Sejarah Terbentuknya Australia Barat

DEVI ANGGRAENI / S. AUS
Latar Belakang Terbentuknya Australia Barat
Selama masa ke-17 dan ke-18 pantai barat Australia menerima banyak kunjungan pelaut-pelaut Belanda dalam pelayaran mereka dari dan ke Indonesia, terutama sesudah pelayaran Brouwer. Pelaut Inggris yang pertama sekali mengunjungi tempat ini yaitu William Dampier. Dua kali Dampier mengunjungi tempat ini, yang pertama dengan kapal Cygnet, ia mengunjungi Buccaneers Archipelago, dan yang kedua dengan kapal Roebuck ia mencapai pantai yang diberi nama Shark Bay. Sampai pada ketika itu, baik Belanda maupun

Inggris belum berniat menduduki tempat tersebut.Dalam masa ke -18, ekspedisi penyelidikan ilmiah Perancis di bawah pimpinan Baudin, melaksanakan penyelidikan dan pemetaan terhadap banyak pantai belahan barat Australia. Kunjungan kapal-kapal Peracis ke Australia ini menimbulkan kecurigaan Inggris, lantaran selain mengunjungi pantai Australia Barat, pelaut-pelaut Perancis sering juga berlayar di Selat Bass.[1]

Setelah menduduki bagian-bagian tertentu dari Australia, tentu Inggris tidak mau ada bangsa lain yang menduduki Australia. Ketakutan didahului oleh Perancis, mendorong gubernur New South Wales, Darling, mengirimkan Mayor Lockyer beserta pasukan pada tahun 1827 untuk mendirikan pos di Albany atau King George Sound. Pada tahun 1827 itu juga, Kapten James Stirling, dengan memakai kapal_H.M.S. Success menilik tempat Swan River. Nama Swan River ini sebetulnya diberikan oleh seorang orang Belanda berjulukan Vlaming.Ketika Vlaming mengunjungi tempat itu ia melihat di sana homogen bebek berwarna hitam yang dalam bahasa Belanda diungkapkan dengan ” Een soorte van swarte swanen “, sehingga ia menyebut tempat itu dengan Swanerevier. Rupanya Stirling sangat tertarik pada apa yang dilihatnya, lebih-lebih lantaran jago botani yang menyertainya, Fraser, memperlihatkan citra yang bersemangat ihwal keindahan sungai dan kebaikan tanahnya. Dalam laporan resmi maupun dalam surat-surat pribadi untuk mensugesti orang-orang, James Stirling menyampaikan betapa tingginya nilai tempat yang ditemukannya itu. Ia menyampaikan tempat itulah yang paling menarik dari seluruh tempat yang pernah dilihatnya. Menurut dia, tempat Swan River memenuhi segala persyaratan sebagai tempat pemukiman, lantaran itu jangan hingga dibiarkan terlalu usang tidak diduduki. Setelah mendapatkan laporan dari Stirling, gubernur Darling sangat menginginkan biar di tempat Swan River segera dibuka koloni. Berdasarkan laporan Stirling, Darling beropini bahwa kemungkinan pengembangan pemukiman di Swan River jauh lebih baik dari pada pemukiman yang telah dimulai oleh Lockyer di Albany. Untuk mewujudkan keinginannya itu Darling menyuruh James Stirling ke Inggris, biar sanggup memberikan secara eksklusif kepada pemerintah Inggris ihwal kebaikan dan kemungkinan pengembangan tempat Swan River.Namun sekalipun dilengkapi dengan rekomendasi besar lengan berkuasa dari gubernur Darling, usahaa Stirling membujuk pemerintah Inggris biar membuka koloni di Swan River, tidak berhasil, terutama lantaran faktor biaya. Gagal membujuk pemerintah, Stirling kemudian mendekati orang-orang pemilik modal. Dengan penuh semangat ia menceritakan keindahan sungai yang ditemukannya serta kekayaan dan kesuburan tananhnya. Kali ini ia berhasil, dan beberapa orang kaya memutuskan untuk membuka koloni baru, koloni yang berbeda dengan yang sebelumnya. Diputuskan untuk tidak membawa narapidana, akan tetapi akan membawa pekerja keras. Koloni yang akan dibuka itu bukan “convicts settlement” tetapi koloni tempat menginvestasikan modal.[2]
Tokoh populer dari planning gres ini yaitu Thomas Peel. Ia membentuk satu sindikat atau kongsi yang akan mempersiapkan 10.000 emigran ke Swan River. Bersama rombongan pertama, berangkat juga Kapten Stirling yang di angkat menjadi letnan gubernur koloni gres itu. Rombongan pertama ini tiba pada tahun 1829 dan mandarat di akrab kota yang kini berjulukan Fremantle. Setelah menilik tempat yang baik bagi kedudukan ibu kota, Stirling memutuskan menetap di suatu tempat yang kini berjulukan Perth, sedikit di sebelah utara Fremantle. Dari sinilah berkembang tempat yang kini dikenal sebagai negara belahan (state) Australia Barat (Western Australia). 2.2 Perkembangan Koloni Australia Barat Setelah rombongan pertama ini, menyusul rombongan-rombongan berikutnya. Dalam enam bulan pertama saja sudah ada 1.300 penduduk di pemukiman gres itu tolong-menolong dengan ternak (sapi), biri-biri, alat-alat serta benih-benih tanaman. Lebih dari setengah juta arce tanah telah dibagi- bagikan, akan tetapi hanya sedkit dari tanah itu yang di jadikan tanah pertanian. Tidak seluruh tanah yang sudah di bagikan itu di tempati. Di sini mereka menghadapi masalah. Sumber pertama problem yaitu keterbatasan tanah yang baik. Ternyata tidak tersedia cukup banyak tanah yang baik sesuai dengan yang di harapkan. Sumber kedua yaitu budi yang keliru dalam hal pembagian tanah. Orang yang membagikan uang paling banyak diberi kesempatan pertama untuk menentukan lokasi tanah yang menjadi miliknya. Tentu saja mereka ini menentukan lokasi yang paling akrab ke Perth, dan pilihan mereka jatuh pada tanah-tanah yang terbaik. Dengan demikian, mereka yang hanya mempunyai modal kecil akan menerima tanah yang jauh dari Perth, jauh dari pusat, dengan kondisi alat-alat komunikasi yang sangat miskin. Mereka hidup terpencar-pencar dengan jarak yang cukup berbahaya jikalau menerima serangan dari pihak lain, contohnya penduduk asli.[3]
Sementara itu para imigran itu juga keliru menafsirkan pengertian dana atau uang yang diinvestasikan untuk membuka koloni itu. Beberapa di antara mereka mengira bahwa semua harga yang di bawa ke koloni itu akan dihitung sebagai dana yang diinvestasikan membuka koloni itu, sehingga mereka membawa kursi- kursi, piano, dan alat-alat rumah tangga lainnya, sedangkan di sana mereka belum mempunyai rumah, dan juga tidak mempunyai alat untuk mengangkut barang-barang itu dari pantai. Akhirnya banyak barang-barang itu yang di tinggalkan saja di pantai hingga rusak. Dapat di bayangkan bahwa pada permulaan berdirinya koloni Australia Barat ini, banyak imigran yang kecewa. Masalah lain yang tidak kurang parahnya, yaitu problem akhir kekurangan tenaga pekerja. Bersama dia, Peel membawa 300 orang pekerja. Namun harus diingat bahwa mereka ini yaitu pekerja bebas. Mereka menuntu upah yang tinggi. Dan apabila mereka sudah cukup usang bekerja serta rajin menabung, dan hasil tabungannya itu mereka sudah bisa membeli tanah sendiri, kemudian meninggalkan majikannya. Peel menerima 250.000 arce tanah sesuai dengan jumlah uang yang diinvestasikannya, namun ia tidak bisa mengolah semua nya itu lantaran tidak mempunyai tenaga kerja yang cukup. Kurang pengalaman sebagai pioni
r, menimbulkan Peel menjadi majikan tanpa pembantu. Ternak-ternaknya pun menghilang tanpa bisa dijaga. Faktor lain yang menghambat kemajuan koloni gres itu yaitu perilaku para imigran yang tiba bukan untuk menjadi petani atau peternak, tetapi lebih suka menjadi spekulan. Mereka tiba menuntut tanahnya, kemudian menjualnya lagi untuk memperoleh keuntungan, para pegawai pun dibayar dengan tanah, namun tidak mengusahakannya. Petani yang sungguh-sungguh mau berusaha tidak mendapatkan tanah yang baik, dan kalau mereka mendapatkanya, mereka tidak mempunyai pekerja. Secara teoritis, seorang petani paling sedikit mempunyai dua hal, yaitu tanah yang baik dan pekerja yang cukup.Kondisi ibarat diuraikan di atas itu, menimbulkan banyak pihak yang menyampaikan bahwa misi Peel lebih akrab untuk dikatakan gagal daripada berhasil. Gambaran awal koloni itu kiranya akrab direfleksikan oleh perkembangan penduduk hingga tahun 1832. Penduduk yang berjumlah 1.300 dalam tahun 1829 berkembang menjadi 4.000 dalam tahun 1830, akan tetapi menurun lagi menjadi 1.500 pada tahun 1832 (Scott, 1943). Gambaran di atas juga juga sekaligus menujukkan bahwa koloni itu tidak mati. Stirling yang memerintah hingga tahun 1838 berusaha mengiatkan eksplorasi untuk mendapatkan lagi tanah-tanah yang lebih cocok, baik untuk pertanian maupun untuk peternakan. Secara lambat koloni itu berkembang. Di sekitar tahun 1840 ternak sudah mencapai jumlah lebih besar 30.000 ekor, terutama biri-biri yang pada ketika itu itu sangat menguntungkan. Jumlah penduduk sudah naik lagi menjadi 2.350 orang. Namun dalam tahun 1842 terjadi lagi kejutan dalam perkembangan koloni itu. Pada tahun itu pemerintahan Inggris mengeluarkan satu hukum (undang-undang) yang berisi bahwa tanah-tanah di seluruh koloni Australia tidak akan di jual di bawah haraga £ 1per arce, termasuk di Australia Barat. Peraturan ini menimbulkan para imigran enggan memasuki Australia Barat, lantaran orang akan lebih tertarik membeli tanah di tempat pantai timur atau tenggara Australia dari pada di belahan barat, lantaran tanah-tanah di sana relatif lebih baik. Dengan demikain dana untuk mengangkut tenaga kerja ke Australia Barat menjadi seret lantaran dana untuk itu bersumber dari hasil penjualan tanah. Pada kesudahannya Australia Barat mengambil langkah ” berani “. Pada tahun 1848 gubernur yang gres saja diangakt, Sir Charles Fitzgerald, menciptakan planning gres untuk mengatasi kekurangan tenaga kerja dengan kemungkinan mendapatkan narapidana. Fitzgerald menyadari bahwa dari semula Australia Barat tidak mendapatkan narapidana, dan pada ketika itu (tahun 1840-an) koloni- koloni lain sudah mulai menolak transportasi narapidana. Untuk itu ia menayakan kepada para tokoh utama penduduk bebas, apakah bersedia mendapatkan narapidana. Untuk beberapa bulan lamanya Fitzgerald berusaha meneliti kemungkinan pelaksaan rencananya itu. Pada awal tahun 1849 diadakan rapat umum di Perth dalam mana disetujui satu revolusi kepada pemerintah Inggris untuk menjadikan Australia Barat sebagai tempat mentransportasikan narapidana. Pemerintah Inggris mendapatkan revolusi tersebut, kemudian mengirimkan narapidana kesana. Rombongan pertama tiba dalam bulan Juni 1850. Pada ketika itu, koloni-koloni lain, kecuali Tasmania, sudah menolak sistem narapidana tersebut. Memang pengalaman di koloni lain memperlihatkan bahwa sistem narapidana itu menimbulkan banyak sekali komplikasi. Namun khusus buat Australia Barat, apakah mungkin koloni ini bisa berkembang tanpa tenaga kerja? Bahkan ketika Tasmania pun pada tahun1852 menghapuskan sistem narapidana itu, Australia Barat masuh meneruskannya. Satu hal perlu diingat, bahwa dalam planning yang gres transportasi narapidana itu di usahakan biar setiap pengiriman narapidana harus di imbangi dengan pengiriman penduduk bebas, dan dihentikan mengirimkan narapidana wanita. Kedatangan rombongan narapidana itu sempurna sekali waktunya lantaran banyak penduduk meninggalkan koloni itu terbawa arus ” gold rush ” ke New South Wales dan Victoria
Australia Barat mendapatkan transportasi narapidana hingga tahun 1868. Selama 18 tahun itu tercatat kemajuan yang menggembirakan. Jumlah penduduk dan biri-biri di koloni itu naik hingga lima kali, luas tanah pertanian bertambah hingga sepuluh kali dan nilai ekspor meningkat terus. Bangunan-banguan untuk kepentingan umum, jalan-jalan serta jembatan- jembatan, semuanya di bangkit dengan memakai tenaga kerja narapidana tersebut. Di pihak lain pemerintah Inggris mengeluarkan biaya yang cukup tinggi untuk mentransportasikan sekitar 600 orang narapidana dan 300 orang penduduk bebas tiap tahun ke koloni itu. Dalam menelaah perkembangan Australia Barat, perlu juga di sadari betapa besarnya jasa para penjelajah yang membukakan tabir diam-diam koloni yang luas itu kepada penduduknya. Dalam kaitan ini sangat populer para penjelajah Gregory bersaudara, A.C. Gregory, H.C. Gregory, dan F.T Gregory, juga bersaudara Forrest, John Forrest dan Alexander Forrest. Di tambah dengan Ernest Giles, para penjelajah inilah yang membukakan tabir diam-diam sebagian besar tempat Australia Barat kepada penduduknya. Tanpa ke enam orang tersebut, penduduk Australia Barat hanya mengetahui tempat pantai, dari Shark Bay hingga ke Albany. Kondisi tempat pedalaman Australia Barat yang sebagaian besar terdiri dari gurun pasir, menimbulkan koloni ini pada mulanya terasing dari koloni- koloni yang lain di belahan timur benua Australia. Namun keterasingannya itu secara berangsur-angsur dikurangi dengan pembangunan secara komunikasi. Pada tahun 1877 telegraf yang menghubungkan Perth dengan Adelaide selesai dibangun dan dengan sendirinya juga menghubungkan Australia Barat dengan tempat-tempat lain, dengan mana Adelaide berhubungan. Dalam wilayah Australia Barat sendiri semenjak tahun 1871 mulai dibangun jaringan jalan kereta api. Sampai tahun 1893 sepanjang 203 mil jalan kereta api sudah selesai dibangun. Dengan demikian penetrasi pemukiman ke arah pedalaman lebih mungkin dilakukan lantaran sarana perhubungan ke tempat pedalaman dari tempat pantai, sudah tersedia.
Demikianlah Australia Barat berkembang sangat lambat. Koloni yang tadinya tidak menghendaki “convict system” kesudahannya menjadi koloni yang paling final meninggalkan sistem itu. Australia Barat jugalah koloni yang paling belakangan melaksanakan pemerintahan sendiri yang ditawarkan oleh pemerintahan Inggris menurut Colonies Government Act tahun 1850. Australia Barat gres melaksanakannya pada tahun 1890 sementara koloni- koloni lainnya sudah melaksanakannya semenjak tahun 1850-an. Kemajuan Australia Barat kemudian ditentukan juga oleh ditemukannya kandungan emas yang kaya di Coolgardie (1892) dan di Kalgoorlie (1893). Puluhan ribu orang berbondong-bondong pindah ke Australia Barat, dan semuanya ini turut mewarnai perjalanan sejarah tempat ini.[4]
                   Daftar Pustaka
[1] Siboro, J. 1996. Sejarah Australia. Bandung: Tarsito.
[2] Ani soetjioyo,2005. Indonesia – australia, Granit Universitas indonesia.
[3] Hanckey. 2007. Sejarah Australia dan Oceania.
[4] David reeve, 1989, sejarah australia, PT gramedia, jakarta.