Sejarah Pendidikan Di Negara Sudan

ANA SEPTI YANA /B

Pendidikan di Sudan digratiskan dan diwajibkan bagi seluruh bawah umur usia 6 hingga 13 tahun. Pendidikan dimulai dari pendidikan dasar selama dari delapan tahun, kemudian pendidikan menengah tiga tahun. Jenjang pendidikan diubah menjadi berformat 6 + 3 + 3 pada tahun 1990. Bahasa pengantar pedidikan yang dipakai di semua tingkatan ialah bahasa Arab. Lokasi sekolah terkonsentrasi di sejumlah kawasan perkotaan, yang mana sejumlah sekolah yang terletak di pecahan Selatan dan Barat telah rusak bahkan hancur akhir konflik di Negara tersebut. 


Pada tahun 2001, Bank Dunia memperkirakan bahwa partisipasi murni siswa Sekolah Dasar ialah 46% dan 21 persen dari pelajar sekolah menengah yang terdiri dari siswa yang memenuhi syarat. Tingkat kelangsungan pendidikan di Sudan sangat bervariasi, di beberapa provinsi bahkan hanya mencapai di bawah 20 persen. Sudan mempunyai 19 universitas berbahasa Arab. Pendidikan di tingkat menengah dan pendidikan tinggi di universitas mengalami problem penghambat yang serius disebabkan oleh sebagian besar penduduk berjenis kelamin pria melakukan dinas militer sebelum sanggup menuntaskan pendidikan mereka. Menurut asumsi Bank Dunia, pada tahun 2000 tingkat baca-tulis pada orang berilmu balig cukup akal berusia 15 tahun keatas hampir 58% (69% untuk laki-laki, 46 %untuk wanita). Sedangkan pada tahun 2002, tingkat baca-tulis pada orang berilmu balig cukup akal berusia 15 tahun keatas mencapai 60 persen dan tingkat buta karakter perjaka (usia 15-24) diperkirakan sebesar 23%.
 Meski di negara ini terdapat konflik internal yang setiap ketika sanggup pecah, namun semangat penuntut ilmu untuk tiba ke Sudan tidak menipis. setiap tahunnya selalu ada mahasiswa asing, khususnya indonesia yang tiba menuntut ilmu ke sudan. bahkan sudan termasuk negara pilihan untuk melanjutkan pascasarjana di bidang study keislaman. salah satu universitas yang dituju oleh pascasarjana tersebut ialah Universitas Omdurman, Universitas yang di dirikan pada tahun 1912 ini terletak di Kota Omdurman,  kota terbesar di Sudan. Universitas ini populer dengan studi keislamannya, lantaran awal mula berdirinya hanya membuka fakultas-fakultas keagamaan. Maka tidak aneh kalau selanjutnya banyak mahasiswa asing yang kuliah strata satu ataupun pascasarjana di universitas ini.
Diantara mahasiswa yang cukup banyak berminat melanjutkan agenda pasca sarjananya ialah para lulusan Universitas al-Azhar, Mesir. Meski Universitas al-Azhar sendiri juga menyediakan agenda pascasarjana, akan tetapi tetap saja setiap tahunnya banyak lulusan salah satu universitas Islam tertua ini yang lantas melanjutkan studi ke Universitas Omdurman. Tentunya ada beberapa kelebihan dan sekaligus kemudahan yang ditawarkan Universitas Omdurman, sehingga menjadi alasan mahasiswa lulusan Universitas Al-Azhar tidak melanjutkan studi pasca sarjana di universitasnya itu.

Di bidang pendidikan formal, Sudan mempunyai banyak universitas ternama yang sudah berusia puluhan bahkan ratusan tahun. Diantara akademi tinggi tersebut ialah Khartoum University, Omdurman Islamic University, El-Nilein University, Khartoum International Institute of Arabic, Universitas Al Alquran Al Karim dan yang paling muda ialah International University of Africa. Jumlah mahasiswa dan mahasiswi Indonesia di Sudan hingga ketika ini tercatat sekitar 175 orang yang terbagi dalam tujuh Perguruan Tinggi besar yang ada di Sudan, pada agenda yang berbeda mulai dari agenda S1 hingga dengan agenda S3, di mana 35% diantara mereka ialah mahasiswa agenda pasca sarjana. Dari seluruh mahasiswa yang ada, 40% diantaranya melakukan perkuliahan dengan biaya sendiri tanpa ada pertolongan dari instansi atau sponsor lainnya, dan hanya mengandalkan pertolongan dari keluarga yang tidak mereka terima secara periodik. Belum lagi dengan cuaca dan kondisi di Sudan yang kadang kurang bersahabat.

Sehingga bagi yang tidak berpengaruh daya tahan tubuhnya atau kurang pemenuhan gizinya, akan gampang terjangkit penyakit malaria. Hal menyerupai ini ditambah lagi dengan kemudahan kesehatan dan obat-obatan yang cukup mahal. Untuk kebutuhan buku-buku referensi, sangat berat bagi mahasiswa untuk memenuhinya lantaran selain tingkat harga yang lebih mahal di banding buku-buku di negara arab lainnya, juga lantaran dari segi pendanaan untuk kebutuhan-kebutuhan lainnya .  Adapun pendidikan non formal, di Sudan terdapat banyak majelis-majelis ilmu yang memakai system talaqqi lewat para masyaikh yang tersebar hampir di seluruh penjuru Sudan, dan diantara jamaah yang paling eksis dalam bidang ini ialah  jamaah anshar sunnah al muhammadiyah yang menebarkan dakwah ahlus sunnah wal jamaah dengan pemahaman salaf as sholeh.

Dari realita di atas saya sanggup menyimpulkan bahwa Sistem Pendidikan di Sudan dimulai dengan Primary School, kemudian secondary School. Level di atasnya ialah Vocational/Technical Education and Training atau University/College Educ
ation. Disamping itu ada Preservice Teacher Training dan In Service Teacher Training. Pendidikan non formal, di Sudan terdapat banyak majelis-majelis ilmu yang memakai system talaqqi lewat para masyaikh yang tersebar hampir di seluruh penjuru Sudan, dan diantara jama
ah yang paling eksis dalam bidang ini ialah jamaah anshar sunnah al muhammadiyah yang berbagi dakwah ahlus sunnah wal jamaah dengan pemahaman salaf as sholeh.
Daftar Rujukan 
ensiklopedi Nasional Indonesia. PT.Delta Pamungkas.2004