Romusha

Wita Afrianti S/A
Romusha (buruh,pekerja) yaitu panggilan bagi orang-orang Indonesia yang dipekerjakan secara paksa pada masa penjajahan Jepang di Indonesia dari tahun 1942 hingga 1945.Kebanyakan romusa yaitu petani,dan semenjak Oktober 1943 pihak Jepang mewajibkan para petani menjadi romusa.Mereka dikirim untuk bekerja di aneka macam tempat di Indonesia serta Asia Tenggara.
          Romusa yaitu sebuah kata Jepang yang berarti semacam ” serdadu kerja ” yang tenaganya dibutuhkan demi kepentingan perang pasifik yang dialami Jepang melawan tentara sekutu pada Perang Dunia II.

            Dalam Ensiklopedia Nasional Indonesia (1990:248) ,romusa asal kata dari bahasa Jepang yang berarti kuli atau tenaga kerja.Lebih lanjut diterangkan Romusa yaitu nama barisan pekerja Jawa yang tidak termasuk penggalan ketentaraan akan tetapi umumnya dipekerjakan di garis belakang dari aneka macam medan pertempuran.
            Menurut Ensiklopedia Nasional Indonesia (1984:2934),romusa yaitu tenaga kerja paksa di dalam pendudukan Jepang yang dipekerjakan di sarana strategis demi kepentingan pertahanan Jepang dan mengalami perlakuan lebih jelek dari pada kerja rodi zaman Belanda.
           Dalam bahasa Jepang, romusha berarti “pahlawan kerja”. Romusha di Indonesia digunakan untuk menyebut tenaga kerja paksa di zaman pendudukan Jepang (1942–1945). Para romusha dipekerjakan untuk kepentingan membangun pertahanan pasukan Jepang.Romusya yaitu rakyat yang dikerahkan oleh militer Jepang untuk membuat jalan,jembatan,rel kereta api dan sebagainya dalam Perang Dunia II di wilayah pendudukannya;banyak diantara mereka yang mati lantaran penderitaan.
           Apapun artinya, romusa yaitu orang-orang yang dipaksa kerja berat di luar daerahnya,selama pendudukan Jepang bagi kepentingan tercapainya kemenangan akhir.Waktu itu setiap kepala keluarga diwajibkan menyerahkan seorang anak lelakinya dibawah usia 30 tahun untuk berangkat menjadi romusa.Tenaga- tenaga tersebut didatangkan dari Jawa sebagai pulau yang paling padat penduduknya untuk dikirim dan dikerahkan ke proyek-proyek tentara Jepang di Jawa dan pulau-pulau lain bahkan hingga ke Singapura dan Thailand.
1.Latar Belakang Jepang Mengeksploitasi Romusa
            Ketika perang pasifik pecah yang diawali dengan serangan udara mendadak Jepang terhadap pangkalan Angkatan Laut Amerika Serikat (AS) di Pearl Harbor,Hawaii pada tanggal 7 Desember 1941.Saat itu pulalah dimulainya gencatan senjata antara Amerika Serikat dan Jepang.Tentu saja peperangan antara kedua kubu tersebut membutuhkan biaya,tenaga dan materi masakan yang tidak sedikit.
            Dalam waktu yang sangat singkat Angkatan Perang Jepang telah sanggup merebut dan menduduki hampir seluruh wilayah Asia Timur dan Asia Tenggara,termasuk Hindia Belanda.Hingga pada tanggal 8 Maret 1942 tentara Belanda mengalah tanpa syarat kepada Jepang.Maka berakhir pulalah pemerintahan penjajahan bangsa Belanda di Indonesia digantikan oleh penjajahan bangsa Jepang.
             Pada simpulan tahun 1942 keadaan perang pasifik semakin menyulitkan tentara Jepang untuk mencapai obsesinya sebagai negara ekspansionis yang sukses dan satu-satunya di wilayah Asia.Jika pada awal peperangan Jepang bertindak agresif-ofensif,selalu menyerang .Maka pada awal tahun 1943 tentara Jepang lebih bersifat defensif dari serangan balik Amerika Serikat sehingga Pimpinan tentara Jepang merencanakan siasat perang selama mungkin untuk menahan dan menghambat kemajuan tentara sekutu.Untuk keperluan itu tentara Jepang sangat membutuhkan pemberian tenaga dari bangsa Indonesia yang menjadi tempat jajahannya.
2.  Tujuan Jepang Mengeksploitasi Romusa
      Di pulau Jawa menyimpan sumber daya yang melimpah dan sanggup dimanfaatkan yaitu penduduknya.Oleh Jepang,penduduk tersebut dimanfaatkan tenaganya sebagai sumber daya penting selain sumber alam.Maka jutaan orang dimobilisasi sebagai romusa untuk melaksanakan pekerjaan berat di dalam dan luar pulau Jawa bahkan hingga ke luar wilayah Indonesia.
       Pada awalnya romusa di pekerjakan sebagai tenaga produktif di perusahaan-perusahaan,kedudukannya ibarat buruh biasa.Kebijakan mobilisasi mereka ke luar Jawa dimaksudkan untuk membuat produktivi
tas akhir pengurangan produktivitas pertanian dan perkebunan di Pulau Jawa.Memasuki pertengahan tahun 1943 ,kebijakan pengerahan romusa bermetamorfosis perjuangan eksploitasi.Pengambilan dan penempatan romusa oleh Angkatan Perang dilakukan dengan serius.Ada tiga alasan mengapa eksploitasi romusa dilakukan.Pertama,kondisi perang Pasifik semakin memburuk bagi Jepang.Kedua,adanya tuntutan memenuhi kebutuhan sendiri (swasembada) bagi setiap Angkatan Perang di tempat pendudukan. Ketiga, adanya motivasi ekonomi yang merupakan tujuan utama imperialisme Jepang ke Indonesia. Keempat,Jepang kekurangan tenaga dalam kiprah mensukseskan Perang Pasifik yang sedang dijalaninya guna untuk membuat kubu – kubu pertahanan,lubang-lubang pertahanan,lapangan-lapangan udara,rel kereta api,pertambangan watu bara,perkebunan jarak sebagai minyak dan sebagainya.
       Mulai ketika itu tenaga romusa bukan hanya dibutuhkan untuk eksploitasi ekonomi,tetapi juga dibutuhkan untuk proyek-proyek yang secara pribadi berkaitan dengan perang.Pada taraf ini seruan terhadap romusa menjadi tak terkendali.Di setiap desa dan wilayah ,laki-laki dan perempuan usia produktif diinventarisir oleh kepala desa atau kepala wilayah dan kemudian mereka dikenai kewajiban kerja tanpa terkecuali.
SEJARAH ROMUSA SEBAGAI PUNCAK PENDERITAAN RAKYAT DI BAYAH
Proses Rekrutmen Romusa di Pertambangan Bayah
          Pertambangan Bayah merupakan salah satu tempat eksploitasi yang menjadi seni administrasi pemerintahan militer Jepang untuk memenangkan perang Asia Timur Raya.Di sana bukan hanya terdapat pertambangan watu bara saja tetapi juga proyek pembuatan rel kereta api juga.Pada prosesnya,pertambangan Bayah tidak mengambil tenaga kerja dari penduduk pribumi.Penduduk pribumi hanyalah berkonsep pada pengerahan yang bersifat kerja bakti (kinrohonsi) ibarat membuat dan memperbaiki jalan dan jembatan.Sedangkan untuk tenaga romusa sendiri dimobilisasi dari Jawa Tengah ,Jawa Timur dan sedikit dari Cirebon.
Ada tiga alasan Jepang melaksanakan rekrutmen dan mobilisasi romusa dari Jawa Tengah dan Jawa Timur,antara lain:
  1. Penduduk Bayah atau Banten Selatan yang ada secara umum sudah terikat dengan kewajiban kinrohonsi (kerja bakti) dengan pemerintahan Jepang.
  2. Penduduk Bayah masih sangat sedikit sehingga tidak memadai dan mencukupi untuk kerja di pertambangan.
  3. Adanya impian penguasa militer Jepang di Jawa untuk mempercepat produksi pertambangan Bayah sehingga mendatangkan tenaga romusa secara besar-besar.
           Dalam proses rekrutmen dan mobilisasi,terdapat dua unsur yang berkaitan,yaitu pelaku rekrutmen dan sasaran rekrutmen.Sedangkan keberhasilan perekrutan ditentukan oleh cara-cara yang digunakan pelaku perekrutan dalam menghipnotis sasaran perekrutan.
  1. Pelaku Rekrutmen
          Pelaku rekrutmen diartikan sebagai orang-orang atau forum yang secara pribadi atau tidak pribadi terlibat dalam proses perekrutan.Pada tingkatan tertinggi ,rekrutmen romusa diorganisasi pribadi oleh Pemerintah Militer Pusat Angkatan Darat ke-16 Jawa,sedangkan proses perekrutan dan transportasi pengiriman romusa ke daerah-daerah tujuan menjadi tanggung jawab Romokyokai (biro tenaga kerja).Biro ini dibuat dari sentra hingga tingkat Karesidenan (Shu),Romokyokai berkewajiban memilih jatah (kuota) romusa yang harus disediakan oleh karesidenan-karesidenan di Jawa dari mengontrol penempatannya ke tempat tujuan pekerjaan.
          Selanjutnya jatah untuk karesidenan dibagi lagi kepada kabupataen-kabupaten.Dari kabupaten (ken) kuota penyediaan romusa untyuk daerahnya diberikan kepada kewedanan (Gun).Perekrutan dari tingkat kabupaten dipimpin oleh pangreh praja (bupati) yang juga ketua BP3 (Badan Pembantu Prajurit Pekerja) di daerahnya.Selanjutnya pangreh praja menugaskan kepada kepala-kepala desa (Kuncho) dalam daerahnya kekuasaanya untuk menyediakan tenaga dalam jumlah tertentu.Setiap desa (Ku) rata-rata harus menyediakan romusa 20-50  orang romusa per-minggu.
          Setelah rakyat menawarkan kepercayaan dan mau terlibat dalam kerja-kerja romusa,perekrut dari Pangreh Praja inilah yang mendata,mengumpulkan dan memberangkatkan romusa dari desa ke kecamatan kemudian kabupaten kemudian diberangkatakan ke Bayah.
2.      Sasaran Rekrutmen
    &n
bsp;      Sasaran rekrutmen merupakan orang-orang atau kelompok orang yang telah memenuhi kriteria untuk dilibatkan ke dalam pekerjaan-pekerjaan yang diadakan oleh pemerintah militer Jepang.Orang –orang ini biasanya bertempat tinggal di wilayah-wilayah sasaran perekrutan.Telah dijelaskan bahwa wilayah yang menjadi sasaran perekrutan yaitu pemduduk dari Jawa Tengah dan Jawa Timur.Dari daerah-daerah tersebut,pria-wanita,tua-muda,usia produktif yaitu sasaran perekrutan.Menurut peraturan yang dikeluarkan oleh Romukyokai ,laki-laki dan perempuan tersebut harus berumur antara 14-45 tahun,dan bagi laki-laki diutamakan berbadan sehat,kuat,dan tegap lantaran pekerjaan romusa sangat berat.
            Tetapi ,dalam kenyataannya banyak hal yang dilanggar ketika peraturan tersebut berhadapan dengan pelaksanaan.Pada prosesnya banyak pangreh praja asal ambil saja dari masyarakat lantaran terdesak kuota.Agar kuotanya terpenuhi pegawanegeri desa tersebut mengambil orang tua,pemuda,dan belum dewasa muda usia sekolah yang masih di bawah 14 tahun untuk dijadikan romusa.
3.      Cara-Cara Rekrutmen
             Cara-cara rekrutmen yaitu tindakan yang dilakukan oleh perekrut untuk menghipnotis targetnya biar berperilaku dan bertindak sesuai dengan impian dirinya.Berbagai cara dilakukan perekrut untuk menghipnotis penduduk  biar mau diajak ke dalam kerja romusa.Secara umum yang sering dihadapi romusa yaitu sebagai berikut:
a.       Dengan cara membujuk dan merayu
           Cara ini dilakukan terhadap penduduk yang berlatar belakang pengangguran,pengemis,dan penjahat dan juga terhadap golongan usia muda.Golongan pengangguran,pengemis,dan penjahat umumnya pribadi tertarik dengan bujuk rayu itu dengan menjanjikan pekerjaan ,gaji dan masakan bagi mereka.Sedangkan untuk golongan muda dengan sedikit tipuan yaitu selain dijanjikan pekerjaan dan honor serta apabila telah bekerja dalam masa tiga bulan akan digantikan dan direkrut menjadi menjadi perjaka sukarela(kemiliteran) di Jakarta.
b.      Dengan cara tipu muslihat
            Modusnya seseorang tiba-tiba disuruh mendaftar oleh kepala desa untuk menggantikan bapak atau saudaranya yang tidak bisa mengikuti romusa,atau petani yang sedang bekerja di sawah didatangi perangkat desa dan diperintahkan berkumpul ke balai desa untuk menerima pelatihan.Namun,mereka kemudian diangkut ke Bayah tanpa diberi kesempatan untuk berpamitan ke keluarga mereka.Ketika mereka tahu kalau akan dijadikan romusa banyak dari mereka melarika diri ketika kereta berhenti atau meloncat dari gerbong ketika kereta sedang berjalan.Banyak kejadian ibarat ini sehingga mengakibatkan korban romusa tidak terhitung.
c.       Dengan Cara memaksa
           Cara ini dilakukan apabila penduduk tidak lagi bisa dibujuk untuk dijadikan romusa.Pada situasi ini biasanya penduduk telah mendengar kabar ihwal kekejaman dan kesengsaraan saudara-saudaranya di pertambangan Bayah.Sehingga ketika nama mereka dicantumkan namanya ke dalam daftar pekerja untk diberangkatkan oleh kepala desa ,mereka cenderung menentang dan menolaknya. Kuncho yang takut gagal memenuhi kewajibannya terhadap Jepang berusaha dengan aneka macam cara,seperti menangkapi petani yang sedang bekerja di sawah,bahkan melaksanakan peculikan belum dewasa sekolah yang sedang mencar ilmu di sekolah.Cara ini biasanya menerima dukungan dari pejabat kecamatan dengan mengirimkan tentara Jepang ke desa-desa tersebut.
Kondisi Lingkungan Kerja dan Pekerjaan Romusa
            Romusa di pertambangan Bayah yaitu orang-orang yang tiba bukan untuk mengadu nasib atau mencari penghidupan yang lebih baik.Tetapi,orang-orang yang tertipu sehingga menjadi korban kewajiban kerja paksa Jepang.
Romusa di pertambangan Bayah terbagi ke dalam dua kategori,antara lain:
  1. Romusa yang mempunyai keahlian
          Romusa semacam ini sangat dibutuhkan di pertambangan Bayah.Mereka sebelum dikirim sudah mempunyai profesi ibarat andal bangunan,ahli mesin,pembuat jalan dan jembatan,pegawai kereta,masinis,sopir,ahli dalam pembukaan hutan serta andal dalam pengeboran.Mereka akan dijadikan juru tulis,mandor,dsb
2.      Romusa tanpa keahlian
           Romusa dalam kategori ini yaitu romusa yang dari tempat asalnya tidak mempunyai keahlian apa-apa.Mereka umumnya berprofesi sebagai petani,gelandangan,pengemis,dsb.
Golongan ini yaitu lebih banyak didominasi romusa di pertambangan Bayah.Romusa yang tidak mempunyai keahlian ini dibedakan menjadi tiga kelompok,antara lain:
  1. Kelompok romusa dengan kondisi tubuh lemah
  2. Kelompok romusa dengan kondisi tubuh sedang
  3. Kelompok romusa dengan kondisi tubuh sedang
Kondisi pekerjaan merupakan citra acara romusa yang berafiliasi dengan pelaksanaan kerja yang diberikan oleh Jepang di pertambangan Bayah.Kondisi kerja tersebut dibedakan menjadi:
  1. Kondisi Kerja Romusa non Tambang
            Romusa non tambang dipekerjakan pada pekerjaan-pekerjaan biasa ibarat membuat jalan raya dan jalan kereta,membuka hutan,membuat bangunan-bangunan dan pekerjaan-pekerjaan lain yang sifatnya tidak berat.Sebelum dan selama melaksanakan pekerjaan ,romusa-romusa dibagi ke dalam regu-regu kecil.Setiap regu berjumlah 15 hingga 20 orang dan dipimpin oleh seorang ketua regu.Setiap regu ditentukan sasaran kerja yang harus dicapai setiap harinya.Untuk pekerjaan merambah hutan,setiap regu ditetapkan harus mengumpulkan kayu dalam jumlah kubikan tertentu dan penebangan dalam luas tertentu.Dalam membuat jalan ditentukan berapa meter yang harus diselesaikan dan dalam membuat bangunan juga ditentukan batas waktu jadinya suatu bangunan tersebut.
            Pekerjaan ini umumnya tidak begitu berat,tetapi kondisi tubuh romusalah yang menimbulkan pekerjaan itu menjadi berat,karena banyak romusa yang sakit dan lemah diharuskan tetap bekerja.Dalam peraturan yang harus dilaksanakan oleh Kigotai bahwa setiap romusa yang sakit tapi masih bisa berdiri dan berjalan diharuskan tetap bekerja kecuali sudah tidak sanggup berdiri dan bergerak.Lagi pula bekerja yaitu satu-satunya cara romusa biar bisa bertahan hidup,karena dengan bekerja sedikit masakan biar sanggup bertahan hidup masih bisa didapatkan.
2.      Kondisi Kerja Romusa Tambang
            Pekerja tambang yaitu romusa yang dalam pekerjaannya berafiliasi dengan pengambilan watu bara di dalam lubang-lubang penambangan dan aktivisnya lebih banyak berada di bawah tanah.Aktivitas di lubang penambangan berlansung 24 jam yang dibagi dalam empat shift.Setiap shift romusa mendapatkan waktu kerja selama 6 hingga 7 jam.Seperti pada romusa non tambang,romusa ditambang juga dibagi kedalam kelompok atau regu yang masing-masing terdiri dari 10 hingga 12 orang.Setiap regu dipimpin oleh ketua regu ,yang beranggotakan 2 orang pemegang mesin bor,2 orang pemasang dinamit,dan selebihnya yaitu tukang pecah watu bara dan pengangkut.
            Dalam satu shift ,lubang-lubang penambangan diisi oleh 4 hingga 6 regu,di awah pengawasan pribadi satu orang mandor.Jadi,dalam 4 shift terdapat empat mandor.Mandor-mandor tersebut mempertanggung jawabkan pekerjaannya kepadaseorang mandor utama yang disebut mandor besar.Setiap mandor besar dalam pekerjaannya bertanggung jawab pribadi kepada seorang Jepang kepala penggalan romusa.
            Proses penambangan di dalam lubang menimbulkan kecelakaan kerja,seperti tertimpa longsoran tanah,terkena ledakan dinamit,terbentur dinding batu,terkena pentalan watu dari ledakan,kebakaran di dalam tambang,kekurangan oksigen,hingga keracunan gas di dalam lubang.Hal ini terjadi sebagian besar lantaran kelalaian Jepang yang tidak menawarkan alat-alat keselamatan yang memadai selama proses penambangan.
            Selain kecelakaan kerja ,hal umum yang selalu dialami semua romusa yaitu kelelahan fisik yang amat sangat dan menurunnya daya tahan tubuh akhir kekurangan pangan dan aneka macam penyakit yang dideritanya.Dalam kondisi ini pekerjaan yang sudah berat dirasakan semakin menyiksa dan menimbulkan penderitaan yang berkepanjangan akhir tidak d
ipenuhinya hak-hak dasar pekerja yang semestinya ibarat mendapatkan masakan dan pakaian,upah ,dan pelayanan kesehatan untuk memulihkan kondisi tubuh sulit didapatkan.Akibatnya dalam jangka panjang pekerjaan romusa di pertambangan benar-benar menjadi bencana kemanusiaan yang dahsyat.
Penderitaan yang Dialami Romusa di Bayah
            Kebijakan romusa yang dilancarkan oleh pemerintah Jepang untuk memenangkan perang pasifik ternyata menimbulkan penderitaan –penderitaan yang amat berat bagi sebagian rakyat Indonesia.Semula tugas-tugas yang dibebankan kepada para romusa bersifat sukarela.Akan tetapi usang kelamaan bermetamorfosis kerja paksa yang dinilai lebih kejam daripada kebijakan culturstelsel (semacam kerja paksa) pada zaman penjajahan Belanda.Dalam hal ini penderitaan yang dialami rakyat Bayah akhir romusa yaitu :
  1. Sistem Upah
            Layaknya suatu pekerjaan,pasti akan mandapatkan hasil dan pekerjaan harus diberi imbalan.Begitu pula dengan romusa-romusa di pertambangan Bayah,mereka pun mendapatkan upah yang berupa uang dan materi masakan atau beras.Dalam hal ini terdapat ketidaksesuaian upah dari yang semula dijanjikan oleh Jepang.Untuk pekerja lubang penambangan,mereka mendapatkan upah 40 sen-60 sen dan beras 400 gram per harinya,sedangkan romusa berkeluarga mendapatkan beras 750 gram per hari.Romusa bukan pekerja lubang mendapatkan upah antara 15 sen -40 sen dan beras 250 gram.Dalam bentuk materi masakan ini Jepang tidak mutlak memberikannya dalam bentuk beras tetapi diberikan juga dalam bentuk nasi siap saji.Nasi yang diberikan terhadap romusa kadang-kadang masih bercampur dengan butiran gabah atau kerikil dengan embel-embel sayur bening tanpa bumbu yang isinya pepaya mentah atau genjer ditambah ikan asin (kalau ada),seringnya tidak ada.Sedangkan dalam hal upah berupa uang setiap romusa niscaya mendapatkannya tetapi jimlahnya tidak tentu dan tidak berlanjut.Hal ini tentu saja menanmbah penderitaan romusa selama bekerja.
2.      Beratnya Beban Kerja
           Romusa mencicipi beratnya beban kerja secara fisik dan psikis.Secara fisik apa yang dikerjakan pada ketika itu sangat bertolak belakang dengan yang biasa mereka kerjakan sehari-hari di tempat asalnya.Di tempat kerja baru,mereka berhadapan dengan pekerjaan gres (di pertambangan watu bara Bayah) yang sama sekali belum pernah mereka kerjakan sebelumnya dengan teladan kerja yang ketat.Dalam kondisi ibarat itu,mau tidak mau harus mematuhi apa yang diperintahkan Jepang.Menolak perintahnya berarti menanti eksekusi berat yang akan diberikan Jepang.Selain itu,adanya ketentuan tidak tertulis yang menyebutkan bahwa untuk mendapatkan masakan maka romusa harus bekerja,dan yang tidak bekerja tidak akan terdaftar dalam akseptor ransuman nasi atau jatah beras.
           Secara psikis,kita bisa melihat pada masa awal perekrutan.Romusa direkrut dengan cara-cara yang tidak patut dan secara emosional hal itu mengakibatkan para romusa menjadi tertekan.Sehingga banyak dari mereka yang jadinya tidak tulus bekerja dan hendak kabur dari tempat romusa untuk kembali berkumpul dengan keluarga yang telah usang ditinggalkan.
3.      Kurangnya Makanan dan Pakaian
          Makanan yaitu unsur penting bagi romusa biar bisa bertahan hidup dan mendapatkan energi biar sanggup tetap bekerja.Dalam hal ini masakan memang diberikan dalam dua kali sehari,beras bagi romusa yang berkeluarga,dan nasi bagi romusa yang tidak berkeluarga.Yang jadi persoalan bagi romusa yaitu takarannya yang tidak sesuai dengan kebutuhan harian dan kualitasnya tidak layak konsumsi bila dibandingkan dengan energi yang harus mereka keluarkan sehari-hari dalam pekerjaannya.Beras yang diberikan tidak semua sanggup dikonsumsi lantaran kadang-kadang masih bercampur dengan gabah,jagung atau bahkan kerikil kecil.Selain itu tak jarang romusa mendapatkan makan pagi,tetapi sorenya tidak.Bersama nadi tersebut diberikan juga sayur pepaya tau daunsingkong,genjer,kangkungb tanpa bumbu dan lauknya sekali-kali ikan asin.
          Pakaian sama halnya dengan masakan yang merupakan barang langka dan sulit didapatkan.Pakaian yang diberikan Jepang kepada romusa berupa baju dan celana yang terbuat dari materi karung goni untuk laki-laki dan lempengan karet (lateks) untuk perempuan.Bagi romusa menggunakan pakaian itu yaitu siksaan dan sangat tidak nyaman lantaran mengakibatkan panas dan gatal-gatal,juga mengakibatkan iritasi kulit apabila bergesekan dengan serat-seratnya yang sangat kasar.Pakaian ini selain digunakan romusa untuk bekerja di lubang pertambangan ,proyek penambangan,dan membabat hutan,juga untuk pakaian sehari-hari.Hal ini biasa terjadi lantaran romusa hanya mempunyai satu buah pakaian dalam jangka waktu yang  lama.
4.      Wabah Penyakit
        Wabah penyakit merupakan pembunuh nomor satu di pertambangan Bayah.Menurut Tan Malaka (2000:349),dalam sehari tidak kurang 400-500 orang romusa meninggal dunia di seluruh wilayah pertambangan Bayah.Wabah penyakit timbul dan menyebar disebabkan oleh:
5.      Kondisi Lingkungan yang tidak sehat
         Pemukiman romusa oleh Jepang umumnya ditempatkan di sekitar lubang-lubang penambangan di tengah hutan dan tepi pantai yang potensial sebagai sarang nyamuk malaria.Juga tidak terdapat kemudahan MCK yang baik dan memadai.Romusa terbiasa untuk menggunakan sungai-sungai untuk acara tersebut.Hal ini berpotensi mengakibatkan malaria ,disentri,dan kolera.
6.      Kondisi tubuh romusa yang lemah
            Pekerjaan berat dan kurangnya masakan membuat tubuh romusa sangat lemah dan mempunyai tingkat imunitas yang rendah terhadap potensi penyakit yang akan menyerang tubuhnya.Sehingga ketika disekelilingnya teradapat potensi penyebaran dari lingkungan dan penularan dari sesama romusa maka romusa tersebut sangat rentan sekali terjangkit.
7.      Kondisi tubuh dan pakaian yang kotor
            Pakaian dan tubuh yang kotor berpotensi terjangkitnya penyakit kulit yang diakibatkan oleh parasit-parasit atau kutu anyir yang melekat ditubuh dan pakaian tersebut.Apalagi pakaian romusa yaitu pakaian multiguna,yaitu pakaian sehari-hari dan bekerja.Juga disebabkan oleh materi pakaian yang digunakannya,yaitu karung goni yang menjadi tempat tinggal nyaman kutu anyir yaitu tuma penghisap darah.Tuma ada hampir di seluruh pakaian romusa di pertambangan Bayah,biasanya tinggal dalam pori-pori karung yang memang besar dan dalam lipatannya.Siang dan malam tuma-tuma itu menghisap darah romusa,meninggalkan bintik-bintik merah dikulit dan sangat gatal.Mau tidak mau romusa harus menggaruknya yang usang kelamaan meninggalkan luka yang menyebar menjadi budukan,dan dari lecet menjadi borok yang berisi nanah.
            Pada malam hari menjelang tidur,siksaan ini semakin dahsyat lantaran serangan tuma yang ditambah tumbila yang bersarang di pelupuh (lantai bambu) bedeng (asrama romusa).Untuk menghindarinya banyak romusa yang tidur di luar bedeng dan tidur di atas tanah yang kotor dan lembab.Tidur di alam terbuka ibarat ini dalam jangka waktu yang usang membuat daya tahan tubuh romusa semakin menurun sehingga gampang terserang aneka macam macam penyakit.
8.      Tidak ada upaya penanngulangan dari pihak Jepang
          Dalam kondisi ini seharusnya Jepang membuat rumah sakit untuk menampung romusa yang menderita penyakit,menambah dokter dan perawat,menyediakan bermacam-macam obat untuk penyakit dan yang paling penting yaitu meningkatkan kualitas hidup romusa.
           Pada ketika itu memang rumah sakit besar ada di Pasir Kolecer Bayah di setiap blok penambangan serta terdapat semacam balai pengobatan (klinik) ,tetapi tidak berfungsi sesuai dengan yang diharapkan.Di rumah sakit tersebut setiap pasien yang tiba hanya mendapatkan sekadar investigasi alakadarnya dan tidak mendapatkan obat.Hal ini terjadi lantaran minimnya obat-obatan dan kalaupun ada hanya pil kina saja yang disediakan Jepang.
           Fungsi rumah sakit ketika itu tidak lebih hanya sebagai tempat penampungan romusa untuk menunggu kematian.Bahkan dikalangan romusa sendiri ada desas-desus kalau sekali seseorang diangkut ke rumah sakit atau klinik,maka ia tidak akan kembali dalam keadaan hidup.
            Selama bergelut dengan rasa sakitnya,romusa-romusa ini tidak sanggup bekerja atau tidak mau bekerja lagi.Mereka awut-awutan di aneka macam tempat di sekitar kamp-kamp penambangan,emperan-emperan bangunan,di sepanjang rel kereta api,di pemukiman penduduk dan di bawah pepohonan.Para romusa ini hanya bisa bengong mencicipi sakit dan menunggu maut lantaran sudah tidak bisa beraktivitas lagi.Setiap pagi penduduk sekitar dan para romusa menyaksikan pemandangan mengerikan yaitu romusa-romusa telah menjadi mayit yang berserakan.
            Pemandangan ibarat itu bukan
barang yang abnormal bagi mereka.Ketika itu mayat-mayat romusa seolah tidak dianggap insan lantaran pemakamannya tanpa melalui proses ritual layaknya insan mati.Mayat yang hanya dibungkus tikar,dibalut pakaian yang melekat pada badannya atau dengan dedaunan,kemudian dimakamkan di mana saja tergantung romusa itu ditemukan.Dalam satu lubang kadang-kadang diisi bukan hanya oleh satu atau dua mayat,tetapi bisa hingga lima puluh mayat.Sungguh ironis bila mengungkap fakta kekejaman Jepang terhadap penderitaan romusa di Bayah ketika itu.
Daftar Kutipan :
Astuti,Meta Sekar Puji.2008.Apakah Mereka Mata-Mata?:Orang-Orang Jepang Di Indonesia (1868-1942).Yogyakarta:Ombak
Isnaeni,Hendri F.2008.Romusa :Sejarah Yang Terlupakan (1942-1945).Yogyakarta
Sumber  :
Bimtes SBMPTN 2015
Buku Sejarah kelas 2 Sekolah Menengan Atas