Sejarah Pendidikan Di Mesir

DEA ANDHINY/PIS/014A
A.      Sejarah pendidikan di mesir
            pendidikan di mesir ditandai dengan kedatangan Napoleon Bonaparte menguasai Mesir semenjak tahun 1798 M. Ini merupakan momentum gres bagi sejarah umat Islam, khususnya di Mesir yang menimbulkan bangkitnya kesadaran akan kelemahan dan keterbelakangan mereka. Kehadiran Napoleon Bonaparte di samping membawa pasukan yang kuat, juga membawa para ilmuwan dengan seperangkat peralatan ilmiah untuk mengadakan penelitian.


Hal inilah yang membuka mata para pemikir-pemikir Islam untuk melaksanakan perubahan meninggalkan keterbelakangan menuju modernisasi di aneka macam bidang khususnya bidang pendidikan. Upaya pembaharuan dipelopori oleh Muhammad Ali Pasya, lalu diikuti oleh pemikir-pemikir lainnya.


            Tokoh-Tokoh Pembaharuan Pendidikan Di Mesir

1.      Muhammad Ali

            Pasya
Beliau yaitu seorang keturunan Turki, lahir diKawalla Yunani pada tahun 1765 M., meninggal di Mesir pada tahun 1849 M. Sejak kecil ia membantu orang tuanya mencari nafkah sehingga tidak sempat masuk sekolah. Karena kecakapannya, dia dipercaya oleh Gubernur Usmani dan lalu masuk dinas Militer dan berhasil menjadi perwira. Setelah ekspedisi Napoleon Bonaparte , muncul dua kekuatan besar di Mesir yakni kubu Khursyid Pasya dan kubu Mamluk. Muhammad Ali mengadu domba kedua kubu tersebut, dan kesudahannya berhasil menguasai Mesir.Rakyat semakin simpati dan mengangkatnya aneka macam wali murit di mesir

2.    Al-Tahtawi

            Nama lengkapnya yaitu Rifa’ah Badwi Rafi’, lahir pada
tahun 1801 M. di Thahtha, dan meniggal di Kairo pada tahun 1873 M. Ketika berumur 16 tahun, ia pergi ke Kairo dan berguru di al-Azhar. Karena kepintarannya, ia diutus oleh Muhammad Ali ke Paris guna mendalami bahasa absurd dan mempertajam wawasan keagamaan dengan mengkaji teks-teks modern. Beliau sangat berjasa dalam meningkatkan ilmu pengetahuan di Mesir alasannya menguasai aneka macam bahasa absurd dan berhasil mendirikan sekolah penerjemahan dan mengakibatkan bahasa absurd tertentu sebagai pelajaran wajib di sekolah.

3.    Muhammad Abduh

            Muhammad Abduh lahir di Mesir pada tahun 1849. ayahnya berasal dari Turki, sedangkan ibunya keturunan Arab. Abduh yaitu salah seorang murid Afgani. Beliau sangat populer khususnya dalam bidang pemikiran rasional sehingga digelar New Muttazilah. Namun demikian, dia tidak ketinggalan dalam bidang pendidikan, bahkan sesudah menamatkan studinya di al-Azhar pada tahun 1877, dia mengajar di aneka macam tempat termasuk di almamaternya sendiri.

4.    Rasyid Ridha
            Ridha yaitu murid Muhammad Abduh yang terdekat. Ia lahir pada tahun 1865 di al-Qalamun (Libanon). Menurut keterangan, ia berasal dari keturunan al-Husain, cucu Nabi saw. Oleh alasannya itu, ia bergelar “al-Sayyid” di depan namanya. Rasyid Ridha sangat populer bersama dengan Abduh (gurunya) menerbitkan majalah al-Manar  yang lalu menjadi sebuah tafsir modern yang berjulukan Tafsir al-Manar.

5.    Jamaluddin al-Afgany

            Beliau lahir di As’adabad, erat kota Kan’an di Kabul Afganistan pada tahun 1813 M. dan meninggal di Istambul pada tahun 1887 M. Nama lengkapnya yaitu Sayyid Jamaluddin al-Afgani ibn Safar. Ia yaitu keturunan Sayyid Ali al-Turmudzi. Jika ditelusuri keturunannya, maka berasal dari Husain ibn Ali ibn Abi Thalib.Hal ini tercermin dari gelar Sayyid yang di sandangnya. Afgany populer sebagai muballig kondang dan suka berpindah dari satu kawasan ke kawasan lainnya untuk membangkitkan semangat umat Islam untuk bangun melawan penjajah Barat secara bersatu. Salah satu idenya yang sangat populer yaitu Pan Islamisme. Oleh alasannya itu, dia lebih dikenal sebagai tokoh pembaharu di bidang politik dibandingkan pembaharu di bidang pendidikan.

6.    Ali Mubarak

            Beliau lahir di Bamabal, sebuah desa di Delta Sungai Nil pada tahun 1823 M. dan meninggal di Kairo pada tahun 1893 M. Beliau dipandang sebagai aktivis pendidikan modern di Mesir, alasannya bisa memadukan antara pendidikan yang berazaskan Islam dengan pendidikan Barat yang diperolehnya saat berguru di Prancis

7.    Thaha Husain

            Ia lahir di Magagah Masir pada tahun 1889 M. dan wafat pada tahun 1973 M. Sejak umur 6 tahun dia menderita penyakit Opthalmiah, yang menimbulkan kebutaan sepanjang hidupnya.Namun demikian, tidak terhalang menuntut ilmu pengetahuan. Beliau sangat berhasil dalam bidang pendidikan.Terbukti sesudah selesai di al-Azhar, lalu ke Prancis untuk memperdalam ilmu pengetahuannya.Dan sekembalinya di Mesir, dia diangkat menjadi pejabat penting dalam pemerintahan khususnya dalam urusan kementerian pendidikan.

B.    Tujuan Pendidikan Di Mesir

·         Menyiapkan dan membuatkan warga Mesir dengan cara yang akan membantu mereka untuk mengikuti keadaan dengan tuntutan masyarakat yang berubah modern untuk menghadapi tantangan terbarukan,selain memungkinkan mereka untuk memahami dimensi religius, nasional,dan budaya dari identitas mereka
·         Memberikan masyarakat dengan warga negara yang telah menguasai keterampilan ilmiah dasar, dengan aksentuasi khusus pada keterampilan membaca, menulis, berhitung, dan disiplin ilmu-ilmu masa depan (sains, matematika, dan bahasa).
·         Menyediakan warga dengan pengetahuan dasar penting kemampuan analisis,berpikir kritis,keterampilan ilmiah,dan keterampilan pemecahan problem yang sanggup memungkinkan mereka untuk merespon tuntutan terus-menerus dan menyesuaikan dir idengan kemajuan ilmu pengetahuan dan teknologi

C.    Sistem Pendidikan  Di Mesir

            Republik ini melaksanakan dua sistem iaitu Sistem Pendidikan Kebangsaan dan Sistem Pendidikan Al-Azhar.

1.    Sistem Pendidikan Kebangsaan

            Di bawah sistem ini, persekolahan peringkat rendah dan menengah ditadbir oleh Kementerian Pelajaran dan peringkat persekol
ahan tinggi ditadbir oleh Kementerian
Pelajaran Tinggi. Tempoh pengajian di bawah sistem ini yaitu menyerupai berikut:
1.    Peringkat Rendah (ibtidai) : 6 tahun
2.    Peringkat Men. Rendah (i’dadi) : 3 tahun
3.    Peringkat Men. Atas (thanawi) : 3 tahun
4.    Peringkat Universiti (jamiah) : 4-6 tahun

Terdapat sebelas buah universiti di bawah Sistem Pendidikan Kebangsaan yaitu:
1.    Universiti Kaherah
2.    Universiti Ain Shams
3.    Universiti Al-Menia
4.    Universiti Mansourah
5.    Universiti Helwan
6.    Universiti Terusan Suez
7.    Universiti Iskandariah
8.    Universiti Asyut
9.    Universiti Tanta
10.    Universiti Zaqaziq
11.    Universiti Al-Manoufia

2.    Sistem Pendidikan Al-Azhar


            Semua sentra pengajian Al-Azhar dari peringkat rendah hingga peringkat tinggi terletak di bawah pentadbiran Majlis Tertinggi Al-Azhar yang dipengerusikan oleh Syeikh Al-Azhar.
Tempoh pengajian di bawah sistem ini yaitu menyerupai berikut:
1.    Peringkat Rendah (ibtidai) : 6 tahun
2.    Peringkat Men Rendah (l’daadi) : 3 tahun
3.    Peringkat Men Atas (thanawi) : 4 tahun
4.    Peringkat Universiti (jami’ah) : 4-6 tahun

            Mulai sesi 1992/1993, pihak Universiti Al-Azhar mula menghantar sebahagian pelajar-pelajar Malaysia ke tujuh buah cawangannya di luar Kaherah yaitu Iskandariah, Damanhur, Tanta, Mansourah, Zaqazik, Shibin El-Kom, dan Dumyat.

            Pihak universiti ini turut mengadakan fakulti yang berasingan di antara pelajar lelaki dan pelajar perempuan.

            Sistem pendidikan Mesir, baik sekolah negeri maupun Al-Azhar, dan pendidikan swasta lainnya, memang mewajibkan pelajar Muslim untuk menghafal Al-Quran. Selain itu, pengajian di mesjid-mesjid bagi jamaah, khususnya belum dewasa sekolah juga berperan penting untuk mendorong warga menghafal Al-Quran, kata Menteri Zakzouk, yang juga mantan dekan fakultas teologi Universitas Al-Azhar tersebut.

            Sistem pendidikan di Mesir, semenjak taman kanak-kanak sudah diwajibkan menghafal Al-Quran. Di Universitas Al-Azhar, misalnya, bagi mahasiswa Mesir kegiatan S-1 diwajibkan menghafal 15 juz (setengah) Al-Quran, kegiatan S-2 diwajibkan menghafal seluruh Al-Quran. Adapun kegiatan S-3, tinggal diuji hafalan sebelumnya
Kewajiban hafal Al-Quran ini tidak berlaku bagi mahasiswa absurd non-Arab, di mana kegiatan S-1 diringankan, yaitu hanya diwajibkan hafal delapan juz Al-Quran, dan kegiatan S-2 sebanyak 15 juz Al-Quran, sementara kegiatan S-3 gres diwajibkan hafal seluruh Al-Quran.

            Sementara itu, Pemerintah Mesir dilaporkan setiap tahun mengalokasikan dana khusus sebesar 25 juta dolar AS (1,2 miliar pound Mesir) untuk penghargaan bagi penghafal Al-Quran. Penghargaan itu diberikan setiap peringatan hari-hari Besar Islam bagi pemenang hifzul (penghafal) Al-Quran, berupa uang tunai maupun dalam bentuk beasiswa dan derma hidup.

            Sudah menjadi tradisi di negeri Seribu Menara itu, perlombaan hafal Al-Quran di setiap hari-hari besar Islam dilakukan secara serentak dari tingkat sentra hingga ke daerah-daerah.
Pada peringatan Lailatul Qadar pekan depan di Kairo yang diadakan Kementerian Waqaf, Presiden Mesir Hosni Mubarak dijadwalkan akan menyerahkan penghargaan kepada para pemenang musabaqah hifzil Alquran (MHQ) tingkat nasional dan internasional
Di Mesir, perlombaan hafal Al-Quran atau, musabaqah hifzil Alquran memang lebih menonjol, ketimbang musabaqah tilawatil Alquran (MTQ) yang mengutamakan bacaan, suara, dan lagu.

D.    ISU PENDIDIKAN DI MESIR


            Menteri Pendidikan Mesir Ahmed Zaki Badr mengumumkan rencana perubahan kurikulum pendidikan agama dari tingkat sekolah dasar hingga sekolah menengah atas, mulai tahun akademik 2011/2012.

            Menteri pendidikan Mesir dalam sebuah konferensi pers bersama Prof. Dr Ali Gomaa, Mufti Republik Mesir, pada Senin (2010/04/27) di kantor Dewan Pendidikan menyatakan bahwa proses perubahan buku-buku agama Islam dimaksudkan untuk “pemurnian” kurikulum agama dari ide-ide yang sanggup dipahami memusuhi pihak lain dan mengisolasi diri dari masyarakat. menekankan bahwa perubahan tersebut akan tunduk pada standar pendidikan Mesir, bukan asing.

           
            Dia juga menekankan bahwa panitia bersama antara Departemen Pendidikan dan Daar al-Ifta’ akan membuatkan buku untuk siswa dan buku untuk materi training para guru yang akan mengajarkan kurikulum gres ini.Badr juga mengungkapkan bahwa kementerian pendidikan akan memutuskan sebuah mata pelajaran baru, yakni Pendidikan Etika.
Dia juga menyatakan bahwa Mufti akan bertugas membuatkan kurikulum mata pelajaran gres tersebut.Kriteria yang ditetapkan Mufti wajib ditaati Kementerian Pendidikan dalam proses pengembangannya.

PENUTUP
Kesimpulan
Sejarah pendidikan di mesir ditandai dengan kedatangan Napoleon Bonaparte menguasai Mesir semenjak tahun 1798 M. Kehadiran Napoleon Bonaparte di samping membawa pasukan yang kuat, juga membawa para ilmuwan dengan seperangkat peralatan ilmiah untuk mengadakan penelitian.Tokoh pembaharuan pendidikan di mesir adalah: Muhammad Ali Pasya, At Tahtawi, Muhammad Abduh, Rasyid Ridha, Jamaludin Al Afgani, Ali Mubarak, Thaha Husien Tujuan pendidikan di Mesir yaitu Menyiapkan dan membuatkan warga Mesir dengan cara yang akan membantu mereka untuk mengikuti keadaan dengan tuntutan masyarakat yang berubah modern untuk menghadapi tantangan terbarukan, selain memungkinkan mereka untuk memahami dimensi religius, nasional, dan budaya dari identitas mereka. Sistem pendidikan di mesir memiliki 2 sistem yaitu Kebangsaan Dan Al-Azhar
DAFTAR PUSTAKA
, diakses pada hari Selasa, 21 Oktober 2014, pada pukul 13.00 WIB.
, diakses  pada hari Sabtu, 25 Oktober 2014, pada pukul 13.00 WIB
, diakses pada hari Sabtu, 25 Oktober 2014, pada pukul 13.00 WIB
5
, diakses pada hari Sabtu, 25 Oktober 2014, pada pukul 13.00 WIB