Strategi Dalam Bidang Pendidikan


Strategi Dalam Bidang Pendidikan
Pengertian Strategi
 Adalah pendekatan secara keseluruhan yang berkaitan dengan pelaksanaan gagasan, perencanaan, dan sanksi sebuah acara dalam kurun waktu tertentu. Di dalam taktik yang baik terdapat koordinasi tim kerja, memiliki tema, mengidentifikasi faktor pendukung yang sesuai dengan prinsip-prinsip pelaksanaan gagasan secara rasional, efisien dalam pendanaan, dan mempunyai taktik untuk mencapai tujuan secara efektif.
Tujuan Strategi Pendidikan
Tujuan dari sebuah strategi  adalah suatu  jalan untuk mencapai tujuan tertentu atau untuk mencapai sasaran dan posisi strategis. Adapun tujuan taktik pendidikan ialah suatu perencanaan dan gagasan untuk mencapai tujuan pendidikan yang sebenarnya sesuai dengan UU yang berlaku yaitu UU No.20 tahun 2003 pasal 3, yang berbunyi “Pendidikan nasional berfungsi membuatkan kemampuan dan membentuk tabiat serta peradaban bangsa yang bermartabat dalam rangka mencerdaskan kehidupan bangsa, bertujuan untuk berkembangnya potensi penerima didik biar menjadi insan yang beriman dan bertakwa kepada Yang Mahakuasa Yang Maha Esa, berakhlak mulia, sehat, berilmu, cakap, kreatif, mandiri, dan menjadi warga negara yang demokratis serta bertanggung jawab”.
Komponen Strategi Pendidikan
Untuk mencapai tujuan dari taktik pendidikan ada beberapa komponen yang saling berkaitan satu sama lainnya. Beberapa komponen taktik pendidikan tersebut ialah sebagai berikut.
1.                  Tujuan pengajaran. Tujuan pengajaran merupakan teladan yang  dipertimbangkan untuk menentukan taktik belajar-mengajar. Tujuan pengajaran yang berorientasi pada pembentukan perilaku tentu tidak akan sanggup dicapai kalau taktik belajar-mengajar berorientasi pada dimensi kognitif.
2.                 
3

Pendidik. Masing-masing guru berbeda dalam pengalaman pengetahuan, kemampuan menyajikan pelajaran, gaya mengajar, pandangan hidup, maupun wawasannya. Perbedaan ini mengakibatkan adanya perbedaan dalam pemilihan taktik belajar-mengajar yang dipakai dalam acara pengajaran.

3.                  Peserta didik. Di dalam kegiatan belajar-mengajar, penerima didik mempunyai latar belakang yang berbeda-beda. Seperti lingkungan sosial, lingkungan budaya, gaya belajar, keadaan ekonomi, dan tingkat kecerdasan. Masing-masing berbeda-beda pada setiap penerima didik. Makin tinggi kemajemukan masyarakat, makin besar pula perbedaan atau variasi ini di dalam kelas. Hal ini perlu dipertimbangkan dalam menyusun suatu taktik belajar-mengajar yang tepat.
4.                  Materi pelajaran. Materi pelajaran sanggup dibedakan antara materi formal dan materi informal. Materi formal ialah isi pelajaran yang terdapat dalam buku teks resmi (buku paket) di sekolah, sedangkan materi informal ialah bahan-bahan pelajaran yang bersumber dari lingkungan sekolah yang bersangkutan. Bahan-bahan yang bersifat informal ini dibutuhkan biar pengajaran itu lebih relevan dan aktual. Komponen ini merupakan salah satu masukan yang tentunya perlu dipertimbangkan dalam taktik belajar-mengajar.
5.                  Metode pengajaran. Ada banyak sekali metode pengajaran yang perlu dipertimbangkan dalam taktik belajar-mengajar. Ini perlu, sebab ketepatan metode akan mempengaruhi bentuk taktik belajar-mengajar.
6.                  Media pengajaran. Media, termasuk sarana pendidikan yang tersedia, sangat besar lengan berkuasa terhadap pemilihan taktik belajar-mengajar. Keberhasilan acara pengajaran tidak tergantung dari canggih atau tidaknya media yang digunakan, tetapi dari ketepatan dan keefektifan media yang dipakai oleh guru.
7.                  Faktor manajemen dan finansial. Termasuk dalam komponen ini ialah jadwal pelajaran, kondisi gedung dan ruang belajar, yang juga merupakan hal-hal yang dihentikan diabaikan dalam pemilihan taktik belajar-mengajar.
Strategi Pendidikan di Indonesia
Tujuan pendidikan nasional ialah untuk membuatkan potensi-potensi penerima didik yang menjadi insan beriman dan bertaqwa kepada Yang Mahakuasa Yang Maha Esa, berakhlak mulia, sehat, berilmu, cakap, kreatif, berdikari dan menjadi warga negara ya
ng demokratis serta bertanggungjawab. Adapun taktik pendidikan di Indonesia sebagai berikut.
1.                 
4

Pelaksanaan pendidikan agama serta sopan santun mulia.

2.                  Pengembangan dan pelaksanaan kurkulum berbasis kompetensi.
3.                  Proses pembelajaran yang mendidik dan dialogis.
4.                  Evaluasi, pengakuan dan sertifikasi pendidikan yang memberdayakan.
5.                  Peningkatan keprofesionalan pendidik dan tenaga kependidikan.
6.                  Penyediaan sarana mencar ilmu yang mendidik.
7.                  Pembiayaan pendidikan yang sesuai dengan prinsip pemerataan dan berkeadilan.
8.                  Penyelenggaraan pendidikan yang terbuka dan merata.
9.                  Pelaksanaan wajib belajar.
10.              Pelaksanaan otonomi manajemen pendidikan.
11.              Pemberdayaan kiprah masyarakat.
12.              Pusat pembudayaan dan pembangunan masyarakat.
13.              Pelaksanaan pengawasan dalam sistem pendidikan nasional.
Langkah yang Diambil dalam Strategi Pendidikan
Untuk mencapai tujuan mengunakan taktik pendidikan diharapkan langkah-langkah yang ditempuh. Ada beberapa langkah  menurut Depdikbud (1982), langkah-langkah yang ditempuh dalam proses penyususnan perencanaan pendidikan atau taktik pendidikan yaitu:
1.                  Pengumpulan dan pengolahan data, perkembangan pendidikan pada masa kini sangat perlu diketahui dan dipahami secara terang oleh perencana pendidikan sebab citra keadaan itu akan dijadikan dasar untuk penyusunan perencanaan pendidikan. Langkah pertama mengidentifikasi jenis data yang diperlukan.
2.                  Jenis data yang dikumpulkan  berkenaan dengan sistem pendidikan, baik data kuantitatif, data sarana dan prasarana , keadaan penduduk, geografi dan lapangan kerja.
3.                  Diagnosis, data yang sudah terkumpul harus dianalisis dan didiagnosis. Menganalisis data merupakan proses untuk menghasilkan suatu informasi. Mendiagnosis keadaan pendidikan sanggup dilakukan melalui penelitian dengan jalan meninjau segala perjuangan dan hasil pendidikan, termasuk mengkaji planning yang sudah disusun tetapi belum dilaksanakan. Dalam mendiagnosis keadaan pendidikan dipergunakan kriteria-kriteria menyerupai relevansi, efektifitas dan efesiensi.
4.                 
5

Perumusan kebijakan, merupakan suatu pembatasan gerak wacana apa-apa yang akan dijadikan keputusan oleh orang lain. Suatu kebijakan di bidang pendidikan dirumuskan secara melembaga oleh pemerintah dengan melibatkan instansi-instansi terkait. Biasanya kebijakan pendidikan sudah dituangkan dalam repelita. Para perencana pendidikan tetap memegang peranan penting terutama dalam menunjukkan nasehat teknis dalam perumusan kebijakan.

5.                  Perkiraan kebutuhan masa depan, perencanaan pendidikan harus bisa memperkirakan kebutuhan masa depan, sehingga planning yang lengkap sanggup disusun.
6.                  Perhitungan biaya, menghitung untuk semua kebutuhan yang sudah diidentifukasikan di masa datang. Perhitungan biaya dilakukan dengan memakai satuan biaya atau standardisasi harga yang berlaku untuk setiap kelompok kebutuhan dengan memperhatikan fluktuasi harga.
7.                  Penetapan sasaran, para perencana pendidikan meneliti sasaran-sasaran pendidikan untuk masa yang akan datang. Dari sasaran itu ditetapkanlah dana untuk masing-masing tingkatan sekolah.
8.                  Perumusan rencana, perencanaan yang disusun intinya ditujukan untuk, mnyajikan serangkaian rancangan keputusan untuk disetujui dan menyediakan pola secara matang.
9.                  Perincian rencana, planning yang telah dirumuskan dilakukan dengan cara, yaitu penyusunan acara dan identifikasi serta perumusan proyek. Penusunan acara ialah membagi-bagikan planning kedalam kelompok kegiatan. Setiap kegiatan dalam kelompok ini harus saling menunjang, dan meuju tujuan yang sama.
10.              Implementasi rencana, fase ini sudah hingga pada pelaksanaan planning yang disusun. Implementasi ini mulai dilakukan apabila masing-amasing proyek yang diusulkan sudah disahkan. Oleh sebab itu kerangka organisasi untuk banyak sekali proyek dikembangkan berdasarkan biaya tahunan. Disamping itu dikembangkan planning operasionalnya sepefrti pendelegasian wewenang, penugasan tanggungjawab, pengadaan prosedur umpan balik dan pengawasannya.
11.              Evaluasi rencana, sanggup dikatakan sebagai kegiatan selesai dari proses perencanaan sebelum revisi dilakukan. Penilaian berkaitan dengan kemajuan/perkembangan dan inovasi penyimpangan-penyimpangan dalam pelaksanaan suatu rencana. Penilaian yang dilakukan juga bermanfaat untuk melihat rangkaian kegiatan dalam proses perencanaan.
12.             

6

Revisi rencana, dilakukan berdasarkan hasil penilaian rencana. Revisi bertujuan untuk memperbaiki, melengkapi atau menyempurnakan planning yang akan tiba berdasarkan pengalaman masa kemudian (rencana yang sudah dilaksanakan)

Ciri-ciri Layanan Pendidikan yang Baik dan Berkualitas
Merujuk pada pemikiran Edward Sallis, Sudarwan Danim (2006) mengidentifikasi ciri-ciri sekolah atau forum yang bermutu, yaitu
1.                  Lembaga atau Sekolah berfokus pada pelanggan, baik pelanggan internal maupun eksternal.
2.                  Lembaga atau Sekolah berfokus pada upaya untuk mencegah problem yang muncul, dengan komitmen untuk bekerja secara benar dari awal.
3.                  Lembaga atau Sekolah mempunyai investasi pada sumber daya manusianya, sehingga terhindar dari banyak sekali “kerusakan psikologis” yang sangat sulit memperbaikinya.
4.           &nbsp
;     
Lembaga atau Sekolah mempunyai taktik untuk mencapai kualitas, baik di tingkat pimpinan, tenaga akademik, maupun tenaga administratif.
5.                  Lembaga atau Sekolah mengelola atau memperlakukan keluhan sebagai umpan balik untuk mencapai kualitas dan memposisikan kesalahan sebagai instrumen untuk berbuat benar pada masa berikutnya.
6.                  Lembaga atau Sekolah mempunyai kebijakan dalam perencanaan untuk mencapai kualitas, baik untuk jangka pendek, jangka menengah maupun jangka panjang.
7.                  Lembaga atau Sekolah mengupayakan proses perbaikan dengan melibatkan semua orang sesuai dengan kiprah pokok, fungsi dan tanggung jawabnya.
8.                  Lembaga atau Sekolah mendorong orang dipandang mempunyai kreativitas, bisa membuat kualitas dan merangsang yang lainnya biar sanggup bekerja secara berkualitas.
9.                  Lembaga atau Sekolah memperjelas kiprah dan tanggung jawab setiap orang, termasuk kejelasan arah kerja secara vertikal dan horozontal.
10.              Lembaga atau Sekolah mempunyai taktik dan kriteria penilaian yang jelas.
11.              Lembaga atau Sekolah memandang atau menempatkan kualitas yang telah dicapai sebagai jalan untuk untuk memperbaiki kualitas layanan lebih lanjut.
12.              Lembaga atau Sekolah memandang kualitas sebagai kepingan integral dari budaya kerja.
13.             
7

Lembaga atau Sekolah menempatkan peningkatan kualitas secara terus menerus sebagai suatu keharusan

Dari ciri-ciri tersebut sebenarnya lembaga-lembaga pendidikan di Indonesia mempunyai maksud dan tujuan yang sama yaitu untuk mencapai kesuksesan bersama dalam mewujudkan impian bangsa dalam memajukan pendidikan di Indonesia sesuai dengan Undang-undang.
9

DAFTAR PUSTAKA