Sifat Nan Delapan Belas Pedoman Akal Pekerti Anak Melayu

Cici Eka Aryanti/PBM/FB

Sifat nan delapan belas atau juga biasa disebut pakaian nan delapan belas yakni 18 sifat yang diajarkan dan ditanamkan kepada anak-­anak Melayu untuk bekal hidup mereka kelak.
1.      Asal­ seruan
Suku bangsa Melayu mempunyai tradisi pendidikan kebijaksanaan pekerti keluarga yang kuat, khususnya pendidikan anak. Beragam aliran kebijaksanaan pekerti, baik melalui pantun, syair dan ungkapan­-ungkapan sanggup ditemukan

dalam tradisi Melayu (Tenas Effendy, 2006; Koentjaranigrat, 1970). Salah satu jejak pendidikan kebijaksanaan pekerti ini sanggup dilihat dari adanya aliran pakaian nan delapan belas (Made Purna dkk., 1993). Pakaian nan delapan belas atau juga biasa disebut sifat nan delapan belas yakni 18 sifat yang harus diajarkan dan ditanamkan kepada anak­-anak Melayu. Kesemua sifat ini dianggap penting untuk bekal mereka dalam menata diri, berafiliasi dengan masyarakat, agama, dan watak dikala remaja kelak. Dalam pengajarannya, 18 sifat ini didukung oleh ungkapan­ungkapan watak Melayu (Made Purna dkk, 1993). Hingga sekarang, pakaian nan delapan belas ini masih diajarkan oleh para pemangku watak Melayu, khususnya disampaikan sebagai nasehat pernikahan. Nasehat ini ditujukan semoga pengantin yang kelak mempunyai anak akan mendidik anak mereka sesuai dengan sifat nan delapan belas (Budi S. Santoso, 1986).

2.      Konsep Sifat Nan Delapan Belas
Menurut kebudayaan Melayu, ada 18 sifat yang harus dimiliki oleh anak Melayu, yaitu:
1. Sifat tahu asal berkejadian. Sifat ini dimaksudkan semoga anak Melayu berilmu, beragama, dan bertakwa kepada Tuhan. Sifat ini selaras dengan ungkapan Melayu: Tahu kan asal berkejadian, tahu kan hidup berkesudahan. Yang agama berkokohan, yang iktikad berteguhan, yang sujud berkekalan.
2. Sifat tahu membayar utang. Artinya anak Melayu harus tahu membalas budi, terutama kepada orangtua, kerabat, dan masyarakat. Dalam ungkapan Melayu disebutkan: Tahu kan pahit ibu mengandung, tahu kan pahit ayah menjaga, tahu kan sakit membesarkannya, tahu kan utang yang dibebannya. Tahu kan belas kasihan orang, tahu kan bela pelihara orang, tahu kan kebijaksanaan baik orang.
3. Sifat tahu kan ndeso diri. Artinya, anak Melayu harus menyadari kekurangan diri sendiri, menyayangi ilmu, dan menghormati orang berilmu. Dalam ungkapan Melayu dikatakan: Tahu kan kurang dari awak, tahu kan ndeso dari awak, tahu ke atas belum berpucuk, tahu ke bawah belum berurat, tahu di tengah belum berbatang, tahu kan cacat dengan celanya.
4. Sifat tahu diri. Artinya, anak Melayu harus menjaga diri dalam pergaulan sehari­-hari di dalam keluarga dan masyarakat. Dalam ungkapan Melayu dikatakan: Tahu diri dengan perinya, tahu marwah dengan tuahnya, tahu alur dengan patutnya, tahu salah dengan silahnya.
5. Sifat hidup memegang amanah. Artinya, anak Melayu harus setia dan sanggup dipercaya. Dalam ungkapan Melayu disebutkan: Kalau hidup memegang wakil jikalau mati memegang amanat. Taatnya pada petuah, setianya pada sumpah, melaratnya pada budi, matinya pada janji.
6. Sifat benang arang. Artinya, anak Melayu harus jujur, sesuai antara kata dan perbuatan. Dalam ungkapan Melayu disebutkan: lurus bagai benang arang, lurusnya tahan dibidik. Sepadang takah dengan tokohnya, sepadang lenggang dengan langkahnya, sepadan ilmu dengan amalnya, sepadang cakap dengan perangainya, sepadan laris dengan buatnya.
7. Sifat tahan menentang matahari. Artinya, anak Melayu harus berani menegakkan keadilan dan kebenaran. Dalam ungkapan Melayu disebutkan: Tahan menentang matahari, tahan menepis mata pedang, tahan menyilang mata keris.
8. Sifat tahu kilik elak. Artinya, anak Melayu harus bijaksana, tanggap, dan cekatan. Dalam ungkapan Melayu dikatakan: Bijak menyimak kicau murai, bijak menjaring angina lalu, bijak menangkap kerling orang, bijak menepis mata pedang, bijak membuka simpul mati.
9. Sifat menang dalam kalah. Artinya, anak Melayu harus rendah hati, tenggang rasa, dan gembira kepada diri sendiri. Dalam ungkapan Melayu dikatakan: Menangnya dalam kalah, cerdiknya tidak menjual, cerdik menjadi penyambung lidah. Beraninya tidak melesi, berani menjadi pelepis dada. Kuatnya tidak mematah, kuat menjadi tiang sendi. Alimnya tidak menyalah, alim menjadi daerah bertanya.
10. Sifat tahan berkering. Anak Melayu harus tabah dan rajin bekerja. Dalam ungkapan Melayu dikatakan: Tahan membedak dengan arang, tahan bergumul dengan tumang. Mau disuruh sekali pergi, mau dihimbau sekali datang. Tahan kering tahan melempeng,
tahan lindas tahan giling. Mau bersakat atas kepala, mau mengekas dalam panas.
11. Sifat unjuk dengan beri. Artinya, anak Melayu harus gemar memberi dan setia kawan. Dalam ungkapan Melayu disebutkan: Pandai unjuk dengan beri, pintar menjalin gelegar patah, pintar menjirat lantai menjungkat, pintar menampai liang dinding. Rumahnya tidak berpintu, periuknya tidak bertudung, lapangnya dalam bersempit, manisnya dalam berpahut.
12. Sifat timbang dengan sukat. Artinya, anak Melayu harus adil dan benar. Dalam ungkapan Melayu disebutkan: sifat timbang sama beratnya, sifat sukat papas penuhnya, sesuai sukat dengan timbangnya, sesuai belah dengan baginya, seukur peluh dengan upahnya.
13. Sifat tahu kan malu. Artinya, anak Melayu harus memelihara malu dalam dirinya dan tidak memalukan orang lain. Dalam ungkapan Melayu dikatakan: Yang disebut sifat malu, malu membuka malu orang, malu menyingkap baju di badan, malu mencoreng arang di kening, malu terlanggar pada syarak, malu terlanda pada adapt, malu terlanda pada lembaga.
14. Sifat nan bersifat. Artinya anak Melayu harus menghargai dan menghormati orang lain, serta meletakkan sesuatu pada tempatnya. Dalam ungkapan Melayu dikatakan: Yang penghulu didahulukan, yang hulu-balang dibilangkan, yang alim diketengahkan, yang cerdik dikemukakan. Tunak menegur dengan siftanya, tunak menyapa dengan adatnya. Pandai menggunakan pada ukurnya, pintar meletak pada patutnya.
 15. Sifat ingat dengan minat. Artinya, anak Melayu harus ingat dan perhatian terhadap lingkungannya. Dalam ungkapan Melayu dikatakan: Tahu kan susur dengan galurnya, tahu kan dusun dengan kampungnya. Tahu kana tap nan sebengkawan, tahu kan pisang goyang­-goyangnya. Tahu kan tiang nan terpalang, tahu kan batang nan melintang. Tahu kan rumput nan menjemba, tahu kan dinding nan teretas, tahu kan lantai nan menjungkat.
16. Sifat pinjam memulangkan. Artinya, anak Melayu harus bersifat tanggung jawab. Dalam ungkapan Melayu dikatakan: Yang menjemput nan mengantar, yang meminjam nan memulangkan, antarnya hingga ke tempatnya, pulangnya hingga ke nan punya. Kalau malang anak semang, induk semang ketimpaan utang.
17. Sifat hidup meninggalkan. Artinya, anak Melayu harus mempunyai pandangan jauh ke depan serta berusaha meninggalkan karya, jasa, dan nama baiknya. Dalam ungkapan Melayu disebutkan: Yang disebut hidup meninggalkan, meninggalkan pola dengan teladan. Tahukah utang kepada anak, tahukan utang kepada bapak, tahukah utang ke orang banyak.
 18. Sifat nan pucuk atau sifat tua. Artinya, anak Melayu harus mempunyai jiwa pemimpin. Dalam ungkapan Melayu dikatakan: Yang disebut sifat na pucuk, di watak menjadi pucuk adat, didahulukan menjadi pucuk penghulu, dihilirkan menjadi pucuk lembaga, di majelis menjadi pucuk rundingan, dihelat menjadi pucuk kata.
  
3. Pengaruh Sosial
Pengetahuan orang Melayu terhadap sifat nan delapan belas ini secara sosial besar lengan berkuasa dalam kehidupan, antara lain:
a. Melestarikan adat. Ajaran kebijaksanaan pekerti ini yakni tradisi watak Melayu. Secara sosial, hal ini akan besar lengan berkuasa pada menguatnya watak di masyarakat.
 b. Menghargai anak. Ajaran kebijaksanaan pekerti orangtua ini menjadi bukti bahwa watak Melayu menghargai anak. Anak bagi orangtua yakni amanah yang harus dijaga, contohnya dengan mengajarkan kebijaksanaan pekerti yang baik.
c. Menata masa depan anak. Pendidikan kebijaksanaan pekerti dengan menggunakan sifat nan delapan belas ini, maka orangtua ikut menata masa depan sang anak, alasannya yakni 18 sifat ini menjadi bekal mereka untuk masa depan.
d. Menghormati dan menghargai ilmu. Seluruh sifat nan delapan belas merupakan ilmu yang diunduh dari aliran leluhur.
 e. Menguatnya aliran agama. Secara sosial, aliran kebijaksanaan pekerti ini semakin mengautkan aliran agama di masyarakat yang menjadi penopang aliran kebijaksanaan pekerti ini. Agama dan watak memang saling melengkapi dan menguatkan dalam budaya Melayu.
 4. Kesimpulan
Sifat nan delapan belas menjadi bukti akan perhatian leluhur Melayu terhadap generasi penerus. Di sisi lain, aliran ini menabalkan kebesaran Melayu sebagai suku yang penuh dengan aliran kebijaksanaan pekerti luhur dalam bentuk sastrawi. Oleh alasannya yakni itu, sudah selayaknya tradisi ini terus dilestarikan.
Daftar Pustaka
 Budi S. Santoso, 1986. Masyarakat Melayu dan Kebudayaannya. Riau: Pemda.
Koentjaranigrat, 1970. Manusia dan Kebudayaan Indonesia. Jakarta: Djambatan.
Made Purna dkk, 1993. Nilai Budi Pekerti dalam Pantun Melayu. Jakarta: Departemen Pendidikan dan Kebudayaan. Direktorat Sejarah dan Nilai Tradisional.
Tenas Effendy, 2006. Tunjuk Ajar Melayu. Yogyakarta: Adicita Karya Nusa