Sang Bengal Dari Serdang Sultan Sulaiman Shariful Alamshah ( 1880-1942 )

Debora hutagalung/2014 B/SI IV
Sultan sulaiman shariful alamshah merupakan sultan kelima dan terakhir dari kesultanan serdang, putra tunggal sultan basyaruddin dengan encik rata, wanita dari kalangan biasa yang berasal dari pantai cermin. Ia  lahir di rantau panjang pada 19 januari 1868, delapan bulan sebelum kedatangan ‘ expeditie tegen serdang en asahan’ dari Batavia untuk melumpuhkan rantau panjang, ibu negri kesultanan serdang. Lahir dan tumbuh ketika tradisi dan konstelasi politik di daerah ini berubah. Ayahnya sultan basyaruddin di kenal sebagai sultan yang berani membawa bendera aceh ketika mendapatkan elisa netscher-residen belanda di riau- yang tiba di kuala serdang pada 16 agustus 1862. Pengibaran bendera aceh itu ialah wujud penolakkannya terhadap pernyataannya bawah serdang berada di bawah siak. Serdang pada waktu itu memang sedang tidak berada dibawah siak, tetapi potongan dari aceh. Akan tetapi, pada jadinya sultan terjerat dalam rantai kekuasaan colonial. Ia harus menandatangani acte van arkenning. hanya saja ketika ketika karus membubuhi stempel pada tandatanggannya, sultan basyaruddin tetap mencantumkan kata-kata sebagai wazir sultan aceh. Hal itu menciptakan netscher tersinggung dan mengancam akan menyerang serdang dengan senjata yang ada di kapalnya. Akhirnya sultan bersedia menghapus kata-kata itu dan sebaliknya belanda bersedia

mengakui sultan basyaruddin sebagai sultan serdang dengan daerahnya mencakup percut, denai, perbaungan, bedagai, dan padang.  Hanya berselang Sembilan bulan, yaitu pada 1863, ayah sultan sulaiman ini mulai memperlihatkan perilaku menentang. Ia mulai menjalin huungan dengan aceh. Menyambut dengan sukacita kedatangan pasukan aceh yang dipimpin oleh raja cut latief ke rantau panjang. Peristiwa inilah yang kemudian mendorong pemerintah colonial mengirim expeditie’ tegen serdang en asahan ‘ yang tiba di rantau panjang pada 1 oktober 1865.

CIVIL DISOBEDIENCE
            Pengangkatan sulaiman tidak mendapatkan ratifikasi dari pemerintah colonial sehingga dianggap tidak sah. Memang pengangkatan sulaiman tidak mengikuti hukum pemerintah colonial, yang harus terlebih dahulu menerima persetujuan pejabat kolonial belanda setempat. Hal itulah yang menimbulkan kedudukan sultan sulaiman semenjak 1880 hingga 1887 seperti menggantung sehingga mempengaruhi pandangan perilaku sulaiman kelak terhadap kolonial. Walaupun belum diakui oleh pemerintah kolonial, langkah pertama sultan dalam pemerintahannya ialah menuntut pengembalian beberapa daerah serdang yang diambil oleh belanda. Pengabilan alihan itu dilakukan belanda pada masa pemerintahan ayahnya sebagai eksekusi lantaran dianggap telah ” membangkang ” terhadap pemerintahan kolonial. Meski usia sulaiman belum genap 18 tahun, insiden yang terjadi pada tahun kedua pemerintahan itu ( 1882 ) menandai awal politik  civil disobedience, suatu bentuk pembakangan sejalan dengan gagasan ” aktif berjuang tampa kekerasan” taktik ini merupakan bentuk perlawanan sultan sulaiman terhadap ekspansi kepentingan kolonial di daerahnnya. Strategi politik civil disobedience dalam banyak sekali cara kemudian menjadi corak kebijakan pemerintahan sultan sulaiman di bawah kekuasaan kolonial. Tidak mengherankan kebijakan ini kelak kerap menjadi materi perbincangan di kalangan pejabat kolonial di serdang, malahan dalam laporan serah terima jabatan kata-kata ” semoga berhati-hati bila berafiliasi dengan sultan ini” selalu di tuliskan. Disebutkan, sultan selalu melancarkan protes, mengemukakan keberatan dan tidak pernah membiarkan belanda terlalu jauh mencampuri urusannya. Ketika sentra pemerintahan serdang dan controleur belanda di rantau panjang harus di pindahkan lantaran sering dilanda banjir, sultan mengabaikan permintaan controleur untuk membangun ibu kota bersama di lubuk pakam. Sultan lebih menentukan perbaungan sebagai ibu kota gres kesultanan serdang. Penolakan sultan sulaiman itu menjadi hal yang kurang menguntungkan bagi rezim kolonial lantaran letak perbaungan yang jauh dari lubuk pakam, menciptakan pengawasan sultan lebih sulit.
            Siasat diplomatis selalu dijalankan sultan ini dikala berhadapan dengan kolonial. Sultan yang selalu bersedia mendapatkan siapa saja pejabat belanda yang tiba ke istana tetap mengakomodasi setiap permintaan pemerintah kolonial. Sesudah mendengarkan, ia tidak akan pribadi memutuskannya. Apabila waktu yang ditentukan telah tiba dan pejabat belanda menanyakannya, maka sultan berlaku seperti lupa dan tidak pernah menjanjikan sesuatu kepada pejabat kolonial itu. Suatu insiden yang terjadi pada 1938 dikenang warga serdang sebagai insiden penting, pada tahun itu, ketika menandatangani kontrak politik gres di Batavia, keengganan sultan untuk hadir dalam upacara resmi itu ditunjukkan dari cara berpakaiannya. Ia tidak mengenakan pakaian kebesaran seorang seorang raja, melainkan stelan putih ibarat tanda orang sedang berkabung. Berdasarkan penuturan putra sultan, rajah anwar, yang ikut bersamanya, setiba di lokasi gerak-gerik sultan sulaiman diawasi dengan ketat. Ketika upacara penandata-nganan dimulai, sultan sulaiman yang tidak mengunakan pakaian kebesaran raja ditempatkan di ujung barisan. Di belakang tempat duduknya, selain tengkuh rajah anwar, dua polisi pengawal berjaga-jaga. Pada waktu itu tidak berbuat diluar batas kepentingan. Itulah yang membuatnya marah. Saat pendatanganan, sultan berdiri dan pribadi di handang pengawal. Sultan yang sudah berusia 73 tahun menerobos rentangan tangan pengawal itu sambil membentak, ” saya mau kencing “. Peristiwa itu menjadi catatan tersendiri di hati belum dewasa muda serdang. Sehubungan dengan insiden itu tengkuh nurdin dalam biografinya menuliskan bahwa ” atok sultan ” pernah menyampaikan pemerintah hindia belanda telah mengikat leher raja-raja dengan rantai emas ” seorang tengkuh pada dikala itu mengigat, bagaimana cucu sultan yang berjulukan tengkuh ziwar menyemangati belum dewasa muda serdang dengan dongeng pada tahun 1983 itu. Politik civil disobedience yang dijalankan oleh sultan sulaiman dalam menghadapi kekuasaan kolonial di wilayahnnya tidak terbatas hanya pada perilaku atau tindak tunduk. Agar tidak tergantung dengan pemerintahan kolonial, sultan melaksanakan perubahan utuk menyejahterakan rakyatnya dan negrinya melalui kegiatan yang pada masa itu mungkin merupakan sesuatu yang luar biasa , tetapi masuk akal, dan manusiawi. Adapun perubahan yang dilakukan sulaiman untuk menyejahterakan dan memajukan rakyatnya ialah sebagai berikut.
MENATA SISTEM PERTANIAN BARU
            Istilah bendang cukup popule di serdang hingga dikala ini walaupun istilah itu sudah ada jauh sebelumnya bersamaan dengan pengembangan system oertanian gres sultan sulaiman. Bendang bemakna sawah. Bersawah bukan hal gres bagi warga serdang . pada masa lalu, untuk memperoleh beras orang melayu membuka huma. Hasil yang diperoleh dengan cara ini hanya cukup untuk memenuhi kebutuhan hidup petani itu sendiri. Hal ini mendorong sultan untuk melaksanakan perubahan pada system pertanian di serdang. Diawali dengan membuka areal persawahan di rantau panjang. Dipilinya ibukita serdang ini menjadi areal persawaan disebabkan oleh air yang berlimpah dan nilai sesuai untuk sawah takung. Untuk mengubah kampong usang yang tergenang air itu menjadi areal persawahan raksasa, sultan sulaiman mengeluarkan biaya sebesar 10.000 dollar singapura untuk banyak sekali keperluan, mulai dari menyediakan benih padi hingga pembagunan tanggul air. sawah  panen satu tahun sekali tidak sanggup bertahan usang lantaran kerusakan hutan di hulu sungai serdang jawaban pembukaan perkebunan yang belum sanggup di tanganin dengan baik. Areal persawahan ini selalu disapu banjir tiap kali demam isu hujan. Kegagalan tersebut tidak menciptakan sultan berhenti berusaha. Lima tahun kemudian ( 1903 ), pandangan gres membuka pertanian sawah dengan system irigrsi menjadi pilihannya, untuk mewujudkannya impiannya, sultan mendatangkan orang banjar dari Kalimantan. Mereka sanggup di datangkan lantaran sultan sulaiman berafiliasi baik dengan sultan banjar. Para petani banjar ini dipimpin oleh haji mas demang, Untuk melancarkan proyek tersebut sultan menyediakan areal pertanian seluas 2000 pundak (14.192.000 meter persegi) dengan biaya mencapai 1.200.000 dolar. Dengan lahan dan dana yang disediakan oleh sultan itulah dibangun proyek persawahan irigasi di perbaungan yang kemudian di kenal dengan istilah bendang.
            System pertanian iri serdanggrasi tersebut memperlihatkan hasil yang memuaskan bagi kesultanan serdang sehingga serdang dikenal sebagai daerah lumbung padi untuk daerah keresidenan Sumatra timur. Menjadi daerah lubung padi utama merupakan prestasi yang harus ditunjukkan kepada pemerintahan kolonial, lantaran sultan telah menandakan bahwa sultan bisa melaksanakan tampa meminta sokongan dari kolonial. Sultan tetap berupaya memperkenalkan dan meningkatkan produksi beras dengan menimbulkan bendang sebagai ruang aktualisasi budaya. Hasil padi yang diperoleh disimpan di gudang padi istana di bawah pengawasan seorang kepala gudang, sedangkan beras di simpan tersendiri di gudang yang berbeda. Cara itu menciptakan persediaan padi kerajaan tidak pernah habis. Rakyat sultan yang membutuhkan padi sanggup memperoleh secara gratis. Mereka hanya tiba menghadap sultan, memberikan keingginannya dan dengan secarik surat dari sultan beras dari gudang akan berpindah tangan mereka. Setiap orang hanya diizinkan memperoleh beras sebanyak satu kaleng. Serdang kanaal merupakan pencapaian monumental sultan sulaiman. Sebelum rantau panjang diubah menjadi sawah, berkali-kali ia menuntut pemerintah untuk ikut bertanggung jawab atas banjir yang menenggelamkan kampung di sepanjang sungai serdang. Tuntunan atas problem itu pernah tersiar dalam surat kabar dibatavia. Setelah mendesak cukup lama, sultan sulaiman mengambil inisiatif untuk menanggulangi problem banjir itu sendiri.
            Pada 1937, anggaran terbatas sultan memulai pekerjaan besar meluruskan aliran sungai serdang sepanjang tujuh kilometer. Ia sendiri yang meletakkan pancang pertama dan memperabukan sumbu dinamit semoga tanggul penahan meledak sehingga sanggup mengalir alur sungai serdang yang yang sudah di luruskan itu. Serdang jalan masuk ini menyelamatkan beberapa kampong, lebih dari 10.000 hekter persawahan di sekitarnya dan mengairi sawah  lain di tepian sungai yang sebelumnya sanggup melalui kapal api dari selat Melaka itu. Manfaat jalan masuk juga dirasakan oleh perkebunan di sekitarnya, lantaran itu sultantidak pernah segan memaksa pengelolah kebun termasuk deli spoorweg maatschappij untuk turut member donasi yang pantas.
‘OPEN DOOR’ PENDIDIKAN MODEREN DAN MEMAJUKAN KESENIAN
            Sekolah melayu tiga tahun didirikan pad 1911 merupakan jawaban sultan sulaiman atas perubahan yang melanda serdang. Jika sekolah yang dikelolah pemerintah kolonial di pembaungan dikhususkan untuk belum dewasa aristokrat maka sekolah yang di dirikan sultan sulaiman di buka untuk semua kalangan. Semua orang sanggup kesempatan untuk sekolah. Sekolah melayu yang memakai bahasa melayu sebagai bahasa pengantar secara sedikit demi sedikit di bangkit di banyak sekali tempat. Selain sekolah melayu, sultan sulaiman juga membangun sekolah yang dikhususkan untuk belum dewasa bekas kuli kontrak dari jawa yang tidak terikat kontrak lagi. Bahasa pengantar untuk sekolah yang berlokasi di beberapa perkebunan serdang memakai bahasa jawa. Sekolah perkebunan , demikianlah orang-orang menyebutnya. Di bangkit purba, daerah penghubung antara serdang hulu dan serdang hilir, sultan sulaiman mendirikan sekolah kejurusan bidang pertanian. Di daerah ini terdapat banyak perkebunan .besar dan lantaran ganjal an itu sultan membuka sekolah yang berdiri di atas tanah 1000 pundak ini. Untuk mendirikan ‘sekolah pertukangan` ini ia menganggarkan dana sebesar 10.000 gulden.
            Sultan sulaiman pula yang menanggung seluruh biaya dari kegiatan berguru di sekolah-sekolah melayu termasuk honor guru. Mengenai guru, sultan menjatuhkan pilihan kepada kelompok masyarakat yang berpengalaman, kebanyakan berasal dari mandailing dan minangkabau. Para guru yang disapa engku oleh murid-muridnya umumnya lulusan kweekschool atau sekolah guru di padangsidempuan, padang panjang atau bukittinggi. Sekitar dasawarsa pertama tahun 1900-an sultan sulaiman menuntut pendirian HIS ( hollands inlandsche school ) di serdang. Menurut sultan, jikalau ada sekolah akan gampang bagi murid lulusan sekolalah kerajaan untuk melanjutkan pelajaran tampa harus meninggalkan serdang. Selama ini mereka terpaksa melanjutkan sekolah di delische school di medan . perjuangan sultan sulaiman berhasil meski harus menunggu cukup lama. Baru pada 1916, sesudah menunggu lebih dari 10 tahun, HIS berdiri di perbaungan. HIS perbaungan dipimpin oleh seorang guru berkebangsaan belanda. Sebagian besar muridnya ialah putra-putri sultan sulaiman, kerabat diraja, pembesar serdang,  ditambah murid-murid dari kalangan biasa yang memiliki prestasi cemerlang. Satu hal yang tidak disukai sultan serdang, sekolah lanjutan memakai bahasa belanda sebagai bahasa pengantar. Sultan melarang murid-murid yang berasal dari kalangan aristokrat memakai bahasa itu di lingkungan istana. Sultan tak ingin efek bahasa itu terlampau jauh merasuki istana yang dijaganya sungguh-sungguh semenjak dahulu. Pertumbuhan pesat sekolah melayu di serdang tidak menciptakan pendidikan agama dilupakan, siapa pun belum dewasa serdang yang mengecap sekolah sekuler diwajibkan untuk mengaji pada sore hari. Di madrasah-madrasa serdang selain membaca AL-Quran murid-murid pun diajarkan bisa menulis dan membaca abjad jawi. Sultan selalu memperlihatkan dorongan kepada keluarganya semoga mengikuti pendidikan di luar jalur formal, ibarat mengikuti kursus bahasa inggris atau seni music dan tari shingga hal ini telah menjadi semacam keharusan terutama bagi putra-putri dan kerabat istana.
Daftar Pustaka
1. Agustono, budi(1993), ” kehidupan aristokrat serdang 1887-1946 ” tesis magister, universitas gadjah madaa.
2. tuanku luckman sinar ( 2003 ), Kronik mahkota kesultanan serdang. Medan : yandira
3. Agung.(2007 ), Bangun dan Runtuhnya Kerajaan Melayu di Sumatra Timur. Medan : Tampa Penerbit
4. Besaryah II, dkk. ( 2008 ), mahkota susila dan budaya melayu serdang. Medan : kesultanan serdang