Sejarah Afrika Selatan Dan Politik Apartheid

REZI YUNI ZAHRI/PIS/B
  1. SEJARAH AFRIKA SELATAN
Afrika Selatan merupakan salah satu negara tertua di benua Afrika. Luas wilayah Afrika Selatan yaitu 1.221.040km2. Afrika Selatan bersebelahan dengan Samudera Atlantik di pantai barat, Samudera Selatan dan Samudera Hindia di pantai timur. Sebagian besar penduduk Afrika Selatan yaitu 70% orang Negro (kulit hitam), 20% kulit putih dan 10% India.

Banyak suku yang ada di Afrika Selatan, seperti:
·         Khoi
·         Bushmen
·         Xhosa
·         Zulu
Afrika Selatan mempunyai tiga ibukota yaitu: Pretoria (badan eksekutif), Cape Town (badan legislatif) dan Bloemfontein (badan yudikatif) dan mempunyai kota terbesar yaitu Johannesburg, Durban, Cape Town, Pretoria, Kimberley, Port Elizabeth dan Bloemfontein. Kemerdekaan Afrika Selatan diperoleh dari negara persemakmuran Britania Raya (Inggris). Bentuk pemerintahannya yaitu Republik pada tanggal 31 Mei 1961 dan Dominion pada tanggal 31 Mei 1910 yang dipimpin oleh seorang presiden, presiden yang populer di Afrika Selatan berjulukan Nelson Mandela. Saat ini kepresidenan Afrika Selatan dipimpin oleh Jacob Zuma.
Afrika Selatan bertetangga dengan:
·         Utara : Namibia, Botswana dan Zimbabwe
·      Timur Laut : Mozambik dan Swaziland dan keseluruhan negara Leshoto terletak dipedalaman Afrika Selatan
Negara Afrika Selatan terdiri dari sepuluh provinsi, yaitu: Eastern Cape, Free State, Gauteng, KwaZulu Natal, Limpopo, Mpumalanga, North West, Northern Cape, Western Cape, North-Western Cape.
Orang Eropa pertama yang mencapai Afrika Selatan yaitu Bortolomeuz Diaz yang berlayar mengelilingi Tanjung Pengharapan tahun 1488. Keberhasilannya disusul oleh Vasco da Gama pada tahun 1497-1498 yang berlayar mengelilingi Tanjung dan menemukan serta menamakannya daerah Natal. Namun orang Portugis tidak hingga menjelajah atau bermukim di wilayah yang kini yaitu Republik Afrika Selatan.
Pada tahun 1652, penjelajah Belanda yang dikenal sebagai Afrikaner datang di Afrika Selatan. Pada keti
ka itu, Inggris juga berminat dengan negara ini terutama sesudah inovasi cadangan berlian yang melimpah. Hal ini menyebablan Perang Britania-Belanda dan dua perang Boer. Pada tahun 1910 juga, empat republik utama digabung dibawah Kesatuan Afrika Selatan dan terbentuklah Uni Afrika Selatan. Negara ini memihak Inggris dalam Perang Dunia I dan mengalahkan orang Jerman yang menduduki Afrika Barat Daya tahun 1919. Liga Bangsa-Bangsa menunjukkan wilayah yang diduduki Jerman kepada Afrika Selatam.
Pada tahun 1930, Afrika Selatan menjadi jajahan Britania (Inggris) sepenuhnya dan Afrika Selatan menerima kemerdekaan, kemudian menjadi negara persemakmuran. Walaupun negara ini dibawah kekuasaan Britania, mereka terpaksa mebagi kekuasaan dengan pihak Afrikaner. Pembagian kekuasaan ini telah berlanjut hingga tahun 1940 ketika partai Pro Afrikaner yaitu Partai Nasional (NP) memperoleh lebih banyak didominasi di parlemen. Strategi-strategi partai tersebut telah membuat dasar apartheid yang disahkan pada tahun 1948. Suatu cara untuk mengawal sistem ekonomi dan sosial negara dengan dominasi kulit putih dan diskriminasi ras. Namun, pemerintahan Britania kerap kali menggagalkan perjuangan Apartheid yang menyeluruh di Afrika Selatan.
Pada tahun 1961, sesudah pemilu khusus kaum kulit putih, Afrika Selatan dideklarasikan sebagai sebuah Republik. Bermula pada tahun 1960an, Grand Apartheid (Apartheid Besar) dilaksanakan, politik ini menekankan pengasingan wilayah dan kezaliman pihak polisi. Penindasan kaum kulit gelap terus berlanjut hingga selesai kurun ke 20. Pada Februari 1990, jawaban dorongan dari bangsa lain dan tantangan jago dari banyak sekali gerakan Anti-Apartheid khususnya Kongres Nasional Afrika (ANC), pemerintahan Partai Nasional dibawah pimpinan Presiden Frederik illem de Klerk menarik balik larangan terhadap Kongres Nasional Afrika dan partai-partai politik berhaluan krir yang lain dan membebaskan Nelson Mandela dari penjara. Undang-undang Apartheid mulai dihapus secara perlahan-lahan dan pemilu tanpa diskriminasi yang pertama diadakan pad tahun 1994. Partai ANC meraih kemenangan yang besar dan Nelson Mandela dilantik sebagai presiden kulit hitan yang pertama di Afrika Selatan.
Sewaktu Nelson Mandela menjadi presiden negara Afrika selatan selama 5 tahun, pemerintahannya telah berjanji untuk melakukan perubahan terutama isu-isu yang telah diabaikan semasa Era Apartheid. Beberapa isu-isu yang ditangani oleh pemerintahan ANC yaitu pengangguran, wabah AIDS, kekurangan rumah dan pangan. Walaupun kekuasaan sudah berada ditangan kaum kulit hitam, berjuta-juta penduduknya masih hidup dalam kemiskinan dan 2,3 juta orang berisiko kekurangan gizi dan pangan. Walaupun begitu, pemerintahan kulit gelap Afrika Selatan telah berhasil mengurangi kemiskinan dari 42% pada tahun 1994 dan 24% pada tahun 2003.
Pemerintahan Nelson Mandela juga mulai memperkenalkan kembali Afrika Selatan kepada ekonomi global sesudah beberapa tahun diasingkan alasannya yaitu Politik Apartheid. Disamping itu, dalam perjuangan mereka untuk menyatukan rakyat, pemerintah juga membuat sebuah komite yang dikenal sebagai Truth and Reconciliation Commitee (TRC) dibawah pimpinan Uskup Desmond Tutu. Komite ini berperan utnuk memantau badan-badan pemerintah ibarat tubuh polisi biar masyarakat Afrika Selatan sanggup hidup kondusif dan harmonis. 
Presiden Nelson Mandela menumpukkan seluruh perhatiannya terhadap perdamaian di tahap nasional dan mencoba untuk membina suatu jati diri untuk Afrika Selatan dalam masyarakat beragam yang terpisah oleh konflik yang berlarut-larut selama beberapa dasawarsa. Kemampuan Nelson Mandela dalam mencapai objektifnya terang terbukti alasannya yaitu selepas tahun 1994, negara ini telah bebas dari konflik politik. Nelson Mandela meletakkan jabatannya sebagai presiden partai ANC pada Desember 1997 untuk memberi kesempatan kepada presiden yang gres yaitu Thabo Mbeki.
Thabo Mbeki, dipilih sebagai presiden Afrika Selatan selepas memenangi pemilu nasional pada tahun 1999 dan partainya menang tipis dua pertiga lebih banyak didominasi di parlemen. Presiden Thabo Mbeki telah mengalihkan fokus pemerintahan dari perdamaian ke perubahan terutama dari segi ekonomi negara.
B.     MASALAH POLITIK APARTHEID
Apartheid yaitu suatu kebijakan pemisahan rasial yang ada di Afrika Selatan dari awal kurun ke 20 hingga tahun 1990. Pemisahan antara orang kulit gelap dengan orang kulit putih. Politik Apartheid dilakukan pertama kali di Afrika Selatan yang dikuasai oleh dua bangsa kulit putih, koloni Inggris di Cape Town dan Namibia dengan para Afrikaner Boer (Petani Afrikaner) yang mencari keberuntungan di tanah kosong Afrika Selatan.
Politik Apartheid sesungguhnya telah usang dilakukan. Hal-hal yang merupakan tanda-tanda Politik Apartheid yaitu:
·         Native Land Act (Undang-undang Pertahanan Pribumi) tahun 1913 yang melarang orang kulit gelap membeli tanah diluar daerah yang sudah disediakan bagi mereka.
·         Lalu Undang-undang Imoritas tahun 1927 yang melarang terjadinya perkawinan campuram antara orang kulit putih dengan orang kulit hitam.
Dibawah sistem Politik Apartheid, pendidikan dirangka menurut warna kulit yaitu kementrian yang berbeda untuk pelajar orang kulit putih, berwarna, Asia dan pelajar orang kulit gelap diluar Bantustan. Pengasingan ini telah menghasilkan 14 kementrian pendidikan yang berbeda di negara Afrika Selatan.
Pada Politik Apartheid ini, presiden Afrika Selatan yaitu Nelson Mandela ditangkap dan ditahan pada tahun 1961 di penjara Pretoria dan gres dibebaskan pada tanggal 11 Feruaru 1990 pada masa pemerintahan presiden Frederik Willem de Klerk. Pembebasan Nelson Mandela membaa pengaruh faktual terhadap rakyat Afrika Selatan terutama orang kulit gelap dalam menghapus Politik Apartheid.
Pada tanggal 2 Mei 1990 untuk pertama kalinya pemerintahan Afrika Selatan mengadakan negosiasi dengan ANC untuk membuat Undang-undang Non-rasial. Pada tanggal 7 Juni 1990, presiden Frederik Willem de Klerk menghapuskan Undang-undang Darurat Negara yang berlaku hampir pada setiap potongan negara Afrika Selatan.
Perjuangan yang dilakukan oleh presiden Nelson Mandela dalam menghapus politik ini memakan waktu yang cukup lama. Presiden Nelson Mandela terus berjuang untuk mencapai kebebasan negerinya. Pada tahun 1994, diselenggarakan proses pemilihan umum yang bebas pertama kali di negara Afrika Selatan dan Nelson Mandela terpilih sebagai presiden kulit gelap pertama di negara Afrika Selatan.
Daftar Pustaka:
Darsiti,Soeratman. 2012. Sejarah Afrika. Yogyakarta: Ombak
Sejarah Afrika oleh Andri Karmidi, S.pd, M.Pd
Arief, Mudzakir. 2006. RPUL (Rangkuman Pengetahuan Umum Lengkap). Semarang: Aneka Ilmu