang di bonceng Belanda. Belanda yang ingin kembali ke Indonesia berhadapan kembali dengan bangsa Indonesia yang telah memproklamasikan kemerdekaanya. Oleh lantaran itu, terjadilah konflik Indonesia-Belanda dan banyak sekali upaya diplomasi untuk menuju penyelesaian simpulan konflik tersebut.
Di lain pihak, bangsa Indonesia sedang sibuk melaksanakan upaya-upaya perebutan kedaulatan dari tangan Jepang. Rakyat Indonesia juga berusaha untuk memproleh senjata dari tangan Jepang. Karena pihak Jepang enggan menyerahkan senjatanya, maka terjadilah pertempuran-pertempuran dahsyat di banyak sekali daerah. Proses kudeta tersebut berlangsung dari bulan Agustus hingga dengan bulan Oktober. BKR dan badan-badan usaha yang di bentuk oleh cowok itulah yang memplopori kudeta dan perebutan senjata dari tangan Jepang. Dengan demikian pertempuran-pertempuran yang pertama terjadi melawan pihak Jepang. Pimpinan Tentara Keenambelas Jepang di Jawa tidak pernah mau mengakui adanya Republik Indonesia, lantaran mereka terikat kepada janji
untuk-sebagai pihak yang kalah perang-memelihara status-quo sejak tanggal 15 Agustus 1945 tatkala pucuk pimpinan Negara mereka mengalah kepada Sekutu.
Setelah berhasil menang dalam Perang Dunia ke II, pasukan sekutu yang menerima kiprah masuk ke Indonesia yaitu tentara kerajaan Inggris. Pasukan tersebut terbagi dua, yaitu :
a.       SEAC (South East Asia Command) di bawah pimpinan Laksamana Lord Luis Mountbatten Untuk wilayah Indonesia potongan Barat.
b.      SWPC ( South West Pasific Command) untuk wilayah Indonesia potongan Timur. [2]
Factor gres bagi para cowok dalam melaksanakan kudeta itu yaitu kedatangan pasukan Sekutu ke pulau Jawa dan Sumatra. Mereka ada di bawah komando Asia Tenggara (South East Asia Comand atau SEAC) di bawah pimpinan Laksamana Lord Luis Mountbatten. Perwira Sekutu yang pertama kali tiba ke Indonesia, yakni pada tanggal 14 September 1945, adalah Mayor Kemayoran. Tugas Greenhalgh yaitu untuk mempersiapkan pembentukan Markas besar Serikat di Jakarta.
            Kedatangan Greenhalgh disusul oleh berlabuhnya kapal penjelajah Cumberland yang mendarat kan pasukan di Tanjung Priok pada tanggal 29 September 1945. Kapal itu membawa Panglima Skadron Penjelajah Inggris, yakni Laksamana Muda W.R Patterson. Pasukan Sekutu yang bertugas di Indonesia ini merupakan komando bawahan dengan tiga divisi dari SEAC yang di beri nama Allied Forces Netherlands East Indies (AFNEI) dan ada di bawah pimpinan Letnan Jendral Sir Philip Christison.
Tugas dari pada AFNEI di Indonesia yaitu melaksanakan perintah Gabungan Kepala Staf Serikat yang di berikan kepada SEAC, di antaranya yaitu :
1.      Menerima penyerahan dari tangan Jepang.
2.      Membebaskan para tawanan perang dan interniran Sekutu.
3.      Melucuti dan mengumpulkan orang Jepang untuk di pulangkan.
4.      Menegakan dan mempertahankan keadaan hening untuk kemudian diserahkan kepada pemerintahan sipil.
5.      Menghimpun keterangan wacana penjahat perang dan menuntut mereka di depan pengadilan Sekutu
Kedatangan pasukan-pasukan Sekutu itu di sambut dengan perilaku netral oleh pihak Indonesia. Akan tetapi sehabis di ketahui bahwa pasukan Sekutu/Inggris itu tiba membawa orang-orang NICA (Netherlands Indies Civil Administration) yang dengan terang-terangan hendak menegakan kembali kekuasaan Hindia Belanda, perilaku pihak Indonesia bermetamorfosis minimal curiga, maksimal bermusuhan. [3]
Situasi keamanan dengan cepat merosot menjadi jelek sekali, semenjak NICA mempersenjatai kebali orang-orang KNIL yang gres dilepaskan dari tawanan Jepang. Orang-orang NICA dan KNIL di Jakarta, Bandung dan kota-kota lain kemudian memencing kerusuhan dengan cara mengadakan provokasi-provokasi bersenjata. Agaknya Christison telah memperhitungkan bahwa usaha pasukan-pasukan Sekutu tidak akan berhasil tanpa pemberian Pemerintah Republik Indonesia. Karenanya Christison berunding dengan Pemerintah Republik Indonesia dan mengakui de facto Republik Indonesia pada tanggal 1 Oktober 1945.
Dan semenjak akreditasi de facto terhadap Pemerintah Republik Indonesia dari panglima AFNEI itu, masuknya pasukan Serikat ke wilayah Republik Indonesia di terima dengan terbuka dan baik oleh pejabat-pejabat Republik Indonesia, lantaran menghormati tugas-tugas yang dilaksanakan oleh Pasukan-pasukan Sekutu. Pengakuan ini diperkuat dengan penegasan Christison bahwa ia tidak akan mencampuri dilema yang menyangkut status ketatanegaraan Indonesia.
Namun kenyataannya yaitu lain di kota-kota lain yang didatangi oleh pasukan Sekutu kemudian terjadi insiden-insiden bahkan pertempuran-pertempuran dengan pihak Republik Indonesia. Hal itu di sebabkan lantaran pasukan-pasukan Serikat atau Inggris itu tidak menghargai pemimpin-pemimpinya, baik di Pusat maupun di Daerah-daerah. [4]
Seperti yang terjadi di kota Jakarta sendiri, beberapa orang anggota Pimpinan Nasional kita diteror bahkan meningkat hingga kepada percobaan pembunuhan. di kota lain menyerupai di Surabaya terjadi Pertempuran Surabaya yang di pimpin oleh Bung Tomo, Peristiwa heroik ini pecah pada tanggal 10 November yang di kenal dengan Hari Pahlawan lantaran banyaknya pejuang-pejuang Indonesia yang gugur dikota Surabaya tersebut.
Di kota Magelang terjadi pertempuran Ambarawa yang di pimpin Oleh Jendral Soedirman kejadian heroik ini terjadi pada tanggal 20 Oktober 1945. Dan di kota Medan, Bandung, dan Semarang pecah pertempuran antara pasukan Serikat dengan Pemuda-pemuda Indonesia. Sementara itu perlawanan terhadap pasukan Sekutu meningkat hingga simpulan tahun 1945. Pihak Sekutu yang merasa kewalahan, menuduh RI tidak bisa menegakan keamanan dan ketertiban, terutama di Jawa Barat. Daerah itu dianggap sebagai tempat merajalelanya terorisme.
Sudah barang tentu anggapan itu menerima sabutan hangat dari Panglima Angkatan Perang Belanda Laksamana Helfrich. Ia memerintahkan pasukannya untuk membantu pasukan jendral Christison melaksanakan kiprah di Jawa Barat. Pemerintah Indonesia dengan tegas menolak tuduhan tersebut, dengan sekali lagi memperingatkan pasukan Sekutu akan tugas-tugas mereka yang sebetulnya dan bahwa mereka tidak berhak mencampuri dilema politik. Persoalan politik yaitu semata-mata urusan pihak Indonesia dan Belanda.
Tugas yang di hadapi oleh pasukan Indonesia dan Sekutu yaitu sama yakni menegakan keamanan dan ketertiban. Tidak amannya dan tidak tertibnya keadaan, disebabkan lantaran teror yang dilakukan oleh pihak gerombolan NICA. Dan perbuatan itulah yang di wacana oleh rakyat Indonesia. [5] Demikianlah peroses datangnya Belanda dan Sekutu yang menjadikan membuatkan masalah, lantaran Belanda ingin menjajah Indonesia kembali tetapi dengan usaha Bangsa Indonesia mempertahankan kemerdekaan, hingga sekarang bangsa Indonesia menjadi bangsa yang berdaulat dan merdeka sepenuh nya.
 Notes :
1.     
2.      Prof. Habib Mustopo dkk. 2006. Buku Sejarah Kelas III. Jakarta ; Yudistira. Hal: 42-43
3.   Marwati Djoened Poesponegoro dkk. 1984. Sejarah Nasional  Indonesia VI. Jakarta: Departemen Pendidikan dan Kebudayaan. PN Balai Pustaka. Hal: 121-122
4.   Marwati Djoened Poesponegoro dkk. 1984. Sejarah Nasional  Indonesia VI. Jakarta: Departemen Pendidikan dan Kebudayaan. PN Balai Pustaka. Hal: 122-123
5.   Marwati Djoened Poesponegoro dkk. 1984. Sejarah Nasional  Indonesia VI. Jakarta: Departemen Pendidikan dan Kebudayaan. PN Balai Pustaka. Hal:123
Daftar Pustaka :
1.      Prof. Habib Mustopo dkk. 2006. Buku Sejarah Kelas III. Jakarta ; Yudistira
2.   Marwati Djoened Poesponegoro dkk. 1984. Sejarah Nasional  Indonesia VI. Jakarta: Departemen Pendidikan dan Kebudayaan. PN Balai Pustaka