Sketsa Pendidikan Islam Pada Era Kemunduran Islam Dan Konstribusinya Bagi Kebangkitan Kembali Eropa

Mardalena/SP

            Makna pendidikan islam secara khusus tidak sanggup secara keseluruhannya disamakan dengan makna pendidikan secara umum. Pendidikan islam dikenal dan diyakini oleh penganut agama islam sebagai suatu acara pendidikan yang bersumber dari iktikad pedoman islam dengan nilai-nilai universal yang terkandung didalamnya yang senantiasa mempertimbangkan pengembangan fitrah insan atau potensi yang dimiliki oelh insan selaku makhluk. Dalam mempelajari pendidikan islam seseorang peneliti tidak sanggup mengabaikan dirinya dari mempelajari akar sejarah pendidikan islam yang merupakan penggalan integral dari sejarah islam itu sendiri.

            Para sejarahwan islam, menyerupai Ahmad Syalabi juga mengluhkan perihal sedikitnya info yang ada perihal pendidikan islam pada masa awal islam. Miskinnya info perihal peta pendidikan islam pada  masa awal islam mencapai puncaknya pada masa kemunduran islam (1250 M s/d 1500 M). pembahasan yang ada kebanyakannya merupakan goresan pena lepas yang kurang didukung akurasi data yang memadai dan ini lazimnya hanya merupakan analisa murni terhadap suatu kejadian ketimbang membangun suatu bangunan sejarah pendidikan islam secara sempurna dan utuh.
Perkembangan Masa Kejayaan Kota Baghdad
            Kota Baghdad ini didirikan oleh khalifah Abbasiyah ke dua, al-Mansur pada tahun 145/762 M. terletak disisi barat sungai Tigris berdekatan dengan  Mada’in, sebuah kota babilonia zaman kuno. Pada mulanya kota Baghdad oleh khalifah Abbasiyah ini dinamakan sebagai dar al-salam (kota perdamaian). Ia merupakan kota yang berbentuk melingkar yang merupakan peninggalan dinasti sasniyah, yang dilindungi dengan benteng-benteng tebal dengan empat pintu gerbang menuju empat penjuru utama yang menuju kearah Basyrah, Syiria, Kufah dan Kharasan. Kota ini terletak ada jalur utama Persia dan India, dan ia merupakan sentra peradaban dan politik islam diwilayah Barat.
            Kota Baghdad dikenal sebagai sentra peradaban dan kebangkitan ilmu pengetajuan dalam islam, merupakan kota intelektual diantara kota-kota dunia, dan juga Baghdad merupakan Profesor masyarakat islam. Selama Baghdad dipimpin oleh khalifah al-Mansyur, kota ini menjadi lebih mahsyur lagi karean kiprahnya sebagai sentra perkembangan peradaban dan kebudayaan islam banyak para ilmuawan dari banyak sekali tempat kekota ini untuk memahami ilmu pengetahuan yang ingin dituntunya. Khalifah al-Ma’mun memerintahkan penerjemah buku-buku ilmiah dan kesusasteraan segera bebondong-bondong tiba kekota ini. Ilmu pengetahuan dan sastra sangat berkembang pesat. Banyak buku filsafat dihidupkan kembali dan diterjemahkan kedalam bahasa Arab. Khalifa al-Mansyur mempunyai perpustakaan yang depenuhi oleh beribu-ribu buku ilmu pengetahaun, yang diberinama Bait al-Hikam. Dan disamping itu, banyak berdiri akademik, sekolah tinggi dan sekolah biasa yang memenuhi kota ini. Dua diantaranya yaitu perguaran Nizhamiyyah yang didirikan oleh Nizham al-Mustanshir Billah. Dalam bidang sastra, kota Baghdad tekenal dengan hasil karya yang indah dan digemari orang. Dikota Baghdad ini lahir dan muncul para saitis, ulama filosof dan sastrawan islam yang populer menyerupai alkhawarizm (ahli astronomi dan matematika, penemu aljabar), alkindi (seorang filosof arab pertama), al-Razi (seorang filosof jago fisika dan kedokteran), al-Farabi (seorang filosof terbesar yang merupakan guru besar kedua sehabis aristoteles dan tiga pendiri mahzab aturan islam serta sufi besar dalam islam yang dijuluki Hujjah al-Islam yaitu al-Ghazali, Ibn Muqaffa, dan sastrawan yang lain.
Kemunduran Pendidikan Intelektual Kota Baghdad
            Jatuhnya kota Bagdad di tangan Hulagu Khan pada tahun 1250 M, bukan saja menerangkan yang awal dari berakhirnya supermasi Khilafah Abbasyiyah dalam dominasi politiknnya, tetapi berdampak sangat luas bagi perjalanan sejarah umat islam yang dikenal sebagai titik awal kemundurang umat islam dibidang politik dan perdaban islam yang selama berabad-abad lamanya menjadi pujian umat. Pada masa jayanya kota Bagdad dikenal secara luas yaitu sentra kebudayaan dan peradaban islam yang sangat kaya dengan khazanah ilmu pengetahuan dan filsafat yang telah berhasil mengguli kota-lota lain yang dikenal sebagai sentra perdaban manusia. Dengan dibumihanguskannya kota Baghdad berikut kekayaan intlektual yang ada didalamnya. Maka berakhirlah kebesaran pemerintahan islam masa kemudian baik dalam wilayah kekuasaan maupun intelektual.
            Penghacuran sentra kebudayaan islam itu juga berakibat hilangnya dan putusnya akar sejarahnya intlektual yang telah dengan susah payah dibangun pada masa awal-awal islam. Adany kekalahan politik itu kuat besar pada cara pandang dan berpikirnya umat islam yang semula berpaham dinamis berkembang menjadi berpaham fatalis. Berubahnya paradigma berpikir itu amat disayangkan oleh banyak pengajur pembaharuan pemikiran isalam yang tiba pada masa-masa kemudian. Muhammad Iqbal contohnya pernah menulis kekecewaannya itu didalam suatu “During the last five hundred years religious thought ini Islam has been practically stationary”  (Hampir sepanjang lima ratus tahun lamanya pemikiran didalam Islam mudah menjadi statis).
            Kemuduran dan kehancuran Isalam di Bagdad, disatu sisi berdasarkan sebagian pemerhati sejarah islam yang masih melihat adanya harapan. Jika ingin jujur tidaklah sanggup dikatakan sebagai kemunduran dan kehancuran islam total. Sebab di belahan dunia lain, dengan tidak sanggup dibantah adanya suatu kenyataan seajrah Islam yang lain sebab tealh berhasil menancapkan kemajuannya di tempat Spanyol dibawah pemerintahan islam. Tetapi sesungguhna kemajuan yang mereka banggakan itu sifatnya juga sangat kecil dan tidak sporadic, sebab hanya terbatas pada wilayah Granada saja. Dan secara politik penguasa Islam di Granada yaitu Bani Ahmar (1332 M s/d 1492 M). hanya berkuasa pada wilayah yang sangat kecil. Kaprikornus argumentasi jatuhnya Bagdad sebagai permulaan terjadinya kemunduran Islam a           dalah argumentasi yang sangat sanggup diterima.
Adanya kemandegan dan kemunduran dalam segala bidang secara mudah sangat mempengaruhi juga bidang kajian Pendidikan Islam. Kalau pendidikan Islam dimasa kemajuannya telah berhasil menawarkan proteksi dalam melahirkan sumber daya insan unggulan melalui lembaga-lembaga pendidiaknnya yang belum pernah dikenal dimasa itu, maka pada masa kemunduran Islam itu telah terhenti atau minimal beralih fungsi.
Pendidikan kuttab, masjid, dan madrasah merubah fungsinya dari yang dulunya dikenal sebagai forum penelitian dan riset yang menjunjung tinggi kebebasan berpikir sekarang beralih fungsi menjadi suatau forum yang terbatas kajiannya pada bidang-bidang keislaman dan pada tingkat training lebih banyak ditekankan pada kemahiran pengahapalan siswa-siswanya dari pada melatih mereka berpikir.
Beberapa narasi yang sanggup dilihat sebagai bukti dan citra efek warisan produk masa kemudian mungkin perlu dikemukakan di sini. Muhammad Abduh, seorang tokoh modernis Mesir, pernah menolak kemauan ayahnya yang memaksanya untuk mealjutkan sekolahnya di Masjid Manwi. Dia menolak sebab system pengajaran di situ melulu memakai system hapalan tanpa diharapkan pengertian dan pengetahuan yang lebih luas akan arti dan makanya yang dihapalnya. Muhammad Abduh yaitu tokoh modernis yang sangat menjunjung tinggi kemampuan rasional. Selain Muhammad Abduh, Thaha Husein juga mengalami kekecewaan yang sama ketika orang tuanya mengirim dia untuk mencar ilmu di Al-Azhar. Beliau mendapati system pengajaran yang  sangat dogmatis dan sempit, serta materi palajarannya sangat tradisional dan menjemukan. Sehingga menolak kemauan orang tuanya itu. Demikianlah citra umum yang ada mengenai warisan yang masih berlanjut hingga awal masa ke-20 , warisan dari masa kemunduran Islam.
Perubahan system pengajaran dan materi pelajaran tidak hanya terjadi di lembaga-lembaga pendidikan formal sebagaimana yang telah disebutkan tadi, perubahan juga terjadi di lembaga-lembaga non-formal. Lembaga pendidikan non-formal, misalnya, Ribath dan Zawiyah, biala pada masa kemajuan Islam terjadi masih mengajarkan ilmu-ilmu alat lainnya disamping latihan-latihan tarekat. Maka pada masa kemunduran Isalam pelajaran tealh dibatsi oleh para syaikh hanya menjadi suatu Lembaga pendidikan yang dimaksudkan untuk hanya melahirkan dan mencetak seorang sufi yang menyakini segala fatwa sang Syaikh yaitu suatu dogma. Selain itu, terdapat  pual lembaga-lembaga non-formal yang sudah tidak terdengar lagi. Seperti bait al-Hikmah, observatorium, rumah sakit dan perpustakaan.
Keadaan ini berlanjut hingga berakhirnya masa Kerajaan Turki Usmani. Tercatat bahwa penguasa Turki Usmani lebih cenderung untuk menegakkan suatu paham keagamaan saja dan menekan kepada madzhab lain. Akibatnya dari itu semua yaitu terjadinya kelesuan intelektual dibidang ilmu keagamaan dan mulaii berkembang dan merajalelanya perilaku fanatic yang hiperbola kepada satu madzab atau syaikh, sebab itu ijtihad hampir-hampir tidak sanggup berkembang. Ulama hanya senantiasa mancari unsah evakuasi dirinya dengan hanya suka menulis buku dalam bentuk syarah (penjelas) dan hasyiyah (semacam catatan) terhadap karya-karya masa klasik.
Peralihan sentra pendidikan dari dunia Islam ke Eropa
            Dikala dunia Islam dari masa ke-7 M s/d masa ke-13 M, maka pada dikala yang sama dunia dibagian Eropa ketika itu masih berada pada masa kegelapan. Sehingga tidak mengherankan jikalau dikala itu orang-orang Eropa banyak yang tiba kedunia Islam untuk menuntut ilmu Pengetahuan. Ilmu Pengetahuan dan teknologi pada dikala itu dikusai dan dimonopoli oleh Dunia Islam.
Kedatangn Islam ke Eropa tidak saja berhasil mengadakan perbaikan-perbaikan dalam system ekonomi dan sosial masyarakat Eropa, tetapi Islam juga telah berhasil membebaskan bangsa ERopa dari tekanan-tekanan para kaum imperialis serta menggugah kesadaran mereka bahwa mereka pada dikala yang sama tealh tertinggal dalam kompetisi Ilmu Pengetahuan dengan dunia lainnya. Dengan masuknya Islam ke Eropa, Ilmu yang selama ini didominasi dan monopoli dunia Islam mulai bergerak pelah kearah masyarakat Eropa. Merekapun mulia mencar ilmu dan mengebangkan pengatahuan itu dengan giat.
Kegiatan keilmuan yang sebagian besarnya menerima stimulant dari kontak pribadi dunia Eropa dengan dunia Islam ternyata melicinkan jalan bagi kebangkitan (renaissance) kembali bangsa Eropa, dan sekaligus mengantarkan Eropa Barat secara khusus dan dunia secara umum kepada sejarah umat insan yang sama sekali baru, yaitu masa modern. Kontak dunia barat dengan Islam terjadi melalui tiga jalur pokok, yaitu:
1.    
 
Andalusia di Spanyol yang banyak mempunyai universitas-universitas yang banyak dikunjungi orang-orang Eropa untuk belajar. Kota Toledo mempunyai peranan yang sangat penting dalam hal ini.
2.      Sisilia yang pernah dikuasai Islam dari tahun 881 M s/d 1091 M.. Sebagaimana di Toledo Spanyol, kota Palermo merupakan tempat yang penting bagi acara penterjemahan buku-buku ulama Islam ke dalam bahasa latin.
3.      Perang Salib, tetapi dibandingkan dengan dua jalur tadi, peranan perang salib dalam memindahkan Ilmu Pengetahuan Islam ke Barat tidak sebesar dua kota tadi.22 Dengan terjadinya konflik Perang ini orang-orang Eropa mulai mengenal banyak barang-barang material yang telah ada didunia Islam tetapi mereka bangsa Eropa tidak pernah mengenalnya.
Dengan diterjemahkannya buku-buku ilmiah karangan ilmuwan-ilmuwan Muslim melalui pusat-pusat terjemah yang banyak tersebar di Eropa, orang-orang Eropa telah mulai sanggup mengalihkan Ilmu Pengetahuan yang selama ini berada di dalam genggaman orang Muslim ke dunia mereka di Eropa. Pada waktu yang bersamaan berkembang pula di Eropa dan sangat digemari hasil pemikiran-pemikiran filosuf-filosuf Muslim terutama pemikiran Ibn Rusyd yang rasional yang selama ini pemikirannya banyak ditolak di dunia Islam.
Pengembangan pemikiran Ibn Rusyd dalam problem Ilmu Pengetahuan di Eropa tidaklah menyerupai pengembangan yang selama ini berada di dunia Islam yang cenderung tidak memisahkan problem agama dan ilmu pengetahuan. Pengembangan Ilmu Pengetahuan di Eropa cenderung bersifat sekularistik-ateistik, sebab itu mereka meninggalkan ajaran-ajaran Ibn Rusyd perihal hubungan agama dan filsafat yang keduanya bukanlah sesuatu yang terpisah tetapi merupakan satu penggalan yang integral. Berkembangnya pemikiran Ibn rusyd di Eropa yaitu sehabis orang-orang yang terpengaruh ajarannya membentuk suatu orde yang disebut dengan Averroeisme. Akan tetapi terjadi penyimpangan dalam memahami pemikiran murni Ibn Rusyd, yakni dengan menyampaikan adanya kebenaran ganda. Kebenaran yang dibawa agama benar dan kebenaran yang dibawa filsafat juga benar.
Daftar Pustaka
1.      Nizar, Samsul. 2009. Sejarah Pendidikan Islam Meneladani Jejak Perjalanan Era Rosulullah Sampai Indonesia. Jakarta: Kencana Prenada Media Group.