Repelita I Di Indonesia

LASMI PURNAMA SARI/A/Si V
\
            Pada masa orde baru, aktivitas pemerintahannya berorientasi kepada perbaikan ekonomi, terutama pada ketika itu pemerintah mengusahakan mengendalikan tingkat inflasi, penyeamatan keuangan negara, dan pengamanan kebutuhan pokok rakyat. Kebijakan yang dilakukan oleh pemerintah ini dikarnakan adanya kenaikan harga pada awa tahun 1966, yang pada ketika itu mengatakan tingkat inflasi yang kurang lebih 650% setahun. [I]
            Pada masa Orde Baru, pembangunan mulai di tingkatkan. Pembangunan yaitu proses perubahan yang terus menerus terjadi, yang merupakan sebuah kemajuan dan perbaikan untuk mencapai suatu tujuan yang ingin dicapai. Dalam pembangunan bangsa Indonesia ini tujuan yang ingin dicapai yaitu terciptanya masyarakat adil dan makmur yang merata material dan spiritual berdasarkan Pancasila. [II]
            Dalam pelaksaan pembangunan nasional tidak hanya dilakukan satu kali, tetapi melalui beberapa tahapan, ibarat tahapan pembangunan nasional itu dibagi menjadi dua. Yang pertama yaitu jangka panjang, yang meliputi periode 25 hingga 30 tahun. Dan yang kedua ialah jangka pendek, yang meliputi selama 5 tahun yang dikenal dengan sebutan REPELITA atau planning pembangunan lima tahun.
             Pelita merupakan pembagian terstruktur mengenai lebih rinci dari pembangunan jangka panjang, sehingga s
etiap pelita akan saing berkesinambungan. Dan ibarat yang diketahui selama masa Orde Baru, telah berhasil dilakukan Pelita sebanyak 6 kali. Dan disini kita membahas perihal REPELITA 1. [III]
            Repelita 1 dilaksanakan pada 1 April 1969  hingga 31 Maret sehabis berhasilnya usaha-usaha stabilitas di bidang politik dan ekonomi yang dilancarkan semenjak Oktober 1966. Tujuan dari Repelita 1 ini yaitu meningkatkan taraf hidup rakyat dan sekaligus meletakkan dasar-dasar bagi pembangunan dalam tahap-tahap berikutnya, dan sedangkan yang ingin dicapai itu yaitu pangan, sandanm perbauikan prasarana, perumahan rakyat, ekspansi lapangan kerja, dan kesejahteraan rohani.
             Titik berat diletakkan pada pembangunan dibidang pertanian sesuai dengan tujuan mendobrak keterbelakangan ekonomi melalui proses pembaruan bidang pertanian lantaran sebagian besar penduduk masih hidup dari hasil pertanian.
            Pada masa ini masyarakat Indonesia sedang berada dalam masa peralihan dari masyarakat tradisiona menuju ke masyarakat modern. Dan masyarakat yang demikian disebut juga masyarakat yang sedang berkembang. Dalam Repelita 1 diusahakan untuk memperkecil perbedaan antara sumbangan sektor agraria dengan sektor industri.
            Pertanian tidak tebatas kepada pangan saja, tetapi juga meliputi perkebunan. Untuk meningkatkan produksi dan mutu sektor pertanian diharapkan bahan-bahan baku yang dihasilkan sektor industri.  Dengan demikian, sektor industri akan turut pua berkembang, lantaran saing berkaitan.
            Akibat lain dari perkembangan sektor ini yaitu terjadinya pengangguran para sarjana. Dalam Repelita 1 titik berat pendidikan diarahkan kepada membuat sebanyak mungkin tenaga kejuaruan dan tenaga teknik yang sanggup membantu usaha-usaha dibidang pembangunan. Dalam rangka training nilai dan martabat insan Indonesia yang memiliki landasan falsafah Pancasila, pembangunan dalam bidang agama pun pada ketika itu menerima perhatian khusus dalam Repelita 1.
             Pembangunan pada ketika itu meliputi penyediaan buku-buku pelajaran dankitab-kitab suci bagi tiap-tiap agama.selain dari buku-buku dan kitab-kitab juga diadakan rehabilitas dan pembangunan tempat-tempat ibadah.
            Dari banyak sekali planning pembangunan itu dituangkan dalam proyek-proyek pembangunan. Karena kekayaan dan sumber-sumber alam terletak di daera-daerah maka proyek-proyek itu disebarkan didaerah-daerah yang sesuai dengan kondisi dan potensi ekonomi kawasan yang bersangkutan. Dengan cara demikian, pembangunan sanggup berllangsung dan meliputi sebagian besar di Indonesia.
            Untuk membiayai pembangunan digali sumber-sumber keuangan dan tabungan pemerintah, kredit jangka menengah, dan kredit jangka panjang dari perbankan, penanaman modal, dan reinvestasi oleh perusahaan swasta nasional, perusaan gila dan perusaahn negara, serta dukungan dari luar negri berupa dukungan proyek dan dukungan program.
            Bantuan proyek selama Repelita 1 ini yaitu berjumlah Rp288,2 milia, yang digunakan untuk pembangunan sektor-sektor listrik, perhubungan dan pariwisata, industri dan pertambangan, pertanian, pendidikan, dan keluarga berencana. Dan dukungan aktivitas itu sendu=iri yaitu berupa dukungan ibarat beras, tepung terigu, gandum, dan bulgur. Bantuan-bantuan tersebut telah berhasil membantu stabilitas harga materi pangan pokok. Selain itu, ada pula dukungan aktivitas nonpangan, ibarat kapas, benang tenun, dan pupuk. [IV]
            Sumber-sumber keuangan untuk membiayai investasi didalam Repelita 1 diperkirakan akan berjumlah Rp1.420 miliar. Dari jumlah ini pembiayaan melalui Anggaran Pembangunan Negara yaitu sebesar Rp1059 miliar, sedangkan pembiayaan diuar anggaran tersebut berjumalh Rp361 miliar.
            Landasan utama yang digunakan iaah melaksanakan pembangunan menurut kemampuan sendiri yang berarti sumber-sumber keuangan daam negeri harus dimobisasi sebanyak mungkin, sedangkan sumber-sumber uar negeri hanya dibutuhka untuk mengisi kekuarangan yang masih diperlukan.
            Repeita 1 berakhir pada tangga 31 Maret 1974. Secara keseluruhan Repelita 1 itu berhasil dilaksanakan sesuai dengan target yang hendak dicapai, walau
pun pada ketika itu daam beberapa ha terdapat beberapa gangguan-gangguan, yang gangguannya itu yaitu pada selesai tahun 1972 dan awal tahun 1973 terjadi kenaikan harga beras, sedangkan ekonomi dunia menunjukkan pula keadaan yang tidak stabil yang disebabkan oleh keguncangan didalam sistem pembayaran internasional, kelangkaan salam persediaan pangan, krisi energi dan materi baku, serta inflasi yang melanda banyak negara.
            Tetapi pada bidang pertanian mengalami peningkatan pada sebagian besar hasi pertanian. Pada ketika itu beras mengalami peningkatan rata-rata 4% setahun. Kenaikan yang terbesar pada ketika itu yang tercatat yaitu kenaikan pada kayu, khususnya kayu rimba, rata-rata 37,4% setahun.
            Hasil-hasil pertanian yang juga mengalami kenaikan yaitus ibarat cengik, kelapa sawit, gula-tebu, kedelai, karet, kacang tanah, lada, jagung, telur, ikan darat, daging, dam susu. Tetapi terdapat pula perkembangan yang kurang menyenangkan  dibidang produksi umbi-umbian, kelapa, kopi, teh, dan kapas.
            Produksi beras naik lantaran adanya ekspansi areal persawahan dam kenaikan hasil per hektare. Areal persawahan meningkat disebabkan oleh bertambah baiknya sarana pengairan, sedangkan kenaikan per hektare disebabkan oleh terllaksananya aktivitas intensifikasi mellalui bimas dan inmas, serta pemakaian bibit unggul, pupuk, dan obat pembasmi hama. Sesuai dengan perkembangan itu semenjak tahun 1970 dibuat unit-unit desa oleh Bank Rakyat Indonesia. (BRI) untuk melayani petani akan kebutuhan kredit, selain itu dibuat Badan Usaha Unit Desa (BUUD) dan Koperasi Unit Desa (KUD) yang semuanya bertujuan untuk melayani para petani.
            Selama Repelita 1 telah dilakukan rehabilitas perkebunan dan pabrik-pabrik pengolahan yang telah ada. Usaha rehabilitas lebun-kebun utnuk pembibitan dan penanaman percontohan dilakukan terhadap perkebungan rakyat. Dan disamping itu, dibuat pula proyek Pembangunan Perkebunan Rakyat di Sumatra Utara (untuk karet dan kelapa sawit) dan pProyek Pembangunan Teh Rakyat dan Swasta di Jawa Barat, sedangkan untuk kawasan Jambi dibuat proyek yang disebut “perkebunan inti”.
            Pada ketika itu perkembangan perikanan menunjukkan hal-ha yang mengembitrakan. Ekspor ikan, terutama udang, naik rata-rata 62% per tahun.  Iklim ekonomi yang semakin membaik menjadi perangsang bagi penanaman modal dalam negeri dan penanaman modal asing. Peningkatan produksi industri terilihat antara lain pada pabrik pupuk [usri di Palembang dan mulai bekerjanya Petrokimia Gresik dan pembangunan pabrik pupuk di Jatibaran, Jawa Barat. Pada masa ini produk semen juga mengalami kenaikan sebesar 51%. Industri tekstil mengalami kemajuan pesat baik dalam produksi benang tenun maupun materi tektil. Benang tenun meningkat dari 177.000 bal pada awal Repelita 1 menjadi 316.247 bal pada selesai Repelita 1, sedangkan materi tekstil meningkatkan dari 449,8 juta menjadi 920 juta meter. [V]
            Selain itu dibidang pemninyakan ditemukan sumber-sumber minyak gres didaratan dan dilepas pantai, antara lain di Kalimantan Timur dan di pantai utara Jawa Barat. Selama Repelita 1 berhasil pula dibangun pengilangan minyak di Dumai dan Sungai Pakning di Provinsi Riau, sefangkan pembangunan kilang minyak di Cilacap masih dalam taraf penyelesaiaan.
            Di dalam periode Repelita 1 telah selesai rehabilitasi jalan negara sepanjang 6.555 km dan jempatan yang dibangun pada ketika itu sepanjang 20.331 meter, disamping peningkatan mutu jalan negara sepanjang 3.385 km dan jembatan sepanjang 15.503 meter. Selain itu, dibangun pua jalan gres sepanjang 367 km dan jembatan sebanyak 707 buah.
            Selain dari pada jalan-jalan negara juga membangun pusat-pusat tenaga listrik, antara lain yang telah selesai dibangun yaitu Pusat Listrik Tenaga Air (PLTA) Karangkates, Riam Kanan, dan Selorejo. Selain itu juga dibangun pula Pusat Listrik Tenaga Uap (PLTU) Tanjung Priok di Jakarta dan Makasar. Didalam bidang pendidikan lebih dari 10.000 orang guru telah ditatar.
             Dan juga melaksanakan perjuangan untuk mengatasi ketidakseimbangan dalam jumlah murid baik antara tingkatan pendidikan maupun antara banyak sekali jenis pendidikan.
            Selama Repelita 1 telah dibagi lebih dari 63,5 juta buku untuk murid-murid dan guru-guru. Selain itu dibidang pendidikan teknik, dibangun 5 proyek sentra latihab untuk memberantas penyakit menular dan untuk meningkatkan kesehatan yang menunjang aktivitas keluarga berencana. Untuk itu dilakukan rehabilitas sarana kesehatan, yaitu Balai Kesejahteraan Ibu dan anak (BKIA), balai pengobatan, sentra kesehatan masyarakat (puskesmas), dan rumah sakit diprovinsi maupun dikabupaten.
            Jumlah BKIA dalam tahun 1973 meningkat menjadi 6.801 buah. Jumlah puskesmas meningkat dari 1.227 buah dalam tahun 1969 menjadi 2.343 buah dalam tahun 1973.
            Dalam rangka penyediaan saran kehidupan beragama teah diselesaikan penyediaan 533.100 buah kitab suci untuk umat Islam, 55.331 buah umat Kristen Protestan, 16.887 buah untuk umat Katolik, dan 32.812 buah untuk umat Hindu Budha. Selain itu, dibangun pula tempat-tempat ibadah dan sekolah-sekolah agama.
NOTES:
[I]   Adi Sudirman (2014). Sejarah Lengkap Indonesia. Diva Press. Jogjakarta. Hal : 247
[II]  Marwati Djoened Poesponegoro dkk (2010). Sejarah Indonesia VI. Balai Pustaka. Jakarta.  Hal : 577
[III] Adi Sudirman (2014). Sejarah Lengkap Indonesia. Diva Press. Jogjakarta. Hal : 428
[V]  Marwati Djoened Poesponegoro dkk (2010). Sejarah Indonesia VI. Balai Pustaka. Jakarta. Hal : 581-582