Sekolah Belanda Untuk Pribumi

IRKFA ZUHAYRIAH TANJUNG / SP .A

            Pendidikan selama penjajahan Belanda, kalangan orang Belanda mulai mencicipi semakin perlunya untuk membuatkan pendidikan gaya barat bagi masyarakat pribumi .Hal ini dimaksudkan bukan saja untuk keperluan ekspansi birokrasi dan jaringan manajemen pemerintah kolonial, tetapi juga , ibarat dikatakan oleh van der Prijis, untuk membentengi Belanda dari ‘Volkano Islam “. Maka semenjak awal kala XX, diperkenalkannya sistem sekolah desa atau volksschool yang pendiriannya tergantung atas kemampuan masyarakat setempat , subsidi, dan bimbingan pemerintah .
Setelah menuntaskan sekolah yang bisa diselesaikan dalam waktu tiga tahun ini dengan materi aliran sekandar kepandaian membaca , menulis, dan berhitung murid-murid yang terpilih yang sanggup melanjutkan pendidikan nya kesekolah sambungan atau Vervolgschool untuk masa dua tahun . Secara berangsur , sistem ini menggantikan keudukan sekolah kelas dua sebagai forum pendidikan yang terpenting bagi anak pribumi.Sekolah kelas satu bermetamorfosis HIS(Hollandsch Inlandsche School) pada kala XX .
HIS yaitu sekolah rendah untuk golongan penduduk Indonesia asli. Pada umumnya disediakan untuk belum dewasa golongan bangsawan, tokoh-tokoh terkemuka atau pegawai negeri. Lamanya sekolah tujuh tahun dan pertama didirikan pada tahun 1914.
Sekolah ini dibuka bukan sebab direncanakan oleh pemerintah , melainkan atas desakan masyarakat Indonesia  sendiri untuk mendapat pendidikan ala Barat.Hal ini merupakan jawaban dari perbahan kondisi sosial ekonomi dikawasan timur jauh  yang telah diperkenalkan pada masa politik etis yang diberlakukan kepada Indoneisa. Selain itu, juga dodorong  oleh organisasi-organisasi yang telah berdiri di Indonesia pada waktu itu ibarat Budi Utomo dan Sarekat Islam.
His pada awalnya ialah sekolah kelas satu, dan resmi diganti menjadi HIS pada tahun 1914. Tanggapan dari pihak Belanda dengan berdirinya sekolah ini kurang begitu baik. Karena kekhawiran Belanda akan munculnya orangg cerdik yang menyaingi Belanda.Kurikulum yang digunakan ialah sesuai dengan yang tercantum dalam Status 1914 No.764, Yaitu mencakup semua pelajaran ELS.Selain itu penerima didik juga duajarkan membaca dan menulis bahasa daerah dalam abjad latin dan melayu dalam goresan pena Arab dan Latin. Namun yang lebih ditekankan ialah pelajaran bahasa Belanda bahkan sejarah negeri Belanda pun dipelajari.
Boedi Oetomo mendesak semoga pemerintah mendirikan sekolah corak gres ibarat yang telah diadakan untuk anak Cina, yaitu Hollandsch Chineesche School (HCS) .HCS suatu sekolah rendah untuk belum dewasa keturunan timur asing,khususnya keturunan Cina.Pertama didirikan pada tahun 1908 usang sekolah tujuh tahun. Selain itu, masyarakat meminta semoga kesempatan masuk sekolah Belanda diperluas sebab ujian pegawai rendah (klein ambtenaar) terbukti terlalu sukar untuk belum dewasa sekolah kelas satu.
Didasari atas keinginan masyarakat itu, karenanya pemerintah memenuhinya dengan mengubah peraturan masuk sekolah Belanda pada 1911.Selanjutnnya HID dibuka pada 1914 sebagai penjelmaan dari sekolah kelas satu. Dalam sekolah ini secara berangsung-angsur mulai dipergunakan bahasa Belanda sebagai bahasa pengantar. Setelah menuntaskan pelajaran selama tujug tahun , murid yang berbakat dan yang memiliki orangtua yang cukup Mampu sanggup melanjutkan sekolahnya ke MULO, sekolah lanjutan pertama.
Berbagai Faktor mempengaruhi didirikannya MOLO
·         Murid-murid Indoneisa yang puluhan ribu jumlahnya pada sekoolah kelas satu tak mungkin dibiarkan begitu saja tanpa memberi kesempatan untuk melanjutkan pelajarannya, padahal anak Cina yang tolong-menolong asing, telah diberikan kesempatan yang serupa itu.
·         Berbagai kursus persiapan bagi calon-calon pendidikan pegawai, jago hukum, dokter, dan sebagainya, ternyata tidak harmonis dan harus diganti dengan MULO .
·         MULO didirikan sebagai forum pendidikan nonrasional . Dari segi organisasi MOLO memiliki kedudukan yang sangat penting .Dengan adanya MULO dan diubahnya sekolah kelas satu menjadi HIS ,maka belum dewasa Indonesia memiliki kesempatan untuk sanggup memperoleh kesempatan pendidikan setinggi-tingginya
·         MULO karenanya meniadakan ujian untuk pegawai rendah (klein ambtenaars examen) .MULO membuka jalan untuk dapau melampaui batas-batas sosial dan merupakan baan yang ampuh untuk menghilangkan dominasi aristokrasi.
Program kurikulum terdiri atas empat bahasa , yaitu:
1.      Belanda
2.      Prancis
3.      Inggris
4.      Jerman
Setengah dari waktu digumakan untuk pelajaran bahasa sepertiga untuk matematika dan ilmu pengetahuan alam, dan seperenam untuk ilmu pengetahuan sosial.
Lulusan MULO mereka yang berhasil menamatkan MULO kebanyakan melanjutkan studi , ada juga yang ke sekolah kejuruan sebagian ke HBS ataupun AMS maka MULO memiliki tiga fungsi yakni :
·         Sebagai substruktur AMS
·         Sekolah persiapan untuk melanjutkan kesekolah kejuruan
·         Sekolah terminal bagi mereka yang tidak melanjutkan studi
 Setelah lulus dari sekolah ini, mereka sanggup melanjutkan ke AMS ( Algemeene Middelbare School) . Ams yang merupakan serpihan dari sistem pendidikan zaman kolonial Belanda Indonesia. AMS setara dengan Sekolah Menengan Atas pada ketika ini yakni pada jenjang sekolah lanjutan tingkat atas. AMS memakai pengantar bahasa Belanda dan pada tahun 1930-an , sekolah-sekolah AMS hanya ada di beberapa ibukota Provinsi Hindia Belanda yaitu :
·         Medan
·         Bandung
·         Semarang
·         Surabaya
·         Makassar
Dan beberapa kota Karesidenan ibarat Malang . Selain itu ada beberapa AMS Swasta yang dipersamakan dengan Negeri Di Provindi Borneo (Kalimantan) belum ada AMS.
Jika nasib demikian baiknya, bersyukurlah , apabila sanggup melanjutkan pelajaran sekolah tinggi. Mula-mula tentu  harus ke Eropa, tetapi beberapa kemungkinan telah terbuka pula ditanah “Hindia” ini semenjak tahun 1920-an . Selain MULO dan AMS , ada sekolah HBS ( Hogere Kweekschool) sekolah-sekolah vak ibarat STOVIA yang kemudian perlahan-lahan menjadi perguruan tinggi tinggi sekolah teknik dan untaian Kweekschool serta HIK (Hogere Burgerschool) . Kedua sekolah yang disebut terakhir dibutuhkan bagi yang ingin menjadi guru HIS atau guru kepala.
Walaupun ada sekolah-sekolah yang bersifat rasional ibarat ELS, HCS DAN HIS ,namun pada kenyataan pemerintah Belanda tidak melaksanakan diskriminasi sosial yang ketet. Namun juga tidak disangkal adanya pertimbangan –pertimbangan rasial dalam sisitem pendidikan kolonial.HIS juga dikritik sebab kurikulumnya terlampau berpusat pada Belanda. Sebagai forum pendidikan berat ada bahayanya bahwa belum dewasa akan merasa asing terhadap kebudayaan sendiri, benci akan pekerjaan tangan , dan tidak sudi untuk kembali kedesa dan membangun daerahnya.
Murid sekolah bumiputra, dari sekolah desa dan sambungan tersebut , juga dimungkinkan untuk melanjutkan pelajarannya. Beberapa murid terpilih dari sekolah sambungan akan diberi kemungkinan untuk menyeberang ke lingkungan sekolah Belanda . Untu
k keperluan ini, didirikan sekolah Schakel , dimana murid mulai berguru bahasa Belanda dan, tentu saja, mulai harus beradaptasi dengan suasana serba tertib, sebagaimana layaknya sorang murid sekolah ” gubernemen”.
Sekolah yang didirikan pemerintah atau yang disponsori pemerintah tersebut makin usang makin menarik perhatian . Sekolah tersebut dianggap sebagai alat untuk sanggup memasuki lingkungan hidup gres hidup kepriayian , hidup sebagai menak nagi golongan bawah, dan penambah dasar legitimasi bagi golongan atasan. Begitulah soerang Tuanku Laras, kepala Federasi nagari dan Sumatera Barat, Menulis bahwa baginya kelahiran bukanlah dasar terpenting untuk memangku jabatan tetapi yang terutama ialah pengetahuan.
Bupati Bandung , R.A.A.Martanagara, menulis dalam Piwulung Barata Sunu bahwa pada zaman kini (maksudnya ,awal kala XX ,ketika karya itu ditulis),kalau orang tidak berpendidikan akan ketinggalan oleh orang yang berpendidikan . Demikian juga halnya pada awktu yang bersamaan pada final kala XIX , Sultan Hamengku Buwono VIII mengharuskan dimilikinya ijazah bagi seorang anak yang akan menggantikan kedudukan ayahnya sebagai pejabat pemerintah.Berita koran dari awal kala hampir tiap tahun melaporkan tentangg kegagalan dari ratusan anak untuk memasuki sekolah yang tersedia.
Tiap tahun jumlah yang gagal memasuki sekolah meningkat, walaupun jumlah dan jenis sekolah juga bertambah. Tidakla mengherankan , betapa kecilnya jumlah belum dewasa yang bisa memasuki sekolah. Juga tidaklah absurd , betapa kerdilnya perbandingan antara anak yang bisa memasuki sekolah dengan kenaikan jumlah penduduk .Berdasarkan sensus yang diadakan pada 1930, ternyata persentase rakyat Indonesia yang bisa membaca hanyalah 6,44 % dan pada wakti itu jumlah murid bumiputra di sekolah MULO ketika jumlah penduduk telah mencapai angka 50 juta jiwa hanyalah 7.768 orang pada masa final penjajahan Belanda.
Ketika jumlah penduduk telah mencapai angka kira-kira 70 juta jiwa , tercatat hanya 2 juta lebih sedikit yang masih berada dibangku sekolah dari seluruh jenis dan tingkat perguruan tinggi yang dimiliki dan diberi subsidi oleh pemerintah.Sementara itu sekolah –sekolah bercorak Barat, baik sekolah “bumiputra” maupun sekolah Belanda, ibarat forum pendidikan lainnya memberi imbas melebihi target yang dimaksud. Diterimanya dan dijadikannya sekolah sebagai salah satu syarat bagi mobilitas sosial ialah kelanjutan dari tradisi yang menangumkan keunggulan ilmu.
Dengan diperkenalkannya sekolah bercorak Barat, yang memberi kemungkinan bagi keunggulan dalam banyak sekali macam ilmu, maka prosese pelebaran dari diferensiasi kerjapun dilanjutkan dengan lebih cepat . Sekolah –sekolah Belanda , terutama dari tingkat menengah keatas , memperkenalkan pada murid-murid , yang berasal dari banyak sekali latar belakang budaya tradisional dan golongan masyarakat , suatu contoh pikir yang sama .
Melalui sistem dan corakk pelajaran yang diberikan , mereka sanggup mengenal limgkungan masing-masing. Sekolah juga berpungsi sebagai jembatan komunikasi antara mereka.Situasi kolonial ternyata bisa menciptakan  faktor yang mengingkari kenyataan riil yang ditimbulkannya . Sekolah dimaksudkan ubtuk mengajarkan  banyak sekali keahlian dan orientasi yang sangat bersifat kepegawaian , dalam arti bahwa ijazah dikaitkan dengan tingkat dalam hierarki birokrasi. Akan tetapi, budi itu ditantang pula oleh kategori ras yang dipergunakan.
Pekerjaan dan kedudukan tidak semata-mata bergantung pada kemampuan , akan tetapi sangat terkait dekat dengan ras orang kulit putih haruslah diutamakan dan keturunan anak orang berpangkat tentu harus didahulukan.Hal ini menyebabkann bermunculannya tenaga terdidik dan terpelajar yang sama sekali berada di luar sistem kolonial, walaupun mereka dilatih untuk menjadi tenaga initi dalam sistem itu. Sitem itu sendiri kemudian menjadi sesuatu yang harus ditolak .
 Kaum terpelajar  bukan saja berhenti mendambakan ikut serta dalam sistem kolonial dan mendapat hierarki yang sepadan dalamnya, tetapi juga menolak  untuk sama sekali memperhitungkan kemungkinan dirinya berada dalam sistem tersebut. Sebagian dari mereka itu ikut dan memimpin pergerakan kemerdekaan , bukan sebab kerja , melainkan sebab panggilan jiwa.Keinginan untuk mencari pilihan lain dalam dunia pengajaran dan pendidikan serta kebutuhan yang kasatmata terhadap sekolah yang modern dan sekuler mamberi dorongan munculnya sekolah swasta.
Disamping itu , sekolah agama mulai pula memperbaharui sistem dan metode pengajaran mereka . Hal ini terutama dilakukan oleh golongan reformis zaman. Sekolah swasta jenis ini berkembang dengan pesat dibeberapa daerah . Hampir tanpa kecuali, sekolah swasta yang tidak bersubsidi itu, baik islam maupun sekuler bersikap nasionalis yang anti kolonial.
Munculnya beberapa alternatif dalam dunia pendidikan seber
nya mencerminkan pula aspek lain dari jawaban yang ditimbulkan oleh pengajaran modern, yaitu mulai berkembangnya percaturan ideologis .Walaupun telah memiliiki contoh berpikir yang sama , kenyataan bahwa murid-murid berasal dari banyak sekali daerah dan linkungan budaya , dan dari berjenis tingkat sosial dan ekonomis, ikut memengaruhi cara mereka dalam berdialoh dengan lingkungan.
Hal ini memberi warna dalam perumusan dasar anggapan serta cita-cita. Perbedaan ini lebih intensif lagi sebab sebagain kaum terpelajar tidaklah merasa diri mereka sebagai serpihan dari dunia intelektual yang kosmopolit ala Barat, tetapi dengan dunia yang dibimbing oleh rasa kebangkitan islam. Sekolah , sebagai forum pendidikan, tidak saja menjembati banyak sekali perilaku keasingan , tetapi juga  melemparkan beberapa alternatif dalam kehidupan , baik dari sudut profesi jabatan, maupun sudut ideologis dan kultural.
DAFTAR PUSTAKA                                      
Dr.A.H.Nasution.Sekitar Perang Kemerdekaan Indonesia.Jil.2. Bandung : PT.Aksara Bandung , 1979.
Prof.Dr.H.Afifuddin,Sejarah Pendidikan, Bandung : Prosfect ,2007.
Prof.Dr.S.Nasution, Sejarah Pendidikan Nasional ,Jakarta : Bumi Aksara, 1995.
http://id.wikipedia.org.wiki/sejarah-pendidikan-zaman-belanda