Wanita-Wanita Eropa Barat Yang Mengubah Dunia

Kiki Mega Santi/S/EA


Pengaruh perempuan sepanjang perjalanan sejarah tidak bisa dipandang sebelah mata. Asumsi bahwa kaum hawa ialah warga kelas dua telah usang pudar dan tidak relevan dalam meraih pencapaian yang luar biasa. Kiprah perempuan mendapatkan ratifikasi dunia dalam banyak sekali bidang, mulai dari bidang politik, kesusasteraan, seni, ilmu pengetahuan, musik, reformasi sosial, hiburan, petualangan, lingkungan, dan olahraga. Tentunya, banyak alasan yang mendasari kiprah dan usaha kaum perempuan di dunia. Hal ini tidak
bisa dipisahkan dari konteks sejarah yang memegang peranan penting. Isu-isu yang menjadi arus utama dalam pergolakan ketika itu, tentunya menjadi faktor pemicu (triggerring factors) untuk menghasilkan sebuah gebrakan dan karya. Misalnya, sebelum perang dunia, konteks sejarah yang mendominasi ialah kudeta dan politik, yang ditandai dengan keputusan perang. Selain itu, ketika itu perbudakan dan ketidaksetaraan gender juga masih berlangsung selama berabad-abad. Berikut ini beberapa wanita-wanita Eropa Barat yang mengubah Dunia:
1.      Hildegard dari Bingen
Hildegard dari Bingen hidup dalam biara,menarik diri dari kehidupan normal hampir sepanjang usianya,menulis sejumlah buku dan komposisi musikyang ternyata sangat memperngaruhi khazanahintelektual Eropa. Ia memberi nasehat kepada uskup,paus bahkan raja-raja, padahal pada masanya perempuan tidak mempunyai kiprah apapun dalam kehidupan publik dan cenderung dilecehkan. Hildegard juga dikenal dengan julukan sebagai “Sang Penerang dari Rhine”
“Dengan Bantuan alam,umat insan sanggup membuat semua hal yang diharapkan dan memperpanjang kehidupan” ujar Hildegard
Biografi :
Nama               : Hildegrad Von Bingen
Masa hidup     : 16 Semptember 1098 – 17 September 1179
Tempat Lahir   : Bermersheim,Jerman
Tempat Wafat : Disibodenberg,Jerman
Kebangsaan     : Jerman
Terkenal          : biarawati,peramal,penulis,komposer
Ketika Hildegard berumur 8 tahun, orang tuanya mempercayakannya kepada Jutta, saudara dari Pangeran Meginhard dari Spanheim. Jutta ini dikenal sebagai seorang pertapa yang tinggal di sebuah pondok yang berdampingan dengan gereja biara yang didirikan oleh St. Disibod di Dienssenberg. Di kawasan ini Hildegard merasa sangat senang. Ia begitu bersemangat menjalani kehidupannya bersama Jutta. Hildegard tak pernah memedulikan kesehatannya yang kurang baik. Ia selalu tersenyum dan berguru dengan giat. 
Pada tahun 1136 Jutta meninggal dunia dan Hildegard terpilih untuk menjadi penggantinya sebagai pemimpin biara. Hildegard mendapatkan kiprah tersebut dengan hati rela dan dengan rasa cinta yang besar kepada Tuhan. Ia bertekad untuk mempersembahkan segala yang terbaik bagi Allah yang dicintainya. Hildegard sangat memperhatikan kehidupan para s
uster di biaranya. Ia menjadi seorang pemimpin yang baik dan bijaksana.
Pada tahun 1141 visi Hildegrad tetang Allah Mendorongnya mulai menulis tetang naskah-naskah keagamaan. Hildegrad menulis karya visioner pertamanya yang berjudul Scivias (Ketahuilah Jalan Tuhan) yang memerlukan waktu penulisan hingga 10 tahun. Tulisan-tulisannya meliputi banyak sekali macam subjek,termasuk drama,ensiklopedia medis dan sebuah buku petunjuk pengobatan,disamping tentu saja karya wacana intruksi moral. Karya terbaiknya adalah Liber Divinorum Operum yang membahas wacana relasi antara Allah Dan Manusia.
Sebagai seorang biarawati Hildegrad herannya juga menulis wacana relasi seksual manusia. Mungkin ia penulis pertama yang secara terbuka menekankan pentingnya kenikmatan dan orgasme bagi perempuan dalam menjalin relasi seksual. Ia menulis dalam bukunya : “ketika seorang perempuan bercinta dengan seorang pria,ada sensasi panas dalam pikirannya,yang menjadikan perasaan sensual,yang mengkomunikasikan cita-cita mereguk kebahagiaan selama berlansungnya relasi intim yang berpuncak pada perembesan benih insan yang diberikan si pria. Dan ketika benih itu jatuh ditempat yang seharusnya, maka panas membara dalam otaknya meluap guna menampung dan merengkuh benih tadi, dan kemudian segera organ seksual perempuan akan berkontraksi sehingga seluruh belahan tubuhnya yang siap membuka dimasa menstruasi kini menutup, sama menyerupai ketika seorang laki-laki perkasa menggengam besar lengan berkuasa sesuatu dalam telapak tangannya” . Meskipun dikenal dengan karya tuliisannya, Hildegrad juga figur yang sangat penting sebagai seorang komposer, ditahun 1158 ia menuntaskan simfoninya yang terdiri dari 77 lagu.
Dalam tahun-tahun terakhir hidupnya, Hildegard juga menerima persoalan besar dengan pihak Dewan Gereja Mainz dan keuskupannya. Dengan adanya persoalan itu kesehatan Hildegard semakin memburuk. Kondisi badan yang semakin melemah membuat Hildegard jadinya menyerah. Ia meninggal dunia pada tanggal 17 September 1179. Proses kanonisasi untuk Hildegard dilakukan hingga dua kali. Ia terkenal sebagai seorang santa dalam “Roman Martirologi”. Relikwi beberapa belahan tubuhnya disimpan di beberapa keuskupan di Jerman hingga sekarang.
2.      Eleanor dari Aquitaine
Eleanor, lahir diwilayah Aquitaine, Prancis, ditahun 1122. Ia pertama-tama menjadi Ratu Prancis, kemudian Ratu Inggris.
“kupikir saya telah menikahi seorang raja,tapi ternyata saya menikahi seorang biarawan” tentang suaminta Loius VII.
Biografi :
Nama               : Eleanor Of Guyenne
Masa hidup     : 1122 (tanggal tidak diketahui) – 31 maret 1204
Tempat Lahir   : Bordeaux, Prancis
Tempat Wafat : Fontevrault, Anjou
Kebangsaan     : Prancis
Terkenal          : Ratu Prancis, kemudian Ratu Inggris,Duchess Of Aquitaine,ibunda dari 2 raja inggris (Richard “sihati singa” dan John)
Pada tahun1137, Eleanor mewarisi puri dan wilayah Duchy Of Aquitaine suatu wilayah yang luas yang membentang dari sungai Lo
ire hingga pegunungan Pyrenea di selatan. Warisan ini menjadikan Eleanor sebagai perempuan terkaya di Eropa pada masa itu. Eleanor ialah siswi cemerlang yang bisa membaca dan menulis bahasa latin, serta menguasai seluk-beluk musik dan kesusastraan. Ia suka menunggang kuda, berburu, dan melatih burung rajawali. Pada usia 15 tahun Eleanor menikah dengan Loius VII, Raja Prancis. Ia ialah pelindung dari tokoh-tokoh sastra seperti WaceBenoît de Sainte-Maure, dan Bernart de Ventadorn.
3.      Catherine de Medici
Catherine de Medici ialah istri dari raja Henri II, Prancis. Ia menikah pada usia 14 tahun, dan mempunyai imbas sangat besar sebagai ibu Suri terhadap anak-anaknya, yang semuanya menjadi 3 raja terakhir dari dinasti Valois yang menguasai Prancis pada kurun XVI. Catherine tidak semata-mata memperoleh kekuasaan dari statusnya sebagai istri dan ibu raja, melainkan juga berkat kebijaksanaan dan keberaniannya melaksanakan banyak sekali manuver dan persengkokolan politik; ia bahkan pernah mencoba, berhasil dan gagal memecahkan komplotan taktik yang melibatkan anaknya sendiri dalam rangka mempertahankan imbas politik.
“Di Prancis, dan pada masa terpenting dalam sejarahnya, Catherine de Medici mengalami kesalahan terburuk sebagai perempuan dan perempuan lainnya” Honore de Balzac .
Biografi :
Nama               : Catherine de Medici
Masa hidup     : 13 April 1519-5 Januari 1589
Tempat Lahir   : Florence, Italia
Tempat Wafat : Blois, Prancis
Kebangsaan     : Italia
Terkenal          : permaisuri dan pemangku kekuasaan sementara Prancis, istri Henri II dari Prancis, ibu dari 3 raja Prancis .
Selama  Catherine de Medici memerintah di Prancis, terjadi beberapa peperangan antara kaum sipil dan kaum religi. Ia memang kurang berbakat dalam politik, tapi ia melaksanakan apa yang harusnya ia lakukan untuk kebersamaan anak-anaknya.
Terlepas dari keterlibatan politik dan usaha tak kenal henti dalam menghipnotis anak-anaknya, Catherine diakui berjasa membuatkan kebudayaan. Meskipun tidak disukai oleh sebagian aristokrat Pranciskarena Catherine selalu berprilaku sebagai orang Italia, ia tetap mengasihi dan memelihara budaya aslinya sendiri. Berkat jasanya maka balet menjadi seni yang populer. Sebagai penggemar dansa dan pertunjukan seni Italia, Catherine menyelengarakan kursus dansa Italia di istana, disamping banyak sekali aktivitas seni khas Prancis. Ia menunjuk pemain biola Italia Balthasar de Beaujoyeux guna mengkomposisi musik bagi Balet de La Reine untuk merayakan ijab kabul putra kesayangannya,Henri. Itu ialah karya musik terpenting Beaujoyeux dan dipandang karya lengkap pertama balet.
4.      Elizabeth 1
Biografi :
Nama     
          : Elizabeth Tudor
Masa hidup     : 7 September 1533-24 Maret 1603
Tempat Lahir   : Greenwich, Inggris
Tempat Wafat : Richmond, Inggris
Kebangsaan     : Inggris
Terkenal          : Ratu Inggris, dan yang terakhir dari dinasti Tudor, menjadikan Inggris menjadi negara Protestan.
Di sepanjang sejarah Inggris, ialah Ratu Elizabeth I yang umumnya dianggap raja yang paling terkemuka. Empat puluh lima tahun pemerintahannya merupakan masa kemakmuran ekonomi, berkembangnya kesusastraan, dan munculnya Inggris jadi kekuatan armada bahari nomor satu di atas samudera. Tatkala Inggris tak lagi punya raja-raja yang menonjol, muncullah yang mengangkat Inggris ke “jaman keemasan” . Ia dengan berani dan menegosiasikan peralihan kekuasaan yang sulit sebagai pemangku tahta kerajaan. Ia tahu bagaimana cara memanfaatkan dan memakai faktor kewanitaanya,padahal rakyatnya gres saja lepas dari ketakutan jawaban pemerintahan abang perempuan tirinya, Mary.
Elizabeth naik tahta antara tahun 1547 hingga 1553. Di bawah pemerintahannya, kentara sekali politik pro Protestannya. Ratu Mary I memerintah lima tahun setelah itu mendukung supremasi kepausan dan pengokohan kembali Nasrani Romawi. Selama pemerintahannya kaum Protestan Inggris diuber-uber dan ditindas, bahkan sekitar tiga ratus pemeluknya dieksekusi mati. (Ini mengakibatkan ratu sanggup julukan tak sedap: “Mary yang berdarah.” Elizabeth sendiri ditahan dan disekap di Menara London. Kendati jadinya dibebaskan, hidupnya dalam beberapa waktu berada dalam ancaman bahaya. Tatkala Mary tutup usia (tahun 1558) Elizabeth yang sudah berumur dua puluh lima tahun naik tahta. Kenaikan ini memberi kecerahan buat penduduk Inggris. Banyak persoalan yang menghalang ratu muda belia ini: peperangan melawan Perancis; relasi tegang dengan Skotlandia dan Spanyol; kondisi moneter pemerintah; dan di atas segala-galanya itu ialah awan gelap perpecahan agama yang bergantung di atas kepala Inggris. Tak usang setelah Elizabeth naik tahta, undang-undang wacana “Supremasi dan Persamaan” disahkan tahun 1559, menetapkan Anglican sebagai agama resmi Inggris. Elizabeth menangani politik luar negeri dengan cermat, luwes, dan berpandangan jauh. Di awal-awal tahun 1560 ia menyelesaikan “Perjanjian Edinburgh” yang menjamin penyelesaian tenang dengan Skotlandia. Perang dengan Perancis berakhir dan relasi kedua negara membaik. Tetapi, angsur-berangsur keadaan memaksa Inggris terlibat kontradiksi dengan Spanyol, Bertahun-tahun Elizabeth secara tekun membangun Angkatan Laut Inggris. Pertarungan pun pecah tahun 1588, dan pertempuran bahari yang seru itu berakhir dengan kekalahan mutlak pihak Spanyol. Sebagai jawaban kemenangan ini, Inggris menjadi mantap selaku kekuatan Angkatan Laut paling jempol di dunia, posisi yang tetap dipegangnya hingga kurun ke 20 ini.
Elizabeth senantiasa cermat dalam soal keuangan. Di awal-awal pemerintahannya kondisi keuangan kerajaan Inggris sungguh sehat. Elizabeth punya kecerdasan yang melebihi orang biasa dan seorang politikus yang cakap, tegas, punya pandangan luas. Beriringan dengan itu ia punya kehati-hatian dan konservatif. Karena ia tidak kawin, maka sepertinya ia masih perawan menyerupai dikemukakannya di muka umum yaitu “saya gotong royong telah menikah dengan seorang suami,namanya kerajaan inggris” . Tetapi, tidaklah pula terlalu benar kalau dianggap ia itu termasuk jenis perempuan pembenci lelaki. Malah sebaliknya, ia terang menyukai laki-laki dan gemar bergaul dengannya. Elizabeth punya kemampuan menentukan menteri-menterinya yang becus. Sebagian dari hasil-hasil yang dicapainya antara lain berkat Williarn Cecil (Lord Burghley), yang menjadi penasihat utamanya semenjak tahun 1558 hingga matinya di tahun 1598.
Pokok-pokok keberhasilan Elizabeth bisa diringkas sebagai berikut:
Pertama, ia memimpin Inggris selama tahap kedua jaman pembaharuan tanpa pertumpahan darah yang berarti. (Berbeda dengan Jerman di mana tiga puluh tahun perang (1618-1648) membunuh lebih dari dua puluh lima persen penduduk, sungguh menyolok). Selain dia, meredakan rasa benci keagamaan antara Nasrani Inggris dan Protestan Inggris, ia berhasil pula menjaga persatuan bangsa.
Kedua, empat puluh lima tahun pemerintahannya –Era Elizabeth– umumnya dianggap jaman keemasan suatu bangsa besar di dunia.
Ketiga, ialah juga di masa pemerintahannya Inggris muncul selaku kekuatan pokok, posisi yang bisa dipertahankannya berabad berikutnya.
Menjelang simpulan hayatnya ditahun 1601 ia mengatakan “inilah yang kuanggap kejayaan kekuasaanku,yakni bahwa selama ini saya sanggup memerintah dengan bekal cinta kalian semua”.
DAFTAR PUSTAKA :
A.    Sumber Buku:
1.      Horton Rosalind dan Sally Simmons.2009.Wanita-wanita yang mengubah dunia.Jakarta;Erlangga
B.     Sumber Internet:
1.