Sejarah Perlawanan Rakyat Bali Terhadap Belanda (1846–1905)

Siska Maya Renti/014 B
Pada kurun 19 sesuai dengan cita-citanya mewujudkan Pax Netherlandica (perdamaian di bawah Belanda), Pemerintah Hindia Belanda berusaha membulatkan seluruh jajahannya atas Indonesia termasuk Bali. Meskipun Bali merupakan pulau kecil dengan wilayah yang sempit, tetapi pulau ini mempunyai beberapa kerajaan ibarat Kerajaan Buleleng dan Karangasem sehingga pemerintah Belanda ingin menguasai sebagian wilayah kekuasaan kerajaan Bali.
Keinginan Belanda untuk menguasai Bali dimulai semenjak tahun 1841 dan seluruh raja di Bali dipaksa untuk menandatangani perjanjian yang isinya semoga raja di Bali mengakui dan tuntuk kepada pemerintah Belanda. Sikap Belanda yang adikara ini menerima perlawanan dari rakyat Bali.
Antara Belanda dengan pihak kerajaan Buleleng yaitu Raja I Gusti Ngurah Made Karang Asem besarta Patih I Gusti Ketut Jelantik telah ada perjanjian pada tahun 1843 isinya pihak kerajaan akan membantu Belanda kalau kapalnya terdampar di wilayah Buleleng namun perjanjian itu tidak sanggup berjalan dengan semestinya. Keinginan Belanda untuk menguasai Bali selalu tidak berhasil alasannya ialah Bali masih bersifat konservatif (masih berlaku budpekerti atau tradisi), yaitu hak tawan karang yang dianggap oleh Belanda sangat

merugikan. Pada tahun 1844, kapal Belanda terdampar di Pantai Buleleng dan dikenakan aturan tawan karang. Pihak Belanda menolak dan mengatakan perilaku tidak terpuji, yaitu selalu turut campur urusan kerajaan di Bali dengan mengajukan tuntutan dengan isi sebagai berikut:

·         Membebaskan Belanda dari aturan Tawan Karang.
·         Kerajaan Bali mengakui pemerintahan Hindia Belanda.
·         Kerajaan Bali melindungi perdagangan milik pemerintah Belanda.
·         Semua raja di Bali harus tunduk terhadap semua perintah kolonial Belanda.
Semua tuntutan yang diajukan pemerintah Belanda terhadap rakyat Bali ditolak sehingga pada tahun 1846 Belanda menyerang wilayah Bali Utara dan memaksa Raja Buleleng untuk menandatangani perjanjian perdamaian yang isinya antara lain sebagai berikut:
ü  Benteng Kerajaan Buleleng semoga dibongkar.
ü  Pasukan Belanda ditempatkan di Buleleng.
ü  Biaya perang harus ditanggung oleh Raja Buleleng.
Pada tahun 1848, raja-raja di Bali tidak lagi mematuhi kehendak Bali, bahkan beberapa kerajaan telah berkemas-kemas untuk menghadapi Belanda. Pos-pos pertahanan Belanda di Bali diserbu dan semua senjata dirampas oleh Gusti Jelantik. Peristiwa ini menjadikan kemarahan Belanda dan menuntut semoga Gusti Jelantik diserahkan kepada Belanda.
Pada tahun 1849, pasukan Belanda tiba dari Batavia untuk menyerbu dan menguasai seluruh pantai Buleleng dan menyerbu Benteng Jagaraga. Pasukan Bali melaksanakan perang (puputan). Kenapa dikatakan dengan Perang Puputan?, Karena perang dijiwai oleh semangat puputan yaitu perang habis-habisan. Bagi masyarakat Bali, puputan dilakukan dengan prinsip sebagai berikut:
Ø  Nyawa seorang ksatri berada diujung senjata selesai hidup di medan pertempuran merupakan kehormatan.
Ø  Dalam mempertahankan kehormatan bangsa dan negara maupun keluarga tidak dikenal istilah mengalah kepada musuh.
Ø  Menurut pedoman Hindu, orang yang mati dalam peperangan, rohnya akan masuk surga. tetapi akibatnya Benteng Jagaraga sanggup dikuasai oleh Belanda. Sejak runtuhnya Kerajaan Buleleng, usaha rakyat Bali makin lemah. Meskipun demikian, Kerajaan Karangasem dan Klungkung masih berusaha melaksanakan perlawanan terhadap Belanda.
Benteng Jagaraga berada di atas bukit, berbentuk “Supit Urang” yang dikelilingi dengan parit dan ranjau untuk menghambat gerak musuh. Selain laskar Buleleng maka raja-raja Karangasam, Mengwi, Gianyar dan Klungkung juga mengirim bala pinjaman sehingga jumlah seluruhnya mencapai 15000 orang. Semangat para prajurit ditopang oleh isteri Jelantik berjulukan Jero Jempiring yang menggerakkan dan memimpin kaum perempuan untuk menyediakan makanan bagi para prajurit yang bertugas digaris depan.
Dalam menghadapi perlawanan rakyat Bali, pihak Belanda terpaksa mengerahkan ekspedisi militer secara besar-besaran sebanyak tiga kali. Ekspedisi pertama (1846) dengan kekuatan 1.700 orang pasukan dan gagal dalam usaha menundukkan rakyat Bali. Ekspedisi kedua (1848) dengan kekuatan yang lebih besar dari yang pertama dan disambut dengan perlawanan oleh I Gusti Ktut Jelantik, yang telah mempersiapkan pasukannya di Benteng Jagaraga sehingga dikenal dengan Perang Jagaraga I. Ekspedisi Belanda ini pun juga berhasil digagalkan.
Kekalahan ekspedisi Belanda baik yang pertama maupun yang kedua, mengakibatkan pemerintah Hindia Belanda mengirimkan ekspedisi ketiga (1849) dengan kekuatan yang lebih besar lagi yakni 4.177 orang pasukan, kemudian menjadikan Perang Jagaraga II. Perang berlangsung selama dua hari dua malam (tanggal 15 dan 16 April 1849) dan mengatakan semangat usaha rakyat Bali yang heroik dalam mengusir penjajahan Belanda. 
Dalam pertempuran ini, pihak Belanda mengerahkan pasukan darat dan maritim yang terbagi dalam tiga kolone. Kolone 1 di bawah pimpinan Van Swieten; kolone 2 dipercayakan kepada La Bron de Vexela, dan kolone 3 dipimpin oleh Poland. Setelah terjadi pertempuran sengit, akibatnya Benteng Jagaraga jatuh ke tangan Belanda. Prajurit Bali dan para pemimpin mereka termasuk I Gusti Jelantik, berhasil meloloskan diri.
Perlawanan rakyat Bali tidaklah padam. Pada tahun 1858, I Nyoman Gempol mengangkat senjata melawan Belanda, namun berhasil dipukul mundur. Selanjutnya, tahun 1868 terjadi lagi perlawanan di bawah pimpinan Ida Made Rai, ini pun juga mengalami kegagalan. Perlawanan masih terus berlanjut dan gres pada awal kurun ke-20 (1905), seluruh Bali berada di bawah kekuasaan Belanda.
DAFTAR PUSTAKA
Ø  Marwati Djoened Poesponegoro.Sejarah Nasional Indonesia III.Balai Pustaka:Jakarta,2008
Ø  Drs.Supardiono.sejarah untuk SMP/MTs.CV.Gema Nusa.2010
Ø  Kemala Ekspresi. SPd.Buku didik sejarah.SMAN 1 Kec. Harau.2012