Sejarah Dan Brunei Darussalam

Turisno/SAT
Sebelum mengalami penjajahan, Brunei merupakan sebuah kerajaan yang sangat besar. Wilayahnya meliputi kepingan utara Kalimantan sampai Filipina kepingan selatan. Brunei tumbuh sebagai kerajaan yang sangat kuat dan mengalami kejayaan pada masa keempat belas sampai masa keenam belas. Sayangnya, puncak kejayaan tersebut tidak sanggup berlangsung usang lantaran adanya efek kebudayaan dari bangsa Eropa. Pengaruh budaya tersebut secara tidak eksklusif telah mengikis rasa kebangsaan di dalam diri masyarakat Brunei dikala itu, jadinya banyak terjadi perpecahan di tingkat regional.
Kondisi tersebut dimanfaatkan oleh para penjajah untuk menyerang Brunei dan menjadikannya sebagai daerah koloni. Awalnya, Burnei memang cukup tangguh dalam menghadapi para penjajah tersebut. Serangan Spanyol ke daerah tersebut berhasil dipatahkan oleh pasukan Brunei, namun kondisi internal Brunei yang semakin carut marut membuatnya menjadi rapuh. Banyaknya perselisihan antar para bangsawan, kudeta sampai pembagian wilayah untuk para pangeran menciptakan kerajaan tersebut gampang untuk dipecah belah.
Kondisi tersebut diperparah dengan hilangnya sebagian kekuasaan Brunei yang diakibatkan oleh pengkhianatan Rajah Putih dari Sarawak. Brunei menjadi semakin mengecil dan memisah menjadi dua bagian. Kekuasaannya pun tak lagi berlangsung lama, Brunei akhirnya takluk ditangan Inggris. Wilayah yang tadinya seluas Kalimantan Utara dan Filipina Selatan, sekarang menjadi kecil mungil sebagaimana yang ada dikala ini.
Tulisan ini akan membahas perihal sejarah keberadaan Kesultanan Brunei atau yang biasa dikenal dengan nama Brunei Darussalam. Untuk memudahkan dalam pembahasan, goresan pena ini akan membagi sejarah Brunei kedalam tiga bagian; (1) Era Pra-Kesultanan (Sebelum Abad ke-14), (2) Era Kesultanan Brunei (1370-1843), dan (3) Era Penjajahan Inggris (1847-1984).
Era Pra-Kesultanan (sebelum masa ke- 14)
Sejarah Brunei sebelum era kesultanan tidak banyak diketahui. Hal ini terjadi mengingat minimnya informasi dan bukti-bukti sejarah yang menceritakan terkait duduk masalah kehidupan dan kondisi pemerintahan di Brunei dikala itu. Banyak jago sejarah yang menyakini bahwa sebelum era kesultanan yang ada dikala ini, Brunei telah mempunyai suatu sistem pemerintahan tersendiri.
Kerajaan Vijayapura
Keyakinan ini didasari oleh banyak sekali sumber dari kerajaan China dan Nusantara yang menyebutkan bahwa pada masa itu telah ada sebuah kerajaan yang mengelola daerah Brunei. Sumber dari kerajaan Sriwijaya menyebutkan bahwa pada masa ke-7 di kepingan barat maritim Kalimantan terdapat sebuah kerajaan yang berjulukan Vijayapura. Kerajaan Vijayapura ini berhasil ditaklukkan dibawah kekuasaan kerajaan Sriwijaya yang berlokasi di pulau Sumatera. Namun bukti arkeologi memperlihatkan bahwa kerajaan tersebut berada dibawah efek kerajaan China, ini diperlihatkan dari inovasi koin logam China yang terbit pada masa ketujuh di sekitar Brunei.
Kerajaan Po-ni
Sumber kuno lain menyebutkan bahwa pada masa ke-10, daerah tersebut dikuasai oleh sebuah kerajaan yang berjulukan Po-ni. Kerajaan Po-ni ini telah melaksanakan kontak dengan Dinasti Song yang ada di China dan beberapa kali melaksanakan korelasi dagang dengan Dinasti Song. Teks sejarah dari Dinasti Song dan bukti arkeologi memperlihatkan bahwa kerajaan Po-ni sangat dipengaruhi oleh peradaban Hindu ibarat yang ditularkan oleh kerajaan Hindu yang terletak di pulau Jawa dan Sumatera. Sistem penulisan yang dipakai menganut naskah Hindu Jawa dan Sumatera, bukan Hindu India. Ini memperlihatkan bahwa kerajaan Po-ni tidak mempunyai korelasi yang erat dengan kerajaan India.
Selanjutnya, dalam kitab Negarakertagama yang ditulis oleh Prapanca pada tahun 1365 menyebutkan bahwa kerajaan tersebut takluk dibawah kerajaan Majapahit.[1] Dalam versi Negarakertagama, kerajaan yang ditaklukkan oleh Majapahit tersebut berjulukan Berune. Namun diperkirakan bahwa penaklukan yang dilakukan oleh Majapahit tersebut tidak lebih dari korelasi simbolis. Disebutkan bahwa setiap tahunnya, kerajaan Berune mengirimkan minuman yang terbuat dari buah pinang sebagai upeti kepada kerajaan Majapahit.
Hubungan kerajaan Po-ni dengan daerah lain juga semakin berkembang. Pada tahun 1370-an, kerajaan ini menjalin korelasi dengan Dinasti Ming yang ada di China. Hubungan kedua kerajaan diperkirakan sangat akrab, hal ini diperlihatkan dengan adanya kunjungan penguasa Po-ni, Ma-na-jih-chia-na ke ibukota Nanjing pada tahun 1408 dan meninggal dunia disana. Sejak dikala itu kehidupan kerajaan Po-ni tidak banyak diketahui lantaran pada tahun 1424, Kaisar Hongxi dari Dinasti Ming menghentikan acara maritimnya sehingga semenjak dikala itu tidak ada lagi catatan terkait kerajaan Po-ni.
Era Kesultanan brunei (1370-1843)
Diceritakan bahwa menjelang kehancuran Dinasti Yuan, China mengalami kekacauan yang sangat parah. Kondisi ini memaksa banyak orang China melarikan diri. Orang-orang yang tinggal di sepanjang pesisir Fujian juga turut melarikan diri dengan dipimpin oleh Ong Sum Ping. Mereka melarikan diri ke arah timur Kalimantan dan masuk ke salah satu sungai disana. Saat itu sempat terjadi kecelakaan yang menciptakan salah seorang anggota kehilangan lengannya. Konon, orang-orang Melayu yang tinggal disekitar sungai melihatnya dan akhirnya menamai sungai tersebut dengan nama Kinabatangan lantaran menjadi lokasi hilangnya lengan salah seorang anggota tersebut.
Ong Sum Ping dan para pelarian lainnya mulai mendirikan pemukiman dan membangun di sekitar sungai Kinabatangan. Ternyata pembangunan yang dilakukan oleh Ong Sum Ping mempunyai dampak yang sangat besar bagi kehidupan disana. Kawasan tersebut mengalami peningkatan kemakmuran dan kesejahteraan. Kondisi ini menciptakan Ong Sum Ping diangkat sebagai pemimpin di daerah tersebut. Orang Melayu memberinya gelar sebagai Raja sedangkan orang China memberinya gelar “Chung Ping” yang berarti Jenderal.
Sultan Muhammad Shah
Kawasan tersebut awalnya dikuasai oleh Kesultanan Brunei, namun lantaran adanya invasi dari Kesultanan Sulu, daerah tersebut menjadi tidak terurus. Kekuasaan Kesultanan Brunei pun hanya terbatas pada kepingan utara Kinabatangan, sementara daerah lainnya tidak sanggup dikontrol lantaran adanya kudeta diantara sesama penduduk melayu lokal. Keberhasilan Ong Sum Ping tersebut menciptakan Sultan Brunei, Muhammad Shah yang dikala itu gres naik tahta menjadi tertarik untuk menyatukan kekuasaan dengan Ong Ping.
Penyatuan kekuasaan tersebut ditandai dengan ijab kabul antara Putri Sultan dengan Ong Sum Ping. Pernikahan tersebut menciptakan
Ong Sum Ping menerima gelar Maharaja Lela. Selain itu, Muhammad Shah juga menikahkan saudaranya, Sultan Ahmad dengan adik wanita Ong Sum Ping yang kemudian menerima gelar Putri Kinabatangan. Kedua ijab kabul ini memperlihatkan dampak yang luar biasa bagi perkembangan Kesultanan Brunei.
Dengan sumbangan Ong Sum Ping dan militer China, Kesultanan Brunei berhasil mengusir invasi dari Kesultanan Sulu dan terhindar dari kehancuran total. Pengaruh Ong Sum Ping di Brunei ternyata sangat besar da berdampak pada pertumbuhan China di Brunei. Hampir di setiap kota dan desa di Brunei telah dibangun perkampungan China dan kuat signifikan terhadap pertumbuhan disana. Salah satu kota peninggalan China yang masih ada dikala ini yakni keberadaan kota Kinabalu yang menjadi pusat pemukiman China.
Sultan Abdul Majid Hassan dan Sultan Ahmad
Pada tahun 1402, Sultan Muhammad Shah meninggal dunia dan digantikan oleh anaknya, Sultan Abdul Majid Hassan. Adapun Ong Sum Ping diangkat sebagai Bupati. Namun pemerintahan Abdul Majid Hassan ternyata tidak berlangsung lama. Pada tahun 1406, Sultan Abdul Majid Hassan meninggal dunia. Pasca kepergiannnya, Brunei mengalami kebuntuan politik dan vacum of power selama dua tahun. Pada masa ini terjadi kudeta diantara para aristokrat dan dimenangi oleh Sultan Ahmad, saudara Sultan Muhammad Shah yang juga adik ipar Ong Sum Ping.
Pada masa ini, Ong Sum Ping telah memasuki usia lanjut. Dia mengirimkan seorang diplomat dan dikawal oleh pasukan menuju ke China untuk memberitahu kepada Kaisar Yong Le dari Dinasti Ming perihal kondisi Brunei dan rencana kepulangan Ong Sum Ping ke China. Kaisar Yong Le bahagia dan melaksanakan penyambutan besar atas kedatangannya. Ong Sum Ping akhirnya meninggal dunia dan dimakamkan di China. Kekuasaan Ong Sum Ping di Brunei dilanjutkan oleh anaknya, Awang. Dia berhasil menjalankan kekuasaan politik dengan baik dan mempunyai legitimasi yang kuat lantaran membawa nama besar ayahnya. Cerita perihal Awang selanjutnya tidak banyak diketahui.
Begitu besarnya tugas Ong Sum Ping terhadap Brunei menciptakan banyak masyarakat Brunei yang mempercayai bahwa Ong Sum Ping merupakan salah satu pendiri Kesultanan Brunei. Namun pandangan tersebut tidak disepakati oleh kalangan Kesultanan lantaran Sultan menganut asas Melayu, Islam dan Beraja. Meskipun demikian, Kesultanan masih sangat menghormati Ong Sum Ping. Hal ini ditunjukkan dengan pemberian nama jalan Ong Sum Ping di Ibukota Bandar Seri Begawan dan pembuatan museum yang berisi artefak Ong Sum Ping.
Sultan Syarif Ali
Kembali ke duduk masalah Kesultanan. Sementara itu, Sultan Ahmad menikahkan putrinya dengan Sultan Syarif Ali, seorang laki-laki yang berasal dari Semenanjung Arab dan masih termasuk kerabat Nabi Muhammad. Sultan Syarif Ali inilah yang akhirnya menjadi Sultan sesudah Sultan Ahmad.
Dibawah kepemimpinan Sultan Syarif Ali, Brunei mengalami kemajuan yang sangat baik. Kesultanan Brunei mulai melaksanakan perluasan secara bertahap dan melaksanakan perluasan efek ke beberapa negara. Kemajuan Brunei semakin pesat dengan jatuhnya Malaka ke tangan Portugis pada tahun 1511. Sistem monopoli yang diterapkan oleh Portugis menciptakan sebagian besar pedagang mengalihkan perdagangannya ke pelabuhan Brunei. Banyaknya pedagang muslim yang masuk ke Brunei menciptakan pertumbuhan Islam di Brunei berlagsung dengan sangat cepat.
Satu hal yang penting untuk dicatat yakni Kesultanan Brunei menganut sistem Thalassocracy, sebuah sistem dimana fungsi Kesultanan bukanlah untuk mengendalikan kepemilikan tanah tetapi mengendalikan perdagangan. Masyarakat menganut sistem hierarkis dimana Sultan sebagai pucuk pemimpinnya. Kekuasaan Sultan terbatas dan diawasi oleh sebuah Dewan yang mempunyai fungsi mengatur dan mengadakan suksesi Sultan.
Sultan Bolkiah
Kesultanan Brunei mengalami kejayaan pada masa Sultan Bolkiah. Pada masa ini kekuasaan Brunei semakin meluas dari Serawak, Sabah, Kepulauan Sulu sampai ujung barat maritim Kalimantan. Pengaruh Sultan juga menyebar sampai ke Filipina dan memasukkan Teluk Manila kedalam koloninya. Selain itu Sultan juga menjalin korelasi yang baik dengan Raja di Jawa dan Malaka. Kemakmuran ini dinikmati oleh semua rakyat Brunei, hampir semua rakyat mempunyai rumah kayu yang berdiri diatas air, sebuah simbol kehidupan megah pada masa itu.
Pada tahun 1521, Antonio Pigafetta, seorang navigator dalam ekspedisi Ferdinand Magellan menjadi orang Eropa pertama yang mengunjungi Brunei. Dalam perjalanannya, Pigafetta menggambarkan Brunei sebagai sebuah kota yang sangat menakjubkan. Setiap tamu besar yang akan bertemu dengan Sultan selalu diantar memakai Gajah dengan tempat duduk yang berlapiskan kain sutra. Penduduk istana memakai pakaian yang terbuat dari kain sutera bersulam emas, dihiasi dengan mutiara dan mempunyai banyak cincin dari kerikil mulia.
Para pengunjung juga disuguh masakan memakai piring porselen, sebuah alat makan yang begitu megah pada masa itu. Istana sultan juga dikelilingi oleh tembok kerikil bata yang dilengkapi oleh tiang kuningan dan meriam besi. Era kemakmuran berlangsung sampai Sultan kesembilan yakni Sultan Hassan.
Setelah berakhirnya kepemimpinan Sultan Hassan, Brunei kehilangan sosok pemimpin dan mengalami penurunan. Penurunan tersebut disebabkan oleh banyak sekali hal. Diantaranya yakni efek kekuasaan Eropa yang begitu menonjol di daerah, banyaknya terjadi kudeta di antara kaum bangsawan, kemunduran sistem perdagangan tradisional, serta perpecahan diantara Kesultanan di Asia Tenggara.
Hubungan dengan Portugis
Ekspedisi yang dilakukan oleh Ferdinand Magellan tersebut menjadi titik tolak dinamika korelasi antara Brunei dengan bangsa Eropa. Diantara beberapa bangsa Eropa yang menjalin korelasi dengan Brunei, sanggup dikatakan bahwa Portugis merupakan satu-satunya yang tidak banyak menciptakan masalah.
Hubungan Brunei dengan Portugis cenderung hangat dan tidak terlalu banyak masalah, keduanya hanya fokus pada duduk masalah perdagangan dan ekonomi. Portugis tidak terlalu banyak mencampuri urusan dalam negeri Brunei dan cenderung bersahabat dengan Sultan. Namun bukan berarti keduanya sama sekali tidak mempunyai masalah. Beberapa kali tercatat kejadian yang melibatkan keduanya ibarat dikala tahun 1536 Portugis melaksanakan penyerangan terhadap muslim di Maluku, Sultan murka dan melaksanakan pengusiran terhadap Duta Besar Portugis.
Portugis juga sempat beberapa kali bentrok dengan Brunei lantaran dalam beberapa peperangan, pihak Kesultanan seringkali ikut membantu musuh dalam melawan Portugis. Para pedagang Brunei juga sering dianggap melanggar perjanjian lantaran melaksanakan acara perdagangan di daerah Ligor dan Siam. Namun konflik yang terjadi diantara keduanya hanyalah berupa kejadian berskala kecil dan sanggup dengan cepat mereda.
Konflik dengan Spanyol
Berbeda dengan Portugis, korelasi antara Brunei dengan Spanyol
cenderung sering memanas. Pada tahun 1565 terjadi kejadian dan pertempuran di perairan antara Brunei dan Spanyol. Pada tahun 1571, korelasi semakin memanas ketika Spanyol berhasil merebut Manila dari tangan Brunei. Hubungan keduanya menjadi semakin keruh dan Brunei sempat memunculkan sebuah bahaya untuk melaksanakan penyerangan dengan memakai armada besar dalam rangka merebut kembali kota tersebut.
Namun lantaran pertimbangan politis dan banyak sekali pertimbangan lainnya, penyerangan tersebut batal untuk dilaksanakan dan Manila dibiarkan untuk jatuh ke tangan Spanyol.[2]  Pada tahun 1578, korelasi keduanya kembali memburuk lantaran Spanyol mengambil Kesultanan Sulu dari Brunei. Tak hanya itu, Spanyol bahkan juga melaksanakan penyerangan terhadap Kesultanan Brunei.
Spanyol menuntut Brunei untuk tidak berbagi dakwah Islam di Filipina lantaran dianggap mengganggu kegiatan missionaris dalam berbagi anutan Kristen.[3] Selain itu Spanyol juga menuntut Brunei semoga membuka diri terhadap para missionaris di daerah tersebut. Sayangnya upaya Spanyol untuk menduduki daerah Brunei tidak membuahkan hasil lantaran negeri itu sedang dilanda oleh penyakit disentri dan kolera.
Kedua penyakit tersebut menciptakan Spanyol mengalami kerugian besar dan akhirnya meninggalkan Brunei dan mundur kembali ke Manila pada tanggal 26 Juni 1578.[4] Spanyol begitu kuat dalam menghadapi senjata tetapi lemah dalam menghadapi penyakit, pendudukan atas Brunei pun akhirnya hanya bertahan selama 72 hari.[5] Kerugian yang diderita oleh Brunei akhir pertempuran tersebut tidak terlalu besar lantaran tidak usang kemudian Kesultanan Sulu berhasil direbut kembali oleh Brunei, namun sayangnya Brunei juga harus kehilangan Luzon yang biasa menjadi tempat pijakan lantaran direbut oleh Spanyol.
Era Penjajahan Inggris (1847-1984)
Kekalahan Brunei dalam melawan Spanyol membawa musibah bagi kondisi dalam negeri Brunei. Perpecahan antar daerah sudah tidak sanggup dihindarkan lagi, banyak daerah yang memakai momentum tersebut untuk melaksanakan pemberontakan dan menuntut kemerdekaan dari Brunei. Namun lantaran Kesultanan mempunyai perilaku yang sangat adil terhadap rakyatnya, pemberontakan pun sanggup diredam dengan cukup mudah.
Namun pertahanan Brunei akhirnya jebol juga. Tiga masa kemudian, perpecahan dan pemberontakan kembali terjadi di tanah Brunei. Pemberontakan yang cukup populer terjadi pada masa Sultan Omar Ali Saifuddin II. Tepatnya pada tahun 1839 terja
di pemberontakan di Serawak, pemberontakan ini cukup merepotkan Kesultanan namun atas sumbangan James Brooke, pemberontakan akhirnya berhasil dipadamkan.
Atas jasanya membantu memadamkan pemberontakan, Brooke diangkat sebagai gubernur Serawak dan menerima gelar “Rajah Putih”. Namun ternyata Brooke mempunyai maksud tersembunyi, semenjak menjabat sebagai gubenur, daerahnya semakin diperluas secara bertahap. Bahkan ia pernah meminta pemerintah Inggris untuk meneliti seberapa besar potensi Brooke untuk sanggup menguasai Brunei, akan tetapi hasilnya mengecewakan. Rekomendasi dari pemerintah Inggris memperlihatkan bahwa meskipun Brunei mempunyai pemerintah yang sangat buruk, namun rakyatnya mempunyai loyalitas dan identitas nasional yang sangat tinggi sehingga peluang Brooke untuk menguasai Brunei kecil.
Maksud tersembunyi ini akhirnya tercium juga oleh Sultan. Pada tahun 1843 terjadi konflik terbuka antara Brooke dan Sultan yang berakhir dengan kekalahan di pihak Brunei. Sultan akhirnya terpaksa mengakui kemerdekaan Serawak. Lepasnya Serawak menciptakan gerakan Inggris menjadi semakin gampang lantaran mempunyai daerah yang lebih strategis.
Pada tahun 1846, Brunei Town diserang oleh pasukan Inggris. Ibukota Brunei tersebut ditaklukan dengan gampang oleh pasukan Inggris. Sultan Saifuddin II pun ditangkap dan dipaksa untuk menandatangani perjanjian untuk mengakhiri pendudukan Inggris atas kota Brunei. Pada tahun yang sama, Sultan Saifuddin II kembali dipaksa untuk menandatangani Perjanjian Labuan yang berisi penyerahan Labuan kepada Inggris. Pada tahun 1847, Brunei menandatangani Perjanjian Perdagangan dan Persahabatan dengan Inggris. Pada tahun 1850, Brunei menandatanganu perjanjian serupa dengan Amerika Serikat.
Wilayah kekuasaan Brunei pun semakin mengecil, bertahap Sultan dipaksa untuk menyerahkan daerahnya kepada Serawak. Pada tahun 1877, Inggris juga memaksa Brunei untuk menandatangani perjanjian penyewaan lahan yang ada disebelah timur (kini berjulukan Sabah) kepada Perusahaan Borneo Utara milih Britania Raya. Wilayah Brunei yang awalnya begitu luas pun berkembang menjadi kecil mungil akhir dikikis oleh Inggris.
Kekuasaan Brunei yang sangat terbatas membuatnya menjadi sangat lemah, jadinya Brunei menjadi negara yang lemah dan tak berdaya. Kondisi tersebut menciptakan Sultan Hasyim Alilul Alam Aqamaddin menandatangani perjanjian degan Inggris pada tahun 1888 yang meletakkan Brunei di bawah proteksi Inggris. Ketidakberdayaan Brunei semakin terlihat dikala Sultan mengirimkan usul kepada pemerintah Inggris semoga mengirimkan warga Inggris ke Brunei untuk membantu menjalankan pemerintahan.[6]
Permintaan tersebut gres dipenuhi pada tahun 1906, warga Inggris mulai dikirimkan untuk membangun Brunei. Sebuah kantor bea cukai dan pertanahan mulai dibangun, kepolisian Brunei juga mulai dibangun. Pada tahun 1911, Inggris juga mendirikan sekolah melayu. Kemakmuran Brunei mulai kembali terlihat semenjak ditemukannya minyak di Seria pada tahun 1929.
Pembangunan di Brunei sempat terhenti dikala terjadi Perang Dunia Kedua. Brunei diduduki oleh Jepang pada tahun 1941-1945. Inggris tidak bisa mempertahankan Brunei dari serangan Jepang meskipun sesungguhnya Inggris masih mempunyai perjanjian protektorat dengan Brunei.[7]
Daftar Pustaka
[1] http://www.ari.nus.edu.sg/article_view.asp?id=172
[2] Frankham, Steve. 2008. Footprint Borneo. Footprint Guides. Hlm. 278
[3]Ibid. Hlm. 280
[4] Atiyah, Jeremy. 2002. Rough guide to Southeast Asia. Rough Guide. Hlm. 71.
[5] Saunders, Graham E. 2002. A history of Brunei. Routledge. Hlm. 54-60.
[6] Hussainmiya, B.A. (2006) Brunei: Revival of 1906: A Popular History. Bandar Seri Begawan: Brunei Press Sdn. Bhd.
[7] Lihat:http://www.bt.com.bn/en/life/2008/06/29/brunei_under_the_japanese_occupation