Sejarah Perebutan Barat Di Afrika Timur (Krisis Fashoda Dan Maroko)

RITA OKTAVIA/PIS/B
            Afrika Timur ialah suatu wilayah di Afrika yang pada awalnya hanya diperebutkan oleh Inggris dan Jerman. Persaingan Inggris dan Jerman ini diawali dengan adanya kolaborasi antara Inggris dengan Sultan Bargash dari Zanzibar pada tahun 1876.   Inggris bisa menguasai beberapa kawasan dan mendapatkan kawasan seluas 400 mil di Zanzibar Utara. Sedangkan Jerman, memulai usahanya dengan ekspedisi pada tahun 1884. Ternyata ekspedisi ini telah berhasil menciptakan kolaborasi dengan penguasa-penguasa di Uganda, Nguru, Usugara dan Ukami hingga ke selatan Mozambik hingga Umba yang luasnya 600 mil.

            Hal ini menjadikan Jerman berniat menguasai wilayah-wilayah hingga ke perbatasan Kongo dan ke utara Sungai Nil. Tindakan ini terang menjadi penghalang bagi Inggris yang juga ingin menyatukan wilayah jajahan melalui jalur kereta api dari Cape Town hingga ke Kairo (Mesir). Pertentangan Inggris dan Jerman sanggup di akhiri dengan suatu perjanjian yaitu Perjanjian Helgolan pada tahun 1890 yang isinya:
“Inggris diaku sebagai pelindung atas kawasan Uganda ddan memperoleh hak-hak protektorat atas Zanzibar dan Kepulauan Zemba, Wytu dan Nyasaland, sebagi gantinya Jerman mendapatkan Pulau Helgolan. Jerman menerima izin memperluas jajahannya dari Kamerun hingga danau Chad dan Afrika Barat Daya serta memperoleh Coprivizipped seluas 20 mil ke Timur hingga Sungai Zambezi”.
            Akan tetapi, duduk kasus berikutnya justru muncul kembali ketika Prancis merasa keberatan atas sumremasi Inggris di Zanzibar. Prancis menunujuk isi perjanjian tahun 1862 yang menjamin kebebasan Zanzibar sebagai pelabuhan terpenting di Afrika Timur dan duduk kasus ini sanggup diatasi kembali dengan disepakatinya perjanjian tahun 1890 yang isinya:
“Prancis menerima kebebasan untuk mendapatkan Madagaskar dan Zahara, sebaiknnya Prancis tidak keberatan jikalau Afrika Timur berda dibawah  kekeuasan  Inggris”. Perjanjian demi perjanian terus dilakukan antara bangsa Eropa untuk menghindadri terjadinya konflik yang terus berlanjut. Pada tahun 1891 Inggris kembali melaksanakan perjanjian dengan Italia unutuk menetukan batas-batas garis demarkasi antara Inggris dan Itallia di Afrika Tmur. Italia diperbolehkan untuk meluaskan daerahnya hingga Ethiopia hingga garis meridian 350 lintang timur. Garis ini  menempatkan Inggris sebagai penguasa Sudan yang juga merupakan koridor yang menghubungkan Mesir dengan Uganda.
KRISIS FASHODA
Pada awalnya Krisis Fashoda terjadi di Aljazair sebelah utara, secara perlahan Prancis memasuki Sahara sehingga sebagian besar kawasan ini telah ditaklukkan Prancis. Dipantai barat Prancis bergerak dari Senegal terus ke pedalaman, di timur Prancis juga bergerak di Somalia. Prancis ingin menggabung kawasan kekuasaannya dari barat ke timur yang dikenal dengan istilah “dari samudra ke samudra” untuk itu perlu menduduki seluruh Kongo, Sudan dan Ethiopia. Keinginan dari Prancis ini berakibat berhadapannya Prancis dengan Inggris yang juga ingin menyatukan daerahnya yang dikenal dengan istilah “from Cape to Cairo”. Permasalahan ini bergotong-royong ialah keduanya mempunyai tujuan ingin menaklukkan daerah-daerah yang sama. Beberapa waktu sebelumnya, sesudah berhasil mengatasi konflik di Mesir, Inggris telah mulai memasuki Sudan melalui tangan Mesir lantaran secara historis Sudan ialah milik mesir. Meskipun pada ekspedisi pertama tidak berhasil, akan tetapi pada tahun 1885 ekspedisi berikutnya Sudan berhasil dikuasai.keinginan Inggris yang berusaha untuk mendapatkan Sudan lantaran Sudan mempunyai posisi yang strategis sebagai penyanggah bagi amannya kedudukan Inggris di Mesir. Terlebih sesudah kemenangan Ethopia dari Italia yang berarti ancaman bagi Inggris. Itulah sebabnya Inggris melaksanakan kolaborasi dengan Italia (1891) dan Jerman (1893).
Dalam mewujudkan cita-citanya maka Prancis mengirimkan ekspedisi pada tahun 1896 dibawah pimpinan  J.B Marchand dengan jumlah  peserta 234 orang yang sebagian besar ialah penduduk bumi putera dan mengibarkan bendera Prancis di Sudan. Saat Inggris mendengar ekspedisi dari Prancis, Inggris pun mengirimkan Ekspedisi pula dibawah pimpinan Kitchener.  Pada tahun 1896 sudah mencapai Dongolo, terus keselatan mencaoai Atbata sesudah berhasil mengalahkan kaum Darwish pada tahun 1898 dan menguasai Omdurman. Ketika pasukan Inggris datang di Fashoda Kitchener mereka menemukan bendera Prancis telah berkobar sehingga terjadilah ketegangan kedua pimpinan tersebut. Akhirnya , untuk menuntaskan krisis ini diserahkan kepada negaranya masing-masing. Dengan lebih mendahulukan “Revance” terhadap Jerman dan “Drayfus” maka Prancis menentukan mundur untuk menghindarkan konflik yang lebih besar yang berarti kemenangan bagi Inggris.
Jadi, Krisis Fashoda terjadi pada tahun 1898 di Sudan (Afrika Timur). Krisis ini ialah titik puncak dari sengketa wilayah kekuasaan antara Inggris dan Perancis dan berakhir dengan kemenangan diplomatik untuk Inggris. Karena kemenangan ini, pihak Inggris mulai mengatur sistem pemerintahan di Sudan.
KRISIS MAROKO
Krisis Maroko pertama atau yang dikenal sebagai Krisis Tangier ialah krisis Internasional atas status Internasional Maroko anatara Maret (1905) dan Mei (1906). Maroko terletak di Afrika Utara sebelah barat, letaknya yang strategis di Selat Gibraltar dan berhadapan pribadi denngan Spanyol cuilan selatan. Selat Gibraltar merupakan satu-satunya pintu masuk-keluar darilaut tengah. Dadri kurun ke-17 hingga awal aba ke-19 Maroko bisa bertahan sebagi negara berdaulat.
Letak Maroko yang sangat strategis ini, pada akhirnya justru menjadi incaran bagi negara-negara Eopa yang ingn meluaskan kekuasaan khususnya diwilayah Afrika apalagi Maroko begitu akrab dengan Eropa. Sanyol sebagai negar Eropa yang terdekat dengan Maroko mencoba mengirimkan pasukan ke Maroko tetapi berhasil dihalang oleh Inggris. Pada prinsipnya, Inggris tidak menginginnkan adanya kekuasaan permanen di Maroko lantaran penguasaan Maroko oleh satu kekuatan Barat akan sanggup memicu bagi terjadinya Krisis Internasional. Sebaliknnya Prancis justru mempunyai keinginan untuk menguasai Maroko, meskipun Jerman pada tahun 1873 sudah menempatkan perwakilannya di Maroko. Itulah sebabnya Prancis mendirikan pangkalan militer  Fez, maka negara-negar Eropa banyak yang melaksanakan protes. Untuk menghindari konflik yang lebih besar, diadakan suatu konfensi yang membahas duduk kasus Maroko pada tahun 1880 dan dihadiri oleh 15 negara Eropa dan Amerika Serikat di Madrid. Hasilnya yaitu “status quo Sultan Maroko harus dipertahankan dan Maroko tetap menjalankan ppolitik pintu terbuka”. Sejak itu maka banyak negara yang berlomba menanamkan modal di Maroko.
Mundurnya Prancis dar Krsis Fashoda merupakan tamparan dahsyat bagi Prancis dan negara inipun tidak bisa melupakannya begitu saja. Demikian pula kekalahan yang dirasakan sesudah mundur dari Suez pada ketika terjadinya perang melawan Mesir. Kekalahan demi kekalahan yang diterima Prancis membuutuhkan suatu tirai untuk menyembuhkannya. Maka hal yang paling sempurna yang bisa dilakukan Prancis ialah menduduki Maroko. Jika Inggris telah menduduki pintu keluar menuju India yaitu Suez, maka Prancis seharusnya sanggup menguasai pintu masuk yaitu Maroko. Sewaktu Inggris sibuk menghadi usaha rakyat Boer di Afrika Selatan, maka Prancis secara belakang layar melaksanakan perjanjian ddengan Italia yang isisnya “Italia tidak keberatan apabila Prancis di Maroko, sebaliknya Prancis juga tidak akakn menghalangi keinginan Italia di Tripoli dan Cyrenaica”. Perjanjian ini diratifikasi pada tahun 1902 dengan memasukan “apabila salah satu negara di serang musuh maka yang lain akan bersikap netral”.
Kemudian Prancis melaksanakan perjanjian dengan Spanyol tahun 1904 yang pada dasarnya “Spanyol Pantai utara dan termasuk Tanjir dan Fezs serta sedikit di cuilan selatan, selebihnya menjadi miliik Prancis. Usaha lain yang sangat penting yanng dilakukan oleh Prancis ialah mendapatkan anjuran Inggris untuk mengakhiri pertikaian dengan Prancis khususnya mengenai Afrika yang menempatkan kedua Negara besar itu sebagai musuh bebuuyutan. Berbagai cara yang telah dilakukan supaya sanggup kembali ke Mesir tapi selalu mengalami kegagalan. Sedangkan bagi Inggris Maroko sangat vital, Inggris tidak mengingnkan satu negarapun yang ingin dikuasai diwilayah itu. Pintu masuk maritim tengah menjadi sangat berbahaya bagi Inggris, untuk itulah Inggris menempuh jalan hening dengan Prancis. Maka pada tahun 1904 disepakati “Marocco Egyption Agreement” yang dikenal pula denngan sebuatan Entente Cordiale. Inti dari perjanjian perjanjian ini adalah “Prancis akan melupakan/melepasakan kepentingannya di Mesir sebagai imbalannya Inggris tidak keberatan apabila Prancis  berada di Maroko, denagn catatan dilarang ada Benteng di Jabaltarik”. Sementara Spanyol tetap menerima Fez sebagaimana perjanjian sebelumnya, Tanjir berada dibawah pengawasan internasional demi menjaga kelancaran pelayaran internasional.
Bagi Prancis berakhirnya kontradiksi dengan Inggris berarti tidak ada kekuatan beesar yang akan mennghalanginya lagi di Maroko dan penanaman modal Prancis semakiin intensif dan di pihak laiin secara bersamaan keuangan Maroko mengalami kebangkrutan akhir tidak bisa mengelola dengan baik, Prancis pun memakai alasan ini untuk masuk lebih dalam didalam urusan dalam negri Maroko menyerupai mengatasi duduk kasus keuangan, pemerintahan, dan lain-lain.
Ti
ndakan Prancis di Maroko ini menerima protes dari Jerman. Jerman pun harus mengetahui bahwa telah terjadi aneka macam perjanjian rahasia antara Prancis dengan sekutu-sekutunya. Bagi Jerman, Maroko tetplah negara bebas sesuai dengan perjanjian Madrid tahun 1880. Konflik ini  memuncak dengan adanya kunjungan kaisar Williem II mengunjungi Tanjir dan mengakui kedaulatan Maroko. Untuk menhindari konflik yang lebih besar lagi maka Prancis mendapatkan tuntutan Jerman untuk mengadakan konferensi bagi Maroko yang diikuti oleh Negara-negara Prancis,Inggris, Rusia, Jerman, Amerika Serikat, Italia, Australia dan Spanyol. Konferensi itu dieri mana Konferensi Algeciras pada tahun 1806. Isinnya antara lain:
1.      Kedaulatan Sultan Maroko tetap diakaui
2.      Masalah kepolisian dan bank-bank nasional dibawah pengawasan internasional
3.      Maroko tetap menjalankan politik pintu terbuka
4.      Prancis diperkenankan menjalankan penetrasi hening di Maroko kecuali Pantai utara
5.      Pantai utara disetahkan pada Spanyol.
Dengan di tanda tanganinya perjanjian Algeciras, maka Krisis Maroko episode pertama inipun sanggup diatasi secara hening pada tahun 1806.
Krisis Maroko kedua yang dikenal dengan Krisis Agadir atau Panthersprung. Sesuai dengan konferensi diatas, maka Prancis merasa perlu untuk menetapkan kedudukannya di maroko. Namun kondisi didalam negeri Maroko sendiri menjadi bergolak, lantaran munculnya perlawanan-perlawanan rakyat terhadap Prancis. Pergolakan-pergolakan yang terjadi dan perilaku Prancis dalam menghadapi pergolakan tersebut menciptakan Jerman masuk kembali kemasalah Maroko dengan mengakui kemerdekaan Maroko pada tahun 1808, karenanya pemberontakan semakin hebat. Pada tahun 1911 ibukota Maroko, Fez bahkan sanggup dikepung oleh kaum pemberontakan dan tentara Prancis pun menduduki kota tersebbut. Tindakan ini memaksa Jerman mengirim kapal-kapal perangnya ke Maroko yang merupakan tanntangan bagi Prancis dan Inggris. Menurut Inggris tindakan Jerman tersebut mengancam perdamaian dunia lantaran melibatkan 3  negara besar yaitu, Jerman, Prancis dan Inggris dan akhirnnya kondisi ini sanggup diakhri dengan perjanjian yang pada dasarnya Jerman harus meninggalkan Maroko dan mengakui kekuasaan Prancis atas Maroko. Sebagai imbalannya Jerman mendapatkan sebagian dari kawasan Prancis di kongo. Dengan  adanya perjanjian ini krisis Maroko  yang kedua ini pun berakhir dan Prancis semakin memantapkan kedudukannya di Maroko dan pada tahun 1918 Maroko dijadikan wilayah Protektorat Prancis.
DAFTAR PUSTAKA:
Soeratman,Darsiti.2012.Sejarah Afrika.Yogyakarta:Ombak
Sejarah Afrika oleh Andri Karmidi, S.Pd, M.Pd