Sejarah Revolusi Perancis Dan Dampaknya Terhadap Masyarakat Perancis Serta Dunia

 

PINGKAN SEPTHALIA / S / EB
Revolusi Perancis berlangsung antara 1789-1815, yang mana kelompok demokrat dan pendukung republikanisme berusaha menjatuhkan monarki otoriter di Perancis serta memaksa Gereja Kristen Roma menjalani restrukturisasi yang radikal (Djaja, 2012:110). Sebuah revolusi besar yang mengubah tatanan pemerintahan dan kemasyarakatan Perancis. Pada waktu itu keadaan masyarakat Perancis sangat parah akhir adanya golongan-golongan dalam masyarakat. Golongan masyarakat yang menjadi penggeraknya yaitu warga kota (borjuis) yang berkeinginan menggantikan peranan kaum aristokrat dan gereja dalam pemerintahan maupun perekonomian.

Muncul semangat yang berkobar-kobar untuk Perancis dan Republik, tidak ada lagi kompromi di dalam dan di luar negeri (Wells, 2013:253). Selain kaum borjuis berkembangnya pemikiran-pemikiran gres yang dikemukakan oleh Montesquieu, Voltaire, dan J.J. Rousseau sangat mempengaruhi terjadinya Revolusi Perancis. Keinginan kaum borjuis dan para tokoh perubahan ini didukung oleh Napoleon Bonaparte yang ikut meruntuhkan monarki otoriter di Perancis.
Penyebab Umum : Lahirnya Monarki Absolut
Diawali oleh munculnya sistem ekonomi Merkantilisme yang diterapkan di negara-negara Eropa pada kurun ke-16 hingga ke-18 yang  memberi kesempatan bagi berkembangnya banyak sekali monarki otoriter di Eropa.
Hubungan antara sistem politik monarki otoriter muncul lantaran ekonomi Merkantilisme ini semakin diperkuat dengan adanya ide-ide dari para pemikir yang menandai auflklarung (pencerahan) di Eropa. Salah satu pemikiran yang dianggap menjadi landasan berpikir para penguasa monarki-monarki otoriter yaitu goresan pena berjudul II Principe dari Nicolo Machiavelli. Menurutnya, sebuah negara harus diarahkan pada bentuk Machtstaat (negara kekuasaan). Pada sebuah negara kekuasaan, seorang pemimpin (negara) dalam melaksanakan “segala tindakan”, asalkan demi kepentingan negara. Ide Machiavelli kemudian dipakai secara luas oleh para penguasa di Eropa untuk sanggup memenangkan dan memegang teguh kekuasaannya.
Selain pemikiran Machiavelli, wangsit mengenai pemerintahan raja yang begitu luas juga bergotong-royong dipengaruhi oleh konsep kepemimpinan gereja Kristen di masa tersebut, khususnya yang dikenal dengan “pontifex maximus”. Kekuasaan Paus dengan sistem pontifex maximus, mendorong para pengusung kekuasaan ingin memperoleh kekuasaan luas menyerupai yang dimiliki oleh Paus.
Penyebab Khusus : Sebab khusus yang menjadi pemicu dan mengakibatkan meletusnya Revolusi Perancis yaitu masalah keuangan negara. Penyebab-penyebab inilah yang nantinya menjadi cikal-bakal terjadinya revolusi di Prancis.
Sejarah Terjadinya Revolusi Prancis
         Pertama-pertama harus diketahui struktur Masyarakat Perancis pada kurun ke-8 terbagi dalam tiga golongan atau tingkatan (Estate). Yaitu masyarakat tingkat pertama yang terdiri dari kaum agamawan, masyarakat tingkat kedua yang terdiri dari kaum aristokrat dan selebihnya memasuki tingkatan ketiga. Dari tingkatan-tingkatan tersebut, antara tingkatan pertama dan kedua masing-masing mendapat hak-hak istimewa. Hal ini lah yang mengakibatkan ketegangan-keteganagan antar tingkatan masyarakat yang mempercepat terjadinya Revolusi. Contohnya saja hak istimewa untuk tingkatan pertama menyerupai kebebasan membayar pajak, mengumpulkan pajak atas produk-produk dari tanah;mensensor buku-buku yang dianggap membahayakan agama dan moral, dll. Hal inilah yang mebuatnya menjadi negara di dalam negara. Seperti kaum agamawan, kaum aristokrat juga mempunyai hak istimewa menyerupai dibebaskanya kaum aristokrat dari pajak, bebas menarik iuran-iuran manorial dari petani/masyarakat tingkatan ketiga.
           Hal inilah yang lantas mengakibatkan masyarakat tingkat ketiga yang terdiri dari kaum borjuis, kaum pertani dan buruh perkotaan merasa tidak puas dengan keputusan yang dibentuk oleh raja atau pemerintahan. Tindakan semena-mena raja dan golongan aristokrat inilah yang karenanya menuai protes dari banyak kalangan.
Secara garis besar kronologis berlangsungnya Revolusi Perancis terdiri dari tujuh tahapan, yaitu:
  1. Etats Generaux, yaitu dibukanya kembali Dewan Permusyawaratan Rakyat pada tanggal 5 Mei 1789.
  2. Assemblee Nationale, yaitu pembentukan Dewan Nasional oleh golongan yang mewakili rakyat, sebagai perwakilan bangsa Perancis, pada 17 Juni 1789.
  3. Constituante, pemerintahan gres (rakyat oposisi) yang menggantikan rejim pemerintahan orde usang (raja dan para bangsawan) (1789-1791).
  4. Legislatif, pemerintahan borjuis (bangsawan baru), dengan bentuk negara berupa Constitutionale Monarchie (1791-1792).
  5. Convention, pemerintahan rakyat jelata dibawah pimpinan Robespierre, dengan bentuk Negara berupa Republik (1792-1795).
  6. Directoire, kembalinya pemerintahan borjuis dengan membagi kekuasaan eksekutif kepada lima orang directeur (1795-1799)
  7. Consulat, pemerintahan yang dipimpin oleh tiga orang consul, dan mulai munculnya Napoleon sebagai seorang otoriter (1799-1804)
Adapun rincian berlangsungnya insiden Revolusi Perancis yaitu sebagai berikut :
        Sejak wafatnya raja Louis ke-XIV, Negara mengalami kekurangan kas negara lantaran raja dan para aristokrat banyak mengunakanya untuk kepentingan pribadi. Akibatnya, Negara mewajibkan para aristokrat atau masyarakat tingkatan kedua untuk ikut membayar pajak. Namun, para aristokrat menolaknya lantaran berdasarkan mereka masalah pajak yaitu problem rakyat seluruhnya. Raja Louis XVI yang ketika itu berkuasa populer dengan kepribadiannya yang polos dan lemah. Seakan tidak berdaya menghadapi tuntutan pemenuhan kebutuhan anggaran belanja negara yang terlalu besar. Dalam keadaan tertekan dan bingung, Louis XVI mengaktifkan kembali Etats Generaux (Dewan Permusyawaratan Rakyat) yang telah dibekukan pada masa pemerintahan Louis XIII. Pembukaan kembali dewan tersebut pada tanggal 5 Mei 1789, kemudian diadakanlah sidang yang diikuti oleh perwakilan dari tiga golongan/atau tingkatan masyarakat. Namun terjadi perselisihan antar golongan pada ketika Etats Generaux dilaksanakan. Hingga karenanya Sidang Etats Generaux itupun dibubarkan tanpa pengambilan keputusan apapun. Karena lemahnya imbas raja ketika persidangan Etats Generaux itulah yang dimanfaatkan oleh golongan III.17 Juni 1789 Masyarakat Golongan III di negeri Perancis yang terdiri dari para pedagang dan rakyat ini melaksanakan suatu gerakan revolusioner dan pribadi mengambil inisiatif untuk membentuk Assemble Nationale (Dewan Nasional).
       Pada tanggal 20 Juni 1789, dewan tersebut menyelenggarakan sidang pertama dan mengganti nama menjadi Assemble Nationale Constituante. (Dewan Konstitusi Nasional). Hingga pada 27 Juni, Louis XVI memerintahkan untuk kaum aristokrat dan kaum Pendeta/Agamawan untuk bergabung ke dalam Majelis Nasional. Namun banyak diantaranya yang menolak dan memaksa raja semoga memakai kekuatanya untuk melawan Majelis Nasional.
Hingga karenanya pada tanggal 14 Juli 1789 rakyat Perancis menyerbu penjara Bastile yang merupakan lambang absolutisme monarchi lantaran didalamnya dipenjarakan para pemimpin rakyat yang dulu berani menentang kekuasaan dan kesewenangan pemerintah absolute monarchi. Penyerangan atas penjara tersebut di dasarkan lantaran :
  1. Penjara Bastile merupakan gudang persenjataan dan makanan;
  2. Membebaskan tawanan politik yang sanggup mendukung gerakan revolusi;
  3. Membebaskan orang-orang tidak berdosa yang telah ditangkap dan dipenjarakan secara semena-mena ke dalam penjara Bastile.
Dengan direbutnya penjara tersebut dianggap sebagai permulaan dari revolusi dan dijadikan sebagai “Hari Nasional Perancis”. Sejak itu raja dan golongan aristokrat tidak berkuasa lagi, namun kaum borjuis yang berkuasa dan memegang tampuk pimpinan Negara. Dasar dari pemerintahan gres ini yaitu “Declaration des droits de l’homme et du citoyen”, yaitu pernyataan hak-hak insan dan warga Negara, yang diumumkan pada tanggal 27 Agustus 1789. Setelah penyusunan Undang-Undang Dasar selesai, maka tubuh Konstituante bubar pada tahun 1791 dan digantikan dengan pemerintahan yang disebut Legislatif. Selanjutnya pada tanggal 14 Juli 1790 Undang-Undang Dasar Perancis telah berhasil dirancang dan disahkan. Namun pasca Revolusi ini sering terjadi kudeta antara Kaum Borjuis (bangsawan baru) yang menginginkan Konstitusional Monarki dengan rakyat jelata yang menghendaki Negara Republik. Hingga karenanya di bawah kepemimpinan Robespiere, negara Perancis berubah menjadi sebuah Negara Republik (1792). Pada ketika pemerintahan  Robespiere inilah yang sering pula disebut dengan pemerintahan teror. Namun juga dilihat lebih jauh lagi pemerintahan inilah yang menyelamatkan negara Perancis dari keruntuhan.
Kenapa disebut sebagai pemerintahan teror. Alasanya lantaran banyak sekali kebijakan yang dikeluarkan oleh Robespiere. Kebijakan-kebijakan tersebut antara lain menyerupai :
  • Dibentuknya pemerintahan revolusioner serta Comite de Surete Generale sebagai tubuh eksekutif.
  • Adanya kebijakan Levee en masse, yang mengharuskan bagi semua orang yang sanggup bertempur untuk masuk tentara.
  • Pembersihan para penghianat negara.
  • Kekayaan milik gereja dan para aristokrat yang melarikan diri ke luar negeri disita dan dijual untuk kepentingan negara.
Namun tidak usang berselang golongan borjuis karenanya berhasil menggulingkan kekuasaan Robespiere pada tahun 1795, mereka kemudian membentuk pemerintahan Direktorat yang dijalankan oleh 5 direktur, yaitu Barra, Mouli, Gobier, Roger Ducas, dan Seiyes yang berkuasa hingga dengan 1799.Karena kepemerintahanya yang lemah dan penuh denga korup mengakibatkan pemerintahan yang diciptakan kaum borjuis ini menjadi bumerang untuk diri mereka sendiri.
Memanfaatkan hal tersebut Napoleon Bonaparte berinisiatif untuk mengambil alih bangku kepemerintahan yang ada. Pada tahun 1799, dengan kekuatan militernya Napoleon berhasil membubarkan pemerintahan Directeur dan membentuk pemerintahan gres yang disebut Consulat. Pada karenanya Perancis menjadi sebuah negara pemerintahan otokrasi yang dipimpin oleh Napoleon sebagai pucuk pimpinan pemerintahan Perancis.
Dampak-dampak Revolusi Perancis :
Revolusi Perancis sangat mempengaruhi perkembangan masyarakat Perancis, masyarakat dunia serta Indonesia. Banyak dampak-dampak yang diakibatkan oleh adanya Revolusi Perancis, baik dibidang politik, ekonomi, dan sosial. Berikut klarifikasi mengenai dampak-dampak Revolusi Perancis.
Dampak Revolusi Perancis terhadap Masyarakat Perancis

1. Dampak Revolusi Perancis dibidang politik diantaranya :

a. Berkembangannya Supremasi Hukum
Di kerajaan Perancis, Undang-Undang merupakan kekuasaan tertinggi, sehingga segala aturan didasarkan pada Undang-Undang. Namun, di masa pemerintahan Raja Louis XVI dan pemerintahan yang sebelumnya, aturan yang berlaku di Perancis tidak berlaku sama antara orang yang satu dengan orang yang lain. Ini dikarenakan adanya hak-hak istimewa yang dimiliki oleh kaum aristokrat dan kaum agamawan. Sejak masa pemerintahan Napoleon aturan disamaratakan pada setiap rakyat, sehingga tidak ada hak-hak istimewa dalam penegakan hukum. Untuk itu, Napoleon menyusun Undang-Undang yang disebut dengan Code Civil atau Code Napoleon.
b. Munculnya Pemerintahan Republik
Akibat kebijakan yang ada yakni dukungan hak istemewa terhadap kaum aristokrat dan kaum agamawan menciptakan rakyat jelata menginginkan pergantian dalam sistem pemerintahan. Yang pada awalnya  pemerintahan dilakukan secara bebuyutan dan tidak menjamin kualitas kepala negara. Oleh alasannya yaitu itulah, diharapkan perombakan dalam sistem pemerintahan yakni dengan perubahan sistem pemerintahan dari bentuk monarki otoriter menjadi republik yang mana kepala negara dipilih pribadi oleh rakyat.
c. Berkembangnya Paham Demokrasi
Dengan adanya penyusunan Undang-Undang Code Napoleon (pernyataan hak-hak asasi insan dan warga) menjadikan munculnya paham demokrasi. Dengan akreditasi terhadap hak asasi insan inilah rakyat Perancis menuntut adanya kebebasan dan persamaan hak antar manusia.
d. Meluasnya Paham Nasionalisme
Liberte, Egalite, Fraternite yaitu semboyan Revolusi Perancis yang artinya kebebasan, persamaan, dan persaudaraan. Semboyan ini menggambarkan semangat nasionalisme rakyat Perancis untuk bersatu dan melaksanakan perubahan-perubahan di segala aspek kehidupan di Perancis.
e. Timbulnya Aksi Revolusioner
Keberhasilan Revolusi Perancis dalam menumbangkan kekuasaan raja yang sewenang-wenang, sanggup menyakinkan rakyat Perancis apabila terdapat ketidakadilan dari pemerintah, rakyat sewaktu-waktu sanggup melaksanakan gerakan revolusioner.
2. Dampak Revo
lusi Perancis di bidang ekonomi diantaranya:
a. Penghapusan Gilda
Gilda merupakan perkumpulan dari pengusaha homogen yang mendapat monopoli dan proteksi perjuangan dari pemerintah. Dengan adanya pembatalan gilda, menjadikan perdagangan menjadi bebas dan mengalami kemajuan.
b. Tumbuhnya Industri yang Besar
Setelah adanya kebijakan dari Napoleon untuk mensubsidi perusahaan-perusahaan dalam negeri yang mengalami kelumpuhan pasca revolusi Perancis. Banyak munculnya perusahaan-perusahaan menengah keatas hingga perusahaan tersebut tumbuh menjadi perusahaan besar.
c. Penghapusan Sistem Pajak Feodal
Dengan dihapuskannya sistem pajak feodal, pajak yang dipungut oleh para aristokrat dan kaum agamawan semakin menurun. Ini menjadikan beban yang ditanggung oleh rakyat menjadi berkurang dan kesejahteraan rakyat Perancis pun semakin meningkat.
3. Dampak Revolusi Perancis di bidang sosial diantaranya:
a. Penghapusan Feodalisme
Dihapusnya feodalisme mengakibatkan tidak ada lagi golongan-golongan masyarakat. Golongan-golongan dalam masyarakat sendiri sangat merugikan kaum rakyat jelata, sedangkan bagi kaum aristokrat serta kaum agamawan sangat menguntungkan dalam bidang kepemilikan hak istimewa. Dengan pembatalan feodalisme ini, tidak akan ada perbedaan hak dan kewajiban antara kaum aristokrat dan rakyat jelata.
b. Munculnya Susunan Masyarakat Baru
Adanya akreditasi atas hak asasi insan menjadikan golongan borjuis yang menggantikan kedudukan kaum aristokrat dengan kaum agamawan. Adapun kaum agamawan yang mempunyai kedudukan yang sama dengan masyarakat lainnya, sehingga tidak ada lagi hak istimewa.
c. Adanya Peningkatan Pendidikan
Pendidikan yang diperluas dengan cara pemerataan terhadap pendidikan dan pengajaran diseluruh lapisan masyarakat, sehingga tingkat kecerdasaan masyarakatnya semakin meningkat.
Dampak Revolusi Perancis terhadap Dunia
1. Dampak Revolusi Perancis di bidang politik diantaranya:
a. Menyebarnya Paham Liberalisme
Di masa pemerintahan Napoleon di Perancis paham liberalisme sangat luas, baik didalam negeri maupun diluar negeri. Di banyak sekali negera Eropa dan negara-negara lainnya di seluruh dunia ikut menganut paham liberalisme. Yang mana setiap warga negara bebas memilih nasibnya sendiri, bebas bertindak, mengeluarkan pendapat, dan bebas berusaha.
b. Berkembangnya Paham Demokrasi
Kegigihan rakyat Perancis untuk merubah sistem pemerintahan menjadikan semangat bagi negara-negara di dunia bahkan Indonesia untuk memakai kekuasaan dari, oleh, dan untuk rakyat sebagai paham demokrasi. 
c. Meluasnya Paham Nasionalisme
Banyak negara-negara yang masih menerapkan sistem feodal, menyebarkan rasa nasionalisme kepada negaranya sendiri sebagai rasa cinta tanah air. Sedangkan bagi negara-negara yang masih terjajah, munculnya rasa nasionalisme rakyat menj
adi salah satu faktor yang penting guna membebaskan diri dari penjajahan dan berusaha untuk memerdekakan negaranya. Paham ini meluas juga ke Indonesia yang mana banyak para pelajar Indonesia yang mengerakkan pergerakan nasional dan membebaskan diri dari penjajahan Belanda.
d. Menyebarnya Aksi Revolusioner
Melihat kegigihan rakyat Perancis mewujudkan perubahan-perubahan terhadap pemerintah Perancis menjadi motivasi bagi negara-negara untuk melepaskan dan membebaskan diri dari kertindasan dan ketertekanan negara lain.
2. Dampak Revolusi Perancis di bidang ekonomi diantaranya:
a. Munculnya Industri-industri Besar
Setelah dukungan kebijakan yang dilakukan oleh Napoleon, banyak negara-negara di Eropa yang mengikutinya. Selain itu ditemukannya mesin uap dan perkembangan teknologi yang maju menjadikan banyaknya industri-industri besar.
b. Peralihan perdagangan
Pada awalnya kehidupan perdagangan berada di sekitar pantai-pantai di Eropa. Dengan munculnya industri-industri besar, kehidupan perdagangan beralih menuju kepedalaman yang mengakibatkan terjadinya persaingan dalam perekonomian serta tidak adanya lagi monopoli perdagangan.
3. Dampak Revolusi Perancis di bidang sosial diantaranya:
a. Penghapusan Feodalisme
Penghapusan feodalisme yang terjadi di Perancis menciptakan banyak negara-negara di Eropa mengikuti jejak Perancis. Yakni banyak negara-negara yang masih berbentuk kerajaan berubah menjadi bentuk republik.
b. Berkembangnya Pedidikan dan Pengajaran
Kebijakan pemerintah wacana pemerataan pendidikan di Perancis berdampak kepada kebanyakan negara, yang mengikuti jejak pemerintah Perancis yakni pemerataan pendidikan dan pengajaran di seluruh kalangan masyarakat di Eropa.
c. Meningkatnya Supremasi Hukum
Supremasi aturan yang berpedoman pada Code Napoleon, menjadi dasar dan pola dalam pembuatan daan pengembangan hukum-hukum yang ada di dunia. Terutama Hak Asasi Manusia sangat penting untuk dihormati dan dijunjung tinggi dalam Code Napoleon.
Kesimpulan
Revolusi Perancis merupakan cerminan ketidakpuasan sebagian besar masyarakat Perancis terhadap sistem pemerintahan yang absolut. Terjadinya Revolusi Perancis berdampak besar  di banyak sekali aspek kehidupan baik bidang politik, ekonomi, serta sosial. Dalam bidang politik muncul dan berkembangnya supremasi hukum, paham demokrasi, nasionalisme, agresi revolusioner serta bentuk pemerintahan republik. Di bidang ekonomi berdampak pada pembatalan gilda dan sistem pajak feodal, serta munculnya industri-industri besar. Sedangkan di bidang sosial munculnya susunan masyarakat baru, pemerataan pendidikan, dan pembatalan feodalisme.
DAFTAR PUSTAKA
Djaja, Wahjudi. 2012. Sejarah Eropa (Dari Eropa Kuno Hingga Eropa Modern). Yogyakarta: Penerbit Ombak
Kropotkin, P. 1927. The Great Frence Revolution, 1789-1793. New York: Vanguard Printing.
Perry, Marvin. 2013. Peradaban Barat Dari Revolusi Prancis Hingga Zaman Global. Bantul: Kreasi Wacana
Wells, H.G.. 2013. A Short History of World (Sejarah Dunia Singkat). : Indoliterasi