Sejarah Singkat Pendidkan Hindu Budha Di Indonesia

MASDI/SP

pendidikan pada hakikatnya untuk membangun peradaban bangsa melalui membangun insan seutuhnya. Pendidikan merupakan hak setiap insan untuk membangun harkat dan martabatnya dalam kehidupan sehari-hari. Dalam penyelenggaraan pendidikan, banyak faktor yang mempengaruhinya baik yang berasal dari eksternal maupun internal sistem pendidikan. Faktor-faktor yang di luar pendidikan yang seimbang antara kepentingan pemerintah dan rakyat. Selema perjalanan sejarah bangsa indonesia, aspek pendidikan merupakan satu hal yang tidak sanggup di pisahkan dari kelangsungan hidup bangsa indonesia itu

sendiri. Munculnya mjapahit dan sriwijaya sebagai kerajaan nusantara pada masanya dengan banyak sekali karya agung yang masih sanggup kita temukan hingga dikala ini hingga merdekanya bangsa ini tidak lepas dari efek pendidikan pada masa itu. Di samping itu, pendidikan di indonesia banyak mengalami perubahan dari waktu ke waktu, dari yang semula di peruntukkan untuk kalangan agamawan dan bangsawan, hingga pendidikan yang merata untuk semua kalangan. Sebelum masuknya efek hindu budha, kebudayaan indonesia orisinil pada kira-kira 1500 SM di sebut kebudayaan neolitis (neo=baru), yang sisa-sisa nya sanggup kita jumpai di pedalaman kalimantan dan sulawesi (A. Ahmadi, 1987:10). Ciri-ciri dari kebudayaan neolitis yaitu bahwa kebudayaan tersebut yaitu kebudayaan maritim (ada korelasi dengan laut).

Kepercayaan yang di anut pada dikala itu yaitu animisme dan dinamisme. Animisme yaitu kepercayaan sakti roh nenek moyang. Roh ini sangat di puja alasannya yaitu orang beranggapan bahwa nenek moyanglah yang mewariskan dan melindungi adat. Mereka percaya bahwa kesejahteraan masyarakat bergantung pada penuaian kewajiban orang seorang, ykni adat. Dinamisme artinya mempercayai adanya kekuatan ghaib (mana) pada setiap benda, baik pada benda hidup maupun pada benda mati. Masyarakat pada dikala itu bersifat gotong royong, akrab, dan statis, alasannya yaitu di dalamnya belum terdapat perbedaan-perbedaan kelas. Orang-orang tinggal dalam masyarakat-masyarakat kecil dan di pimpin oleh ketua adat yang bertugas memimpin upacara-upacara keagamaan. Setelah masuknya hindu budha ketua adt ini kelak di jadikan raja. Pengetahuan wacana badan insan yaitu pengetahuan yang luas wacana ciri-ciri badan manusia, letak dan susunan urat-urat, dan sebagainya. Hal ini terwujud dalam kemampuan pengobatan tradisional yang seringkali memakai ilmu ghaib. Dengan sistem pengetahuan yang di miliki menyerupai tersebut di atas, pada waktu itu pendidikan pada lingkungan keluarga sudah mencukupi kebutuhan, alasannya yaitu masyarakat serba bersahaja, yang menjadi pendidik yaitu ayah dan ibu. Ayah mengajarkan pengetahuan yang dimiliki kepada anak pria dan ibu terhadap anak perempuannya. Yang di anggap mempunyai kecakapan pada masa itu yaitu pintar besi dan dukun, mereka diberi gelar empu. Pandai besi yaitu seseorang yang hebat dalam pengetahuan duniawi, sedangkan dukun yaitu hebat dalam dalam pengetahuan maknawi. Para empu sanggup juga di sebut sebagai guru, alasannya yaitu merekalah yang berperan sebagai guru.
Pengaruh hindu mulai masuk ke indonesia sehabis terjadinya korelasi perdagangan antara orang-orang indonesia dengan pedagang hindu. Hubungan tersebut terjadi antara para pedagang india dengan ketua adat, golongan kaya yang bisa melaksanakan perdagangan alasannya yaitu mempunyai modal yang besar. Dari para pedagang inilah informasi wacana keadaan di india didapatkan. Gambaran pemerintahan yang di pimpin oleh seorang raja dengan sumbangan dari kasta brahmana, raja menikmati segala kebahagiaan hidup dan mempunyai status istimewah. Kenikmatan yang tergambar dari dongeng para pedagang india tersebut, serta impian untuk mencari korelasi diplomatik dengan luar negeri untuk memperlancar perdagangan, mendorong krtua adat untuk mendatangkan brahmana untuk mengatur negaranya, sehingga ketua adat dalam waktu yang singkat di nobatkan dan di sahkan menjadi raja yang berkuasa menyerupai dengan kedudukan raja di india.dalm keraton inilah mulai masuk kebudayaan hindu budha ke dalam masyarakat indonesia dan menghipnotis kebudayaan kuno. Setelah masuknya efek hindu, susunan masyarakat menjadi masyarakat feodal dan melahirkan, golongan kasta brahmanana dan ksatria, yaitu para raja dan pegawai-pegawainya dan golongan kasta waisya dan sudra, yaitu golongan rakyat biasa atau golongan yang menjamin golongan rakyat pertama. Raja dan pegawai-pegawainya mempunyai tingkatanb yang jauh lebih tinggi dari dari rakyat biasa serta menguasai tempat yang termasuk rakyatnya. Oleh brahmana, raja dinyatakan sebagai wakil dari syiwa, syiwa bermetamorfosis sebagai raja. Dalam paham hindu budha, insan hidup dalam samsara atau peroindahan jiwa yang tak berkeputusan. Ia tidak sanggup melepaskan dunia dari keduniawian.
Manusia tetap hidup di dunia ini, sehabis mati dilahirkan kembali. Manusia berasal dari debu, kemudian melalui tingkat-tingkat: debu-tanaman-hewan-sudra-ksatria-waisya-brahmana-moksyah atau sanggup bersatu dengan syiwa. Untuk mencapai moksa sanggup dicapai dengan cara bertapa. Dalam kepercayaan budha, hidup itu merupakan penderitaan. Manusia harus mencari tanggapan arti dan makna hidup yang lebih banyak mengandung sedih dari pada suka. Untuk memecahkan itu dengan delapan perjuangan yaitu: kepercayaan, pertimbangan, perkataan, perbuatan, penghidupan, usaha, samadi, dan persatuan pikiran yang positif. Sehingga insan berada dalam keadaan nirwan atau sepi dari kehendak. Dalam budha tidak ada pembagian kasta. Syiwaiasme dari hinduisme dan budhisme sebagai dua agama yang berbeda di indonesia dalam pertumbuhannya secara berdampingan nampak adanya kecendrungan, yaitu keyakinan untuk mempersatukan figur syiwa dan budha sebagai satu sumber yang maha tinggi. Perwujudan dari syncretisme tersebut terceermin dalam semboyan pada lambang negara kita, yaitu bhineka tunggal ika sebsebagai salah satu bait dari syair sotasoma karangan empu tantular dari jaman majapahit. Maknanya yaitu syiwa dan budha yaitu dewa-dewa yang diperbedakan atau binna tetapi dewa-dewa itu ika atau tunggal. Para brahmana menggantikan posisi empu di indonesia, mereka berperan sebagai guru. Brahmana menjadi insan istimewah , para empu berguru kepada mereka. Selain itu empu-empu tersebut menjadi guru dan menggantikan kedudukan brahmana. Murid-murid dari guru keraton ini terdiri dari belum dewasa raja dan bangsawan.
Sedangkan guru-guru bertapa sifatnya lebih kerak
yatan. Pada prinsipnya mereka mendekati dan menjauhi keraton dengan sembunyi di hutan-hutan untuk menghindari perselisihan dengankaum bangsawan. Tujuannya yaitu mengangkat derajat rakyat jelata. Untuk ke depannya kiprah para guru petapa ini sangat penting dalam penyebaran agama islam. Empu dan guru di anggap sebagai orang yang sakti. Sistim pendidikan yang di jalankan di sesuaikan dengan cara di india yaitu sistim guru kula atau asrama. Murid-murid tinggal serumah dengan guru, istri guru di anggap sebagai ibu. Di sini murid juga wajib melayani gurunya, alasannya yaitu guru di anggap sebagai orang yang sakti dan selamanya di hormati. Sebagai guru tidak mempunyai penghasilan yang tetap, hanya sewaktu-waktu mendapatkan suka rela dari pada orang renta wali murid. Kerajaan-kerajaan besar menyerupai sriwijaya, tarumanegara, matarm usang dan sebagainya mendasarkan pendidikannya pada agama budha, dengan tujuan tiap-tiap orang yang beragama budha biar menjadi insan yang tepat dan sanggup masuk nirwan. Dari pendidikan dasar hingga pendidikan tinggi dipegang oleh kaum brahmana. Adapun kurikulum yang di ajarkan yaitu isi buku dari agama budha. Sedangkan guru yang populer pada dikala itu yaitu darmapalah. Metode yang di terapkan yaitu murid-murid menghafalkan dan di beri buku pembelajaran untuk di hafalkan hingga benar-benar menguasai. Kepada mereka di ajarkan ilmu pengetahuan yang bersifat umum dan religius. Sifat pengajaran dan pendidikan tidak di laksanakan secara formal, sehingga setiap murid di mungkinkan untuk pindah dari guru yang satu ke guru yang lainnya dalam meningkatkan pengetahuan dan memperdalam ilmu yang telah di milikinya. Para bangsawan, ksatria, serta para pejabat kerajaan lainnya bisa mengirimkan anank-anaknya kepada para guru untuk di didik atau para guru yang di minta tiba ke istana untuk mengajar belum dewasa mereka. Pendidikan yang diutamakan yaitu pendidikan keagamaan, pememrintahan, taktik perang serta ilmu kekebalan dan kemahiran menunggang kuda dan memainkan senjata tajam. Pada kala terakhir menjelang jatuhnya kerajaan hindu di indonesia, sitem pendidikan tidak lagi dijalankan secara besar-besaran menyerupai sebelumnya, tetapi dilakukan oleh para guru kepada para siswa dalam jumlah terbatas dalam padepokan atau asrama. Dengan demikian usia pendidikan hampir di pastikan sama tuanya dengan insan itu sendiri. Perjalanan sepanjang perkembangan pendidikan di indonesia sanggup di telusuri semenjak saman hindu dan budha pada kala ke-5 masehi. Dari perkembangan semenjak zaman itu telah diperoleh citra bahwa pendidikan telah berlangsung sesuai dengan tuntutan zaman yang berbeda-beda dengan adaptasi dengan ideologi, tujuan serta sistem pelaksanaannya. Kriteria zaman hindu dan budha, perkembangan pendidikan di sesuaikan dengan sentra pertumbuhan masyarakat hindu dan budha yang berkembang bersama kerajaan besar yang ada di pulau jawa dan sumatera. Kemudian kedua agama yaitu hindu dan budha tersebut berkembang ke banyak sekali negara di asia timur dan asia tenggara termasuk ke indonesia yang kesudahannya menghipnotis kebudayaan indonesia begitu juga pendidikan yang di ajarkan hindu dan budha.
Hindu budha di indonesia bersahabat di awali dari kemunculan beberapa kerajaan di kala ke-5 masehi, antara lain yaitu; kerajaan hindu dan kutai dengan rajanya mulawarman, putra aswawarman atau cucu kudungga. Di jawa barat muncul kerajaan hindu tarumanegara dengan rajanya purnawarman. Pada dikala itu, keberadaan pulau jawa telah di sebut ptolomeus (pengembara asal alexandria-yunani) dalam catatannya dengan sebutan yabadiou dan demikian pula dalam epik ramayana eksistensinya dinyatakan dengan sebutan yamadwipa. Pada masa itu pendidikan terkait dengan agama. Agama hindu di sebarkan oleh bangsa arya atau bangsa pendatang sehabis masuk melalui celah yang memisahkan antara eropa dan asia. Dan pada dikala itu bangsa arya merasa sangat nyaman untuk tinggal di india alasannya yaitu india yaitu termasuk tempat yang sangat subur sehingga bangsa srya mengalahkan bangsa arya atau bangsa dravida. Perbedaan bangsa arya dengan bangsa dravida terdapat pada bab fisiknya, yaitu bangsa arya berkulit putih sedangkan bangsa dravida berkulit hitam. Hindu mengenal pembagian masyarakat atas kasta-kasta tertentu, yaitu brahmana, ksatria, waisya,dan sudra. Pembagian tersebut di dasrkan pada kiprah atau pekerjaan mereka. Brahmana bertugas mengurus soal kehidupan keagamaan, yang terdiri dari para pendeta. Ksatria berkewajiban menjalankan pemerintahan termasuk ketahanan negara, terdiri dari raja dan keluarganya, para darah biru danprajurit. Waisya bertugas berdagang, bertani, dan berternak terdiri dari para pedagang. Sudra bertugas sebagai petani atau peternak, para pekerja atau buruh dan budak, merupakan para pekerja besar. Agama budha yaitu sebuah agama dan filsafat yang berasal dari anak benua india dan mencakup bermacam-macam tradisi kepercayaan, dan praktik sebahagian besar berdasarkan pada aliran yang di kaitkan dengan siddarta gutama, yang di kenal secara umum sebagai sang budha atau berarti yang telah sadar dalam bahasa sangskerta dan pali. Setiap aliran budha berpegang pada triptaka sebagai referensi utama alasannya yaitu di dalamnya tercatat sabda dan aliran budha guatama. Pengikutnya kemudian mencatat dan mengklasifikasikan aliran dalam tiga buku yaitu sutta pitaka, vinaya pitaka, dan abidhama pitaka. Agama budha tumbuh di india tepatnya di bab timur laut. Agama budha muncul sebagai dominasi golongan brahma atas aliran dan ritual keagamaan dalam masyarakat india.
Sriwijaya menjadi kerajaan besar yaitu alasannya yaitu kehidupan sosial masyarakatnya meningkat dengan pesat terutama dalam bidang pendidikan dan hasilnya terbukti sriwijaya menjadi sentra pendidikan dan penyebaran agama budha di asia tenggara. Hal ini sesuai dengan informasi i-tsing pada kala ke-8 bahwa sriwijaya terdapat 1000 pendeta yang berguru agama budha di bawa bimbingan pendeta budha populer yaitu sakyakirti. Disamping itu juga pemuda-pemuda sriwijaya juga mempelajari agama budha dan agama lainnya di india, hal ini tertera dalam prasati nalanda. Kemajuan di bidang pendidikan yang berhasil dikembangkan sriwijaya bukanlah suatu hasil perkembangan dalam waktu yang singkat tetapi semenjak awal pendirian sriwijaya, raja sriwijaya selalu tampil sebagai pelindung agama dan menganut agama yang taat. Sebagai raja yang taat maka raja sriwijaya juga memperhatikan kelestarian lingkungannya (seperti yang tertera dalam prasati talang tuo) dengan tujuan untuk meningkatkan kemakmuran rakyatnya. Dengan demikian kehidupan sosial ekonomi masyarakat sriwijaya sangat baik dan makmur, dalam hal ini tentunya juga diikuti oleh kemajuan dalam bidang kebudayaan. Kemajuan dalam bidang budaya bsampai kini sanggup diketahui dalam peninggalan-peninggalan suci menyerupai stupa, candi atau patung arca budha menyerupai ditemukan di jambi, muara takus, dan gunung renta (padang lawas) serta di bukit siguntung (palembang). Kerajaan holing atau (chopo) kerajaan ini ibubkotanya berjulukan chopo (nama china), berdasarkan bukti-bukti china pada kala ke-5M. Mengenai kerajaan holing secara pastinya belum sanggup dipastikan. Ada beberapa argumen yang menyebutkan letak kerajaan ini, ada yang menyebutkan bahwa ini terletak di semenanjung malay, di jawa barat dan di jawa tengah. Tetapi letak yang paling mingkin ada di tempat pekalongan dan plawangan di jawa tengah. Hal ini berdasarkan catatan perjalanan dari china. Kerajaan holing yaitu kerajaan yang terpengaruh oleh agama budha. Sehingga holing menjadi sentra pendidikan agama budha. Holing sendiri mempunyai pendeta yang populer yang berjulukan janabadra. Sebagai sentra pendidikan budha menjadikan seorang pendeta d
ari china menuntut ilmu di holing. Pendeta itu berjulukan Hou ei- ning ke holing, ia ke holing untuk menerjemahkan kitab hinayana dari bahasa sangskerta ke bahasa china pada 664-665. Dengan bertambahnya populasi penduduk dan meningkatnya  standar pendidikan yang di pegang oleh kaum brahmana, secara berlahan muncullah sistem birokrasi, yang tersusun atas: hierarki keabadian kerajaan, darah biru dan tuan tanah, di masa kerajaan hindu budha. Masuknya kebudayaan india ke indonesia telah membawah efek terhadap perkembangan kebudayaan di indonesia. Kebudayaan yang tiba dari india telah mengalami proses adaptasi dengan kebudayaan orisinil indonesia. Terjadilah proses akulturasi. Pengaruh kebudayaan hindu budha di indonesia sanggup di lihat dari peningalan-peninggalan sejarah dalam banyak sekali bidang, antara lain yaitu:
ü  Bidang agama, dibuktikan dengan berkembangnya agama hindu dan budha di indonesia.
ü  Bidang politik dan pemerintahan, sistem pemerintahan yang berlaku di indonesia masih masih berupa pemerintahan kesukuan yang di pimpin oleh seorang kepala suku. Kemudian masuknya efek india membawa efek pada terbentuknya kerajaan yang bercorak hindu budha di indonesia.
ü  Bidang pendidikan, lembaga-lembaga pendidikan semacam asrama merupakan buktii dan efek dari kebudayaan hindu-budha forum tersebut mempelajari satu bidang saja, yaitu keagamaan.
ü  Bidang sastra dan bahasa, efek hindu budha pada bidang sastra memakai bahasa sankskerta dan karakter pallawa oleh masyarakat india.
ü  Bidang seni tari, relief-relief yang terdapat pada candi borobudur dan prambanan menawarkan adanya bentuk tarian yang berkembang pada dikala itu.
ü  Hiasan pada candi atau sering di sebut relief yang terdapat pada candi-candi di indonesia.
ü  Wujud akulturasi pemujaan arwah leluhur dengan aliran hindu budha yang sanggup di lihat dari bentuk arca dan patung yang di tempatkan pada dinding-dinding candi.
Pendapat mengenai proses masuk dan berkembangnya kebudayaan hindu budha di indonesia, yaitu hipotesis brahmana dan teori arus balik. Masuk dan berkembangnya agama dan kebudayaan hindu-budha membawa efek besar di banyak sekali bidang. Kerajaan-kerajaan yang bercorak hindu-budha di indonesia. Setiap kerajaan di pimpin oleh seorang raja yang mempunyai kekuasaan mutlak dan turun temurun. Kerajaan itu adalah: kerajaan kutai, kerajaan tarumanegara, kerajaan sriwijaya, mataram kuno, kerajaan singasari, kerajaan majapahit. Masuknya kebudayaan india ke indonesia telah membawa efek terhadap perkembangan kebudayaan di indonesia. Namun kebudayaan indonesia tidak begitu luntur. Kebudayaan yang tiba dari india mengalami proses adaptasi dengan kebudayaan, maka terjadilah proses akulturasi kebudayaan.
Daftar pustaka
–           Rifa’i, muhammad. 2011. Sejara Pendidikan Nasional dari Masa Klasik hingga Modern. Yogyakarta: Ar-Ruzz Media.
–           Verhaak, 1987. Sejarah Perkembangan Iman dari Awal Sampai Dengan Masa Kini dan Sejarah Perkembangan Iman di Indonesia. Yogyakarta. Sekolah Tinggi Filsafat.
–           Iwan Setiawan dkk, wawasan sosial, Jakarta: Pusat Perbukuan Dapertemen Pendidikan Nasional Indonesia, 2008