Sejarah Singkat Pendidikan Jerman

Titin Sumarni /SP,B/ 
            Pada dikala kekaisaran Roma tidak kunjung berhasil untuk mendapat control politik atas sebagian bangsa Jerman, di dikala bangsa Franka dan kepala dinasti Merovingian berhasil memperluas kawasan kekuasaannnya sampai Elba dan sebagian besar wilayah yang kini menjadi wilayah Prancis, Low Country dan Jerman Barat. Di sisi lain Gereja Roma menegrahkan segala daya dan upayanya untuk mendirikan sekolah di pusat-pusat populasi utama Jerman dengan mengelola sekolah biara. Tidak terlepas dari kepentingan pendidikan gereja itu sendiri maka pendidikan yang dibangunnya hanya mencakup pendidikan pendeta dan pendidikan rakyat bisa tidak di cakup.

            Karena melihat realita pendidikan di Jerman pada masa itu hanya sekedar untuk kalangan gereja, maka untuk menghilangkan paham sekuler dan non religius serta pentingnya pengetahuan akan membaca dan menulis ibarat yang dirasakan oleh bangsa kawasan pesisir di Jerman, maka mereka menginginkan adanya pendampingan guru unruuk mengarahkan mereka dalam melatih kemampuan membaca dan menulis. Berangkat dari minat masyarakat inilah hasilnya bermunculan sekolah kawasan yang mengajarkan mereka membaca, menulis, menciptakan laporan keuangan, dan dikala perdagangan berkembang, dan berguru bahasa dari bahasa bangsa lain. Mulai dikala itu perkembangan sekolah dan sekolah tinggi tinggi meningkat pesat yang didalangi oleh pemerintah kota praja setempat. Beriringan dengan itu maka sekolah-seolah latin kotapraja mulai bermunculan yang mendukung pada bidang study Yunani dan Latin Klasik sehingga memunculkan jenis khas sekolah yang dikenal sebagai Gymnasium yang nantinya jenis sekolah ini akan menjadi standar ukuran sekolah menengah di Jerman samapai sekarang.
            Pada awal era ke 15 sampai era ke 19 pertikaian antara beberapa Negara berlangsung sengit di Jerman sampai pada hasilnya tahun 1555 mereka setuju untuk mengakhiri konflik keagamaan itu dengan mengizinkan masing-masing pemimpin negara untuk menentukan agama yang dipercayainya yang lalu ditegakkan di negaranya, dan mewajibkan seluruh warga negara untuk mengikutinya. Kesepakatan ini dikenal dengan perjanjian Augsburg (Peace of Augsburg). Sementara itu negara Protestan mengambil alih tanah dan properti lain milik Gereja Kristen Roma, termasuk sekolah-sekolah. Banyak sekolah-sekolah yang akan dirubah untuk tujuan Protestan. Khususnya pembinaan pendeta, guru dan pemimpin lainnya. Seiring dengan berkembangnya antusiasme terhadap agama gres maka bermunculanlah sekolah-sekolah baru.
            Perjalanan roda pendidikan yang berjalan di Jerman khususnya negara kepingan Prusia ini tidak lapas dari dampak politik pada dikala itu, dimana Napoleon melenyapkan sebagaian kawasan Prusia, memberatiya dengan hutang besar, membatasi pasukan sampai 42.000 rang, dan menempatkan pasukan Prancis di tempatnya, oleh kaarena itu kesempatan untuk membangun negara benar-benar tertutup. Namun, pendidikan yang disediakan oleh Gymnasiendan universitas yang berkembang lewat persaingan kota praja dan negara mulai menampakkan hasilnya. Hal ini dibuktikan denan lahirnya para cendekiawan dan para penulis, diantaranya Kleist dan Fichte, dengan memulai persenjataan diri spiritual kembali.
            Dalam hal ini terdapat beberapa faktor yang turut berperan dalam kemajuan pendidkan di Jerman khususnya negara kepingan Prusia. Peran sosial, walaupun tanpa pembiayaan resmi dari negara, namun pemerintah tetap menginstruksikan terhadap gereja-gereja yang ada untuk menggiatkan proses berguru mengajarnya, sehingga inovasi-inovasi dalam pendidkan terus bermunculan, salah satunya ialah yang diprakarsai oleh Francke, Basedow, dan Salzman yang menunjukkan bahwasannya pentingnya pendidikan dalam meningkatkan derajat sosial dan moral bangsa. Pembaharuan itu juga mencakup ihwal metode dan kurikulum pendidikan.
Namun terdapat suatu pembaharuan khusus yang sangat menarik yakni pendidikan yang dikembangkan oleh Johann Heinrich Pestalozzi di Swiss, walaupun sangat religius, Pestalozzi percaya bahwa prinsip panduan yang penting untuk menyebarkan abjad yang berpengaruh dan tujuan hidup yang layak sanggup diajarkan paling baik apabila mberkembang secara induktif dari pengalaman indrawi siswa sendiri. Oleh karen itu ia berkonsentrasi pada penentuan pengalaman indrawi manakah yang paling baik memenuhi tujuannya ini serta urutan cara penyamapaiannya. Kurikulum dan meodologi yang dihasilkannya sangat mengesankan terutama para pejabat Prusia dan mereka menetapkan untuk memasukkannya pada sekolah negeri. Dan perlu diperhatikan bahwasannya sistem persekolahan di Prusia bukan merupakan hasil tuntutan rakyat, melainkan dibuat dan diadakan berdasarkan titah raja.
            Di sisi lain struktur kekuasaan dan organisasi administratif juga menawarkan andilnya dalam pembangunan jerman dan pengembangan sistem pendidikan. Pada penghujung era 18 raja semakin tertaarik oleh perkembangan sekolah yang dikelola oleh pihak gereja walaupun mereka tidak mendapat pinjaman dana dari kas pemerintah. Hal ini mengakibatkan semakin berkembangnya sekolah yang ditangani eksklusif oleh pihak pemeritah ibarat sekolah menengah dan universitas. Sekolah menengah ini menawarkan kesempatan pada rakyat untuk menjadi pemimpin dalam menyebarkan pendidikan, teknik dan ilmu pengetahuan. Namun forum atau tubuh pengurus sekolah yang pernah dibuat oleh pemerintah menjadi tidak efektif. Oleh karenanya pemerintah mengakibatkan hokum perdata untuk mengatasi itu semua sebagai wewenangnya, raja memerintahkan kepada pemerintah kawasan untuk membiayai sekolah mereka dengan membayar pajak, sekolah diwajibkan menawarkan honor yang layak bagi guru, di sisi lainm raja sendiri tidak menawarkan pinjaman dana dalam hal ini. Ulama geereja dalam hal ini menjadi penilik sekolah.
            Pada pergantian abad, sebuah komisi kerajaan dibuat untuk melaporkan perkembangan sekolah, dan alhasil mutu dari sekolah-sekolah yang tersedia mempunyai mutu yang sangat rendah dan jauh dari apa yang diharapkan. Maka taktik yang diambil ialah guru diharuskan untuk mengerjakan suatu keterampilan biar memperoleh biaya hidup. Oleh alasannya ialah itu para guru sering memakai toko atau tempat kerja untuk melaksanakan acara berguru mengajar sembari mangwasi murid-muridnya dengan bekerja. S
elain ituOberschulkollegium (badan pengurus sekolah) yang dirasa kurang efektif diganti dengan instansi nasional atau kementrian pendidikan.
Awalnya instansi ini beroperasi sebagi biro pada Kementrian Dalam Negri namun pada 1817 kepentingannya dalam upaya nasional menjadi sedemikian konkret sehingga dijadikan departemen di bawah Kementrian Agama, Pendidikan dan Kessehatan Masyarakat. Divisi-Divisi terpisah didirikan untuk mengurus pendidikan dasar, menengah dan tinggi. Sedangkan universitas merupakan forum pendidikan yang tidak berdiri sendiri atau bisa dikatakan tidak sanggup berdiri diatas kaki sendiri lantaran universitas mendapat subsidi dari kas kerajaan dan berada di bawah proteksi raja. Namun kini universitas tanggungjawabnya eksklusif dialihkan pada Kementrian pendidikan.
Sedangkan pendidikan dasar dan menengah di bawah pengawasan Kementrian Dalam Negri tingkat provinsi. Sekolah dasar dan menengah sangatbermacam-macam lantaran gereja, kotapraja, serikat pekerja, asosiasi dagang dan bahkan perseorangan diberikan hak untuk mendirikan sekolah yang di inginkan. Sehingga dibentuklah sebuah komite pendidikan untuk memusatkan acara berguru mengajar pada jenjang sekolah dasar dan menengah (Schulkollegnen). Dari komite ini muncul dua mekanisme ,pertama, mempersyaratkan guru mendapat ijazah dari Schulkollegnen dengan menetapkan jadwal studi yang harus dipelajari oleh calon-calon guru di universitas serta mempersiapkan dan melaksanakan ujian ijazah. Kedua mempersyaratkan ujian seragam untuk mengatur mengatur penerimaan ke universitas dan dilaksanakan pada tingkat provinsi.
Schulkollegnen juga berperan untuk melaksanakan pembinaan atas guru sekolah dasar, tetapi pemerintah pusat berperan aktif dan mengamban suatu tanggungjawab keuangan termasuk biaya untuk mengatur seminar guru. Selain itu sekolah dasar eksklusif berada di bawah distrik administratif (Regierungsbezirk). Unit ini juga dikepalai oleh seorang pemimpin dan dewan yang diangkat oleh Mentri Dalam Negri. Urusan pendidikan didelegasikan pada seorang anggota dewan yang disebut denganSchulrat atau penasehat sekolah. Walaupun Schulrat yang mengarahkan implementasi jadwal resmi pendidikan dasar dalam distriknya, pendirian dan penyelenggaraan sekolah yang bekerjsama masih menjadi tanggungjawab unit administratif bawah, masing-masing ialah Kreise dan Gemeinden. Gemeinden ialah distrik sekolah setempat, biasanya mencakup penduduk sebuah desa kecil. Sedangkan Kreise ialah terdiri dari beberapa Gemeinden dan sanggup disamakan dengan sebuah wilayah yang dipimpin oleh seseorang pengawas dalam hirarki gereja.
Daftar Rujukan

         Grolier International INC.2002.Negara dan Bangsa.Jakarta:PT.WIDYADARA
        
J.Zurcher Erik.2003.Sejarah Modern Jerman.Jakarta:PT.Gramedia Pustaka Utama

·                   Samuel Noah Kramer,1985,Tempat Lahir Peradaban,Jakarta:Tiara Pustaka