Sistem Pendidikan Di Negara Timur Tengah (Irak), Eropa (Perancis), Dan Asia (Kamboja)

SUHARYATI L./SP

v  Studi Islam di Irak
Negara Irak ialah Negara yang berbentuk Republik yang merdeka pada tahun 1958. Pada tahun 1950 negara ini berpenduduk 5.100.000 orang, 93 % penduduknya beragama Islam (4.730.000 orang) dengan rincian kaum sunni 36 % (1.850.000 orang) dan kaum syi’i 57 % (2.880.000 orang). Luas Negara Irak 304.000 km dengan ibukotanya Baghdad dan kota-kota termasyhur antara lain Basra, Karbela, dan Mosul. Adapun penghasilan utama di Irak ialah padi-padian, kurma, kapas, kulit, permadani, dan minyak (34.000.000 ton) berdasarkan data tahun 1955. System pendidikan di Irak tidak jauh berbeda dengan system-sistem pendidikan yang ada di Negara Timur Tengah lainnya, yaitu: (a) tingkat Ibtidaiyah lamanya 6 tahun

(enam kelas); (b) tingkat Mutawassitah, lamanya tiga tahun; (c) tingkat Tsanawiyah, lamanya dua tahun; dan (d) tingkat tinggi/Universitas, lamanya empat tahun. Pada tingkat Ibtidaiyah dari kelas 1 s/d kelas VI diajarkan Agama 2 jam dalam seminggu. Begitu juga tingkat Mutawassitah dan Tsanawiyah, pada tiap-tiap kelas diajarkan agama 2 jam seminggu.

·         Fakultas Syari’ah
Fakultas Syari’ah, mula-mula namanya madrasah Abu Hanifah, lalu diubah menjadi Madrasah Al-Imam A’zham. Sesudah itu diubah lagi menjadi Darul Ulum Diniyah. Sekarang menjadi Fakultas Syari’ah, salah satu Fakultas dari Universitas Baghdad. Dengan demikian fakultas Syari’ah dibawah Kementerian Pengajaran, sedangkan sebelumnya berdiri sendiri dibawah Kantor Urusan Wakaf. Tujuan Fakultas Syari’ah ialah menunjukkan pelajaran kecerdasan yang teratur pada tingkat tinggi dalam ilmu Syari’at Islam, bahasa arab dan Kesusastraannya, sejarah Islam, sejarah agama-agama dan Ketuhanan, ilmu-ilmu kemasyarakatan dan pendidikan.
Fakultas Syari’ah menunjukkan gelar ilmiah Bacalorious kepada mahasiswa yang telah lulus dalam ujian penghabisan dalam ilmu-ilmu tersebut diatas. Belajar pada Fakultas Syari’ah ialah Cuma-Cuma, tidal dipungut uang kuliah, bahkan dengan belanjanya sendiri, serta diberikan makanan, pakaian, kitab-kitab pada mahasiswa secukupnya, dan selain dari pada itu diberi pula uang saku tiap-tiap bulan. Lama pelajaran empat tahun setelah pelajaran Tsanawiyah.
·         Fakultas Tarbiyah
Pada tahun 1923 M, diadakan kursus petang hari untuk guru-guru sekolah rakyat, buat mendidik mereka menjadi guru pada sekolah menengah. Kemudian diubah system ini dengan mengadakan sekolah sendiri, pelajar-pelajarnya diterima dari murid-murid keluaran sekolah menengah dan usang pelajarannya dua tahun. Tetapi sekolah itu di tutup pada tahun 1931 M. lalu di buka kembali pada tahun 1935 M, dan usang pelajarannya diubah menjadi tiga tahun pada tahun 1937 M. setelah itu dijadikan empat tahun  pada tahun 1939 M hingga sekarang. Dahulu pelajar-pelajarnya putera saja, dan pada tahun 1937 M gres mulai mendapatkan pelajar-pelajar puteri. Pada tahun 1959 M Darul Mu’allimin al-Aliyah diubah namanya menjadi Fakultas Tarbiyah sebagai salah satu Fakultas dari Universitas Baghdad, sedang rencana pengajarannya tetap ibarat sediakala. Mahasiswa yang diterima masuk Fakultas Tarbiyah ialah pelajar yang berijazah sekolah Tsanawiyah atau sederajat dengan itu. Begitu juga sanggup diterima guru keluara Mu’allimin Ibtidaiyah, bila ia telah praktek mengajar sekurang-kurangnya setahun lamanya serta menerima persetujuan dari Kementerian Pengajaran. Lama berguru pada Fakultas Tarbiyah empat tahun, dan mahasiswa yang lulus dalam ujian penghabisan diberi gelar Licence dalam budbahasa atau ulum. Fakultas Tarbiyah mempunyai perpustakaan yang besar, berisi 30.000 jilid buku-buku bermacam-macam ilmu pengetahuan sesuai dengan kebutuhan Fakultas Tarbiyah terdiri dari beberapa jurusan :
·         Jurusan Bahasa Arab.
·         Jurusan Bahasa-Bahasa Asing.
·         Jurusan Ilmu-Ilmu Kemasyarakatan.
·         Jurusan Ilmu-Ilmu Hayat.
·        
Jurusan Kimia.
·         Jurusan Ilmu Pasti.
·         Jurusan Ilmu Alam.
Ada tiap-tiap jurusan itu diberikan ilmu pendidikan dan ilmu jiwa mulai dari tingkat II s/d tingkat IV, untuk menyiapkan mahasiswa menjadi guru pada sekolah menengah dalam mata pelajaran yang dipelajarinya pada jurusan yang dipilih. Lain dari pada itu ada lagi jurusan pendidikan dan ilmu jiwa, yaitu untuk Takhassus dalam ilmu pendidikan dan ilmu jiwa, usang belajarnya setahun. Tujuannya mendidik mahasiswa menjadi guru ilmu pendidikan dan ilmu jiwa pada sekolah Mu’allimin/Mu’allimat Ibtidaiyahatau menjadi pemeriksa (penilik di Indonesia) sekolah rakyat atau kepala sekolah menengah. Mahasiswa yang diterima masuk jurusan ilmu pendidikan atau ilmu jiwa itu ialah mahasiswa yang telah menerima gelar Licence pada salah satu jurusan tersebut diatas dan telah berpengalaman praktek mengajar sekurang-kurangnya tiga tahun, serta menguasai bahasa Inggris, sehingga sanggup membaca buku-buku bahasa Inggris dalam ilmu yang akan dipelajarinya sebagai sumber yang asli.
v  Sistem Pendidikan di Perancis
Perancis ialah Negara terluas ketiga di dunia setelah Ethiopia dan San Marine. Sampai kini Negara Perancis yang berstatus Republik (Republik of Perancis) sudah berusia 1.400 tahun. Negara ini tercatat dalam sejarah politik ialah Negara penjajah urutan pertama disusul Inggris. Nama orisinil Perancis ialah La Republique Francais, yang di kepalai oleh seorang Presiden dengan kepala pemerintahan di ketuai oleh Perdana Menteri. Setelah revolusi Perancis berakhir, maka pada zaman Napoleon Bonaparte Negara mulai memonopoli pendidikan di Perancis dan akademi swasta diperkenankan berdiri dan mengambil bab dalam system pendidikan. Pendidikan di Perancis berada di bawah tanggung jawab Departemen Pendidikan Nasional. System pendidikan sentralistis, yaitu sekolah di kelola oleh Pemerintah Pusat. Sejak zaman Pemerintahan presiden De Gaulle (1958) diadakan tingkatan Pengelolaan pendidikan atau manajemen pendidikan, yaitu :
          Tingkat pertama ialah tingkat legislative dan penasehat pusat.
          Tingkat kedua ialah tingkat manajemen dan pelaksana pusat.
          Tingkat kedua ialah tingkat manajemen dan pelaksana setempat.
Kurikulum pendidikan tingkat rendah terdiri dari bahasa Perancis, membaca, menulis, berhitung, sejarah, ilmu bumi (khusus Perancis dan Negara-negara jajahan), akhlak, kewarganegaraan, dasar-dasar ilmu niscaya dan alam, menggambar, pekerjaan tangan, bernyanyi dan gerak badan. Murid-murid yang hendak melanjutkan sekolah mnengah, harus lulus ujian masuk kelas enam, terutama bagi mereka yang mempunyai nilai ujian cukup. Kalau nilainya baik, maka mereka sanggup masuk dan diterima secara otomatis di tahun pertama (classes de sixieme). Yang menarik untuk dipelajari ialah tingkat kelas dimulai dari angka yang tertinggi lalu menurun. Makara sekolah dasar enam tahun, dan kelas diatur sebagai berikut:
Kelas enam = kelas satu di Indonesia.
Kelas lima = kelas dua di Indonesia.
Kelas empat = kelas tiga di Indonesia.
Kelas tiga = kelas empat di Indonesia.
Kelas dua = kelas lima di Indonesia.
Kelas satu = kelas enam di Indonesia.
Jadi, bila tamat SD, berarti betul kelas satu, bukan kelas enam. Mengenai pendidikan di Perancis, terdapat kekhususan tersendiri, yaitu semua akseptor didik yang bisa menamatkan pendidikannya di pendidikan rendah dengan rapot baik, maka ia sanggup melanjutkan sekolah Cycle d’observation, terutama akseptor didik yang berusia 11-12 tahun. Lama berguru di Cycle d’observation du
a tahun, yaitu kelas V dan VI. Selama kuartal pertama semua akseptor didik di berikan mata pelajaran yang sama. Mereka yang lulus seleksi pada kuartal pertama sanggup masuk ke jurusan klasik (Section Classique) dan sanggup pelajaran bahasa latin. Kalau di Indonesia pada zaman belanda sanggup disamakan, yaitu murid-murid kelas III Sekolah Rakyat atau Volk School, diperbolehkan ujian untuk masuk ke kelas H.I.S. (Hollands Inlandse School) empat tahun dengan bahasa pengantar bahasa Belanda untuk sanggup melanjutkan ke M.U.L.O. (Meer Uitgebreid Lager Onderwijs). Mereka yang menamatkan MULO sanggup melanjutkan ke A.M.S. (Algemenee Middelbare School) atau sekolah menengah umum atau ke HIK (Hollandsch Inlandsche School atau Sekolah Guru). Bila mereka sanggup menamatkan Cycle d’Observation dengan baik, mereka sanggup melanjutkan ke jurusan tang dikehendaki oleh orang tuanya. Jurusan-jurusan yang ada ialah :
·         Jurusan Pendidikan Penutup (L’enseignement Terminal) dengan usang berguru tiga tahun. Pendidikan ini diberikan khusus bagi akseptor didik yang kemampuan inteleknya rendah dan tidak ada sambungannya. Mata pelajaran dititkberatkan kepada ketrampilan yaitu bercocok tanam, pekerjaan tangan, ilmu dagang, bertukang dan menjadi magang di beberapa perusahaan untuk memperoleh pendidikan mudah yang berkhasiat bagi kehidupan mereka. Mereka diberi ijazah certificate d’Etudes Premaires Elementaires.
·         Jurusan Pendidikan Umum Pendek (L’enseignement Genteral Court). Lama pendidikan tiga tahun. Kurikulumnya menitikberatkan kepada ilmu pasti, dua bahasa ajaib dan diakhiri dengan ujian. Bagi yang lulus memperoleh ijazah Pendidikan Umum (Brevet d’Enseignement General). Mereka sanggup diterima bekerja di pekerjaan yang tidak bersifat teknis contohnya di kantor pemerintahan sebagaimana yang terjadi di Indonesia, yaitu tamat sekolah menengah sanggup diterima menjadi pegawai di bab administrasi, atau mereka diperkenankan melanjutkan pendidikan ke Sekoal Normal Pendidikan Guru.
·         Jurusan jenis ketiga ialah Pendidikan kejuruan Pendek (L’enseignement Proffessionnele Court) dengan usang berguru empat tahun. Pendidikan ini diperuntukkan bagi akseptor didik yang berbakat teknis, yaitu mereka yang tidak berbakat ke pendidikan yang bersifat umum ibarat jurusan kedua diatas. Mereka dalam pendidikannya lebih banyak praktik di samping teori. Di Indonesia, pendidikan kejuruan ini seperti: SMEP, SMEA, STM. Kepada mereka juga diberikan mata pelajaran umum untuk meluaskan wawasan mereka. Mereka yang sanggup menamatkan pendidikannya diberikan ijazah kejuruan atau Certificat d’Aptiture Proffessionelle. Keahlian yang mereka terima membuka kesempatan mereka untuk andal menengah dalam bidang industri atau pekerjaan umum.
·         Jurusan jenis keempat ialah Pendidikan Kejuruan Panjang (L’enseignement Proffessionnele Long). Pendidikan dikhususkan bagi yang berkemampuan intelek atau IQ tinggi. Pada jurusan ini ada dua keahlian Lyceum Kejuruan (Lycees Technique) dan keahlian teknik atau Technique Berevete. Lama pendidikan pada jurusan keahlian pertama empat tahun.
·         Jurusan Pendidikan Umum Panjang (L’enseignement General Long). Jurusan mempersiapkan akseptor didik  untuk melanjutkan ke Perguruan Tinggi. Lama pendidikan tujuh tahun.
Kelima jurusan menengah diatas terdapat pada kepemimpinan Menteri Pendidikan Nasional Berthion pada tahun 1959 M. di Indonesia, ujian ini sanggup disamakan dengan EBTANAS untuk memasuki Perguruan Tinggi. Menurut catatan sejarah pendidikan system pendidikan atau proses belajar-mengajar yang diproses bersifat kaku, yaitu guru memberi kuliah akseptor didik menciptakan catatan (Cahiers).
v  Sistem Pendidikan di Negara Kerajaan Kamboja
System pendidikan pada Negara Kamboja tidak jauh system pendidikan di Perancis, yaitu sekolah-sekolah didirikan oleh kaum agama. Kamboja yang luasnya 181.000 km dan mempunyai iklim yang sama dengan Negara Indonesia, yakni iklim tropis. System Pendidikan yang ada di Kamboja pada garis besarnya terdiri dari tiga macam, yaitu :
·         System Pendidikan Rakyat
·         Pendidikan Agama Budha
·          Pendidikan Pribadi.
Sistem Pendidikan
Rakyat
Pendidikan trdisional di Kamboja berdasarkan pada pendidikan setempat yang diajarkan oleh para guru-guru agama. Para pelajara diharuskan menghafalkan pelajaran-pelajaran agama budha. Selama masa pendudukan Perancis system pendidikan menganut system pendidikan Perancis, selain dari pada pendidikan trdisional. Pada tahun 1931 M di Kamboja hanya terdapat tujuh orang yang berguru di Sekolah Tinggi, dana pada tahun 1936 M hanya terdapat sekitar 50.000 hingga 60.000 anak yang mendaftar berguru di sekolah dasar. Dari awal masa 20 hingga tahun 1975 M system pendidikan yang dilaksanakan ialah pendidikan rakyat serta pendidikan yang ada di Negara Perancis. System pendidikan ini terdiri dari tiga tingkatan, yaitu:
·         Sekolah Dasar.
·         Sekolah Lanjutan
·         Sekolah Tinggi
·         Sekolah pribadi.
Pendidikan rakyat ini dibawah naungan hokum Kementerian Pendidikan, yang memakai control penuh melebihi system yang ada, yaitu ibarat menciptakan silabi sendiri, menyewa dan membayar guru-guru, menyiapkan persediaan dan membentuk pengawasan-pengawasan sekolah. Seorang pengawas di sekolah dasar haruslah mempunyai wibawa, dan para pengawas kini pun ada di setiap provinsi. Komite Kebudayaan pun berada dibawah tanggung Kementerian Pendidikan yang mempunyai tanggung jawab untuk membuatkan dan memperkaya bahasa Kamboja. Pendidikan Dasar dibagi dalam dua bab dengan tiga tahun setiap bagiannya. Keberhasilan menyelasaikan pendidikan pada setiap bagian-bagiannya akan mendapatkan akta pengakuan. Kurkulum SD di Kamboja terdiri dari : aritmatika, sejarah, etika, kewarganegaraan, wajib militer, geografi, kesehatan, bahasa, dan ilmu pengetahuan, ditambah pendidikan psikologi dan buku pedoman kerja.
Bahasa Perancis diajarakan di tahun kedua. Bahasa Khmer diajarkan dibagian peratama sekolah dasar, dan bahasa Perancis dibagian kedua sekolah dasar, diawal tahun 1970-an. Bahasa Khmer dipakai lebih luas lagi hingga bab kedua darin sekolah dasar. Ditahun 1980, pendidikan dasar dimulai dari tingkat satu hingga tingkat empat. Sekolah lanjutan juga dibagi dalam dua bagian, tiga tahun untuk lanjutan dan setahunnya dipersiapkan sebelum Perguruan Tinggi. Untuk menyelasaikan tingkatan harus menyelasaikan pelajaran secara sebagian-sebagian (berangsur). Untuk menyelasaikan yang pertama dua tahun dalam dua bagian, dan pelajar akan menyelasaikan sebagian pelajarannya, sehingga menjadi sarjana muda (BA), dan dilanjutkan dengan penyelasaian final dengan ujian serupa yang telah mereka lewati untuk sarjana lengkapnya. Kurikulum lanjutan di Kamboja serupa dengan kurikulum lanjutan yang ada di Perancis. Dimulai pada tahun 1967, toga tahun terakhir dari sekolah lanjutan dibagi dalam tiga penyelesaian yang didalamnya mengandung tiga pelajaran pokok, yaitu :Pelajaran Matematika dan Biologi.  Di final tahun 1960-an dan awal tahun 1970-an, pendidikan kota lebih menekan pada pendidikan teknik. Dalam IRK pendidikan lanjutan dikurangi enam tahun.
Pendidikan tinggi tertinggal dari pendidika dasar dan lanjutan hingga final tahun 1950-an. Di final tahun 1950-an, pendidikan tinggi terdapat 250 mahasiswa. Mahasiswa banyak berguru di Perancis, tetapi setelah Kamboja mendapatkan kebebasannya, mahasiswa yang berguru Universitas bertambah banyak dan mereka berguru di Amerika Serikat, Kanada, China, Uni Soviet dan Jerman Barat. Yang paling banyak ialah berguru di universitas Phnom Penh, mendekati 4.570 mahasiswa dan 730 mahasiswi yang ada dalam delapan fakultas :Sekretaris dan Kemasyarakatan, Ilmu Pengetahuan dan Teknologi, Hukum dan Ekonomi, Kedoteran, Farmasi, Ilmu Perdagangan, Pelatihan Guru, Pelatihan Tinggi Guru. Banyak universitas yang dibuka diberbagai provinsi yang ada ibarat provinsi Kampong Cham, Takev, Batdambang, dan di Phnom Penh sendiri. Tetapi pada tahun 1970, tiga provinsi yang mengadakan universitas tersebut tutp alasannya ialah peperangan dan ditutup hingga waktu yang tidak ditentukan.
Selama rezim Khmer merah berkuasa di Kamboja, pendidikan mengalami kehancuran dan hampir tidak ada, setelah hamper dua decade rakyat Kamboja sanggup membaca dan menulis. Setelah diambil alih oleh Khmer Merah mulai banyak yang buta abjad kembali. Sekolah-sekolah ditutup, dan pendidikan rakyat mati. Ditahun 1970 lebih kurang 20.000 guru yang tinggal di Kamboja, lalu hanya ada sekitar 5.000 orang guru saja dalam sepuluh tahun terahir. Hamper 90% guru-guru mati terbunuh didalam kekuasaan rezim Khmer Merah. Hanya sekitar 725 pengajar di universitas, 2.300 guru pada sekolah lanjutan, dan sekitar 21.311 guru pada sekolah dasar yang sanggup mempertahankan nyawanya pada masa kekuasaan rezim Khmer Merah. Setelah kekuatan Khmer pergi dari Kamboja sitem pendidikan mulai dibangun kembali dari awal atau dasar, alasannya ialah tidak ada sama sekali. Buta abjad yang terjadi di Kamboja pun melebihi daripada 40% dan belum dewasa yang berusia dibawah 14 tahun pun banyak yang kurang mempunyai dasar pendidikan.Pendidikan mulai dibangun secara perlahan dan pasti, dan dibangun oleh kekuasaan PRK. Dalam tahun 1986 mulai dibangun pendidikan tinggi. Fakultas Kedokteran dan Farmasi dibuka pada tahun 1980, Fakultas pertanian mulai berpoerasi pada tahun 1985, Institut Bahasa yang terdiri dari bahasa Vietnam, Jerman, Rusia, dan Spanyol. Fakultas Perdagangan mulai dibuka pada tahun 1979 dan juga Fakultas Pendidikan Vickeri menyatakan bahwa pemerintah dan masyarakat mulai antusias terhadap pendidikan dan pertama lebih diprioritaskan pada tahun 1984 final mulai diajarkan bahasa asing.
Martin menggambarkan wacana pendidikan yang dibangun PRK dasarnya menutup diri dari system pendidikan di Vietnam, tetapi mulai menemukan titik temu untuk sekolah dasar dan sekolah lanjutan yang mulai berubah dari secara pribadi mencontoh ibarat system pendidikan di Vietnam. Dalam kekuasaan PRK, pendidikan dasar masih ada hingga kelas enam, dan tingkat pendidikan lanjutan hingga kelas tiga. Martin juga manuliskan, tidak setiap anak dan cowok sanggup sekolah alasannya ialah sekolah hanya ada di kota kecil sedangkan di pinggiran kota masih membutuhkan sekolah serupa. Masyarakat buruh biasanya membayar 25 riel perbulan untuk membiayai anak-anaknya sekolah, dan ada juga yang mencapai hingga 150 riel.
Pendidikan Agama Budha
Sebelum Perancis mengadopsi system pendidikannya, pengajar agama Budha sudah ada yang diajarkan oleh para rahib dari kuil yang pribadi sebagai gurunya. Para rahib yang menjadi guru tersebut sangat menghormati fungsi pendidikan ibarat iktikad yang diajarkan dalam Budha dan sejarah yang ada tanpa memandang untung dan ruginya. Dalam dalam pendidikan ini para cowok dan pemudi tidak diizinkan berguru didalam lembaga-lembaga yang kecuali untuk membaca, menulis bahasa Khmer, dan mengikuti pengajaran dasar dalam pemikiran Budha. Tahun 1933, system pendidikan lanjutan untuk murid gres diciptakan dengan system pengajaran agama Budha. Seperti sekolah-sekolah di Pali menyediakan tiga tahun untuk menguasai perangkat pendidikan untuk duduk dan diterima di universitas agama Budha Phnom Penh. Adapun kurikulum agama Budha ini terdiri dari pelajaran yang didapat di Pali, iktikad Budha, dan Khmer. Selain itu didapat pula matematika, sejarah kamboja, geografi, ilmu pengetahuan, kesehatan, kewarganegaraan, pertanian. Ajaran Budha ini berada pada Kementerian Agama. Hamper 600 sekolah dasar Budha, dengan murid lebih dari 10.000 siswa dan 800 rahib sebagai gurunya, dan ini berakhir hingga tahun 1962. Dalam tingkatan ini siswanya meneruskan belajarnya ke universitas Preah Sihanouk Raj Buddist yang dibangun pada tahun 1959. Institute agama Budha mulai mengadakan penelitian dan riset di perpustakaan Royal yang dibangun tahun 1930. Banyak dongeng di Kamboja yang terkenal, diantaranya ialah kisah Tripitaka yang melengkapi koleksi pemikiran agama Budha itu sendiri, yang diterjemahkan dalam bahasa Khmer. Tidak ada informasi yang akurat yang sanggup kita lihat wacana kuil Budha ni hingga pada tahun 1987.
Pendidikan Pribadi
Untuk membagi jumlah populasi pendatang di kamboja, pendidikan pribadi memgang peranan yang penting dalam tahun-tahun sebelum komunis keluar dari Kamboja. Bebrapa sekolah pribadi itu mulai beroperasi dan dilakukan oleh etnik atau penduduk beragama minoritas. Penduduk minoritas ibarat berkebangsaan China, Vietnam, Eropa, Roma Katolik, dan kaum Muslim, mereka mengajarkan pengajaran bahasa, kebudayaan, dan agama mereka.
Sekolah lainnya yang mereka dirikan juga menyiapkan pendidikan bagi penduduk pribumi. Kehadiran beberapa sekolah pribadi tersebut, khususnya yang berada di Phnom Penh dan akseptor yang berguru tentunya banyak dari pendatang dan kebanyakan masih family. System pendidikan pribadi ini terdiri dari sekolah-sekolah bahasa China, sekolah-sekolah bahasa Perancis, sekolah-sekolah bahasa Inggris, sekolah-sekolah bahasa Khmer. Siswa yang berguru di sekolah-sekolah ini mulai berkembang dari sekitar 32.000 orang pada tahun 1960 menjadi 53.500 orang pada tahun 1970, dan keluaran sekolah ini ada sekitar 19.000 orang setiap periodenya.
DAFTAR PUSTAKA
          Mahmud Yunus, Perbandingan Pendidikan Modern di Negara Islam dan Intisari Pendidikan Barat, (Jakarta : CV. Al-Hidayah. 1968), cet. Ke-1.
          Aminuddin Rasyad, Sistem Pendidikan di Perancis, 2000, Makalah Seminar Kuliah Perbandingan Pendidikan Pasca Sarjana IAIN Syarif Hidayatullha Jakarta, 9 Oktober 2000.
          Mukti Ali, Sistem Pendidikan di Kamboja, 2000, Makalah di Seminarkan pada Mata  Kuliah Perbandingan Pendidikan Pasca Sarjana IAIN Syarif Hidayatullah Jakarta, 4 Desember 2000.