Tahap Awal Kampanye Konstantinopel

YUNDHA NINGRUM R U/S/EA

Solidus emas Anastasios II, yang mempersiapkan Konstantinopel menjelang serangan Arab. Keberhasilan Arab membuka jalan untuk serangan kedua ke Konstantinopel, suatu perjuangan yang sudah dimulai semenjak Khalifah al-Walid I. Setelah kematiannya, saudara dan penerusnya Sulaiman mengambil proyek tersebut dengan semangat yang meningkat, diduga sebab adanya sabda Nabi bahwa Khalifah yang mempunyai nama Nabi akan menaklukkan Konstantinopel; Sulaiman yakni satu-satunya anggota Wangsa Umayyah yang membawa nama Nabi, yaitu nabi Sulaiman. Menurut sumber-sumber berbahasa Suryani, Khalifah gres itu bersumpah “untuk tidak akan berhenti berjuang melawan Konstantinopel sebelum mencapai titik darah
penghabisan bangsa Arab atau sebelum merebut kota itu.”Pasukan Umayyah mulai berkumpul di dataran Dabiq sebelah utara Aleppo, di bawah pengawasan pribadi Khalifah. Karena Sulaiman sedang sakit, komando dipercayakan kepada saudaranya Maslamah bin Abdul-Malik. ( Hawting, 2000:21)
Operasi terhadap Konstantinopel terjadi pada dikala negara Umayyah sedang mengalami periode perluasan berkelanjutan ke timur dan barat. Pasukan Muslim bergerak maju ke Transoxiana, India dan Kerajaan Visigoth di Hispania.( Hawting,2000: 73)
Persiapan Arab, khususnya pembanguan armada besar, bahwasanya telah diketahui oleh Bizantium yang merasa cemas. Kaisar Anastasios II (berkuasa 713–715) mengirim utusan ke Damaskus di bawah patrician dan prefek urban, Daniel dari Sinope, berpura-pura meminta perdamaian
, namun pada kenyataanya memata-matai pasukan Arab. Anastasios lalu memulai persiapan untuk pengepungan yang tak terhindarkan: perbentengan Konstantinopel diperbaiki dan dilengkapi dengan banyak artileri, sedangkan persediaan masakan dimasukkan ke dalam kota dan penduduk yang tidak bisa menimbun materi masakan untuk cadangan selaam tiga tahun dievakuasi. Anastasios memperkuat angkatan lautnya dan pada awal 715 mengerahkannya melawan armada Arab yang mendatangi pesisir Lykia di Phoinix—ada kemungkinan bahwa ada kebingungan antara daerah yang dimaksud dengan Phoinix di seberang Rhodes, dan bahkan mungkin dengan Fenisia (Lebanon modern), yang populer akan hutan cedarnya untuk mengumpulkan kayu untuk menciptakan kapal. Akan tetapi, di Rhodes, armada Bizantium, didorong oleh para tentara dari Thema Opsikion, memberontak, membunuh komandan mereka Yohanes Diakon dan berlayar ke utara menuju Adramyttion. Di sana mereka mengangkat seorang bekas pemungut pajak yang agak enggan, Theodosios III, sebagai kaisar. Anastasios menyeberang ke Bithynia di Thema Opsikion untuk menghadapi pemberontakan, namun armada pemberontak berlayar ke Khrysopolis. Dari sana, mereka melancarkan serangan terhadap Konstantinopel, hingga, pada selesai animo panas, para simpatisan di dalam kota membuka gerbang untuk mereka. Anastasios bertahan di Nikaia selama beberapa bulan, sebelum balasannya bersedia untuk mengalah dan hidup sebagai biarawan. Naiknya Theodosios, dari sumber yang ada disebut sebagai orang yang enggan dan tidak cakap, sebagai kaisar boneka orang Opsikion, memicu reaksi keras dari thema-thema lainnya, terutama Anatolikon dan Armeniakon di bawah strategosnya (jenderal) masing-masing, yaitu Leo orang Isauria dan Artabasdos.
Peta Asia Kecil dan Trakia Bizantium sekitar 740 M, dalam kondisi yang mendekati perang saudara, Arab dengan hati-hati mulai mempersiapkan gerak maju mereka. Pada September 715, barisan terdepan yang dipimpin Jenderal Sulaiman bin Mu’adz, berjalan melewati Kilikia menuju Asia Minor, merebut benteng Loulon yang strategis dalam perjalanannya. Mereka bermusim cuek di Afik, sebuah lokasi yang tidak diketahui erat pintu keluar Gerbang Kilikia. Pada awal 716, pasukan Sulaiman melanjutkan perjalanan ke Asia Kecil cuilan tengah. Armada kapal Umayyah di bawah Umar bin Hubaira berlayar di sepanjang pantai Kilikia, sementara Maslamah bin Abdul-Malik menunggu perkembangan dengan pasukan utama di Suriah.
Pihak Arab berharap perpecahan di pihak Bizantium akan menjadi laba bagi mereka. Maslamah telah menjalin korelasi dengan Leo orang Isauria. Sejarawan Perancis Rodolphe Guilland beropini bahwa Leo memperlihatkan untuk menjadi vasal Kekhalifahan, meskipun Jenderal Bizantium itu berniat untuk memanfaatkan pasukan Arab demi manfaatnya sendiri. Pada gilirannya, Maslamah mendukung Leo dengan cita-cita memperbesar kekacauan dan melemahkan Kekaisaran, untuk meringankan tugasnya dalam merebut Konstantinopel. (Guilland,1959:118–119)
Tujuan pertama Sulaiman yakni benteng penting yang strategis di Amorion, yang hendak dipakai oleh Arab sebagai basis pada animo cuek berikutnya. Amorion ditinggalkan dengan tidak berdaya dalam kekacauan perang saudara dan gampang untuk ditaklukan, namun pihak Arab lebih menentukan untuk mendukung posisi Leo sebagai penyeimbang Theodosios. Mereka memperlihatkan janji hening kepada kota itu bila penduduknya bersedia mengakui Leo sebagai kaisar. Benteng itu mengalah namun tetap tidak mau membuka gerbangnya bagi pasukan Arab. Leo tiba mendekati kota itu bersama sejumlah tentara dan melaksanakan serangkaian tipuan dan perundingan untuk menempatkan 800 tentara di dalam kota. Pasukan Arab, gagal mencapai tujuannya dan dengan perbekalan yang semakin menipis, balasannya mundur. Leo melarikan diri ke Pisidia dan, pada animo panas, dengan didukung oleh Artabasdos, diangkat menjadi kaisar.
Solidus emas Leo III kesuksesan Leo merupakan laba bagi Bizantium, sebab sementra itu, Maslamah dengan pasukan utama Arab melewati Pegunungan Taurus dan berjalan pribadi ke Amorion. Selain itu, oleh sebab Jenderal Arab itu belum mendapatkan gosip wacana janji ganda Leo, ia tidak menghancurkan wilayah yang ia lewati—thema Anatolikon dan Armeniakon, yang gubernurnya masih ia yakini menjadi sekutunya.Pada pertemuan dengan pasukan Sulaiman yang mundur dan mempelajari apa yang telah terjadi, Maslamah mengubah rencana: ia menyerang Akroinon dan dari sana ia berjalan menuju pesisir barat untuk bermusim dingin. Dalam perjalanannya, dia menjarah Sardis dan Pergamon. Armada kapal Arab bermusim cuek di Kilikia. Sementara itu, Leo memulai perjalanannya menuju Konstantinopel. Dia menaklukkan Nikomedia, di sana ia menemukan dan menangkap, di antara pejabat lainnya, putra Theodosios, dan lalu berarak menuju Khrysopolis. Pada animo semi 717, sehabis perundingan yang pendek, Leo berhasil menciptakan Theodosios mundur dan mengakuinya sebagai kaisar. Leo memasuki ibukota pada 25 Maret. Theodosios dan putranya diperbolehkan hidup di biara sebagai biarawan, sedangkan Artabasdos naik pangkat menjadi kouropalates dan dijodohkan dengan anak wanita Leo, Anna.
Pasukan semenjak awal, Arab telah menyiapkan serangan besar ke Konstantinopel. Kronik Zuqnin berbahasa Suryani dari selesai kurun ke-8 melaporkan bahwa pasukan Arab berjumlah “amat sangat banyak,” sedangkan penulis kronik berbahasa Suryani kurun ke-12, Mikhael orang Suriah menyebutkan bahwa pasukan Arab terdiri atas 200.000 tentara dan 5.000 kapal, suatu jumlah yang dibesar-besarkan. Penulis Arab kurun ke-10 Al-Mas’udi menyebutkan 120.000 tentara, dan catatan kurun ke-9 oleh Theophanes Sang Pengaku menyebutkan 1,800 kapal. Perbekalan untuk beberapa tahun dipersiapkan, dan mesin kepung serta materi pembakar (nafta) dikumpulkan. Kereta barangnya disebutkan berjumlah 12.000 orang, 6.000 unta dan 6.000 keledai, sedangkan berdasarkan sejarawan kurun ke—13 Bar Hebraeus, pasukan Arab mencakup 30.000 sukarelawan (mutawa) untuk Perang Suci (jihad). Berapapun jumlah pastinya, pihak penyerang berjumlah jauh lebih banyak daripada pihak bertahan; berdasarkan Treadgold, pasukan Arab kemungkinan berjumlah lebih banyak daripada keseluruhan angkatan perang Bizantium. (Treadgold,1997:346) Sedikit yang diketahui mengenai susunan rinci pasukan Arab yakni bahwa sebagian besarnya terdiri atas
dan dipimpin oleh orang Suriah dan orang Jazirah dari kelompok elite ahlul Syam (“Orang Suriah”), pilar utama dalam rezim Umayyah dan veteran perang melawan Bizantium. Di samping Maslamah, Umar bin Hubaira, Sulaiman bin Mu’adz, dan Bakhtari bin Hasan disebutkan sebagai letnannya oleh Theophanes dan sejarawan kurun ke-10 Agapius dari Hierapolis, sementara itu sebuah kitab anonim dari kurun ke-11 Kitabul ‘Uyun menyebutkan Abdullah al-Battal alih-alih Bakhtari.
Daftar Pustaka
1.      Hawting, G.R. (2000). The First Dynasty of Islam: The Umayyad Caliphate AD 661–750 (ed. 2nd). London, United Kingdom and New York City, New York: Routledge. ISBN 0-415-24072-7.
2.      Treadgold (1997). The First Dynasty of Islam: The Umayyad Caliphate AD 661–750 (ed. 2nd). London, United Kingdom and New York City, New York: Routledge. ISBN 0-415-24072-7.
3.      Guilland (1959) The First Dynasty of Islam: The Umayyad Caliphate AD 661–750 (ed. 2nd). London, United Kingdom and New York City, New York: Routledge. ISBN 0-415-24072-7.
4.      http://www.romaniatourism.com/arts.html#arts
5.      http://id.bachelorstudies.com/Sarjana-S1/Rumania/