Romusha (1942 – 1945)

Siska Maya Renti/014 B
Romusha ialah panggilan untuk orang-orang yang dipekerjakan secara paksa pada masa penjajahan Jepang di Indonesia. Romusha ini berlangsung selama 3 tahun, dari tahun 1942 – 1945. Jumlah korban yang menjadi romusha sekitar 4 – 10 juta orang, diantaranya petani, para perempuan, dan tokoh-tokoh pergerakan. Tujuan Jepang yaitu ingin mengambil remh-rempah milik Indonesia.
Awal mula terbentuknya romusha, ketika Jepang pertama kali tiba ke Indonesia disambut dengan gembira, alasannya ialah Jepang telah membantu Indonesia dalam mengusir Belanda. Tetapi, sehabis Jepang tiba di Hindia Belanda, Jepang bermetamorfosis lebih licik dan bengis. Mereka tidak tanggung-tanggung mengambil semua sumber-sumber kekayaan alam yang ada di Indonesia. Hal ini dilakukan oleh Jepang untuk membiayai perang Jepang dengan Sekutu di Asia Timur dan Pasifik. Karena kependudukan Jepang itu sangat luas, maka Jepang membutuhkan tenaga kerja lebih banyak lagi untuk membangun kubu pertahanan, lapangan udara darurat, gudang bawah tanah, jalan raya dan jembatan. Maka Jepang mengambil para tenaga kerja dari penduduk Jawa, dan mereka disuruh kerja paksa oleh Jepang.

Dalam menjalankan romusha ini, Jepang merekruitmen calon-calon romusha, dari teladan tingkatannya, serta alokasi tenaga kerja paksa ini. Jepang pun berhasil memanipulasi keberadaan romusha ini hingga ke dunia Internasional, dengan cara menyamarkan keberadaan romusha dengan mengganti istilah romusha menjadi pekerja ekonomi yang artinya pendekar pekerja.
Pada pertengahan tahun 1943 Jepang mengikuti Perang Pasifik, tetapi pada perang tersebut Jepang mengalami kekalahan. Sehingga, para romusha pun semakin dieksploitasi oleh Jepang. Para romusha ini dipaksa untuk mendukung perang secara langsung. Jepang sangat membutuhkan tenaga kerja paksa disetiap angkatannya. Oleh alasannya ialah itu, ajakan terhadap romusha semakin banyak dan tidak terkendali.
Pada awalnya tugas-tugas yang dilakukan bersifat sukarela dan pengerahan tenaga tidak sulit dilakukan, alasannya ialah mereka masih terpengaruh oleh propaganda “untuk kemakmuran bersama Asia Timur Raya”. Pada bulan September 1944 ada 500 orang romusha sukarela, terdiri dari pegawai tinggi dan menengah serta golongan berilmu dan anggota yang sudah berumur 60 tahun yang dipimpin oleh Ir. Soekarno . mereka berangkat dari kantor besar Jawa Hokokai ke Stasiun Tanah Abang, Jakarta dengan berjalan kaki dan diiringi orkes suling Maluku. Kemudian pada tanggal 17 Oktober 1944, Otto Iskandar Dinata pun mengikuti Soekarno dengan jumlah pengikut 625 orang.
Kebutuhan di Asia Tenggara lama-kelamaan terus meningkat, sehingga tenaga yang awalnya bersifat sukarela bermetamorfosis paksaan. Kemudian pada tahun itu juga, pemerintah Tentara Ke- 16 membentuk suatu tubuh khusus yang disebut Romukyoku yang artinya Kantor Urusan Pekerja. Badan khusus ini dibentuk sebagai tempat registrasi para pekerja. Romukyoku menciptakan peraturan untuk orang atau tubuh yang membutuhkan tenaga romusha lebih dari 30 orang wajib mengajukan permohonan ke kepala kawasan setempat. Orang atau tubuh tersebut harus mempunyai perusahaan atau pabrik yang bermanfaat untuk kepentingan perang. Sebelumnya mereka harus mengisi formulir yang menyangkut nama tempat romusha yang dipekerjakan, jumlah yang diperlukan, dan waktu yang dibutuhkan. Pemerintah kawasan pun harus menawarkan laporan bulanan juga kepada pihak Romukyoku. Para romusha merasa berat dipekerjakan ibarat itu, apalagi kalau pihak Jepang yang memerlukan mereka. Para romusha atau calon yang akan dipekerjakan ditakut-takuti dengan ancaman, kalau mereka menolak untuk dipekerjakan mereka akan dikirim ke tempat-tempat di luar kawasan atau bukan kawasan para romusha tinggal.
Romusha dipekerjaan pada proyek-proyek dengan tugas-tugas yang berbeda, antara lain ibarat pembuatan jalan, jembatan, barak-barak militer, dan perbentengan di sekitar tempat mereka tinggal. Pembuatan kiprah itu berlangsung selama tiga bulan, dan waktu tiga bulan itu merupakan masa kerja para romusha. Selain itu, bukan hanya dipekerjakan di Indonesia saja, mereka dikirim ke luar Indonesia ibarat Birma, Maung Thai, Vietnam, dan Malaya. Menurut laporan dari pihak Inggris dan Belanda, para romusha hanya seperempat dari 50.000 orang yang berhasil kembali ke Indonesia, sisanya meninggal dunia di tempat mereka bekerja.
Para romusha diperlakukan tidak sesuai dengan usul anggota Chuo Sangi In. Mereka dipekerjakan sangat buruk. Dari pagi buta hingga petang mereka dipaksa bekerja bernafsu tanpa makan dan perawatan cukup. Kondisi fisik mereka lemah bahkan hamper tidak punya sisa kekuatan. Bahkan kalau mereka beristirahat walaupun hanya sebentar saja, mereka akan dimaki-maki dan juga dipukul oleh pengawas dari Jepang. Mereka diberi kesempatan beristirahat hanya pada malam hari saja, tetapi mereka tidak sempat memasak air minum. Banyak para romusha yang terjangkit malaria, hal ini dikarenakan mereka buang air disembarang tempat dan menciptakan terjangkitnya wabah disenteri. Banyak romusha yang meninggal, alasannya ialah antara bekerja dengan perkiraan masakan tidak seimbang. Akan tetapi Jepang tetap saja ingin usahanya berjalan lancar. Maka Jepang melancarkan kembali kampanye propagandanya, para romusha menerima julukan sebagai “prajurit ekonomi” atau “pahlawan pekerja” yang artinya orang-orang yang sedang menjalankan ibadah suci atau bekerja untuk memenangkan Perang Asia Timur Raya.
Akibatnya, banyak pemuda-pemuda yang menghilang dari desanya, mereka pergi ke kota untuk menghindari pengerahan tenaga romusha. Maka, hampir semua pria yang tidak cacat diambil untuk dijadikan romusha. Kaprikornus yang tinggal hanya para perempuan, anak-anak dan lelaki yang kurang sehat saja. Di desa pun mengalami efek dari institusi lain, yaitu terbentuknya tonarigumi (rukun tetangga) dengan maksud untuk meningkatkan pengerahan maupun pengawasan terhadap penduduk. Tujuannya biar penduduk berusaha meningkatkan produksi hasil buminya dan menyerahkannya untuk negeri.
Disini kita akan melihat perbedaan antara kerja paksa ciptaan Jepang(Romusha) dan kerja paksa ciptaan Belanda(Rodi)
Romusha :
1.      Diberlakukan oleh Jepang
2.      System kerja paksa pembuatan pembangunan secara umum
3.      Dimulai pada tahun (1942 – 1945)
4.      Kurang lebih 70.000 korban jiwa dan 300.000 dalam keadaan menyedihkan
5.      Sebagian besar para perempuan dijadikan Jugun Ianfu atau perempuan penghibur tentara    Jepang
6.      Adanya jalan-jalan, lapangan terbang, dan jembatan yang sanggup dipakai rakyat Indonesia di kemudian hari
7.      Langsung diberlakukan oleh Jepang dan kesengsaraan rakyat benar-benar diketahui oleh Jepang tanpa memperdulikan nasib rakyat Indonesia
8.      Romusha diberlakukan untuk memenuhi kebutuhan secara umum rakyat Jepang
Rodi :
1.      Diberlakukan oleh Belanda
2.      System tanam paksa, pemungutan pajak dari rakyat Indonesia dalam bentuk hasil-hasil pertanian
3.       Dimulai tahun1034 – 1874
4.      Kurang lebih 216.000 korban jiwa
5.      Sebagian besar para perempuan diwajibkan menanami lahannya
6.      Dikenalnya homogen flora gres ibarat kopi dan indigo, adanya seluruh iragosi, para petani dan sanggup memakai kemudahan yang dibangun kemudian hari
7.      Awalnya kesengsaraan rakyat akhir tanam paksa tidak diketahui Belanda, tetapi lama-kelamaan Belanda tahu tindakan kewenang-wenangan pegawai pemerintah Belanda
8.      Bertujuan memperoleh pendapatan sebanyak-banyaknya dalam waktu singkat untuk menutupi kas Negara dan membayar hutang negara
Pada masa pemerintahan Jepang di Indonesia,  tidak hanya tenaga pria yang diperas. Tetapi perempuan juga dijadikan budak yang tak berharga bagi mereka. Terbukti dengan adanya Jugun Ianfu, disini saya akan mencoba menjelaskan apakah itu Jugun Iunfu dan bagaimana kekejaman yang dilakukan pemerintahan Jepang kepada perempuan Indonesia.
Jugun Ianfu
Jugun ianfu merupakan julukan untuk perempuan penghibur pada masa itu. Pemerintah Pendudukan Jepang mengerahkan perempuan untuk kepentingan pemuas nafsu. Jugun ianfu direkrut dari desa secara paksa dengan cara-cara kekesaran, tipu muslihat, dan ancaman, untuk memenuhi kebutuhan biologis Jepang baik di kalangan militer maupun sipil. Jugun ianfu diartikan sebagai “budak seks” dilakukan secara gelap atau tertutup. Melalui derma pejabat kawasan dan tonarigumi, Pemerintah Militer Jepang mengumumkan perihal jugun ianfu. Mereka memaksa para perempuan untuk bersedia ikut dalam agenda pengerahan tenaga kerja. Mereka merayu para perempuan dengan iming-iming akan diberikan pekerjaan yang layak. Selain itu, Jepang mendekati keluarga perempuan yang diincarnya. Serta tidak segan Jepang mengancam para perempuan yang tidak mau ikut untuk dijadikan tenaga kerja. Tetapi Jepang bukan menawarkan pekerjaan yang layak, para perempuan dijadikan jugun ianfu atau perempuan penghibur.
Kaum perempuan yang menjadi jugun ianfu kebanyakan dari mereka berpendidikan rendah, dan bahkan tidak berpendidikan dan buta huruf. Selain itu, mereka berada dalam kesuliatan ekonomi. Itulah yang menciptakan para perempuan percaya begitu saja ketika ada usulan pekerjaan yang cukup menjanjian untuk mereka yang tidak membutuhkan keahlian khusus. Jugun ianfu direkrutmen melalui jalur hiburan. Oleh alasannya ialah itu, para seniman terlibat dalam hal itu. Selain itu, para dokter dan para pejabat pun ikut berpartisipasi dalam perjuangan pencarian dan pengumpulan perempuan yang akan dijadikan jugun ianfu.
Para jugun ianfu kebanyakan berasal dari keluarga baik-baik. Ada yang masih gadis, di bawah umur, dan ada juga yang sudah bersuami dan mempunyai anak. Tetapi bahaya pihak militer Jepang menciptakan mereka takut untuk menolak atau melarikan diri. Di setiap wilayah komando militer dibangunnya tempat-tempat untuk para jugun ianfu. Tujuannya untuk mencegah terjadinya pelecehan seksual oleh tentara Jepang, menjaga moral tentara Jepang, serta mencegah penyakit kelamin yang akan melemahkan kekuatan militernya. Para jugun ianfu dimasukkan ke rumah-rumah bordil Jepang yang disebut Ian-jo yang dijaga ketat oleh tentara Jepang. Setiap perempuan di Ian-jo menerima kamar dengan nomor kamar, dan nama mereka diganti dengan nama Jepang yang ditulis di pintu kamar.
Sebelum menjalani kiprah sebagai jugun ianfu, para perempuan di Ian-jo menjalani investigasi kesehatan yang merendahkan martabatnya. Para jugun ianfu ditelanjangi dan diperiksa dengan paksa apakah mereka sudah terjangkit penyakit atau masih sehat. Di Ian-jo mereka para jugun ianfu mengalami pemerkosaan. Siksaan berupa tamparan, pukulan, dan tendangan dilakukan oleh tentara Jepang ketika sadar maupun mabuk. Para jugun ianfu hanya pasrah menjalani penderitaan hidup alasannya ialah mereka tidak punya pilihan lain. Mereka mustahil sanggup melarikan diri alasannya ialah jarak perjalanan pulang sangat jauh, mereka buta perihal pengetahuang peta, dan mereka tidak punya uang untuk berpergian. Pengerahan perempuan berkebangsaan Indonesia maupun Belanda yang dipaksa menjadi jugun ianfu telah mengalami penderitaan lahir batin. Hal ini merupakan salah satu bukti kekejaman Jepang yang memaksa kaum perempuan memenuhi kepentingannya yaitu kepentingan nafsu seksnya.
DAFTAR PUSTAKA
ü  Poesponegoro, Marwati Djoened, 2008. Sejarah Nasional Indonesia. Jakarta: Balai Pustaka
ü  Notosusanto, Nugroho, 2009. Sejarah Indonesia. Jakarta: Balai Pustaka
ü  Marwati Djoened Poesponegoro & NugrohoNotosusanto.1984.Sejarah Nasional Indonesia. Jakarta:Balai Pustaka