Pengelolaan Sistem Pendidikan Di Korea Selatan

Sistem Pendidikan Korea – Sistem pengelolaan pendidikan di Korea Selatan dilaksanakan oleh pemerintah. Kekuasaan dan kewenangan dilimpahkan kepada menteri pendidikan.Kebijakan menteri dilaksanakan hingga di kawasan otonom. Di kawasan terdapat dewan pendidikan (board ofeducation). Pada setiap propinsi dan kawasan khusus (Seoul dn Busam), masing-masing dewan pendidikan terdiri dari tujuh orang anggota yang dipilih oleh kawasan otonom, dari lima orang dipilih dan dua orang lainnya merupakan jabatan ex officio; yang dipegang oleh walikota kawasan khusus atau gubernur propinsi dan super intendent, Dewan pendidikan diketuai oleh walikota atau gubernur.
Pemerintah menganggarkan pengelolaan sistem pendidikan nasional yang berasal adri alokasi dana APBN. Anggaran pendidikan Korea Selatan berasal dari anggaran Negara, dengan total anggaran 18,9% dari Anggaran Negara. Pada tahun 1995 ada kebijakan wajib berguru 9 tahun, sehingga forsi anggaran terbesar diperuntukan untuk ini. Adapun sumber biaya pendidikan, bersumber dari, GNP untuk pendidikan, pajak pendidikan, keuangan pendidikan daerah, dunia industri khusus bagi pendidikan kejuruan.
Sistem Pendidikan di korea ialah 6 tahun SD, 3 tahun SMP, 3 tahun SMU dan 4 tahun Universitas, secara umum terdiri dari 6-3-3-4. Untuk jenjang SD dan Sekolah Menengah Pertama semua biaya sekolah ditanggung oleh pemerintah selama 9 tahun.
Sistem pendidikan dari pra sekolah hingga perguruan tinggi terbagi dalam 2 semester pertahunnya. Jika akhir semester pertama sekolah akan libur sebulan penuh dimusim panas. Jika akhir semester ke dua dan sebelum dimulainya semester gres akan libur dimusim hambar dan dimusim semi selama 2 bulan. Untuk keluarga yang berpenghasilan rendah, ibarat petani dan nelayan biasanya anak yang usiannya 5 tahun mendapat derma pendidikan.
Saat anak ingin menempuh pendidikan pra sekolah, para pengajar disekolah itu akan memberi konsultasi eksklusif sesudah itu gres siswa di terima sekolah. Anak yang telah berusia 6 tahun terhitung 1 januari diperbolehkan masuk ke sekolah dasar, Korea punya perhitungan tahun untuk kelahiran yaitu semenjak bayi lahir akan dihitung 1 tahun usianya jadi untuk usia 6 tahun berdasarkan kita orang Indonesia maka di korea ialah 7 tahun.
Jenjang dan Jalur Pendidikan
Seperti halnya pendidikan di negara-negara lain, termasuk Indonesia. Pendidikan di Korea Selatan dilaksanakan dalam beberapa jenjang, yaitu jenjang pendidikan primer (primary education), pendidikan sekunder (secondary education), dan pendidikan tinggi (high education). Pendidikan primer di Korea Selatan diwajibkan untuk belum dewasa berusia 6 hingga 14 tahun. Pada jenjang pendidikan primer ini, prosesnya dilaksanakan di taman kanak-kanak dan sekolah dasar. Pendidikan sekunder di Korea selatan idealnya dilaksanakan selama 6 tahun, yaitu 3 tahun di sekolah menengah (setara dengan Sekolah Menengah Pertama di Indonesia) dan sekolah atas (setara dengan Sekolah Menengan Atas di Indonesia).
Pada jenjang pendidikan sekunder ini, prosesnya dilaksanakan sekolah-sekolah kejuruan (setara dengan Sekolah Menengah kejuruan di Indonesia).Selain itu, pada usia-usia sekolah menengah dan sekolah tinggi ini, belum dewasa Korea Selatan melakukan beberapa pendidikan tambahan, yaitu melalui kegiatan kursus-kursus tertentu. Pendidikan tinggi di Korea Selatan dilaksanakan melalui kegiatan-kegiatan perkuliahan di beberapa perguruan tinggi, baik perguruan tinggi negeri maupun swasta yang jumlahnya sekitar 330 perguruan tinggi. Adapun beberapa perguruan tinggi yang terkemuka di Korea Selatan antara lain Universitas Korea (Korea University), Universitas Nasional Seoul (Seoul National University), Universitas Ewha (Ewha Women’s University), dan Universitas Yonsei (Yonsei University).Pendidikan SD dimulai dari kelas satu hingga kelas enam jikalau tidak ada hal yang khusus setiap tahun bisa naik kelas. Jenis sekolah dasar juga dibagi 2 yaitu pemerintah dan swasta.
Masa pendidikanya sama perbedaannya hanya pada acara khusus dan pada sekolah swasta harus membayar uang sekolah. Di Korea wajib berguru ialah hingga Sekolah Menengah Pertama dan itu tidak dipungut biaya, hingga tingkat SMU biaya sekolah menjadi tangung jawab individu. Korea sendiri yang mempunyai peraturan 2 anak saja cukup dahulu. Maka dikala ini mereka akan kekurangan generasi muda dimasa yang akan datang. Untuk itu mereka memberi hukum untuk keluarga yang mempunyai anak lebih dari 2, maka setiap anaknya akan diberi tunjangan perbulan. Disetiap kelas untuk Sekolah Menengah Pertama mempunyai seorang wali kelas yang akan memperhatikan kehidupan dan mengarahkan siswanya, dan untuk masing-masing pelajaran mempunyai tenaga pengajar yang berbeda-beda. Mata pelajaran mereka terdiri dari bahasa korea, moral, sosial moral, matematika, ilmu science, olah raga, musik, kesenian, keterampilan, bahasa inggris . Dalam tiap semester ada 2 kali ujian evaluasi, yang kesannya akan dikirim ke rumah masing-masing. Menginjak di kelas 3, nilai dan kemampuan siswa akan dipertimbangkan untuk melanjutkan ke SMU, pada dikala ini wali kelas akan memberi saran dan petunjuk untuk mereka melanjutkan ke SMU.
Untuk pendidikan di SMU ini terdiri dari 3 cuilan yaitu Sekolah Mengengah Umum, Sekolah Menengah Ekonomi dan Sekolah Mengengah Khusus. Secara umum Sekolah Menengah Umum mempelajari mata pelajaran yang diharapkan untuk masuk perguruan tinggi. Sekolah Menengah Ekonomi mata pelajaran yang diberikan ialah mata pelajaran yang dibutuhkan untuk masuk kerja. Sekolah Menengah Khusus ialah sekolah yang memperlihatkan keterampilan khusus ibarat bidang scince atau bahasa asing, olah raga dan lain-lain. Siswa jikalau lulus SMU bisa bekerja atau masuk perguruan tinggi.
Perguruan Tinggi di Korea terbagi 2 yaitu, masa pendidikan 4 tahun dan 2 tahun, sebagian besar mempelajari dasar-dasar kejuruan ihwal mata kuliah keahlian, berbeda dengan masa pendidikan 4 tahun yang mempelajari ilmu secara keilmuan. Seseuai dengan dasar tuhuan Universitas terbagi menjadi Universitas Umum, niversitas Kejuruan, dan Universitas Khusus. Universitas Kejuruan misalnya pendidikan, komunikasi, pembukuan, teknik. Universitas Khusus meliputi perpajakan, kepolisian dan perguruan tinggi militer. Saat akan masuk Universitas secara umum ditentukan nilai SMU dan setiap tahun mengikuti ujian kemampuan dan bakat. Walaupun mereka sanggup masuk ke Universitas dengan ke 2 nilai tersebut cara pemilihan siswa sedikit berbeda di setiap Universitas sebab di setiap Universitas mempunyai syarat-syarat tertentu. Jika orang tuannya asing bisa mengikuti ujian saringan khusus pelajar asing.
Kurikulum dan Pembelajaran
– Kurikulum
Reformasi kurikulum pendidikan di korea, dilaksanakan semenjak tahun 1970-an dengan mengkoordinasikan pembelajaran teknik dalam kelas dan pemanfaatan teknologi, adapun yang dikerjakan oleh guru, meliputi lima langkah yaitu (1) perencanaan pengajaran, (2) Diagnosis murid (3) membimbing siswa berguru dengan banyak sekali program, (4) test dan menilai hasil belajar. Di sekolah tingkat menengah tidak diadakan saringan masuk, hal ini dikarenakan adanya kebijakan “equal accessibility” ke sekolah menengah di daerahnya.
Kini Korea mengimplementasikam kurikulum pendidikan dengan menekankan pada pemberian bekal kompetensi untuk dunia kerja dan mempersiapkan pengetahuan dan keterampilan untuk melanjutkan kejenjang berikutnya. Kurikulum dikembangkan oleh dewan pendidikan/sekolah sesuai dengan karakteristik lingkungan belajar, siswa, dan kawasan dengan memperhatikan perkembangan dimensi global.
Baik negeri dan swasta sekolah memiliki kutikulumyang relatif sama, yaitu lebih banyak mengajarkan kemandirian, kreatifitas dan bersosialisasi dengan lingkungan. Mengajarkan ihwal kehidupan sehari-hari dan perkembangan iptek.
Sekolah diberi keleluasaan untuk menambah kurikulum lokal sesuai minat siswa dan kondisi wilayah masing-masing, dengan pilihan kurikulum lokal yang diarahkan kepada duduk kasus : Pertanian, perikanan, dan Teknologi, yang bisa membawa siswa untuk mempunyai kreatifitas terutama untuk kehidupannya. Untuk masalah korea selatan ihwal kurikulum muatan lokal implementasinya sangat berbeda dengan Indonesia, yang rata-rata memasukkan kurikulum lokal yang ” tidak” eksklusif berafiliasi dengan pemenuhan harkat hidup siswa, ibarat kurikulum lokal hanya terbatas pada bahasa daerah/bahasa asing, seni dan lain-lain, yang tidak atas dasar impian siswa dan kondisi kawasan setempat.
– Pembeljaran
Korea Selatan sangat terobsesi dengan pendidikan. Pendidikan benar-benar ditekankan kepada siswa ibarat orang gila. Seberapa keras siswa belajar? Selama tahun-tahun sekolah mereka dan kadang kala bahkan selama bertahun-tahun, siswa pergi ke sekolah dari jam 8 pagi hingga lewat tengah malam. Hal ini dikarenakan sesudah akhir sekolah, mereka harus menghadiri pendidikan khusus untuk mencoba untuk meningkatkan kinerja akademis mereka. Mereka diprioritaskan untuk mempersiapkan diri mengikuti ujian masuk perguruan tinggi yang sangat ketat, yang banyak mendukung masa depan mereka.
Pembelajaran di Perguruan Tinggi menjamin kesempatan peluang kerja. Di Korea, jikalau masuk sebuah universitas bergengsi, akan memperoleh kesempatan yang baik untuk mendapat warta pekerjaan yang baik. Seorang mahsiswamemasuki universitas yang baik tidak hanya menjamin keadaan ekonomi individunya, tetapi juga mencerminkan reputasi orang tua. Dalam budaya Korea, pertimbangan yang paling penting bagi seorang pimpinan bukan kepribadian atau pengalaman kerja, melainkan di Universitas apa orang tersebut belajar. Korea mempunyai tingkat kelulusan Sekolah Menengan Atas 97%, ini ialah yang tertinggi tercatat di negara-negara maju. Sangat menarik untuk dicatat bahwa 80% sekolah-sekolah di korea memperbolehkan eksekusi fisik.
– Peserta Didik
Anak-anak Korea Selatan paling tidak senang berdasarkan studi di antara negara-negara maju, sebab stress akhir tekanan pendidikan yang sangat tinggi di negara itu. Korea Selatan ada di posisi paling bawah di antara 30 negara dalam tingkat kepuasan belum dewasa dengan hidup mereka, berdasarkan Kementerian Kesehatan Korea Selatan, diikuti oleh Rumania dan Polandia. Faktor paling relevan dalam kepuasan hidup belum dewasa ialah stress akademik, diikuti dengan kekerasan di sekolah, ketagihan Internet, kelalaian dan kekerasan dunia maya,” berdasarkan kementerian tersebut mengenai survei yang dilakukan atas lebih dari 4.000 rumah tangga dengan belum dewasa berusia kurang dari 18 tahun.
Kepala Bank Dunia Jim Yong Kim, yang lahir di Korea Selatan, menyampaikan sistem pendidikan telah memperlihatkan beban berat di bahu anak, dengan fokus pada kompetisi dan jam berguru panjang. Lebih dari setengah belum dewasa usia antara 15 dan 19 tahun yang ingin bunuh diri menyebut kinerja akademik dan ujian masuk universitas sebagai alasan, berdasarkan Statistik Nasional Korea.
Orang-orangtua Korea Selatan dikenal memasukkan belum dewasa ke sekolah-sekolah untuk berguru hingga malam hari, dan mulai pengajaran Bahasa Inggris di taman kanak-kanak. Korea Selatan juga mempunyai prestasi jelek dalam indeks pembatasan anak, yang meliputi kemiskinan anak dan waktu untuk hobi dan sekolah atau kegiatan klub. Negara itu ada di posisi paling bawah, sesudah Hungaria dan Portugal.
-Pendidik
Kondisi lain yang sanggup dipetik dalam hal pendidik/guru, dimana Negara ini untuk menjadi guru SD saja  pada tahun 1990-an harus D-II dan untuk sekolah menengah harus diploma 4. Kondisi ini jikalau dibandingkan dengan Indonesia, terutama sepuluh tahunan ke belakang, guru SD kita hanya bertingkat SLTA/SPG dan gres sebagian kecil yang setingkat D-II PGSD, yang sekarang sesudah sebagian besar telah berkualifikasi D-II PGSD gres mulai beranjak ke S1 PGSD, sebab adanya tuntutan UU Guru dan Dosen tahun 2005. Makara dari segi latar pendidikan guru SD saja kita sudah tertinggal kurang lebih 20-50 tahun dibandingkan dengan Korea Selatan Belum lagi duduk kasus karier, dimana Negara ini telah menerapkan sistem sertifikasi terhadap guru agak lama, sedangkan guru sekolah menengah (SLTP/SLTA) di Korea mensyaratkan harus berlatar belakang S2/S3 dengan kajian khusus atau bidang study, beda halnya di Indonesia yang terkadang satu guru bisa mengajar apa saja, bahkan tidak abnormal bila guru agama mengajar matematika dll, serta sebaliknya. Mengingat pendidikan merupakan “titik sentral” dalam maju mundurnya kondisi bangsa, untuk itu sudah selayaknyalah anggaran pendidikan harus diperhatikan dengan sungguh-sungguh dan paling penting juga menjamin kesejahteraan para guru sebagai prajurid terdepannya, sehingga para guru sanggup merasa besar hati dalam menjalankan tugasnya.
Daftar Pustaka
Agustiar Syah Nur, (2001), Perbandingan sistem pendidikan, Bandung : Lubuk Agung. Nanag Fattah. (1996). Landasan Manajemen Pendidikan. Bandung: PT
Al-Baghdadi, Abdurrahman. 1996. Sistem Pendidikan di Masa Khilafah Islam. Bangil-Jatim: Al-Izzah