Sejarah Perkembanan Islam Di Mesir

VISKA SEPTIANI / SP

            Islam mengalami puncak kejayaan di banyak sekali aspek dan menjadi kiblat peradaban di dunia ketika Dinasti Abbasiyah berkuasa yang berpusat di Bagdad, keturunan Bani Umayyah di Spanyol, dan Dinasti Fatimiyah di Masir. Ke tiga  kerajaan ini masing-masing ikut andil menyumbangkan paradaban  yang bukan hanya mengharumkan nama Islam, tapi juga menjadi penyebab bangkitnya Eropa (Barat) dari keterbekangan khususnya di bidang ilmu pengetahuan dan teknologi. Kejayaan Islam mulai  meredup pada era era VI – XI M. Puncaknya pada era XI M, kesudahannya datanglah serangan Pasukan Salib yang mengumandangkan perang suci yang berlangsung kurang lebih dua abad. Belum sembuh luka yang diderita umat Islam, muncul lagi serangan yang lebih dahsyat yakni serangan Jangis Khan dan cucunya Khulagu Khan serta Timur Lenk secara bertubi-tubi dan mebabi buta. Peradaban Islam porak-poranda, hancur berkeping-keping. Islam

mengalami kemunduran lantaran serangan tersebut, sementara Eropa (Barat) mengalami kemajuan yang ditandai dengan adanya Revolusi Industri dan Renaissance di Dunia Barat. Di ketika Islam dalam keadaan lemah itulah sehingga mereka dijajah. Hal inilah yang mendorong tokoh-tokoh Islam, ibarat ; Muhammad Ali Pasya, Jamaludin al Afgani, Al-Tahtawi dan Muhammad Abduh untuk melaksanakan sebuah pembaharuan, salah satunya dalam hal pendidikan. Karena  pendidikan merupakan sesuatu hal yang mutlak ada dan harus dipenuhi dalam rangka meningkatkan kualitas hidup masyarakat dimana pendidikan harus bertumpuh pada pemberdayaan semua komponen masyarakat melalui tugas sertanya dalam mewujudkan Sejarah modernisasi pendidikan di Mesir sangat lekat dengan gerakan pembaharuan Islam. Maka tidak heran jikalau tugas para tokoh-tokoh Islam ini sangat kuat bagi pembaharuan perkembangan pendidikan di Mesir. Dalam Makalah ini penulis akan membahas wacana sejarah perkembangan dunia pendidikan di Mesir, lantaran berdasarkan penulis peradaban dan perkembangan pendidikan di Mesir sangat kuat bagi perkembangan ilmu pengetahuan di dunia Islam khususnya, dan umumnya di seluruh penjuru dunia ini. 

v  Sejarah Perkembangan Pendidikan di Mesir
Secarah historis, perkembangan dan pembaharuan pendidikan di Mesir di mulai pada ketika mendaratnya Napolean Bonaparte (1798-1799) di Mesir lantaran merekalah yang mengenalkan kemajuan Barat. Di ketika itu, Kerajaan Usmani dan kaum Mamluk yang menguasai mesir sudah sedikit melemah. Napolean Mendarat  di Alexandria pada tanggal 2 juni 1798 dan keesokan harinya kota pelabuhan yang penting ini jatuh. Sembilan hari kemudian, Rasyid, suatu kota yang terletak di sebelah timur Alaxandria, jatuh pula. Pada tanggal 21 juli tentara Napoleon hingga di tempat Piramid di erat Cairo. Pertempuran terjadi di tempat itu dan kaum Mamluk lantaran tak sanggup melawan senjata-senjata meriam Napoleon, lari ke Cairo. Setelah Napoleon mendarat kurang lebih selama tiga ahad di Alexandria, pada tanggal 22 juli mereka berhasil menguasai Mesir. Misi mereka tidak hanya menguasai Mesir saja tetapi juga daerah-daerah Timur Tengah lainnya juga, namun usaha Napoleon itu tidak berhasil. Pada tanggal 18 Agustus 1799, Napoleon meninggalkan Mesir kembali ke tanah airnya Paris, lantaran ketika itu perkembangan Politik di Prancis menghendaki kehadirannya.  Ekspedisi yang dibawahnya ia tinggalkan di bawah pimpinan Jendral Kleber.
Pada  tahun 1801 terjadi pertempuran antara Pasukan yang di bawah Napoleon di Mesir dengan Armada Inggris, kekuatan Prancis di Mesir mengalami kekalahan. Akhirnya ekspedisi pasukan Napoleon yang di pimpin Jendral Kleber itu meninggalkan Mesir pada tanggal 31 Agustus 1801. Napoleon tiba ke Mesir bukan hanya membawa tentara. Dalam rombongannya terdapat 500 kaum sipil dan 500 wanita. Di antara kaum sipil terdapat 167 jago dalam banyak sekali cabang ilmu pengetahuan. Napoleon juga membawa dua set alat percetakan dengan karakter Latin, Arab, Yunani. Di Mesir mereka membentuk suatu forum ilmiah berjulukan Institut Egypte, yang mempunyai empat bahagian : bahagian Ilmu Pasti, Bahagian Ilmu Alam, Bahagian Ekonomi-Politik dan bahagian Sastra-Seni.
Dengan Semangat Pembaharuan pasukan Napoleon  selama menduduki Mesir, mulai lahir-lahir ide-ide gres untuk melaksanakan pembaharuan dalam Islam dan meninggalkan keterbelakangan menuju modernisasi di banyak sekali bidang khususnya bidang pendidikan. Upaya pembaharuan dipelopori oleh Muhammad Ali Pasya, Muhammad Abduh dan pemikir-pemikir lainnya.
v  Pembaharuan Pendidikan Islam di Mesir
·         Pembaruan Muhammad Ali
            Dia yakni seorang perwira Turky yang dikirim Sultam Salim III (1789-1807) untuk melawan tentara Napoleon di Mesir. Keberaniannya m
embawa dirinya ketangga sukses. Di ketika tentara perancis meninggalkan Mesir atas jeri payah dan perjuangannya, ia memainkan tugas politik yang sukses. Ia mengangkan dirinya sebagai pasya dan kemudian diakui oleh sultan utsmani pada tahun 1805. Muhammad Ali Pasya, atas kesuksesan yang dicapainya, kemudian dijuluki sebagai bapak Negeri Mesir Modern. Usaha pertama yang dilakukannya menyangkut soal ekonomi dan kemajuan militer. Harta kaum mamluk dan orang kaya Mesir dikuasai. Pembangunan pertanian ditingkatkan dengan membangun irigasi dan mendatangkan jago pertanian. Sarana perhubungan diperbaiki. Tertarik dengan kemajuan Barat sebagai kesan yang dibawa ekspedisi Napoleon, ia membangun sekolah-sekolahan. Pertama kali, ia buka sekolah militer (1815). Kemudian secara berturut, ia dirikan sekolah tehnik dan sekolah kedokteran dengan tenaga pengajar dari jago barat.
            Muhammad Ali mengirim para mahasiswa berguru keluar negeri. Diluar negeri mahasiswa mempelajari majemuk ilmu antara lain yang diperintahkan ilmu kemiliteran arsitek, kedokteran dan farmasi. Sekalipun mereka tidak diberi kebebasan yang luas di Eropa namun mereka sanggup mempelajari ilmu lain ibarat soal kenegaraan, filsafat, pendidikan dan sebagainya. Hal demikian telah menjadikan ide-ide gres dalam banyak sekali segi kehidupan social dan kemasyarakatan.       
            Muhammad Ali mengintruksikan supaya mahasiswa-mahasiswa Mesir yang berpendidikan Barat melaksanakan pula usaha-usaha penterjemahan. Penterjemahan buku-buku absurd di sesuaikan dengan kepentingan sekolah Muhammad Ali. Kemudian bahkan sekolah penterjemahan dibuka pada tahun 1836. Dengan demikian sudah barang tentu, perkenalan dengan pemikiran gres dari barat tidak hanya terbatas dilingkungan mereka yang berpendidikan barat saja. Pemikiran dan ilmu gres sanggup pula diserap oleh mereka yang belum pernah keluar negeri dan tidak tahu bahasa asing.
·         Pembaruan Al-Tahtawi
            Nama lengkapnya Rifa’ah Badawi Rafi’ al-Tahtawi ia lahir di Tanta pada tahun 1801 sesudah selesai sekolah di al-Azahar beliau dikirim Muhammad Ali Pasya ke Prancis. Di paris ia berguru bahasa Prancis dimana dalam waktu singkat sanggup dikuasai. Dengan kemampuan tersebut, ia membaca buku-buku sejarah, filsafat yunani, ilmu hitung dan logika. Bahakan ia juga membaca dan mempelajari pemikiran cara pemikir Prancis era ke 19 ibarat Voltaire , Condillek, Rouseau, Montesque. Hal ini mengakibatkan ia mempunya pengetahuan yang luas dalam banyak sekali bidang. Selama di Prancis, ia sanggup menterjemahkan 12 buku penting dalam banyak sekali bidang ibarat sejarah, pertambangan, etika dan adat-istiadat, ilmu bumi, tehnik, hak-hak manusia, kesehatan jasmani dan sebgainya.. Hasil karya tersebut membuktikan bahwa ia bisa dan cakap dalam bidang penterjemahan. Dan memang diantara orang yang dikirim Muhammad Ali, al-Tahtawi tercatat sebagai satu-satunya orang yang mengkhususkan dirinya dalam penterjemahan. Kegiatan ibarat inilah salah satu yang diharapkan Muhammad Ali ketika ia memerintah Mesir. At-Tahtawi memang dimanfaatkan, bukan hanya untuk kepentingan pemerintah bahkan juga untuk kepentingan Pemerintah bahkan juga untuk kemajuan rakyat Mesir. Dalam hidupnya, at-Tahtawi pernah menjadi eksekutif sekolah pernterjemah, sekolah militer. Penterjemahan dan penulisan pada banyak sekali surat kabar dan majalah yang terbit di Mesir. Ia meninggal di Kairo pada tahun 1938.
·         Pembaruan Jamaludin al-Afgani
            Jamaludin lahir di afganistan pada tahun 1839 dan meninggal di Istambul pada 1897. Ia pernah menjadi pembantu pangeran sebagai penasehat dan kemudian menjadi perdana mentri. Hidupnya berpindah-pindah lantaran situasi politik. Dari Afganistan ia pindah ke India lantaran Inggris mencampuri kasus dalam negeri Afganistan. Di India ia juga tidak bebas bergerak lantaran Inggris sudah berkuasa pula. Pada 1871 dan ia pindah ke Mesir. Di sana ia terlibat pula soal politik disebabkan Inggris ikut campur dalam duduk masalah negeri Mesir. Ia berhasil membentuk partai Nasional. Semboyan “Mesir untuk Orang Mesir” dikumandangkannya. Akan tetapi, sesudah Taufik diangkat sebagai khedewi atas pinjaman partainya, ia di usir keluar dari Mesir dan pergi ke Paris. Pada tahun 1889 ia diundang ke Persia untuk menuntaskan politik antara Rusia – Persia. Pada tahun 1892, sultan Abdul Hamid mengundang pindah ke Istambul dalam rangka pelaksanaan rencana politik Islamnya. Akan tetapi kebebasannya di batasi oleh sultan dan ia tidak sanggup keluar dari Istambul. Di sanalah ia mengakhiri hidupnya.
            Di Mesir ia mulai mengadakan seminar-seminar dimana ia bekerjasama dengan para ilmuan bidang-bidang hukum, filsafat, dan logika, dan cara yang modern dan orisinil. Sejumlah professor yang ternama dan mahasiswa-mahasiswa al-Azhar berkumpul sekelilingnya. Seminar-seminar itu umumnya membahas wacana intelektual dan social, yang menunjukkan wangsit kepada gerakan intelektual Islam. Pada periode yang istimewa itulah terlihat hasil-hasil yang konkret dari perkembangan pembarharuan ini di Azhar mulai kelihatan.
v  Tujuan Pendidikan di Mesir
            Pemerintah Mesir menyatakan bahwa pengembangan secara ilmiah harus dilakukan dalam sistem pendidikan. Oleh alasannya yakni itu, diputuskan bahwa konsep struktur, fungsi dan administrasi pendidikan semua harus ditinjau ulang.  Mesir memprogramkan wajib belajar, Masyarakatnya harus bakir dalam hal baca tulis dan terdidik, harus memanfaatkan ilmu pengetahuan dan teknologi, serta menjadi masyarakat yang produktif, pendidikan juga harus fleksibel, dan relevan dengan kebutuhan masyarakat. Adapun Tujuan-tujuan utama dari pendidikan di Mesir yakni sebagai berikut:
·         Menyiapkan dan membuatkan warga Mesir dengan cara yang akan membantu mereka untuk beradaptasi dengan tuntutan masyarakat yang berubah modern untuk menghadapi tantangan terbarukan, selain memungkinkan mereka untuk memahami dimensi religius, nasional, dan budaya dari identitas mereka.
·         Pendidikan dimaksudkan untuk menegakkan demokrasi dan persamaan kesempatan serta pembentukan individu-individu yang demokratis.
·         Upaya pembentukan Negara independen sesudah bebas dari penjajahan Barat.
·         Pendidikan juga dimaksud sebagai pembangunan bangsa secara menyeluruh, yaitu menciptakan kekerabatan fungsional antara produktivitas pendidikan dan pasar kerja.
·         Pendidikan harus bisa mengiring masyarakat pada pendidikan sepanjangan hayat melalui peningkatan diri dan pendidikan diri sendiri.
·          Pendidikan harus meliputi pengembangan ilmu dan kemamuan tulis baca, berhitung, mempelajari bahasa-bahasa selain bahasa arab, cipta seni, serta pemahaman atas lingkungan.
v  Sistem Pendidikan di Mesir
            Sistem pendidikan mesir mempunyai dua struktur parallel : struktur sekuler dan struktur keagamaan Al-Azhar. Struktur sekuler diatur oleh Kementrian Pendidikan. Dalam penyeleksian tenaga pengajar, sebagai forum internasional yang bergerak dalam bidang pendidikan, UNESCO Mesir membuatkan suatu sistem pembinaan guru untuk mendukung tercapainya sumber daya insan Mesir yang handal. Training ini diselenggarakan melalui kerjasama dengan perusahan-perusahaan besar yang berperan dalam melaksanakan sertifikasi keahlian guru selepas training. Jenjang pertama yang dikenal dengan “Sekolah Dasar” mulai dari “Grade 1” samapai “Grade5” , dan jenjang kedua, yang dikenal dengan “Sekolah Persiapan”, mulai dari “Grade 6” hingga “Grade” 8. Sekolah persiapan ini gres menjadi pen
didikan wajib dalam tahun 1984. Pada sekolah umum tahun pertama (Grade 9) yakni kelas pertama pada Grade 10 murid harus memilih  antara bidang sains dan non sains (IPA vs Non IPA) untuk Grade 10 dan 11.
            Pendidikan tinggi di universitas institusi spesialisasi lainya mengikuti pendidikan akademik umum. Pendidikan pada sebagian lembagaa pendidikan tinggi berlangsung selama dua, empat atau lima tahun tergantung pada kegiatan dan bidang yang dipilih. Sistem sekolah ini hampir sama dengan sistem sekolah sekuler ada tingkatan sekolah dasar. Perbedaannya ialah bahwa pendidikan agama Islam lebih menerima tekanan. Dalam kurikulumya terdapat perbedaan, murid boleh menentukan apakah ingin masuk ke sekolah umum dua tahun lagi atau masuk ke sekolah agama selama dua tahun. Pada tingkatan universitas, contohnya terdapat fakultas-fakultas umum konvensional ibarat kodokteran, Teknik, Farmasi, Pertanian dan lain-lain, juga mempunyai fakultas Darul ‘Ulum yang menyelenggarakan studi Islam.  Pendidikan Nonformal didefinisikan sebagai serangkaian kegiatan pendidikan terjadwal diluar sistem pendidikan ini dimaksudkan untuk melayani kebutuhan pendidikan bagi kelompok-kelompok orang tertentu apakah itu anak-anak,generasi muda, atau orang dewasa; apakah mereka pria atau perempuan, petani, pedagang, atau pengrajin; apakah mereka dari keluarga orang kaya atau keluarga miskin.Di mesir, pendidikan nonformal terutama dikaitkan dengan pembatalan ilistrasi. Dengan demikian, kebanyakan kegiatan lebih dikonsentarikan pada pendidikan nonformal ada dalam asfek itu. Sistem pendidikan Mesir, baik sekolah negeri maupun Al-Azhar, dan pendidikan swasta lainnya, memang mewajibkan pelajar Muslim untuk menghafal Al-Quran. Selain itu, pengajian di mesjid-mesjid bagi jamaah, khususnya bawah umur sekolah juga berperan penting untuk mendorong warga menghafal Al-Quran, kata Menteri Zakzouk, yang juga mantan dekan fakultas teologi Universitas Al-Azhar tersebut.
            Sistem pendidikan di Mesir, semenjak taman kanak-kanak sudah diwajibkan menghafal Al-Quran. Di Universitas Al-Azhar, misalnya, bagi mahasiswa Mesir kegiatan S-1 diwajibkan menghafal 15 juz (setengah) Al-Quran, kegiatan S-2 diwajibkan menghafal seluruh Al-Quran. Adapun kegiatan S-3, tinggal diuji hafalan sebelumnya. Kewajiban hafal Al-Quran ini tidak berlaku bagi mahasiswa absurd non-Arab, di mana kegiatan S-1 diringankan, yaitu hanya diwajibkan hafal delapan juz Al-Quran, dan kegiatan S-2 sebanyak 15 juz Al-Quran, sementara kegiatan S-3 gres diwajibkan hafal seluruh Al-Quran. Sementara itu, Pemerintah Mesir dilaporkan setiap tahun mengalokasikan dana khusus sebesar 25 juta dolar AS (1,2 miliar pound Mesir) untuk penghargaan bagi penghafal Al-Quran. Penghargaan itu diberikan setiap peringatan hari-hari Besar Islam bagi pemenang hifzul (penghafal) Al-Quran, berupa uang tunai maupun dalam bentuk beasiswa dan tunjangan hidup.
Sudah menjadi tradisi di negeri Seribu Menara itu, perlombaan hafal Al-Quran di setiap hari-hari besar Islam dilakukan secara serentak dari tingkat sentra hingga ke daerah-daerah.
v  Kurikulum dan Metodologi Pengajaran di Mesir
            Di Mesir, kurikulum yakni hasil pekerjaan tim. Tim kurikulum terdiri dari konsultan, supervisor, para ahli, para profesor pendidikan, dan guru-guru yang berpengalaman. Biasanya ada sebuah panitia untuk setiap mata pelajaran atau kelompok pelajaran, dan ketua-ketua panitia ini diundang rapat sehingga segala keputusan sanggup di koordinasikan. Kurikulum yang sudah dihasilkan oleh panitia diserahkan kepada Dewan Pendidikan Para universtias yang secara resmi mengesahkan untuk diimplementasikan. Berdasarkan peraturan, kurikulum sanggup diubah dan diubahsuaikan untuk mengakomodasikan kondisi setempat atau hal-hal khusus. Dr. Drs. H. Agustian Syah Nur, MA, dalam bukunya Perbandingan Sistem Pendidikan 15 Negara,lebih jauh menjelaskan bahwa bahan pelajaran disiapkan oleh banyak sekali tubuh atau lembaga-lembaga termasuk panitia kurikulum dari semua jurusan ara akademisi dan asosiasi guru mata pelajaran. Pada umumnya sekolah dan masing-masing guru mempunyai kebebasan yang aga luas dalam menentukan bahan pelajaran.
v  Rekontruksi Pengembangan Pendidikan di Mesir
            Ketika kita membicarakan system pendidikan di Mesir, baik itu kurikulmya, tenaga pengajarnya, akseptor didiknya dan lain-lain. Maka jikalau kita bandingkan dengan Indonesia yang katanya merupakan umat muslim terbesar di dunia, masih jauh terdapat perbedaan, baik dari segi kualitas pengelolaan pendidikan, tenaga pengajar, dan kurikulum yang diterapkan masih banyak terjadi ketidak efektipan. Untuk itu, mungkin terdapat banyak hal atau system pengelolaan dalam pendidikan di Indonesia yang bisa di rekontruksi dan adobsi dari system pengelolaan pendidikan Mesir dan implementasinya di lapangan
           
DAFTAR PUSTAKA
          Niasution, Harun, Prof.Dr.,Pembaharuan dalam Islam (sejarah Pemikiran dan Gerakan). Penerbit :Bulan Bintang, Jakarta;1974.
          Hamka, Prof.Dr, Sejarah Umat Islam jilid II. Penerbit:Bulan Bintang, Jakarta;1975.
          Nasution, Harun, Prof.Dr, Islam Rasional (Gagasan dan Pemikiran).Penerbit Mizan,Jakarta;1989.hlm 148-149
          Hamid, Abdul, Drs.KH.M.Ag dan Yaya, Drs, M.Ag, Pemikiran Modern dalam Islam. Penerbit:Pustaka Setia,Bandung;2010.
          Ramayulis, Prof. Dr. Sejarah pendidikan Islam. Penerbit : Kalam Mulia, Jakarta; 2012