Sejarah Pendidikan Islam Pada Kala Turki Usmani

MIA NOVRIANTI/SP

Sejarah kerajaan Turki Usmani yang ditulis di dalam buku-buku tarikh Islam di Indonesia sering tidak menerima porsi sebanyak yang diperoleh Dinasti Umayyah dan Abbasiyah. Melihat dari hasil budaya yang dipersembahkannya dipermukaan, Dinasti Turki Usmani ini tidaklah bisa disamakan dengan kedua Dinasti di atas, tetapi melihat peranannya sebagai benteng kekuatan Islam dalam menangkal perluasan bangsa Eropa ke timur, maka dengan ini ia tidak bisa ditinggalkan begitu saja dalam kajian sejarah Islam.Turki Usmani telah memperlihatkan kehebatannya dalam menangkis serangan musuh. Serangan-serangan perluasan yang dilakukannya eksklusif menusuk ke wilayah penting, termasuk penaklukan Konstantinopel.Perjalanan panjang kerajaan Turki Usmani telah menampilkan 35 orang Sultan dengan corak pkepemimpinan masing-

masing. Tetapi sebagaimana Dinasti lainnya, aturan sejarah juga berlaku, bahwa masa pertumbuhan yang diiringi dengan masa gemilang biasanya berakhir dengan masa kemunduran bahkan mungkin kehancuran.

A.Asal Mula Kerajaan Turki Usmani
Kerajaan Turki Usmani muncul di pentas sejarah Islam pada periode pertengahan. Masa kemajuan Dinasti ini dihitung dari mulai digerakkannya perluasan ke wilayah gres yang belum ditundukkan oleh pendahulu mereka. keberhasilan mereka dalam memperluas wilayah kekuasaan serta terjadinya peristiwa-peristiwa penting merupakan suatu indikasi yang sanggup dijadikan ukuran untuk menentukan kemajuan tersebut. Pendiri dari kerajaan Turki ini ialah bangsa Turki dari kabilah Qayigh Oghus salah satu anak suku Turk yang mendiami sebelah barat gurun Gobi, atau tempat Mongol dan tempat utara negeri Cina, yang dipimpin oleh Sulaiman. Dia mengajak anggota sukunya untuk menghindari serbuan bangsa mongol yang menyerang dunia Islam yang berada di bawah kekuasaan Dinasti Khawarizm pada tahun 1219-1220. Sulaiman dan anggota sukunya lari ke arah Barat dan meminta proteksi kepada Jalaluddin, pemimpin terakhir Dinasti Khawarizm di Transoxiana (maa wara al-Nahr). Jalaluddin menyuruh Sulaiman biar pergi kearah Barat (Asia Kecil). Kemudian mereka menetap di sana dan pindah ke Syam dalam rangka menghindari serangan mongol. Dalam usahanya pindah ke Syam itu, pemimpin orang-orang Turki menerima kecelakaan. Mereka hanyut di sungai Efrat yang tiba-tiba pasang alasannya ialah banjir besar pada tahun 1228. Akhirnya mereka terbagi menjadi 2 kelompok, yang pertama ingin pulang ke negeri asalnya; dan yang kedua meneruskan perjalanannya ke Asia kecil. Kelompok kedua ini berjumlah 400 kepala keluarga yang dipimpin oleh Ertugril (Erthogrol) ibn Sulaiman. Mereka mengabdkan dirinya dirinya kepada Sultan Alauddin II dari Dinasti Saljuk Rum yang sentra pemerintahannya di Kuniya, Anatolia Asia Kecil.[1]
Pada dikala itu, Sultan Alauddin II sedang menghadapi ancaman peperangan dari bangsa Romawi yang mempunyai kekuasaan di Romawi Timur (Byzantium). Dengan pertolongan dari bangsa Turki pimpinan Erthogrol, Sultan Alauddin II sanggup mencapai kemenangan. Atas jasa baik tersebut Sultan menghadiahkan sebidang tanah yang perbatasan dengan Bizantium. Sejak itu Erthogrol terus membina wilayah barunya dan berusaha memperluas daerahnya dengan merebut wilayah Byzantium. Pada tahun 1288 Erthogrol meninggal dunia, dan meninggalkan putranya yang berjulukan Usman, yang diperkirakan lahir pada 1258 M. usman inilah yang ditunjuk oleh Erthogrol untuk meneruskan kepemimpinannya dan disetujui serta didukung oleh Sultan Saljuk pada dikala itu. Nama Usman inilah yang nanti diambil sebagai nama untuk Kerajaan Turki Usmani. Usman ini pula yang dianggap sebagai pendiri Dinasti Usmani. Sebagaimana ayahnya, Usman banyak berjasa kepada Sultan Alauddin II. Kemenangan-kemenangan dalam setiap pertempuran dan peperangan diraih oleh Usman. Dan berkat keberhasilannya maka benteng-benteng Bizantium yang berdekatan dengan Broessa sanggup ditaklukkan. Keberhasilan Usman ini membuat Sultan Alauddin II semakin simpati dan banyak memberi hak istimewa pada Usman. Bahkan Usman diangkat menjadi gubernur dengan gelar Bey, dan namanya selalu disebut dalam do’a setiap khutbah Jum’at. Penyerangan Bangsa Mongol pada tahun 1300 ke wilayah kekuasaan Saljuk Rum menjadikan terbunuhnya Sultan Saljuk tanpa meninggalkan putra sebagai pewaris kesultanan. Dalam keadaan kosong itulah, Usman memerdekakan daerahnya dan bertahan terhadap serangan bangsa Mongol. Usman memproklamirkan kemerdekaan daerahnya dengan nama Kesultanan Usmani.
B. Perkembangan Kerajaan Turki Usmani
Dengan jatuhnya jazirah Arab, maka imperium Turki Usmani mempunyai wilayah yang luas sekali, terbentang dari Budapest di pinggir sungai Thauna, hingga ke Aswan erat hulu sungai Nil, dan dari sungai efrat serta pedalaman Iran, hingga Bab el-Mandeb di selatan jazirah Arab. Selama masa kesultanan Turki Usmani (1299-1942 M.) sekitar 625 tahun berkuasa tidak kurang dari 38 Sultan.Dalam hal ini, Syafiq A. Mughni membagi sejarah kekuasaan Turki Usmani menjadi lima periode, yaitu:
Periode pertama (1299-1402), yang dimulai dari berdirinya kerajaan, perluasan pertama hingga kehancuran sementara oleh serangan timur yaitu dari pemerintahan Usman I hingga pemerintahan Bayazid.
Periode kedua (1402-1566), ditandai dengan restorasi kerajaan dan cepatnya pertumbuhan hingga ekspansinya yang terbesar. Dari masa Muhammad I hingga Sulaiman I.
Periode ketiga (1566-1699), periode ini ditandai dengan kemampuan Usmani untuk mempertahankan wilayahnya. Sampai lepasnya Honggaria. Namun kemunduran segera terjadi dari masa pemerintahan Salim II hingga Mustafa II.
Periode keempat (1699-1838), periode ini ditandai degan berangsur-angsur surutnya kekuatan kerajaan dan pecahnya wilayah yang di tangan para penguasa wilayah, dari masa pemerintahan Ahmad III hingga Mahmud II.
Periode kelima (1839-1922) periode ini ditandai dengan kebangkitan cultural dan administrates dari negara di bawah efek ide-ide barat, dari masa pemerintahan Sultan A. Majid I hingga A Majid II.
Persinggungan Islam dengan Turki melalui sejarah panjang, terhitung semenjak periode pertama hijriyah hingga suku-suku Turki menjadi penganut dan pembela Islam. Pengaruh Turki dalam dunia Islam semakin terasa pada masa Pemerintahan al-Musta’sim (640-656 H./1242-1258 M.), khalifah terakhir dinasti Abbasiyah. Sejak masa itu bangsa Turki dari banyak sekali suku senantiasa terlibat dalam jatuhbangunnya banyak sekali dinasti di tempat mana mereka bertempat tinggal dan mengabdi.
C. Pertumbuhan dan Perkembangan Pendidikan Islam di Turki
            Akibat kegigihan dan ketangguhan yang dimiliki ol
eh para pemimpin dalam mempertahankan Turki Usmani membawa dampak yang baik sehingga kemajuankemajuan dalam perkembangan wilayah Turki Usmani sanggup di raihnya dengan cepat. Dengan cara atau seni manajemen yang dimainkan oleh beberapa penguasa Turki seperi Sultan Muhammad yang mengadakan perbaikan-perbaikan dan meletakkan dasar-dasar keamanan dalam negerinya yang kemudian diteruskan oleh Murad II (1421-1451M) (Yatim, 2003:133-134). Sehingga Turki Usmani mencapai puncak kejayaan pada masa Muhammad II (1451- 1484 M). Usaha ini di tindak lanjuti oleh raja-raja berikutnya, sehingga dikembangkan oleh Sultan Sulaiman al-Qonuni. Ia tidak mengarahkan ekspansinya kesalah satu arah timur dan Barat, tetapi seluruh wilayah yang berada disekitar Turki Usmani itu, sehingga Sulaiman berhasil menguasai wilayah Asia kecil. Kemajuan dan perkembangan wilayah kerajaan Usmani yang luas berlangsung dengan cepat dan diikuti oleh kemajuan-kemajuan dalam bidang-bidang kehidupan lain yang penting, diantaranyadalambidangpendidikan.Salah satu forum yang maju pada masa turki usmani ialah madrasah, didorong mempelajari bermacam-macam ilmu pengetahuan. Lembaga pendidikan berserak dikala berlangsungnya pemerintahan Turki Usmani. Salah satunya ialah madrasah. Bukan hanya kuantitas bangunan yang menjadi perhatian, juga kualitas pendidikan. Terobosan bermakna dalam hal ini ialah perumusan kurikulum. Kurikulum yang diberlakukan di madrasah berkembang secara dinamis menuju ke arah lebih baik. Salah satu hal yang berlaku dalam proses pengajaran di madrasah Turki Usmani ialah mendorong para siswa untuk mengakses sebanyak mungkin buku yang membahas bermacam-macam bidang ilmu.
Hal ini merupakan uraian perinci dari tujuan utama pendirian forum pendidikan berupa madrasah. Yaitu, melahirkan siswa Muslim yang mempunyai banyak pengetahuan dan memegang teguh nilai-nilai moral yang baik dan benar. Madrasah digiring untuk membuat para siswa yang pintar sekaligus baik hati dan berbudi luhur. Pada masa pemerintahan Sultan Suleiman, terdapat arahan aturan yang menjabarkan secara umum mengenai tujuan pendidikan.Disebutkan dalam arahan aturan itu bahwa tujuan pendidikan ialah guna memahami misteri penciptaan dan membangun sebuah negara yang berjalan secara teratur dan baik. Ini diyakini akan menjamin kelestarian, ketertiban, dan kesejahteraan umat manusia. Tujuan lainnya, pendidikan menjadi sebuah sarana untuk menuai ilmu pengetahuan dan kebijaksanaan. Lalu, mendapatkan klarifikasi mengenai kebajikan, bakat, dan agama, hingga akhirnya para siswa mempunyai kapasitas yang baik. Sejumlah sumber menyebutkan mengenai penetapan tujuan dan kurikulum pendidikan di madrasah itu. Di antaranya, berasal dari cendekiawan Ahmed bin Isameddin, yang hidup pada periode ke-16. Bahkan, ia merupakan seorang pengajar di madrasah. Demikian pula, dengan kajian terhadap proses pendidikan Katib Chelebi pada periode ke-17. Bahkan, ada pula sumber lainnya yang berupa risalah berjudul Kevakib-i Seb’a atau Seven Planets, yang ditulis pada 1742 Masehi.Penulisan risalah ini dilakukan atas seruan dubes Sebagai halnya di dunia islam lain di zaman itu, madrasah merupakan satu-satunya forum pendiodikan umum yang ada di kerajaan usmani. Di madrasah hanya di ajarkan agama. Pengetahuan umum tidak di ajarkan. Sultan Mahmud II sadar bahwa pendidikan madrasah tradisional ini tidak sesuai lagi dengan tuntutan zaman periode 19. Mengadakan perubahan dalam kurikulum madrasah dengan menambahkan pengetahuan-pengetahuan umum kedalamnya, sebagai halnya didunia Islam lain pada waktu itu, memang sulit. Madrasah tradisional tetap berjalan tetapi disampingnya Sultan mendirikan dua sekolah pengetahuan umum, dengan membentuk sekolah umum ( Mekteb-I Ma’arif) dan sekolah sastra ( mekteb-i ‘Ulum-u Edebiye). siswa untuk kedua sekolah itu di pilih dari lulusan madrasah yang bemutu tinggi. – Tanzimat Sepeninggal Sultan Mahmud II, gerakan pembaharuan dilakukan oleh Abdul Majid (1839-1861) dengan perdana menteri Rasyid Pasya. Periode ini disebut masa Tanzimat yang mengandung arti peraturan dan perundang-undangan baru. Tokoh-tokoh Tanzimat antara lain: Rasyid Pasya, Mehmed Sadik Rifat Pasya, dan Muhammad Ali Pasya dan Fuad Pasya. Kemakmuran suatu negara bergantung kepada kemakmuran rakyat yang diperoleh dengan cara menghilangkan pemerintahan sewenang-wenang selama ini, menghilangan kesewenang-wenangan, peraturan mengenai kewajiban dan lamanya dinas militer, eksekusi mati dengan diracun tidak dibolehkan lagi,hak milik terhadap harta dijamin dan tiap orang mempunyai kebebasan terhadap harta yang dimilikinya, semua pegawai kerajaan mendapatkan honor sesuai dengan beban tugasnya untuk mengurangi korupsi, mengajak rakyat menawarkan pendapat wacana soal-soal negara dan administrasi, mendirikan Bank Usmani dan mengganti peredaran uang dengan menggunakan sistem desimal, dan pendidikan umum dilepaskan dari kekuasaan kaum ulama untuk diserahkan kepada kementerian Pendidikan yang dibuat pada tahun 1847. Sedangkan piagam Hatt-I Humayun yang mengakomodir hak-hak minoritas ibarat abolisi perbedaan agama, bahasa dan bangsa, rakyat non muslim diperbolehkan masuk dinas militer, dan abolisi perbedaan pajak yang bagi rakyat non muslim, abolisi aturan bunuh terhadap orang yang murtad dari Islam dan pemasukan anggota-anggota bukan Islam ke dalam dewan hukum. Setelah piagam Hatt-I Humayun ini, maka diadakan penyempurnaan aturan pidana, aturan dagang dan aturan laut dengan menggunakan aturan Prancis, didirikan Mahkamah Agung, serta dalam bidang pendidikan didirikan Sekolah Galatasaray tahun 1868 yang siswanya Islam dan non sanggup duduk berdampingan. Padahal sebelumnya masing-masing golongan agama mempunyai sekolah tersendiri. Kedua piagam yang dihasilkan kelompok Tanzimat ini menerima kritikan keras terutama dari kalangan Intelegensia Turki Usmani. Piagam ini mengandung sekularasisasi dalam banyak sekali institusi kemasyarkatan ibarat forum aturan gres yang dipengaruhi sistem aturan Barat, menimbulkan pro-Barat yang menjadikan campur tangan negara-negara Barat dalam soal inter kerajaan Usmani yang pada akhirnya jatuhnya perekonomian negara ini, serta menimbulkan semakin absolutnya kekuasaan sultan dan menteri-menterinya alasannya ialah tidak adanya oposisi dari Yeniseri sebagai yang sudah dibubarkan pada masa Sultan Mahmud II. Pasukan Yeniseri ini ditakuti bukan hanya alasannya ialah mempunyai senjata akan tetapi alasannya ialah mempunyai dukungan berpengaruh dan erat dari Tarekat Bektasyi yang mempunyai pengikut yang besar di kalangan masyarakat. – Usmani Muda Kematian Perdana Menteri Ali Pasya ( 1871 M) menandai berakhirnya Tanzimat, gerakan pembaharuan diganti oleh kelompok Usmani Muda yang berhasil menurunkan secara paksa Sultan Abdul Aziz pada tahun 1876 melalui fatwa Syaikh al-Islam dan diganti oleh Murad V yang menerima dukungan Usmani Muda. Akan tetapi alasannya ialah Murad V dianggap tidak berhasil memimpin Turki Usmani dan dianggap sakit mental oleh Syaikh al-Islam di kemudian hari, maka diganti oleh Sultan Abdul Hamid ( 31 Agustus 1876) dan perdana menterinya Mihdat Pasya salah seorang tokoh Usmani Muda. Usmani Muda merupakan perkumpulan yang didirikan pada tahun 1865 dengan tujuan untuk mengubah pemerintahan sewenang-wenang menjadi pemerintahan yang konstitusional. Tokoh Usmani muda antara lain Mihdat Pasya, Ziya Pasya, dan Nanik Kemal. Diantara isi ide-ide pembaharunnya sebagai berikut: a) Ekonomi dan politik yang tidak beres sanggup diatasi dengan merubah sistem pemerintahan sewenang-wenang menjadi pemerintahan konstitusional yang memisahkan kekuasaan eksekutif, legislatif dan yudikatif. Rakyat sebagai warga negara mempunyai hak politik. Pemerintahan demokrasi tidak bertentangan dengan aliran Islam, alasannya ialah dalam Islam dikenal sistem bai’ah yang pada hakikatnya merupakan kedaulatan rakyat. Khalifah sebagai direktur tidak boleh mengambil sikap atau tindakan yang berlawanan dengan maslahat umum ( al-maslahah al-‘ammah), dan tidak melanggar syari’ah, kaum ulama
sebagai pembuat hukum, dan pemerintah yang melaksanakan hukum. Sehingga sistem pemerintahan konstitusional tidak merupakan bid’ah dalam Islam. Hal ini merupakan ide gres pada dikala itu yang memegang sistem otokrasi. b) Tumbuh ide tanah air Usmani bukan tanah air Turki dengan melihat perlu adanya persatuan umat Islam di bawah pimpinan Turki Usmani yang mirif Pan-Islamisme – Mustafa Kemal Ataturk Sejak kecil, Mustafa Kemal mempunyai talenta untuk selalu memberontak terhadap segala keadaan yang tidak berkenan di hatinya. Ia secara brutal menentang peraturan apapun. Bahkan, tanpa malu-malu ia sering memaki-maki gurunya dikala bersekolah. Sehingga suatu hari pernah ditampar salah satu gurunya alasannya ialah sang guru sudah kehilangan kesabaran menghadapi sikap Mustafa Kemal. Dan akibatnya, Mustafa Kemal kecil lari dan tidak mau masuk sekolah lagi. Mustafa kecil juga populer angkuh dalam bergaul. Ia tidak mau sembarangan dalam menentukan kawan. Akhirnya, ibunya mengirim dia ke sekolah militer, sehingga riwayat pendidikan Mustafa Kemal dimulai tahun 1893 ketika ia memasuki sekolah Rushdiye (Sekolah Menengah Militer Turki). Tahun 1895 ia masuk ke sekolah tinggi militer di Kota Monastir dan pada tanggal 13 maret 1899 ia masuk ke sekolah ilmu militer di Istambul. Tahun 1902 ia ditunjuk sebagai salah satu staf pengajar dan pada bulan Januari 1905 ia lulus dengan pangkat Kapten. Perjuangan Mustafa Kemal mewujudkan pembaharuan untuk kemajuan Turki penuh liku, dan mencapai klimaksnya ketika ia menjadi Presiden Republik Turki. Bangsa Eropa mengakui Republik Turki yang ditandai oleh Perjanjian Lausanne pada tahun 1923. Mustafa Kemal meninggal dunia tahun 1938. Setelah perang dunia I, Mustafa kemal diangkat menjadi panglima militer di Turki Selatan untuk merebut Izmir dari tentara sekutu dan berhasil memukul mundur tentara sekutu dan menyelamatkan Turki dari penjajahan Barat. Pada dikala itu Sultan di Istanbul berada di bawah kekuasaan sekutu yang harus mengikuti keadaan dengan mereka, Kemudian ia mendirikan pemerintahan tandingan di Anatolia dengan menyampaikan kemerdekaan negara dalam keadaan bahaya, rakyat Turki harus berusaha sendiri membebaskan tanah air dari kekuatan asing, sultan tidak menjalankan pemerintahan dan segera mengadakan kongres. Tujuan simpulan Mustafa Kemal dengan reformasi berupa westernisasi ialah membawa Turki berbaris bersama dengan peradaban Barat, bahkan berusaha mencuri satu langkah mendahului perdaban Barat. Mustafa Kemal dikenal sebagai Bapak Rakyat Turki dengan julukan Ataturk, dan ia juga menerima julukan Ghazi. Rangkaian kebijakan pembaharuan Mustafa Kemal berperinci kepada:, nasionalisme, sekularisme, westernisme : Pertama,unsur Nasionalisme. Ide Nasionalisme dalam pemikiran Mustafa Kemal ialah nasionalisme Turki yang terbatas tempat geografisnya dan bukan ide nasionalisme yang luas, yakni diilhami oleh Ziya Gokalp (1875-1924) yang menyerukan reformasi Islam untuk menjadikan Islam sebagai ekspresi dari etos Turki. Dalam pemahaman Mustafa Kemal, Islam yang berkembang di Turki ialah Islam yang telah disatukan dengan budaya Turki, sehingga ia berkeyakinan bahwa Islam sanggup diselaraskan dengan dunia modern. Namun turut campurnya Islam dalam segala aspek kehidupan pada bangsa dan agama akan menghambat Turki untuk maju. Atas dasar itu, Mustafa Kemal beropini bahwa agama harus dipisahkan dari negara. Islam tidak perlu menghalangi Turki mengadopsi peradaban barat sepenuhnya, termasuk merubah bentuk negara. Pada permulaan di dirikannya Republik Turki, Mustafa Kemal beropini bahwa pemerintah nasional harus didasarkan pada prinsip pokok populisme (kerakyatan). Ini berarti, kedaulatan dan semua kekuatan manajemen harus eksklusif diberikan kepada rakyat. Konsekuensi logis dari prinsip tersebut ialah dihapusnya sistem kekhalifahan. Kedua Sekulerisme, sekulerisasi yang dijalankan oleh Mustafa Kemal tidak serta merta menghilangkan agama dari rakyat Turki, namun hanya melaksanakan pembatasan kekuasaan golongan ulama dalam soal negara dan politik. Oleh alasannya ialah itu, pembentukan partai yang berdasarkan agama dilarang, institusi-institusi negara, sosial, ekonomi, hukum, politik, dan pendidikan harus dibebaskan dari kekuasaan syari’ah. Menurut Mustafa Kemal, sekulerisme bukan saja memisahkan duduk masalah bernegara (legislatif, eksekutif, dan yudikatif) dari efek agama melainkan juga membatasi peranan agama dalam kehidupan orang Turki sebagai suatu bangsa, alasannya ialah berdasarkan ia bahwa indikasi ketinggian suatu peradaban terletak pada keseluruhannya, bukan secara parsial. Peradaban Barat sanggup mengalahkan peradaban-peradaban lain bukan hanya alasannya ialah kemajuan ilmu pengetahuan dan teknologinya, tetapi alasannya ialah keseluruhan unsurnya. Dan sekulerisasilah yang menimbulkan peradaban yang tinggi itu. Sehingga, Mustafa Kemal beropini bila rakyat Turki ingin mempunyai peradaban tinggi harus melaksanakan sekulerisasi. Ketiga, Westernisme, dalam hal ini Mustafa Kemal beropini bahwa Turki harus berorientasi ke Barat. Ia melihat bahwa dengan memalsukan barat Negara Turki akan maju. Ungkapan yang dipakai oleh Mustafa Kemal, “Kita (bangsa Turki) harus bergerak bersama zaman.” Oleh alasannya ialah itu, satu-satunya jalan untuk memajukan rakyat Turki ialah dengan melaksanakan reformasi berupa modernisasi yakni suatu upaya untuk mengubah wajah Turki secara total dengan menerapkan nilai-nilai modern yang progresif dan meninggalkan segala hal yang dipandang kaku, kolot, tradisional dan berbau Utsmaniyah. Kemal berkeyakinan hanya dengan jalan itu rakyat Turki akan makmur dan dihormati oleh bangsa-bangsa lain.  
SUMBER:
1.Ahmad Syalabi,Sejarah dan Kebudayaan Islam:Imferium Turkey Usmani(Jakarta:Kalam Mulia, 1988)
2.Badri Yatim,Sejarah Peradaban Islam(Jakarta:Raja Grafindo, 1997)
3. Tohir Ajid, Perkembangan Peradaban di Kawasan Dunia Islam, Jakarta : Raja Grapindo               Persada, Islam,2009.
4. Abuddin Nata, Sejarah Pendidikan Islam, (Jakarta: Raja Grafindo, 2004 ) hlm. 273
5.  Hasan, Hasan Ibrahim, Sejarah dan Kebudayaan Islam,( Yogyakarta : Penerbit Kota Kembang,1989)
6.Pt.Lentera Abadi Jakarta.Ensiklopedia Asia
7.Grolier International.Inc Pt.Widyadara Negara Dan Bangsa.