Vietnam Dan Permulaan Expansi Perancis Di Indochina, 1820-1870

SRI RAHMI UTARI/14 B
Pertama kali  Perancis tiba ke Vietnam ialah untuk berdagang. Kemudian usang kelamaan Perancis ingin mengakibatkan Vietnam menjadi koloninya sehingga aneka macam cara ditempuh untuk mendapatkan Vietnam. Berawal dari derma Perancis atas undangan Gia-Long untuk menghadapi pemberontak tay-Son tahun 1777. kemudian hingga anak Gia-Long yang berjulukan Pangeran Canh di bawa ke Peracis oleh Pigneau dan hingga kembalinya pada Desember 1788.

Ada tahun 1801 putera pertama kaisar Gia Long yang berjulukan Pangeran Canh meninggal dunia. Sehungga kekuasaan jatuh ketangan saudaranya yang berjulukan Minh-Mang pada tahun 1820. Minh-Mang sangat membenci orang-orang Barbar dari barat. Dia menolak melaksanakan perjanjian dengan pedagang perancis ataupun surat terjanjian yang datangnya pribadi dari Raja Louis XVIII pada tahuan 1825. berkali-kali Perancis mencoba untuk mengadakan perjanjian dengan Minh-Mang tapi selau ditolak. Permintaan Perancis untuk mengadakan perjanjian dengan minh-mang dilakukan oleh Bougainville pada tahun 1831, oleh de Kergariou tahun 1827, oleh Admiral Laplace tahun 1831, tetapi semuanya ditolak mentah-mentah. Bahkan pada tahun 1826 konsul dari Perancis tidak diperbolehkan ada di tempat kekuasaan Minh-Mang.
Minh-Mang beragama Konfucius yamg sangat mengangkat pinggi kebudayaan cina dan sangat fanatik terhadap agama lain. Minh-Mang menghidupkan kembali politik eksekusi kepada orang Kristen. Politik ini disebut politik Nguyen. Hukuman ini banyak yang menentng. Pigneu, Le Van, Duyet, Gubernur Cochin-China, mengadakan keritik kepada peraturan tersebut.Padahal dalam amanat Gia Long sebelum meninggal ialah bahwa jangan ada eksekusi antara ketiga agama itu ( Confucius, Keristen, dan Budha). pada waktu itu kaisar berhasil menguasai 6 buah provinsi. Namun pada tahun 1833 Le Van Duyet meninggal. Dengan meninggalnyabeliau maka timbul peraturan gres yang mengucilkan orang-orang Kristen. Pengucilan terhadap orang-orang kristen berbuntut pada pemberontakan di Gia-dinh tetapi berhasil di lumpuhkan, bahkan beberapa missionatis terbunuh.
Pada bulan November 1839 terjadi prang antara cina dengan Inggris. Kemudian inggris berhasil menduduki khusan dan menyerang benteng-benteng taku di tempat Sungai Pei. Dengan adanya serangan tersebut maka gres terbukanya pikiran bahwa perilaku isolasi sangat membahayakan bagi Cina sendiri. Pada bulan januari 1841 Minh-Mang meninggal dan diganti oleh Thieu-Tri (1841-1847). Thieu Tri mencoba menghidupkan kembali politik penghukuman kepada orang Kristen, bahkan dengan kekuatan yang sangat besar. Dapat di sayangkan bahwa Thieu-Tri tidak secerdas ayahnya, sehingga Hongkong sanggup dikuasai inggris serta membuka lima pelabuhan untuk orang-orang Eropa.
Pada pebuari 1843 terdapat lima misionaris yang akan di bunuh tetapi dengan termintaan Admiral Cecile (komandan angkatan maritim perancis) kelima misionaris tersebut sanggup di selamatkan. Hal ini berarti fatwa cina telah mulai terbuka terhadap orang eropa. Ini di tandai dengan bertambahnya hak esk-teritorial kepada orang eropa.
Pada tahun 1844 terjadi perjanjian Wangsia yang berisi perihal hak-hak amerika serikat terhadap pecahan daerahnya di Cina. Da pada tahun yang sama  Perancis jga menerima toleransi bagi orang Perancis yang beragama Khatolik.
Tahun 1845 Admiral Cecile kembali berhasil membela dan membebaskan Mgr. Lefevre Bishop Apostolik. Kemudian Mgr. Lefevre di buang ke Singapura, tetapi di perjalanan dia mengancam kepada nahkoda supaya dia di selundupkan lagi kedaerah cochin-cina.
Pada tanggal 13 Maret 1847 Gubernur Perancis yang berjulukan Butterworth melaporkan bahwa kapal-kapal yang tiba ke Cochin Cina telah menerima peraturan gres yang ketat terhadap orang asing. Pada tahun 1847 Perancis mencoba untuk memaksa Thieu Tri memyerah kepada perancis dengan memamerkan angkatan lautnya di Tourane. Untuk menjaga keamanan pemerintahan Perancis di Cina maka Perancis menurunkan komandan Lapiere dengan kapal Glorie dan Victoriesusenya. Namun Thieu-Tri tidak tinggal diam, dia mengumpulkan pasukan dengan jumlah besar di Tourane dengan alasan sebagai penghormatan kepada pasukan Perancis. Thieu-tri mengajak para perwiranya untuk berpesta tetapi para perwira menolaknya, jadinya kapal-kapal vietnam menyerang kapal perancis dengan tembakan. Akhirnya kapal perancis pergi.
Pemerintahan Tu-Duc
Tahun 1848 Thieu-Tri diganti oleh anaknya yang berjulukan Tu-Duc, (1848-1883). Pada waktu itu terdapat seorang Konfusius yang sangat taat dan berpengetahuan membuat peraturan-peraturan yang didukung oleh Gubernur Thongkin dan Cochin Cina. Diantara peraturan itu ialah melaksanakan kekerasan kepada orang Kristen, menghancurkan perkampunganya, membagikan tanahnya, dan memisahkan antara pria dan perempuan. Setiap orang akan diberi goresan pena pada pipinya. Pipi kiri dengan goresan pena “ta do” yang artinya kafir dan pipi kanannya goresan pena nama daerah, darimana dia dikeluarkan. Beribu-ribu orang meninggal akhir perlakuan ini. Pada tahun 1851-1852 dua orang misionaris Perancis di bunuh. M. De Montigny, konsul perancis untuk pemerintahan Kamboja dan Muangthai di utus untuk pergi ke Hue untuk menemui Tu-Duc dan memberikan sebuah protes keras.
Pada masa pemerintahan Tu-Duc banyak pembunuhan terhadap Orang Eropa. Pembunuhan-pembunuhan ialah pada tahun 1856 misionaris Perancis disiksa dan di bunuh alasannya dituduh telah ikut dalam pemberontakan di Kwangsi. Korban-korban Minh-Mang yang di aturan mati dengan tujuan yang sama, tahun 1857 Tu-Duc telah membunuh bisop Spanyol yang berjulukan Mrg. Diaz. Inilah yang mengakibatkan perancis menerima alasan untuk menduduki Annam. Apalagi pada waktu itu prancis mempunyai squardon angkatan maritim yang berpengaruh di perairan cina. Selain itu perancis berafiliasi dengan Inggris dan spanyol yang sama-sama ingin menduduki Annam. Pada tahun 1867 De Montigny ke Hue dan memberikan tiga permohonan kepada Tu-Duc. Diantaranya:
1.      Jaminan kebebasan Agama bagi orang-orang Kristen
2.      Ijin mendirikan distributor perdagangan Perancis di Hue, dan
3.      Pengakuan bagi pengangkatan seorang  konsul Perancis di sana.
Setalah kantor direbut oleh pasukan Inggris-Perancis awal tahun 1858, pasukan Perancis-Spanyol dibawah Admiral Rigault de Genouilly menuju Tourane. Tiba di Tourane tanggal 31 Agustus 1858. Karena terjangkit penyakit dan kekurangan makanan, pasukan penjaga menjadi terlalu lemah untuk menyerang Hue. Setelah mempertimbangkan aneka macam hal Admiral itu tetapkan untuk merebut Saigon, gudang beras Annam dikala itu Tourane telah dikosongkan, dan bulan Pebruari 1859 Saigon berhasil direbut. Karena permusuhan dengan Cina berlanjut sehingga operasi besar-besaran terpaksa dihentikan. Permusuhan itu memuncak dikala Peking berhasil ditundukkan oleh pasukan Inggris-Perancis pada bulan oktober 1860. pada bulan Nopember 1859 Rigault de Genoully digantikan oleh Admiral Page, yang telah mendapatkan perintah untuk berunding dengan Tu-Duc. Karena Tu-Duc mencoba bermain taktik, sehingga Ouage tiba ke Tourane dan menghancurkan beberapa benteng.
Perang Cina berakhir bulan Januari 1851, kemudian Admiral Charner dengan squadron angkatan maritim dan 3.000 pasukan berangkat ke Saigon. Tanggal 25 Pebruari Admiral Charner berhasil memenangkan peperangan di Chi-hoa dan berhasil menangkap Mi-tho pada bulan April. Kemudian berturut-turut berhasil menduduki Giadinh, Thu daw-mot dan aneka macam propinsi Bien-hoa dan Go-cong. Bulan November Admiral Bonard berhasil menguasai seluruh Cochin China pesisir, serta pulau Condore dan semua pulau kecil di muara delta Mekong.
Bulan Mei 1862, Tu-Duc mengirim utusan untuk menanyakan persyaratan pada Perancis, biar bisa mengakhiri peperangan diselatan dan terbebas dari kesulitan-kesulitan yang berada di Tongking. Bulan berikutnya perjanjian disetujui. Kemudian Tu-Duc menyerahkan tiga propinsi pecahan timur Cochin China pada Prancis dan oke membayar ganti rugi yang cukup besar dengan angsuran 10 tahun. Saat ingin mendapatkan pengesahan perjanjian oleh Kaisar Napoleon III terjadi beberapa penundaan alasannya kapal yang membawa delegasi ke Prancis tidak boleh oleh angin ribut. Sementara Bonard melaksanakan kesalahan dalam pergantian Residen Prancis untuk mengawasi pemerintahan pribumi. Akibatnya bulan Desember 1862 timbul pemberontakan. Ketika perjanjian ditanda-tangani oleh Kaisar Napoleon III, Tu-Duc awalnya menolak menambahkan ratifikasinya, alasannya ancaman dari Bonard yang akan mengirim derma Prancis pada pemberontakan di Tongking, sehingga Tu-Duc harus menambahkan ratifikasinya.
Tahun 1863, dikala Lagrandiere mengambil alih koloni gres situasinya sudah sangat berbahaya. Sebelum Tu-Duc meratifisir perjanjian telah mengutus Phan Thanh-Gian ke Paris untuk mengembalikan tempat yang telah diserahkan dengan ganti rugi yang diperbesar. Raja Norodom dari Kamboja yang naik tahta tahun 1860, pada tahun 1861 mangalami kesulitan alasannya saudaranya yang berjulukan Si Votha memberontak dan memaksanya mengungsi ke Battamb
ang. Selama beberapa tahun Kamboja bertahan dari Muangthai dan Vietnam. Raja mencoba mempertahankan kemerdekaan dengan cara membayar upeti pada kedua belah pihak. Raja yang mengungsi mencoba pergi ke Bangkok untuk mencari derma senjata dan mendapatkan kembali mahkotanya. Permintaan tersebut didukung oleh Mgr.Miche, Vicar Apostolik Kamboja, yang kemudian menulis pada konsul Perancis di Bangkok untuk mendekati Muangthai. Bulan Maret 1862 pemerintah mengirim kembali Norodom ke Kampot dengan sebuah kapal api uap untuk memasuki ibu kota. Bagi perancis tujuan mereka ialah meneruskan tugas sebagai “Protektor” Kamboja. Sebuah kapal bersenjata perancis yang dikirim oleh Admiral Charner ke Phnom Penh untuk melindungi misionnaris Perancis membuat kebingunan para pemberontak. Charner tertarik pada keadaan Kamboja semenjak awal bulan Maret 1861, dikala Charner mengutus perwiranya untuk memberitahukan pada Norodom bahwa Perancis akan membantu mempertahankan kemerdekaan Kamboja. Namun Raja menyampaikan pada utuan itu akan menyerahkan semua kelanjutan kerajaan pada Muangthai yang telah menyelamatkan dari penguasaan Vietnam. Bulan September 1862 Bonard mengunjungi Norodom dan menganjurkan untuk menakhukkan Cochin China, Perancis beranggapan bahwa Negara itu kini mempunyai hak atas upeti yang sebelumnya dibayar pada Hue. Bulan April 1863 Bonard mengambil keputusan untuk penegakan imbas perancis dengan mengirimkan seorang letnan angkatan laut, Doudart de Lagree sebagai seorang Residen. Bonard menyuruh melaksanakan survey geografis negri itu dan menjalin hubungan dengan Raja. Saat kembali Residen melaporkan bahwa raja Muangthai lebih berkuasa di Oudong daripada raja Kamboja.Berita ini membuat Lagrandiere memberi waktu pada Muangthai untuk memperkuat kekuasaanya di Kamboja. Pada bulan Juli 1863 Lagrandiere melaksanakan kunjungan pribadi ke Oudong dan menunjukkan derma dalam menjaga kemerdekaan dari Muangthai. Awalnya Raja ragu, namun alasannya kaeadaan masih berbahaya Raja mendapatkan usulan tersebut. Raja juga takut kalau-kalau agitator po Kombo, yang telah menyulitkan Perancis diperbatasan akan merebut tahtanya.
Babak Kedua Expansi Perancis di Indochina, 1870-1900
Dalam bulan Mei 1868, ketika berada di Hankow pada perjalanan kembalinya dari Yunnan-fu, Francis Garnier menjumpai seorang pedagang Perancis, Jean Depuis. Penemuan-penemuan yang dilakukan oleh missi Doudrat de Lagree-Garnier menarik perhatiaqn Dupuis untuk kemungkinan pembukaan route perdagangan memasuki Yunnan dengan melalui Sungai Merah (Song-Koi).
Dalam tahun berikut, meskipun banyak saingan dari orang-orang mandarin Tongking dan kesulitan-kesulitan route, ia menyerahkan muatan perlengkapan militernya pada pemerintahan Yunnan. Tongking waktu itu dalam keadaan yang sangat mnyedihkan. Garnier tiba tanggal 5 November 1873. Usahanya untuk menengahi berlangsung hanya beberapa hari. Setelah mendapatkan kesukaran dengan oran-orang mandarin itu, ia mengeliarkan proklamasi yang menyatakan Song-koi terbuka untuk perdagangan umum. Tindakan tanpa memikirkan akhir yang dilakukan dengan berani itu berhasil baik hingga dengan perhiasan pasukan sukarela yang disusunnya, ia bisa merampas 5 benteng, termasuk Hai-pong dan Ninh-binh, dan menguasai pemerintahan Tongking Pesisir.
  
DAFTAR PUSTAKA
·         G. E. Hall. Sejarah Asia Tenggara. Surabaya. Usaha nasional.
·         http:// WWW.Wikipedia asia tenggara lama.com.