Sekilas Sejarah Kebangkitan Nasional

MIA NOVRIANTI/SI IV
I.Pendahuluan
Kebangkitan nasional yakni masa di mana bangkitnya rasa dan semangat persatuan, kesatuan dan nasionalisme serta kesadaran untuk memperjuangkan kemerdekaan Indonesia yang sebelumnya tidak pernah muncul selama masa penjajahan. Dalam masa ini muncul sekelompok masyarakat Indonesia yang menginginkan adanya perubahan lantaran penindasan dan penjajahan. Kebangkitan nasional Indonesia ditandai dengan berdirinya organisasi Budi Utomo. Tanggal 20 Mei 1908 yakni hari lahirnya organisasi sosial pertama di Indonesia, Budi Utomo. Tanggal kelahiran Budi Utomo dianggap sebagai mulainya kebangkitan nasional lantaran memakai seni manajemen usaha yang gres dan berbeda dengan usaha sebelumnya.
Perjuangan sebelumnya ada kelemahannya karena:
  1. Perlawanan secara sporadis dan tidak serentak.
  2. Perlawanan dipimpin oleh pimpinan karismatik sehingga tidak ada yang melanjutkan.
  3. Sebelum masa 1908 perlawanan memakai kekerasan senjata.
  4. Para pejuang di mencerai-beraikan oleh penjajah.
Perjuangan bangsa Indonesia setelah tahun 1908:
  1. Perjuangan dilakukan dengan memakai organisasi, bukan memakai kekerasan.
  2. Para pemimpin berasal dari kaum intelektual, bukan raja atau sultan.
  3. Rasa persatuan dan kebangsaan sudah mulai tumbuh. Perjuangan tidak bersifat kedaerahan lagi.
Keberadaan Budi Utomo tidak bisa dilepaskan dengan adanya politik etis dari pemerintah kolonial Belanda. Program Tanam Paksa (Cultuur Stelsel) bisa mengatasi kekosongan kas Belanda. Orang Indonesia berjasa dalam pemulihan perekonomian negeri Belanda. Van Deventer beropini jikalau kebaikan kebijaksanaan harus dibayarkan kembali derngan peningkatan kesejahteraan rakyat. Salah satu dari balas kebijaksanaan tersebut melalui edukasi atau pendidikan. Pemerintah Belanda menciptakan aktivitas politik etis khususnya dalam bidang edukasi. Adanya politik etis dalam bidang edukasi bermunculan kaum intelektual pribumi. Kaum intelektual inilah yang menjadikan adanya pembaharuan dalam mewujudkan harapan kebangsaan yang direalisasikan melalui bentuk pergerakan modern yang disebut sebagai pergerakan nasional.
II. Budi Utomo
Dalam penerapan politik etis terkandung di dalamnya usaha memajukan pengajaran dan pendidikan bagi generasi muda di Indonesia. Salah satu hambatan dalam memajukan bidang pendidikan lantaran terbatasnya anggaran dana. Hal ini menyebabkan keprihatinan bagi dr.Wahidin Sudirohusodo sehingga melaksanakan kegiatan menghimpun dana dengan melaksanakan propaganda berkeliling di Jawa tahun 1906.
dr. Wahidin Sudirohusodo (1857-1917) merupakan pembangkit semangat organisasi Budi Utomo. Sebagai lulusan sekolah dokter Jawa di Weltvreden (sesudah tahun 1900 dinamakan STOVIA), ia merupakan salah satu tokoh intelektual yang berusaha memperjuangkan nasib bangsanya. Pada tahun 1901 dr. Wahidin Sudirohusodo menjadi eksekutif majalah Retnodhoemilah (Ratna yang berkilauan) yang diterbitkan dalam bahasa Jawa dan Melayu, yang dikhususkan untuk kalangan priyayi. Hal ini mencerminkan perhatian seorang priyayi terhadap masalah-masalah dan status golongan priyayi itu sendiri. Ia juga berusaha memperbaiki masyarakat Jawa melalui pendidikan Barat. Ia juga berusaha memperbaiki masyarakat Jawa melalui pendidikan barat. Beliau menghimpun beasiswa semoga sanggup memperlihatkan pendidikan modern atau barat kepada golongan priyayi Jawa dengan mendirikan Studie Fonds atau Yayasan Beasiswa.
Ide dr. Wahidin Sudirohusodo selanjutnya menarik perhatian seorang mahasiswa School tot Opleiding voor Inlandsche Arsten (STOVIA) berjulukan Sutomo. Akhirnya Sutomo mendirikan sebuah organisasi yang berjulukan Budi Utomo. Budi Utomo merupakan organisasi modern pertama kali di Indonesia yang didirikan pada tanggal 20 Mei 1908. Corak gres yang diperkenalkan Budi Utomo yakni kesadaran lokal yang diformulasikan dalam wadah organisasi modern dalam arti bahwa organisasi ini mempunyai pemimpin, ideologi yang jelas, dan anggota.
Namun tidak semua golongan priyayi mendukung berdirinya Budi Utomo tersebut. Hal ini disebabkan kaum priyayi birokrasi dari golongan bangsawan atau aristikrat mengadakan reaksi jikalau gerakan tersebut mengancam kedudukan kaum aristokrasi yang menginginkan situasi status quo, yaitu keadaan yang sanggup menjamin kepentingan mereka. Gerakan kaum terpelajar tersebut akan membawa perubahan dalam struktur sosial sehingga kaum intelektual akan mengurangi ruang lingkup kekuasaan elite birokrasi. Meskipun kaum intelektual pada masa awal pergerakan nasional didominasi kaum priyayi, namun Budi Utomo dapatmembahayakan kedudukan kaum feodal konservatif terkait status sosialnya.
Program utama dari Budi Utomo yakni mengusahakan perbaikan pendidikan dan pengajaran. Programnya lebih bersifat sosial disebabkan ketika itu belum dimungkinkan didirikannya organisasi politik lantaran adanya aturan  yang ketat dari pihak pemerintah Hindia Belanda. Disamping itu, pemerintah Hindia Belanda sedang melaksanakan aktivitas edukasi dari politik ethis sehingga terdapat kesesuaian kedua program.  Budi Utomo merupakan organisasi pelajar dengan para pelajar STOVIA sebagai pada dasarnya dengan gerakan awal jangkauannya hanya terbatas pada Jawa dan Madura. Jangkauan wilayah yang terbatas ini, menjadikan Budi Utomo dianggap sebagai organisasi yang bersifat kedaerahan, lantaran salah satu programnya berbunyi ” de harmonische ontwikkeling van land en volk van Jawa en Madura”  (kemajuan yang serasi bagi nusa Jawa dan Madura). Dengan demikian, mencerminkan kesatuan manajemen kedua pulau tersebut yang meliputi juga masyarakat Sunda yang kebudayaannya mempunyai kaitan dengan Jawa meski yang digunakan sebagai bahasa resmi organisasi yakni bahasa Melayu. Budi Utomo tidak pribadi
terjun dalam lapangan politik mudah lantaran dalaam rangka seni manajemen dan menyesuaikan dengan situasi dan kondisi pada waktu itu sehingga Budi Utomo lebih berorientasi kultural.
Pada tanggal 5 Oktober 1908, Budi Utomo mengadakan konggresnya yang pertama di Yogyakarta. Konggres ini berhasil menetapkan tujuan organisasi yaitu ; Kemajuan yang serasi antara bangsa dan negara, terutama dalam memajukan pengajaran, pertanian, peternakan dan dagang, tehnik, industri serta kebudayaan. Sebagai ketua Pengurus Besar yang pertama terpilih R.T Tirtokusumo, Bupati Karanganyar sedangkan anggota-anggota Pengurus Besar pada umumnya pegawai pemerintahan atau mantan pegawai pemerintahan dengan sentra organisasi berada di Yogyakarta. Pengurus hasil konggres ini merupakan dewan pimpinan yang didominasi oleh para pejabat generasi bau tanah yang mendukung pendidikan yang semakin luas dikalangan priyayi dan mendorong pengusaha Jawa.
Setelah harapan Budi Utomo menerima proteksi semakin luas dikalangan cendekiawan Jawa maka para pelajar tersebut memberi kesempatan kepada golongan bau tanah untuk memegang peranan yang lebih besar bagi gerakan ini. Ini dibuktikan dengan terpilihnya golongan bau tanah sebagai pengurus dalam konggres Budi Utomo I di Yogyakarta. Ketua terpilih R.T Tirtokusumo, sebagai seorang bupati lebih memperhatikan reaksi dari pemerintah kolonial Belanda dibanding reaksi dari warga pribumi. Sebelumnya terjadi persaingan daalam konggres itu, disebabkan terdapat kelompok minoritas yang dipimpin dr.Cipto Mangunkusumo yang berusaha memperjuangan Budi Utomo menjelma partai politik yang berjuang untuk mengangkat rakyast pada umumnya tidak terbatas hanya golongan priyayi dan kegiatannya meliputi seluruh Indonesiaa, tidak hanya Jawa dan Madura saja. Namun, pandangan dr. Cipto Mangunkusumo gagal menerima proteksi bahkan pada tahun 1909, dia mengundurkan diri dari Budi Utomo dan kemudian bergabung dengan Indische Partij.
Asas dan tujuan Budi Utomo yakni menyadarkan kedudukan Bangsa Jawa, Sunda, dan Madura pada diri sendiri dan berusaha mempertinggi akan kemajuan mata pencaharian serta penghidupan Bangsa disertai dengan jalan memperdalam keseniaan dan kebudayaan. Selain tujuannya yang lain yakni menjamin kehidupan sebagai Bangsa yang terhormat dengan menitik beratkan pada soal pendidikan, pengajaran, dan kebudayaan atau secara kurang jelas menyebutkan kemajuan bagi Bangsa Hindia dimana jangkuan geraknya terbatas pada Jawa dan Madura serta gres meluas untuk penduduk Hindia seluruhnya dengan tidak memperhatikan perbedaan keturunan, kelamin, dan agama. Jika dicermati dari pernyataan tersebut, maka secara tersirat nampak pada Budi Utomo yakni kehormatan Bangsa. Bangsa yang terhormat yakni Bangsa yang mempunyai derajat yang sama dengan Bangsa lain. Karena Bangsa Indonesia pada waktu itu tidak terhormat lantaran dijajah Belanda.
Pada tahun 1928 Budi Utomo menambahkan suatu asas usaha yaitu “ikut berusaha melaksanakan harapan Bangsa Indonesia”. Sungguh suatu langkah maju, lantaran waktu itu gelora persatuan telah berkumandang di udara pergerakan kita. Disitu nampak bahwa Budi Utomo sedang berusaha memperluas ruang geraknya. Tidak hanya menuju kehidupan serasi bagi Jawa dan Madura tetapi lebih luas lagi yakni bagi persatuan Indonesia. Walaupun pada awalnya Budi Utomo tidak berperan sebagai organisasi politik, namun dalam perjalanannya Budi Utomo berubah haluan ke arah politik. Hal ini terbukti pada tahun 1915 Budi Utomo ikut aktif dalam “Inlandsche Militie” dan waktu Volksraad dibentuk. Budi Utomo juga tergabung dalam “Radicale Concentratic” yakni persatuan aliran-aliran yang dicap kiri dalam Volksraad. Hal tersebut berdampak dikuranginya anggaran pendidikan Budi Utomo secara drastis oleh pemerintah. Situasi ini berakibat terjadinya perpecahan antara golongan radikal dan moderat di Budi Utomo.
Pada tahun 1924, dr.Sutomo yang tidak puas dengan Budi Utomo mendirikan Indonesische Studieclub di Surabaya. Penyebabnya yakni asas kebangsaan Jawa dari Budi Utomo sudah tidak relevan dengan perkembangan rasa kebangsaan yang menuju pada sifat nasional. Indonesische Studieclub pada perkembangannya menjadi Persatuan Bangsa Indonesia.
Pada tahun 1927, Budi Utomo masuk dalam PPPKI (Permufakatan Perhimpunan-Perhimpunan Politik Kebangsaan Indonesia) yang dipelopori Ir.Sukarno. Meskipun demikian, Budi Utomo tetap eksis dengan asas kooperatifnya. Pada tahun 1928, Budi Utomo menambah asas perjuangannya yaitu: medewerking tot de verwezenlijking van de Indonesischeeenheidsgedachte (ikut berusaha untuk melaksanakan harapan persatuan Indonesia).Hal ini sebagai arahan Budi Utomo menuju kehidupan yang lebih luas tidak hanya jawa dan Madura, namun meliputi seluruh Indonesia. Usaha ini diteruskan dengan mengadakan fusi (bergabung) dengan PBI (Persatuan Bangsa Indonesia) pimpinan dr.Sutomo. Fusi ini terjadi pada tahun 1935, hasil fusi melahirkan Parindra (Partai Indonesia Raya), sehingga berakhirlah riwayat Budi Utomo sebagai organisasi pergerakan pertama di Indonesia.
III. Penutup
Bermula dari efek politik etis, Budi Utomo sebagai organisasi awal pada masa pergerakan Indonesia didirikan oleh siswa STOVIA. Budi Utomo bebas dari prasangka keagamaan, tetapi lebih untuk meningkatkan pendidikan dan kebudayaan. Namun, pada perkembangan selanjutnya mengarah pada bidang politik. Budi Utomo mempunyai fungsi yang istimewa lantaran bisa menjadi jembatan antara para pejabat kolonial yang maju dengan kaum terpelajar Jawa. Hal ini merupakan sumbangan yang tidak ternilai bagi masa depan Indonesia.
Kelahiran Budi Utomo telah menjadi tonggak yang menumbuhkan semangat perjuangan, sekaligus menjadi wangsit berdirinya aneka macam organisasi di seluruh pelosok tanah air, baik yang bersifat kedaerahan, politik, keagamaan, serikat pekerja, kewanitaan maupun kepemudaan. Pada kurun selanjutnya muncul sejumlah organisasi menyerupai Sarekat Islam, Indische Partij, dan aneka macam organisasi lainnya. Hal ini mewarnai awal kebangkitan nasional yang mencapai puncaknya pada tahun 1928. Kebangkitan nasional Indonesia ditandai dengan berdirinya Budi Utomo, sedangkan kebangkitan cowok Indonesia ditandai dengan adanya insiden Sumpah Pemuda.
DAFTAR PUSTAKA
Kansil dan Yulianto, 1990 Sejarah Perjuangan Pergerakan Kebangsaan Indonesia. Jakarta: Erlangga.
Kartodirdjo, Sartono,dkk., 1977  Sejarah Nasional Indonesia V. Jakarta: Balai Pustaka.
Kartodirdjo, Sartono, 1992 Pengantar Sejarah Indonesia Baru: Sejarah Pergerakan Nasional. Jakarta: PT Gramedia Pustaka Utama.
Nagazumi, Akira, 1989  Bangkitnya Nasionalisme Indonesia: Budi Utomo 1908-1918. Jakarta: Graffiti Press.
Ricklefs,M.C., 1991 Sejarah Modern Indonesia (terj. Dharmono Hardjowidjono). Yogyakarta: Gadjah Mada University Press.
Swantoro, P., 2002 Dari Buku ke Buku, Sambung Menyambung Menjadi Satu. Jakarta: Gramedia.
Tirtoprodjo, Susanto, 1970  Sedjarah Pergerakan Nasional. Djakarta: PT.Pembanguna