Sejarah Perang Vietnam

Hari Sulistiawati/SAT

            Perang Vietnam disebut juga dengan Perang Indochina Kedua, ialah sebuah perang yang terjadi antara tahun 1957-1975 di Vietnam. Perang ini merupakan bab dari Perang hambar antara dua kubu idiologi besar, yakni Komunis dan Liberal.
Dua kubu yang saling berperang ialah Republik Vietnam (Vietnam Selatan) dan Republik Demokratik Vietnam (Vietnam Utara). Amerika Serikat, Korea Selatan, Thailand, Australia, Selandia Baru

dan Filiphina bersekutu dengan Vietnam Selatan, sedangkan USSR dan Tiongkok mendukung Vietnam Utara yang merupakan negara komunis.

Perang ini menyebabkan eksodus besar-besaran warga Vietnam ke negara lain, terutama negara Amerika Serikat, Autralia dan negara-negara Barat lainnya, sehingga di negara tersebut bisa ditemukan komunitas Vietnam yang cukup besar.
Jumlah korban yang meninggal pada perang Vietnam ini diperkirakan 280.000 dari pihak Selatan dan 1.000.000 dari pihak Utara. [1]
Latar Belakang terjadinya perang Vietnam atau perang Indochina kedua
            Pada tanggal 2 September 1945 di Hanoi, Ho Chi Minh secara umum mendeklarasikan kemerdekaan Vietnam. Dan ketika para komunis di Vietnam selatan yaitu Viet Minh mengikut sertakan pemerintahan kolonial Perancis pada perang gerilya, yang bertepatan sehabis kemerdekaan tersebut di deklarasikan. [2]
            Pada tahun 1953, Ho Chi Minh, para komunitas di Vietnam Utara berhasil menaklukan Perancis dalam pertempuran sengit di Dien Phu. Ho Chi Minh juga tetapkan untuk melaksanakan re-unit negaranya, dengan instrumen pasukan reguler North Vietnamese Army (NVA) dan kader mereka di Vietnam Selatan. Vietcong (VC). Untuk mendukung VC di Selatan, dipakai strategi dalam perang dunia II, yaitu perang hutan dan gunung, berjalan kaki dan membentuk pos-garis edar, link- Vietnam Utara dengan Gerilyawan Laos, Kamboja.[3]
            Pada tahun 1946, Perancis membangun kembali pemerintahan kolonial mereka di Vietnam, dan Perancis berhasil dalam menahan kota dibawah kekuasaan mereka. Hal ini yang menciptakan Viet Minh Menambah serangan mereka terhadap kekuatan kolonial Perancis dan memasangnya juga dibagian Selatan dan Utara Vietnam, dan peraturan didaerah pedalaman Vietnam makin bertambah ketat alasannya ialah Viet Minh.
Masa terjadinya perang
            Tanggal 20 November 1953, kekuatan kolonial Perancis menempatkan sebanyak 16.000 pasukannya di Bien Phu, yaitu sebuah lembah pegunungan di sepanjang perbatasan Vietnam Utara dan Laos Utara. Dari Dien Bien Phu, Perancis bermaksud untuk mengawasi daerah perbatasan diantara kedua negara. Militer Perancis percaya bahwa Lembah Dien Bien Phu yang mempunyai panjang 19 KM dan lebar 13 KM, kondusif dari serangan Viet minh. Namun pada minggu-minggu dan bulan berikutnya, pasukan Vietnam dibawah pimpinan Jenderal Giap, menyiapkan penyerangan ke Dien Bien Phu. Dengan sumbangan lebih dari 200.000 orang kuli pengangkut barang, Viet Minh mengatur pengangkatan artileri berat ke gunung-gunung yang mengelilingi lembah Dien Bien Phu.
            Pada bulan Maret 1954, Viet Minh memulai penyerangan mereka terhadap pasukan Perancis di Dien Bien Phu. Pada tanggal 7 Mei 1954, mereka berhasil menaklukan pusat komando Perancis. Dan perang antara Viet Minh dengan Perancis yang berlangsung selama sembilan tahun, telah menelan korban jiwa yang sangat besar, lebih dari satu juta warga sipil, 200.000 sampai 300.000 orang Viet Minh dan lebih dari 95.000 anggota pasukan kolonial Perancis telah kehilangan nyawanya.
            Pada tanggal 20 Juli 1954 di Jenewa, negosiator Viet Minh dan Perancis baiklah Vietnam di bagi menjadi 2 bab besar yaitu, komunis Vietnam Utara dan Kapitalis Vietnam Selatan.
            Pada tahun 1959-1963, sehabis gerilya komunis Vietnam Selatan sanggup menjatuhkan pemerintah Diem, pemerintah komunis Vietnam Utara mengendalikan jalannya konfrontasi militer. Lebih dari 40.000 gerilya Vietnam Utara masuk ke wilayah Selatan, dan memperlihatkan persenjataan dan amunisi kepada komunis Vietnam Selatan, yang dibawa melalui jalan-jalan kecil Ho Chi Minh di wilayah Laos dan Kamboja. [4]
            Ketika tahun 1954, Perancis meninggalkan daratan tersebut, dan Amerika yang menggantikannya, dan 4 tahun kemudian Amerika telah mempunyai lebih dari 500.000 pasukan di Vietnam Selatan. Amerika dibawah presidennya, secara berturut-turut telah melibatkan negaranya untuk terjun kedalam sebuah perang panjang dengan jarak yang sangat jauh. [5]
            Pada tanggal 2 Agustus 1964, dua kapal pesiar Amerika di tembaki oleh kapal-kapal patroli Vietnam Utara di Teluk Tonkin. Pada bulan Maret 1965, pesawat tempur AS memulai Operation Rolling Thunder atau pemboman besar-besaran Amerika terhadap Vietnam Utara. Sekitar tiga setengah tahun kemudian, bom-bom dijatuhkan di sekitar Vietnam Utara yang jumlahnya 2 kali lebih banyak dari jumlh bom yang dijatuhkan pada perang dunia II.
            Puncak perang Vietnam terjadi pada tahun 1968, yaitu dikala AS mengirim lebih dari setengah juta bala tentaranya ke Vietnam. Pasukan Australia, Selandia Baru, Korea Selatan, Filiphina dan Thailand semuanya berjumlah 90.000 orang. Dan dikala itu tentara Vietnam Selatan berjumlah 1.5 Juta orang. Front Pembebasan Nasional dibawah kepemimpinan komunis yang diberi nama Vietkong oleh AS mempunyai kekuatan 400.000 pasukan.
            Melalui operasi militer AS, angkatan udara AS melaksanakan pengeboman kewilayah Vietnam Utara, dan berakhir pada Oktober 1968. AS mulai menarik kembali pasukannya dari Vietnam, perang panjang yang berakhir 10 tahun, merupakan pengalaman yang sangat berharga terhadap Amerika. Tahun 1969 di Paris, AS, Vietnam Selatan, Vietnam Utara dan Vietkong melaksanakan perundingan untuk menarik seluruh pasukan AS dari Vietnam. Pada tahun 1972, sebelum perundingan Paris membawa hasil, AS telah mengurangi pasukannya sekitar 100.000 orang. Dalam perang panjang dan usaha berdarah ini sebenarnya merupakan tiga kampanye secara terpisah, perang melawan masyarakat negerinya sendiri, perang melawan gerilyawan musuh di Vietnam Selatan, dan perang melawan kekuatan udara Vietnam Utara.
            Pada bulan maret 1973, pasukan terakhir Amerika meninggalkan Vietnam. Dua tahun kemudian, Vietnam Utara dan kekuatan komunis Selatan memulai serangan dengan maksud untuk menguasai negara Vietnam Selatan, namun pada tanggal 30 April 1975, pasukan Vietnam Utara menduduki Saigon yang menyebabkan berakhirnya perang yang telah berlangsung selama tiga puluh tahun.
            Pada ajang perang Vietnam, persenjataan telah makin berkembang termasuk penggunaan pesawat-pesawat tempur jet telah memasuki kala jet supersonik. AS memakai F-105 dan F-4 Phantom untuk menghadapi pesawat Rusia yang terdiri dari MiG-17 dan MiG-21. [6]
            Di daerah Selatan, Fighter bomber Amerika memakai beberapa senjata pemusnah menyerupai napalm, white phosphorous, cluster bomb, rocket, “smart bomb” dan air ground missile kearah kedudukan Vietcong yang mengganggu dan menteror seluruh negeri. Gerilyawan Vietcong teramat dahsyat, Vietcong sanggup dipastikan mempunyai kelebihan dalam pengenalan wilayah, mereka sanggup bertempur dimana saja dengan memakai senjata ataupun tidak, bahkan mereka sanggup mengetahui jauh sebelumnya pasukan Amerika akan bergerak kearah mana dan wilayah mana yang akan diserang. Bahkan terlalu pintarnya mereka juga mengetahui dengan baik rencana penyerangan Amerika.
            Pada siang hari tanggal 2 april 1972, 2 douglas EB-66 ecrting sebuah deretan kecil B-52 Stratosfortresses melaksanakan misi pemboman ketika 3 SAM missile ditembakkan yang mengenai pesawat Hambleton. Ketika pesawat mengarah jatuh, sinyalnya didengar oleh sebuah Forward Air Controller (FAC) Captin Jimmie D.Kempton, yang menerbangkan OV-10 Bronco, meneruskan kontak dengan Lieutenant Colonel Hambleton.
            Ternyata posisi pendaratan Hambleton sanggup dimonitor Vietcong, yang eksklusif menuju ketempat dimana beliau berada. Sementara itu, Jimmie Kempton telah terbang ke Selatan, kedaerah kawan, melaksanakan radio call, untuk pertolongan. Segera beliau kembali dengan 4 helikopter Angkatan Darat-2 Cobra Gunship dan 2 helikopter penumpang.[7]
            Pada perang Vienam inilah untuk pertama kalinya dipakai secara besar-besaran Surface-to-Air Missile (SAM) sebagai salah satu komponen penting dalam sistem pertahanan udara. Penggunaan kapal induk sebagai pangkalan pesawat-pesawat tempur menjadi begitu berperan dibanding dengan apa yang dilakukan pada perang dunia dua. Disamping itu, dalam perang Vietnam ini pula lah dikembangkan sistem pengisian materi bakar pesawat di udara oleh pesawat terbang tanker sebagai upaya AS dalam meningkatkan radius of action serta kemampuan manuver pesawat-pesawat tempurnya dalam melawan pesawat-pesawat produk Rusia.
            Dalam ajang perang Vietnam ini terlihat AS agak kewalahan dalam menghadapi keampuhan pesawat-pesawat tempur buatan Rusia. Untuk Air-to-air Combat Vietnam memakai MIG-17 dan MIG-19, sementara AS hanya mengandalkan F-4 Phantom-nya untuk menghadapi serangan ini. Sedangkan pesawat AS lainnya yang banyak terlibat dalam perang Vietnam antara lain F-100, OV-10 Bronco, C123, C-130 dan C-7 Trash Haulers, selain itu mereka memakai pula F-105, F-111 dan B52 sebagai pembom.
            Dan sejarah mencatat bahwa negara Amerika Serikat, yang dikenal dengan negara adidaya pernah menelan kekalahan, dikala perang Vietnam/Viet Chong/IndoChina kedua. [8]
            Pada perang Vietnam ini pulalah pesawat helikopter meningkat menjadi senjata tempur yang signifikan dengan pengembangan kiprahnya dalam misi-misi observasi, combat tactical transport dan combat medical evacuation. Pada perang ini pula tercatat Rusia menggelar 2.300 surface-to-air missiles.
            Selanjutnya, tanggal 30 maret 1972, angkatan darat Vietnam Utara melancarkan Penyerangan yang dilakukan atau difokuskan pada wilayah pangkalan udara Amerika, mendapat perlawan sengit dari pasukan VietnamSelatan. Pesawat B-52 melaksanakan pemboman terhadap konsentrasi pasukan musuh, dan sampai bulan ini pesawat pembom tersebut menerbangkan rata-rata 15.000 sortie perbulan.
            Selanjutnya pada tanggal 8 mei 1972, menyusul akan diselenggarakannya perdamaian di Paris, Presiden Richard M. Nixon, authorized Operasi Linebacker, melanjutkan pembomannya di Utara. Dan untuk pertamakalinya, USA melaksanakan blokade jalur maritim dengan melaksanakan penyebaran ranjau diperairan Haipong dan di beberapa alur maritim yang lain. Untuk menetralisir Vietnam Utara, dibangunlah sebuah pertahanan udara, USAF mengerahkan sistem persenjataan gres termasuk pesawat F-105 Wild Weasel defence suppression dan profusion of laser and optically-guided bomb, yang dikembangkan semenjak tahun 1960.
            Dan pada bulan Juni 1972, MiG-23/27 Flogger air superiority fighter-ground-attack aircraft mulai beroperasi dibawah Soviet Air Force. [9]
Catatan Kaki
[3] Suradji Adjie, Kisah dan Sejarah Perang Udara, GP Press, Jakarta Selatan,2011, hal:424
[4]
[5] Suradji Adjie, Kisah dan Sejarh Perang Udara, GP Press, Jakarta Selatan, 2011,hal:424
[7] Suradji Adjie, Kisah dan Sejarah Perang Udara, GP Press, Jakarta Selatan, 2011, hal:425
[9] Suradji Adjie, Kisah dan Sejarah Perang Udara, GP Press, Jakarta Selatan, 2011, hal:426